Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 30


__ADS_3

Khanza......


Ia masih saja terisak, ucapan Mama mertuanya begitu menusuk relung hatinya. Begitu menyakitkan.


Ketika suara pintu ruangan rawatnya terbuka dengan segera Ia menghapus air matanya. Walau cara itu tetap akan membuat sang suami bertanya kenapa dirinya menangis.


Namun pasti ia akan mencari alasan supaya suaminya tidak bertanya lebih banyak. Tidak mungkin ia akan memberi tahu kalau ia bersedih karena ucapan Mama. Ia tak ingin Arif akan bertengkar karena ulahnya.


“Assalamualaikum” seru, Arif, Papa dan Ayah.


“Walaikumsalam” jawabnya sambil tersenyum.


Dengan segera ia menyambut sang suami, mencium punggung tangan Arif dan memberikan seluruh cinta dan kasih sayang yang ia punya.


Sentuhan lembut dan halus dapat ia rasakan ketika Arif mencium keningnya. Ia hanya memejamkan mata meresapi ciuman tersebut dengan nikmat.


“Mau makan apa sayang ?? Biar Mas Carikan , kamu pasti bosan kalau makan-makanan rumah sakit terus” ucap Arif.


“Nanti aja sayang, kalau udah laper aku bilang”.


Ia kembali melirik ke arah Mama, yang sedari tadi menatapnya dengan tajam, berusaha tak mempedulikan tatapan itu lalu kembali menatap sang suami yang sedang tersenyum dengan tulus ke arahnya.


“Ayah pulang dulu ya Nak, malam ini Ayah tidak bisa temenin Khanza soalnya mau ke kantor” ucap Ayah sambil berjalan kearahnya.


“Iya Yah, hati-hati di jalan”


“Iya, Khanza juga cepat sembuh”


Ia sejenak memeluk sang Ayah, laki-laki yang pertama kali ia sayangi, laki-laki yang dulu teramat ia sayangi, namun sekarang rasa sayang nya untuk Ayah sudah terbagi karena saat ini dirinya sudah menjadi seorang istri.


“Assalamualaikum”


“Walaikumsalam”


Setelah Ayah pergi, tingglah ia dan sang suami beserta kedua mertuanya. Mendadak suasana di ruangan itu menjadi canggung apalagi kedua mertuanya tak ada yang bicara, semuanya sama-sama diam. Hanya Arif yang terlihat sibuk mengecek ponsel entah sedang apa ia sendiri pun tak tau.


Begini kah rasanya punya mertua, ??


--------------


Arif...


Beberapa hari kemudian....


Keadaan sang istri masih saja bahkan sekarang Khanza sudah merasakan gatal-gatal dan badan menguning itu karena kanker yang Khanza derita.


Ia hanya bisa menatap Khanza dengan sedih, hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga istrinya sehat-sehat aja.


Pagi ini ia pulang sebentar karena mulai hari ini ia akan mulai bekerja, didalam perjalanan pikiran nya terus tak tenang, di tambah meninggalkan Khanza seorang diri di rumah sakit. Walau ada banyak para perawat yang ada di rumah sakit tapi dirinya tetap saja Khawatir.


Namun sebelum pulang tadi ia juga menelpon Bik Sri untuk menemani Khanza di rumah sakit.


Karena setau dirinya Khanza dari kecil sudah di rawat oleh Bik Sri.

__ADS_1


“Masak apa Ma ??” tanya nya setelah sampai dirumah dan langsung mencium bau masakan paling enak yang ia yakini hasil masakan Mama.


“Rendang Nak, udah mau Mateng bentar lagi makan sama Mama dan Papa ya” ujar Mama tanpa menatap kearah nya.


“Iya Ma” ia berjalan kearah kulkas dan mengambil air dingin.


“Bagaimana keadaan istri kamu”


“Masih sama Ma, semalam badan nya gatal-gatal, Arif tau kalau itu karena kanker yang Khanza derita”


Terdengar Mama menghela nafas panjang, sementara dirinya menghabiskan air minum Yang sudah ia tuangkan kedalam gelas sampai habis.


“Mama kok merasa pernikahan kamu ini membawa sial” ucap Mama tiba-tiba yang langsung menghentikan aktivitasnya. Bahkan ia hampir saja tersedak minuman yang ia minum.


“Maksud Mama apa .?” tanya nya dengan heran.


“Iyalah, Mama pikir ini pernikahan sial tau gak, kamu itu cari istri karena ingin ada yang merawat kamu terus ada yang memperhatikan kamu bukan malah seperti ini” jawab Mama tanpa


memperdulikan raut wajahnya “Kenapa gak dari dulu kamu bilang kalau istri kamu itu penyakitan, kan kalau Mama udah tau gak akan Mama kasih restu”


“Ma !!!”


“Mama tu sedih tau gak, lihat hidup kamu menjadi seperti ini, apalagi kamu pasti harus ekstra kerja supaya bisa membiayai pengobatan Khanza.


Mama tau kalau pengobatan Khanza itu tidak kecil”


Ia semakin tak percaya kalau Mama nya begitu cepat berubah, hanya karena tau kalau Khanza sakit. Memang dari awal ia tak pernah menceritakan tentang kesehatan Khanza karena itu menurutnya tak penting. Juga ia pikir kalau Kanker hati yang Khanza derita tidak akan muncul lagi setelah operasi waktu itu. Tapi ternyata ia salah.


“Mama tidak akan membiarkan kamu kerja sampai pontang-panting hanya untuk Khanza” Mama kembali berkata.


Karena untuk masalah biaya itu adalah urusan Arif lagian Mama tidak usah khawatir Ayah nya Khanza menitipkan uang yang begitu banyak kepada ku untuk pengobatan Khanza. Mama lupa kalau Ayah nya Khanza seorang panglima TNI. Uang Arif saja bakal kalah banyak Ma” ucapnya lagi dengan menggebu-gebu.


Mama akhirnya terdiam. Entah itu karena mengerti dengan ucapan nya atau karena kaget karena dirinya bentak.


Dengan Amarah yang memuncak ia langsung meninggalkan Mama yang masih berdiri mematung. Menaiki anak tangga untuk segera masuk kedalam kamarnya.


Braaaakkkkkkk.


Ia menutup pintu kamar dengan keras. Tak peduli itu akan di dengar oleh Mama dan papa. Ia lagi marah sekarang ucapan Mama begitu menyakitkan.


Mama bukan nya memberi ia dan Khanza dukungan malah berkata yang tidak-tidak.


Bagaimana kalau Khanza tau kelakukan Mama nya. Pasti Khanza akan sangat sedih dan dirinya akan merasa menjadi suami yang tak becus menjaga sang istri.


“Aaarrrrrggggghhhh” ia berteriak didalam kamar, meluapkan rasa marah yang saat ini memuncak.


*******


Khanza.....


Semenjak suaminya kembali ke rumah sakit setelah sebelumnya pamit untuk pulang sebentar, Arif menjadi lebih banyak diam. Ia tak tahu apa yang terjadi. Ia juga tak berniat untuk bertanya biarlah Arif akan bercerita dengan sendirinya.


Walau di hatinya terus menerka-nerka kalau suaminya sedang ada masalah.

__ADS_1


“Udah sarapan belum ??” tanya nya untuk menghilangkan rasa penasaran yang sedang melanda.


“Sudah sayang” jawab Arif


“Katanya mau kerja, kok kelihatan nya gak semangat” ia kembali bertanya, memancing sang suami agar menceritakan apa yang sedang Arif alami.


“Sepertinya Mas akan izin lagi, hehe”


“Kok gitu ?? Kenapa ??”


“Takut rindu”


Wajahnya langsung bersemu merah, gombalan receh dari sang suami selalu berhasil membuat hati nya berbunga-bunga. Ada rasa kebahagiaan yang selalu ia rasakan.


Akan kah semua ini akan selalu ia rasakan, akankah rasa nyaman ini selalu menghampirinya. Karena kanker yang saat ini ia derita membuat rasa yang tak bisa di jelaskan selalu muncul seketika.


Apalagi dengan kondisi dirinya yang semakin melemah, tubuhnya sudah mulai menguning dan di tambah dengan gatal-gatal yang sejak semalam ia rasa. Sungguh semua ini selalu membuatnya takut.


Takut kalau tiba-tiba tuhan memanggil dirinya, memisahkan dirinya dengan laki-laki yang begitu ia sayangi. Ia belum sanggup akan hal itu apalagi ia belum mampu untuk membuat suaminya bahagia dan belum bisa menjadi istri yang baik untuk sang suami.


Bisakah ia meminta kepada Tuhan untuk kembali menyembuhkan dirinya, menghilangkan sakit yang saat ini ia derita. Bisakah ia meminta untuk di izinkan sebentar lagi menikmati hidup ini.?? Bisa menikmati peran sebagai istri dan ia juga ingin menjadi seorang ibu, melahirkan anak untuk suami tercintanya.


“Sayang, kok melamun ??” suara Arif membuat lamunan nya buyar.


Ia menggeleng “Enggak kok Mas” jawabnya berbohong.


“Lagi mikirin apa ??”


“Enggak ada apa-apa sayang”


“Jangan bohong !!”


“Apa sih Mas, beneran Khanza gak mikirin apa-apa, cuman lagi mikirin suami ini kok makin hari makin tampan ya”


Justru jawabnya membuat Arif tergelak. Sambil mencubit kedua pipinya dengan gemas Arif berkata.


“Udah pintar menggombal ya ?? Uluh-uluh makin cinta deh”


“Aawww... Sakit Mas” ia memegangi pipinya seolah-olah itu beneran sakit padahal tak merasakan apa-apa.


“Sini Mas obatin biar sakit nya hilang” ucap Arif lagi.


“Gimana caranya ??”


“Udah diam aja. Adek tutup aja matanya”


Dan tanpa aba-aba ia menutup kedua matanya, hingga tak berapa lama ia dapat merasakan kecupan halus nan lembut yang ia terima dari kedua pipinya. Membuat wajahnya langsung memanas seketika.


“Mas Ariiifff” ia berteriak sambil memukul dada Arif dengan lembut.


“Apa sayang”


“Kebiasaan deh cari kesempatan dalam kesempitan”

__ADS_1


“Hehe, memang enak cari kesempatan di situasi menegangkan sayang”


Ia menggelang, suaminya selalu punya cara membuat dirinya dapat tersenyum. Entah bagaimana caranya ia bisa membalas seluruh kasih sayang yang di berikan Arif.


__ADS_2