Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 52


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah satu tahun berlalu, Khanza yang tak lain adalah Laras. Yang sekarang telah menjelma menjadi wanita yang begitu eligan dan cantik. Ia tak pernah tau kalau sebenarnya ia sudah mempunyai seorang suami dan juga seorang putri yang sangat cantik.


Khanza atau Laras sedang menempuh pendidikan kan nya di Universitas negeri di negara Singapura, ia mengulang semuanya dari awal jika Khanza yang dulu suda menempuh pendidikan nya semester 4 sekarang baru memasuki semester 2.


Mahendra begitu memanjakan Laras, apapun yang Laras minta akan Mahendra turuti, walau Mahendra tau kalau Laras bukanlah anak kandungnya karena anak kandung Mahendra sudah lama tiada.


“Papa” teriak Laras saat memasuki rumahnya.


“Ada apa Laras ? Kenapa teriak-teriak pasti ada maunya ?” Mahendra memandang Laras dengan penuh kasih sayang.


“Laras mau jalan-jalan ke Korea Pa sama teman-teman, bolehkan Pa ?”


Mahendra berpikir sebentar, memang Mahendra selalu mengizinkan Laras atau Khanza pergi kemanapun kecuali Indonesia, karena Mahendra takut Laras akan bertemu keluarga aslinya.


“Boleh ya Pa, please” Laras memasang wajah imutnya.


“Ya sudah boleh, tapi ingat selalu jaga diri selama disana, berapa hari Laras pergi ?”


“Seminggu Pa”


Laras langsung bersorak bahagia karena Mahendra mengizinkan dirinya untuk pergi ke Korea. .


“Apapun akan Papa lakukan untuk membahagiakan kamu Laras” gumam Mahendra memandang putrinya yang penuh dengan kebahagiaan.


Setelah Laras memasuki kamarnya, Mahendra pergi, ia akan ke tempat dimana putrinya yang sesungguhnya yaitu Laras yang asli yang telah tenang di alam sana.


------------


Hari itu Arif mengunjungi kediaman Ayah mertuanya, semenjak kepergian Khanza ia selalu mengunjungi Pak Hadi, bahkan menginap disana selama beberapa hari tentu saja membawa putri kecilnya yang saat ini sudah berusia satu tahun.


Bukan tanpa alasan Arif selalu rutin mengunjungi Pak Hadi, ia ingin Pak Hadi tidak terlalu merasa kehilangan dengan kehadiran dirinya dan juga Kia.


Arif ingin Pak Hadi bisa bahagia di masa tua nya sekarang, apalagi Pak Hadi sudah mengajukan resign 3 bulan yang lalu, ia ingin menemani masa tua Ayah mertuanya itu, bisa menjadi menantu yang baik untuk Pak Hadi.


Saat tiba di rumah, seperti biasa Pak Hadi dan Bi Sri menyambut kedatangan Arif dan juga Kia dengan bersuka ria, ia tersenyum demi mendapati Pak Hadi selalu semangat meyambut kedatangan cucu pertamanya atau bisa jadi cucu terakhirnya.

__ADS_1


“Cucu kakek makin gendut aja” seloroh Pak Hadi sambil menciumi wajah Kia dengan bertubi-tubi.


Sementara Arif kembali ke mobil untuk mengambil barang perlengkapan Kia dan juga dirinya, karena malam ini dan dua hari kedepan ia akan menginap disini.


“Biar saya saja Bi” ucapnya kepada Bi Sri yang hendak mengangkat tas bayi milik Kia


“Tidak apa-apa den, ringan juga kok” jawab Bi Sri.


Arif hanya tersenyum “Terima kasih kalau begitu Bi”


“Sama-sama, kan Bibi sudah bilang jangan sungkan kalau perlu bantuan tinggal bilang”


Arif hanya tersenyum, Bi Sri memang tidak di perbolehkan berhenti bekerja, di satu posisi Pak Hadi masih membutuhkan Bi Sri di sisi lain juga Bi Sri hanya hidup sendiri jika kembali ke kampung.


Dulu Bi Sri memang sempat menolak karena ia merasa tugasnya sudah selesai, ia tidak enak tinggal berdua dengan Pak Hadi di rumah, maka Arif berinisiatif untuk menjadi seorang pembantu lagi yang bernama Bi Rina.


“Bagaimana kabar Ayah ?” tanya Arif yang sekarang ikut duduk di ruang televisi, usai meletakkan barang nya dan juga Kia.


“Baik, Alhamdulillah” jawab Pak Hadi, ia tak berhenti menciumi pipi gembul Kia. Dan juga Kia tidak menolak sama sekali malahan balita kecil itu terdengar cekikikan saat wajahnya di ciumi oleh sang Kakek.


Tidak berapa lama Kia mulai merengek mungkin karena ingin menyusu, Arif yang selama ini sudah paham tentang rengekan sang putri langsung peka seketika, dengan sigap layaknya seorang ibu, Arif langsung pergi ke dapur untuk membuat Susu.


“Eh Bibi” Arif tersenyum kikuk “Iya Bi Kia udah nangis sepertinya mau tidur siang tadi di perjalanan gak tidur soalnya" jelas Arif. Ia begitu telaten memasukan satu persendian Susu kedalam botol susu yang sudah ia sterilkan.


“Biar saya aja Den, sekalian saya yang nidurin Non Kia” Bi Rian menawarkan.


“Tidak merepotkan Bi ?” tanya Arif karena jujur ia begitu lelah sekarang, semalam ia kerja lembur dan Kia bersama Mama Risa, dan saat pulang bekerja ia langsung bersiap untuk ke rumah Pak Hadi.


“Tidak sama sekali Den, kan memang tugas saya, lagian saya senang jagain Non Kia anak nya gak rewelan kalau mau tidur asal kenyang ya langsung tidur gak neko-neko”


Benar memang anak nya itu tidak terlalu Rewel, tapi bukan berati tidak sama sekali karena Kia sama saja dengan bayi seumuran lainnya.


“Makasih sebelumya Bi” Arif memberikan botol Susu kepada Bi Rina yang di terima dengan semangat oleh BI Rina.


Arif masih sempat menatap bayangan Bi Rina yang mengambil satu buah gendongan bayi, memang cara seperti itulah Bi Rina menjaga Kia. Ia akan menggendong Kia sambil memberikan susu tidak lupa melantunkan sholawat nabi hingga membuat Kia tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Arif bersyukur karena begitu banyak yang menyayangi Kia, apalagi Sinta temannya Khanza ia akan datang setiap weekend dan membawa begitu banyak mainan. Arif sempat merasa risih dengan kehadiran Sinta walau bagaimanapun ia sekarang berstatus Duda.


“Tolong izinkan aku ketemu sama Kia Mas, aku tidak bermaksud lain, aku hanya ingin mengobati rinduku kepada Khanza”


“Jika Mas Arif tidak senang atau Risih dengan keberadaan saya, maka saya akan kesini saat Mas Arif sudah berangkat bekerja”


Begitu lah kata Sinta yang selalu Arif ingat, hingga akhirnya ia menyetujui.


------


Usai memberikan botol susu kepada Bi Rina Arif langsung kembali keruang televisi, mengabaikan rasa kantuknya untuk menemani Ayah mertua, ya bercakap barang sedikit lalu memutuskan untuk tidur barang sebentar.


“Terima kasih sudah menjaga Kia dengan baik” Pak Hadi memulai pembicaraan.


“Sudah seharusnya Arif melakukan itu Yah, Kia adalah anak kandung Arif, jelas Arif akan menjaga nya dengan baik ,dialah harta berharga yang Arif punya saat ini” jelas Arif tanpa menatap wajah mertuanya, ia masih fokus ke layar televisi dimana sedang menayangkan tentang perceraian seorang artis ternama.


“Ini sudah setahun sejak kepergian Khanza, Ayah merestui jika kamu mau menikah lagi, Kia masih kecil dia butuh seorang ibu”


Arif langsung menoleh menatap Pak Hadi, dengan kening mengkerut ia menatap Pak Hadi dalam-dalam, masih mencerna setiap kata yang terucap di bibir pria paruh baya itu, yang ia hormati selama ini.


“Tidak ada rencana Arif mau menikah Yah, Kia juga tidak butuh ibu, karena ibunya cuman satu yaitu Ayesa Khanza Gunawan”


“Tapi Khanza telah pergi !”


“Khanza memang pergi, tapi statusnya tetap sebagai istri dan ibu untuk Kia, bahkan sampai kami berdua menyusulnya”


Pak Hadi balik memandang wajah Arif.


“Mungkin saat ini Kia belum mengerti jika aku menceritakan semuanya tentang Khanza, tapi aku yakin jika Kia sudah besar ia akan memahami jika Khanza pergi karena berjuang melahirkan dirinya” Arif meneruskan ceritanya.


Namun alih-alih membalas ucapan Arif, Pak Hadi justru terisak dengan lelehan Air mata yang begitu deras.


“Terima kasih karena begitu mencintai Khanza” ucap Pak Hadi.


“Sampai kapanpun Khanza akan selalu menjadi labuhan hati terakhir ku”

__ADS_1


“Dia cinta terakhir ku”


“Aku dan Khanza akan bersama lagi nanti, di surganya Allah”


__ADS_2