Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 41


__ADS_3

Setelah berkonsultasi dengan Raka dan sudah memeriksa keadaan Khanza. Akhirnya Arif kembali membawa istrinya pulang. Walau di hatinya masih sangat kebingungan.


“Dari mana kalian ??” tanya Mama Risa.


“Dari rumah sakit Ma” jawab Arif.


“Ngapain kerumah sakit terus ?? Kamu kambuh lagi” tanya Mama Risa lagi sambil menunjuk Khanza.


“Tidak Ma” jawab Khanza


“Terus ??”


“Khanza hamil”


Mama Risa memandang Khanza tak percaya, namun sesaat kemudian Mama Risa tersenyum bahagia.


“Kamu beneran hamil ?? Disini ada calon cucu Mama ??”tanya Mama Risa bertubi-tubi tangan nya mengelus perut Khanza yang masih rata.


“Iya Ma, disini ada calon cucu Mama”jawab Khanza ikut tersenyum bahagia.


Melihat Mama Risa tersenyum bahagia, Arif menjadi tidak tega jika harus menyampaikan kalau sebenarnya Khanza tidak boleh hamil dulu sebelum Khanza sembuh dari sakit kankernya.


“Kamu jaga calon cucu Mama baik-baik ya Nak, maafkan sikap Mama selama ini” ucap Mama Risa dengan tulus.


“Iya Ma” jawab Khanza. ia begitu bahagia karena Mama Risa kembali menyayanginya seperti dulu.


“Sekarang kamu istirahat di kamar jangan capek-capek, kalau ada mau apa-apa bilang sama Mama ya. Biasanya perempuan hamil itu banyak maunya alias ngidam”


Khanza mengangguk dan tersenyum bahagia.


“Jaga istri mu baik-baik Rif, ingat ada calon cucu Mama di perutnya” ujar Mama Risa kepada Arif.


“Iya Ma” jawab Arif lirih.


Arif langsung kembali mengantar Khanza ke kamar. Apapun kondisi Khanza, Arif harus tetap.menjaganya apalagi di dalam perut Khanza sudah ada calon anak pertamanya.


Anak yang selama ini ia tunggu, namun saat melihat kondisi Khanza, Arif sempat menghilang kan keinginan nya untuk memiliki anak, baginya Khanza bisa menemaninya sampai tua sudah begitu membuatnya bahagia.


Namun ternyata Allah berkehendak lain ketika ia menurunkan anak dirahim istrinya.


“Kamu jangan banyak gerak ya sayang, ingat pesan dokter Raka” pesan Arif.


“Iya Mas” jawab Khanza menurut. Tentu ia akan menuruti apapun yang di katakan Raka asal anak dalam kandungan nya selamat sampai lahiran nanti.

__ADS_1


“Ambilkan ponselku Mas, aku mau nelpon Papa” ucap Khanza


“Iya Sayang”


Arif memberikan ponsel kepada Khanza. Segera Khanza menghubungi Ayahnya untuk memberi tahukan kalau saat ini ia sedang mengandung.


“Halo Nak ada apa ??” tanya Pak Hadi di seberang sana.


“Ayah Khanza punya kabar bahagia” ucap Khanza antusias.


“Apa itu sayang”.tanya Pak Hadi lagi.


“Khanza hamil Yah, Ayah akan jadi kakek sebentar lagi”


Hening tidak ada jawaban dari Pak Hadi, sedangkan Khanza masih tersenyum bahagia saat mengatakan semua itu.


--------


Pak Hadi begitu terkejut mendengar kalau Khanza hamil. Karena seingat dia Arif sendiri yang bilang bahwa Khanza jangan hamil dulu.


“Bukan kah Arif sendiri yang mengatakan kalau Khanza jangan hamil, lalu kenapa ini terjadi ??” tanya Pak Hadi pada diri sendiri.


Saking terkejut dan bingung Pak Hadi bahkan langsung menutup telepon secara sepihak.


Sebagai seorang Ayah tentu saja Pak Hadi sangat khawatir jika Khanza kenapa-napa, bukan ia tak menginginkan seorang cucu tapi melihat kondisi Khanza yang seperti ini tentu iya tak setuju jika Khanza hamil.


“Kenapa disaat seperti ini kamu harus hadir Nak ??” ucap Pak Hadi sedih membayangkan kalau calon cucunya sudah bersemayam di perut sang putri.


Kondisi Khanza sangat mengingatkan Pak Hadi akan sang istri, bagaimana dulu Melati istri pak Hadi berjuang selama kehamilan. Bahkan sering ia tinggal bertugas sehingga tidak tau apa yang di lalui oleh Melati.


Hingga pada akhirnya saat putri kecilnya yaitu Khanza lahir kedunia, Melati malah menghembuskan nafas terakhir. Sedih yang teramat dalam sangat Pak Hadi rasakan. Apalagi dia bingung bagaimana caranya merawat Khanza yang masih sangat bayi. Beruntung ada Bi Sri yang membantu nya.


“Aku tidak mau Khanza akan bernasib yang sama dengan mu Mel” ucap Pak Hadi sambil memandang foto sang istri.


*********


Sementara itu.


Khanza terlihat sangat bahagia, tidak peduli dengan kondisinya yang masih terkena kanker hati. Baginya sekarang jika sudah meminum obat yang di resepkan dokter maka keadaannya akan segera sembuh.


“Mas kenapa sih diam terus ?? Gak senang banget kayaknya kalau aku hamil” ucap Khanza kesal dengan ekspresi suaminya.


“Bukan tidak senang sayang, justru Mas sangat bersyukur kalau Mas akan segera menjadi Ayah, hanya saja Mas bingung dengan konsisi kamu yang seperti ini. Mas hanya takut kehilanganmu dek” jawab Arif dengan lemah.

__ADS_1


Khanza duduk di samping Arif, ia menggenggam tangan Arif dengan erat. Arif menatap wajah Khanza sesaat pandangan mereka beradu.


“Kita lewati sama-sama Mas, bukan nya kematian itu adalah takdir Allah, jika memang sudah waktunya Khanza pulang sekuat apapun Khanza bertahan Allah masih akan mengambil Khanza.


Jadi tolong biarkan Khanza mengandung. Mas cukup doakan Khanza saja supaya tetap sehat dan anak kita sehat juga sampai lahiran” ujar Khanza.


“Mas akan mendoakan kamu terus sayang, apapun akan Mas lakukan untuk kalian berdua” tangan Arif mengelus perut Khanza yang masih datar.


Ada perasaan aneh yang Arif rasakan saat mengelus perut rata itu, ada perasaan bahagia yang tiada Tara, Arif bahkan sudah membayangkan dia di panggil Papa oleh seseorang tentu itu bahagia sekali rasanya.


“Sehatkan istriku Ya Allah dan semoga anak ku lahir dengan selamat” doa Arif dalam hati.


********


Keesokan paginya, Khanza merasakan mual dan muntah lagi, itu yang membuat Arif begitu khawatir. Dengan sigap ia membantu Khanza memuntahkan isi perutnya.


“Kamu tidak apa-apa Sayang ??” tanya Arif. Ia bukan tidak tahu kalau saat ini Khanza sedang mengalami morning secnees.


“Tidak apa-apa Mas mungkin bawaan hamil” jawab Khanza meyakinkan.


Arif mengelap bibir Khanza menggunakan tisu, setelah itu ia mengangkat tubuh Khanza untuk kembali ketempat tidur.


“Mas buatkan teh hangat mau ?” tanya Arif.


“Mau Mas kayaknya enakan kalau minum teh”


“Ya sudah, kamu tunggu disini Mas buatkan dulu”


Khanza mengangguk, Arif langsung keluar dari kamar menuju dapur. Disana ia melihat Mama Risa sedang memasak untuk sarapan.


“Mana Khanza ??” tanya Mama Risa


“Masih di kamar Ma, habis muntah” jawab Arif jujur.


“Biasa itu bawaan bayi, dulu juga pas Mama mengandung kamu mual juga, bahkan sangat parah” jelas Mama Risa lagi, tanpa melihat Arif karena ia masih fokus menggoreng Ayam.


“Arif anterin teh hangat ini dulu ya Ma” kata Arif karena ia telah selesai membuat kan istrinya Teh.


“Iya, cepat anterin terus ajak Khanza sarapan dulu, Mama udah buatkan makanan yang sehat untuk Khanza”


Arif mengangguk, lalu kemudian kembali ke atas dimana Khanza berada.


“Ini sayang minum dulu” ucap Arif menyerahkan segelas teh hangat kepada Khanza.

__ADS_1


“Makasih Mas” balas Khanza.


__ADS_2