Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 46


__ADS_3

Khanza menghabiskan buah apel yang di kupaskan oleh sang suami, sembari menikmati acara televisi Khanza memakan nya.


Sesekali ia menyuapi sang suami, begitu terlihat romantis siapa yang saja yang melihatnya termasuk Pak Hadi.


“Semoga keluarga kalian selalu bahagia, rukun seperti ini” batin Pak Hadi.


Setelah itu Pak Hadi pamit ke kamar, ia tidak ingin mengganggu keromantisan anaknya itu.


------


Sore menjelang malam, tiba-tiba Khanza merasakan perutnya kencang sekali, membuat Khanza meringis kesakitan. Ia berpegangan pada dinding saat habis dikamar mandi.


Khanza ingin melaksanakan sholat Maghrib namun saat mengambil Wudhu Perut Khanza sangat sakit.


“Mas Tolong aku” rintih Khanza dengan suara lemah.


Arif yang saat itu sudah berada di atas sajadah secepat kilat ia langsung menghampiri istrinya. Wajah Khanza sangat pucat di tambah dengan keringat yang menetes di kening Khanza.


“Kenapa sayang ?? Mana yang sakit ??” tanya Arif


“Perut ku Mas, sakit banget. Khanza udah gak kuat Mas” Khanza mencengkram lengan sang suami dengan erat membuat Arif juga meringis kesakitan.


“Sabar sayang, kita akan kerumah sakit”


“Tapi Mas harus sholat dulu”


“Nanti saja di masjid terdekat rumah sakit, sekarang kamu yang terpenting”


Namun Khanza justru menggeleng, ia tidak ingin suaminya meninggalkan sholat hanya karena dirinya.


“Aku masih kuat Mas, sekarang mas sholat dulu, doakan Khanza semoga baik-baik saja” ucap Khanza dengan suara serak.


“Tapi sayang”


“Jangan menunda sholat hanya karena Khanza Mas !!”


Khanza menegakkan tubuhnya agar terlihat baik-baik saja, padahal ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya. Ia tersenyum kearah sang suami.


“Lihat Khanza baik-baik saja kan” ucap Khanza lagi.


“Baiklah Mas sholat dulu Ya” jawab Arif. Tapi sebelum itu ia membantu Khanza menuju tempat tidur supaya bisa berbaring untuk meredahkan rasa sakit di perut Khanza.

__ADS_1


Jangan tanyakan bagaimana perasaan Arif saat ini jelas pria itu sangat khawatir.


Di dalam sholatnya Arif begitu tak tenang, sehingga ia tidak begitu khusuk menjalankan ibadahnya. Pikiran nya tertuju pada sang istri yang sesekali ia dengar Khanza meringis.


Khanza memperhatikan suaminya, air matanya seketika menetes.


“Jika aku tidak bisa bertahan dengan mu, aku akan menghadirkan putri kecil kita untuk menggantikan diriku menjaga mu Mas. Maafkan aku yang belum bisa jadi yang terbaik” batin Khanza sambil menyusut air mata di pelupuk matanya.


Tidak berapa lama Arif selesai melaksanakan sholat, ia langsung melipat Sajadah dan mengganti pakaian nya menggunakan pakaian santai.


“Ayo sayang kita kerumah sakit” ajak Arif dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


“Panggil Ayah dulu Mas, setelah itu siapkan mobil. Dan jangan lupa perlengkapan lahiran Khanza”


“Memangnya sudah mau lahiran sayang kan baru 8 bulan ??”


“Sepertinya iya Mas. Awwwww” Khanza kembali merintis kesakitan.


Arif langsung segera berlari keluar dari kamarnya, lalu berteriak memanggil Pak Hadi.


“Ayah dimana ??” panggil Arif terdengar buru-buru.


“Iya sebentar” jawab pak Hadi terlihat panik mungkin karena panggilan dari Sang menanti Yang seperti memaksa.


”Khanza kesakitan Yah, tolong bantu Arif untuk membawanya kerumah sakit”


“Apa ?”


Pak Hadi langsung panik juga mendengar kalau putrinya sedang kesakitan, dengan cepat ia menuju kamar Khanza sementara Arif menyiapkan mobil.


Didalam kamar Pak Hadi melihat Khanza sedang meremas seprai sambil meringis kesakitan, nafas Khanza terdengar sangat cepat.


“Ayo Ayah gendong Nak” ucap Pak Hadi hendak mengangkat tubuh Khanza.


“Ayah masih kuat gendong Khanza ??” tanya Khanza tak percaya.


“Untuk kamu Ayah akan selalu kuat Nak”


Khanza mengangguk, dengan hati-hati pak Hadi mengangkat tubuh Khanza namun Pak Hadi merasakan kalau baju Khanza basah.


“Air apa ini Nak ??” tanya Pak Hadi panik.

__ADS_1


“Khanza juga tidak tau Pa ,tadi air nya keluar begitu saja” jawab Khanza.


“Astaghfirullah ini ketuban Nak, kamu akan lahiran”


Pak Hadi langsung membawa Khanza keluar kamar, Arif yang melihat istrinya sudah di gendong Pak Hadi tidak bertanya banyak ia langsung ke kamar untuk mengambil perlengkapan lahiran istrinya.


Khanza memandang wajah tua yang sedang menggendongnya, walau sudah berumur tapi wajah Pak Hadi masih sangat tegas. Tanpa permisi air mata Khanza lolos begitu saja.


“Jika Khanza menyusul Bunda, Khanza akan menyampaikan salam Ayah, Khanza bersyukur memiliki seorang Ayah yang Abdi Negara” Batin Khanza.


Kilatan kejadian masalalu dimana ia sering di gendong seperti ini oleh Pak Hadi melintas layaknya sebuah Film, dimana Khanza masih begitu manja kepada sang ayah dan Dimana Ayahnya selalu menuruti keinginannya.


“Aku mau di peluk sama Ayah” ucap Khanza setelah di dudukan di kursi penumpang.


“Ayah temaenin Khanza di belakang biar aku yang nyetir” Sahut Arif, ia paham pasti istrinya ingin di dekat sang Ayah dalam menghadapi rasa sakit nya.


“Baiklah kalau begitu”


Pak Hadi langsung masuk kedalam mobil ia langsung memeluk tubuh Khanza yang wajahnya semakin pucat. Sementara Arif langsung berlari untuk memasuki kursi pengemudi ia ingin cepat sampai di rumah sakit agar istrinya segera dapat penanganan.


“Selamatkan istri dan anak ku Ya Allah” doa Arif dalam hati.


Di belakang Khanza mencengkram bahu Pak Hadi dengan kuat, rasanya ia ingin berteriak karena rasa sakit ini, namun kata-kata dari dokter Chika spesialis kandungan nya selalu terngiang di telinga nya.


“Jika sudah merasakan ingin lahiran ibu Khanza jangan panik, banyak berdoa kepada Tuhan, jangan sesekali berteriak karena akan membuat tenaga ibu habis” begitu kata Dokter Chika waktu itu..


Akhirnya sebisa mungkin Khanza menahan untuk tidak berteriak, berusaha agar tidak panik walau rasanya begitu sakit. Khanza begitu berharap anaknya lahir dengan sehat dan tanpa kekurangan satu apapun.


Sementara di kursi kemudi, Arif menyetir dengan ketakutan luar biasa. Banyak yang menjadi beban pikirannya.


"Ya Allah sekali lagi aku meminta padamu, selamatkan istri dan anak hamba ! mereka adalah harta berharga bagiku" batin Arif lirih


Begitupun dengan pak Hadi yang begitu panik sekaligus takut melihat putrinya kesakitan. Rasanya ia ingin menggantikan posisi Khanza saat ini.


Sebagai seorang Ayah yang sangat menyayangi Khanza, ia tentu tidak akan tega melihat Khanza menderita. Ia genggam erat tangan Khanza, seolah memberi kekuatan pada putri semata wayang nya itu.


"Ayah sakit" ucap Khanza membuat perasaan pak Hadi semakin tak karuan


"Sabar ya sayang ! perbanyak istighfar, semoga Allah melancarkan semuanya" balas pak Hadi, pria paruh baya itu sekuat tenaga menahan air matanya. Dirinya tidak ingin Khanza panik jika dirinya menangis.


"Mas masih lama gak sampainya ?" Teriak Khanza pada sang suami.

__ADS_1


"Sedikit lagi sayang, sabar ya !" balas Arif.


__ADS_2