Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Malam Yang Indah


__ADS_3

Arif......


Ia cukup lama menunggu sang istri keluar dari kamar mandi. Rasanya udah gak sabar untuk melakukan malam yang indah ini. Malam yang akan di lakukan oleh sepasang pengantin baru.


Setiap kata pengantin baru melintas di kepalanya. ia terkadang terkekeh sendiri. Merasa bahagia karena saat ini statusnya sudah berubah.


Ia sekarang sudah menjadi seorang suami. Dan perempuan yang baru saja keluar dengan berpakaian baju tidur bermotif bunga adalah istrinya sendiri.


“Ngapain ngeliatin terus ??” tanya Khanza sinis.


Lagi-lagi ia terkekeh. Lalu kemudian bangkit dan mendekati istrinya yang sedang mengoleskan cream malam yang entah itu apa.


Ia memandang wajah cantik sang istri dari pantulan cermin. Kedua tanga nya ia letakkan di atas pundak.


“Merasa kayak mimpi gak sih ??”


Khanza menghentikan aktivitas nya sebentar. Lalu mengernyit sambil menatap wajahnya di kaca cermin.


“Maksudnya ??” Tanya Khanza heran.


“Hehe enggak” jawabnya dengan tersenyum merasa enggan untuk menceritakan semua perasaan bahagia nya kepada Khanza. Baginya cukup ia sendiri yang tau.


“Gak jelas banget sih” Cibir Khanza kemudian.


Ia justrus tergelak. Kemudian mengacak rambut sang istri yang sudah di sisir dengan rapih, membuat Khanza lagi-lagi memberengut kesal.


“Udah belum ??” tanya nya kepada sang istri.


“Udah apanya ??”


“Ya itu” Ia menunjuk wajah Khanza dengan jari telunjuknya.


“Memang nya kenapa kalau udah ??


Tanpa menjawab pertanyaan Khanza. Ia justru langsung mengangkat tubuh kecil sang istri sehingga membuat Khanza menjerit seketika.


“Jangan teriak dek !! entar ada yang dengar bahaya” bisiknya ke telinga sang istri yang kini sudah ia rebahkan di atas tempat tidur.


----------------------


Khanza.....


Bisikan dari Arif membuat bulunya meremang. Jantung nya berdegup dengan kencang lalu mendadak ia menjadi gugup demi mengingat kalau malam ini akan ia lewati dengan-----.


Ia sendiri bahkan enggan untuk menyebut kan. Merasa malu sekaligus takut dengan malam panjang ini.


Apalagi ketika Arif mematikan lampu kamar, membuat dirinya semakin di landa ketakutan.

__ADS_1


“Sudah siap Dek ??” tanya Arif dengan suara berat.


Ingin menggeleng namun takut dosa. Ini sudah menjadi kewajiban nya sebagai seorang istri. Dan sampai kapanpun mereka akan tetap melakukan itu walau beribu kali ia menolak.


Namun justru kata tidak tak bisa ia katakan. Karena saat ini Arif sudah menyatukan mereka dengan sentuhan yang berhasil membuatnya terbang menembus awan. Melewati garis cakrawala lalu terhempas dengan buaian paling Nikmat.


Oh No..


“Manis” bisik Arif dengan suara sensasional.


Mendadak ia memukul dada Arif dengan pelan


“Apa sih” ucapnya tersipu malu.


Dan lagi-lagi Arif kembali menyatukan wajah mereka. Hingga mau Tak mau suara yang paling ia hindari lolos begitu saja. Bo Doh.


“Rileks jangan tegang sayang” Arif kembali berkata dengan suara berat “Ini akan menjadi nikmat. Percayalah Mas ahlinya” lanjut Arif lagi.


Sekarang ia mengangguk, memandang wajah Arif di sela cahaya yang di pancarkan oleh lampu tidur. Wajah Arif begitu tampan, bersih dan juga putih.


Dan ketika ia merasa kalau tubuhnya sudah tak mengenakan apa-apa membuat degup jantung nya semakin cepat.


“Sakit Mas” ia merintih kesakitan saat merasakan benda tumpul menancap masuk menembus intinya.


Namun Arif justru tak memperdulikan rintihannya, terus berusaha memasukan sesuatu yang entah apa itu. Ia menggeleng dengan tangan yang kuat me re mas seprai yang ia tempati.


--------------------


Ia langsung membuka matanya, lalu menoleh kesamping dimana seorang wanita dengan wajah lelah sedang tertidur dengan lelap.


Pikiran nya kembali menerawang kejadian semalam. Bahkan entah berapa kali ia meminta hak nya kepada Khanza. Ia bersyukur sekali karena Khanza tak pernah menolak nya. Dan saat jam 02 dini hari tadi ia ingin melakukan nya sekali lagi namun ia urungkan demi melihat wajah lelah milik istrinya.


Tentu ia tak ingin egois apalagi umur nya dan Khanza terpaut jauh.


“Udah bangun Mas” tanya Khanza dengan suara serak.


Ia menoleh dan tersenyum “He.em. Masih capek ya ??”


Khanza hanya mengangguk, membuat dirinya merasa bersalah. Harusnya semalam ia bisa menahan diri, mempersiapkan diri untuk acara resepsi nanti soreh. Namun apa yang ia lakukan ia dengan begitu semangat menjelajah tubuh Khanza.


“Mau kekamar mandi ??”


Khanza mengangguk dengan sigap ia bangun dan kembali memakai bokser yang ia kenakan semalam. Lalu berjalan dan menggendong Khanza untuk ke kamar mandi. Tak ada penolakan dari Khanza mungkin rasa lelah dan juga sakit membuat Khanza tak berdaya untuk menolak.


Setelah mandi dan berganti pakaian tak lupa mengganti seprai yang baru ia dan Khanza turun kebawah untuk sarapan. Rumah Khanza masih ramai karena untuk mempersiapkan acara resepsi nanti jam 02.


“Cie. Pengantin baru. Selama berapa ronde sampai bangun jam segini” ucap Tante Ira dengan bercanda.

__ADS_1


Ia menggaruk kepalanya sementara Khanza sudah tersipu malu.


“Tante” ucap Khanza supaya Tante Ira menghentikan ledekannya.


Tante Ira justru tergelak, membuat ia dan Khanza benar-benar merasa malu.


Harus cepat pindah ini mah biar Khanza gak malu lagi. Batin nya sambil melihat wajah Khanza Yang sudah memerah seperti tomat.


“Ok ok. Maafkan Tante”Tante Ira mengangkat kedua tangan nya “Sana sarapan dulu Tante udah siapkan”


“Makasih Tante”


Ia menarik kursi dan mendudukkan diri di atasnya.


“ Mau lauk apa Mas ??” tanya Khanza.


Ia menatap hidangan di atas meja. Ada udang, ayam goreng dan tumis kangkung. Hmmmm lezat.


“Semuanya” jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata kearah Khanza.


“Isss” Khanza berdecak kesal “Makan kamu banyak juga Mas” lanjut Khanza sambil meledeknya.


“Biar tenagannya banyak buat nanti malam” ia berbisik di telinga Khanza.


Lagi dan lagi Khanza memukul dadanya dengan pelan “Dasar” cibir Khanza sambil melirik kearahnya dengan kesal.


Hingga sarapan pagi ini terasa sangat berbeda. Tak seperti biasanya yang hanya ia habiskan sendiri. Sekarang ada seorang wanita yang akan melayaninya, menyambutnya ketika pulang kerja.


Lalu melewati malam indah seperti semalam.


Ah, mengingat kejadian semalam ia rasanya ingin lagu dan lagi. Namun harus ia tahan karena tidak tega melihat wajah lelah Khanza.


“Makan mas kok mala senyum-senyum sendiri” ucap Khanza membuyarkan lamunan nya.


Ia hanya membalas dengan tersenyum. Lalu mulai menikmati sarapan yang begitu lezat ini.


“Aku gak bisa masak Mas”, ucap Khanza membuatnya menoleh dan tersenyum.


“Nanti kita belajar sama-sama, mas juga gak bisa masak kok” jawabnya sambil terkekeh.


“Aku juga gak bisa beres-beres” Khanza kembali berkata.


“Mas itu cari istri bukan cari pembantu. Jadi Masalah ini jangan Adek jadikan beban”


“Mas akan sewa ART untuk mengurus rumah dan memasak”


“Jadi kamu tenang aja ya ..!”

__ADS_1


__ADS_2