
Arif......................
______________________
Setelah menyelesaikan sarapan nya bersama sang istri, ia pergi keruang keluarga dimana sudah ada Ayah, dan juga kerabat yang lain termasuk suami Tante Ira.
Bercakap-cakap sebentar lalu minta izin untuk berangkat duluan ke gedung tempat resepsi peernikahan nya, tentu Ia dan Khanza harus berangkat duluan karena ia dan Khanza harus melakukan perawatan supaya bisa terlihat segar saat berada di atas pelaminan.
"Masih sakit ??" tanya nya ke sang istri demi meliat Khanza masih meringis sambil memegangi bagian intinya.
"Sedikit" jawab Khanza dengan kening mengkerut.
Mendadak rasa bersalah kembali menghinggapi dirinya, seandainya semalam ia tak meminta Khanza melayani nya sampai puas mungkin saja kondisi Khanza tidak akan seperti ini.
"Maafin Mas ya !! seandainya Mas bisa menahan hawa nafsu mungkin Kamu gak akan seperti ini"
Khanza menatapnya dengan tersenyum
"Ini sudah menjadi kewajiban aku sayang"
Nyesssss.
Begitu sejuk dan terasa amat membahagiakan saat kata sayang terucap dari mulut Khanza.
Membahagiakan sekaligus menyenangkan iya hanya dua kata itu yang mampu menggambarkan perasaan nya saat ini.
Setelah sampai di gedung yang mereka sewa Khanza langsung masuk kedalam salah satu kamar dengan di temani Sinta. Sementara dirinya mengecek kondisi supaya tak ada yang salah saat acara berlangsung.
_____________
Khanza---------
Sejak bangun tidur tadi pagi ia merasa badannya mendadak tak enak, tapi ia berusaha menepis semuanya.
Mungkin ini karena kejadian semalam hingga mengakibatkan tubuhnya menjadi drop.
Hingga tiba di ruang dimana ia akan melakukan perawatan untuk acara resepsi nanti. Dengan di temani Sinta tentunya. Ia memang sengaja menyuruh Sinta datang lebih awal karena ingin di temani sekaligus membantunya.
"Za"
Ia menoleh kearah Sinta.
"Iya" jawabnya sambil meletakkan tas selempang di atas meja, lalu duduk di sofa sambil menunggu pihak MUA datang untuk menghiasnya.
"Kamu gak papakan ??" ucap Sinta sambil ikut duduk di sebelahnya.
Ia hanya mengangguk "Emang nya kenapa ??" tanya nya balik.
"Wajah kamu pucat amat Za" Sinta memandang wajahnya dengan seksama.
"Masa sih ?"
"Coba aja kamu ngaca"
__ADS_1
Dengan gerakan cepat ia langsung melihat wajahnya di pantulan cermin, dan benar saja wajahnya begitu pucat. bisa di gambarkan seperti mayat hidup. Dengan perasaan khawatir sekaligus takut ia merabah wajahnya.
"Benarkan ?" Sinta kembali bertanya.
"kamu sakit Za ??" Sinta kembali bertanya.
Namun ia kembali menggeleng, pasti ini karena semalam di tambah ia kurang tidur karena Arif terus meminta hak nya lagi dan lagi.
"Serius Za' kamu gak papakan ??"
"Enggak Sin"
________________________________________
Jam 14:00
Acara resepsi nya sudah hampir di mulai, dengan balutan gaun putih dan makota yang melekat di tubuhnya membuat ia terlihat begitu cantik, persis seorang princess namun hanya satu yang kurang yaitu waja pucatna, sejak tadi para MUA sudah berusaha untuk menutupi wajahna dengan bedak dan lipstik namun masih saja terlihat.
"Sayang kalau kamu merasa tidak enak badan mending kita batalin aja acara ini" Ucap Arif yang penuh dengan kekhawatiran.
"Aku gak papa mas"
Tidak mungkin ia akan membatalkan acara resepsi ini, mengingat perjuangan nya dengan sang suami begitu besar untuk membuat acara resepsi ini begitu sesuai dengan yang ia inginkan. Dan di batalkan begitu saja tidak, ini tidak boleh terjadi.
"Beneran gak papa ??" Arif kembali bertanya.
"Iya Sayang"
"Ya sudah kalau begitu kita turun karena acara sudah di mulai"
Music pengiring terus berbunyi mengiringi langkah kakinya dang Arif yang berjalan menuju panggung pelaminan. Di atas panggung sudah ada Ayah dan kedua mertuanya.
Ia dan Arif duduk di kursi pelaminan, mendengarkan seorang pembawa acara untuk membacakan serangkaian acara ang akan di lewati. Ketika ia merasa bahwa tubuhnya benar-benar tak bisa di ajak kompromi.
namun sekuat tenaga ia menahan supaya tetap kuat untuk tetap mengikuti acara resepsi ini sampai selesai, berusaha tetap tersenyum dengan baik ketika Arif memandang kearah nya yang juga dengan senyuman penuh kasih sayang.
Hingga sekian acara bisa terlewati, namun tidak saat acara bersalam-salaman. Ia merasa dadanya sakit dan sesak. namun berusaha tetap kuat tapi harapan tak sesuai dengan keinginan. Ketika penglihatan nya mendadak berubah menjadi gelap, juga di susul dengan suara heboh nan panik dari semua orang setelah itu ia tak tau apa yang terjadi selanjutnya. Ia jatuh dan merasa tubuhnya terasa begitu ringan.
_____________________________
Arif.......
Sejak ia dan Khanza naik keatas panggung dimana acara resepsi di laksanakan. Ia sudah begitu khawatir keadaan Khanza tak seperti biasanya. Wajahnya begitu pucat. Dia yang sebagai dokter tau kalau saat ini istrinya sedang tak baik-baik saja.
Dan benar saja saat acara salam-salaman Khanza tiba-tiba ambruk. Beruntung ia dengan sigap membantu menangkap tubuh sang istri kalau enggak bisa di pastikan tubuh Khanza akan menimpa sofa pelaminan yang pasti akan terasa sakit.
“Sayang bangun !! kamu kenapa ??” ia begitu Khawatir. Dengan menepuk-nepuk wajah Khanza pelan untuk membangunkan istrinya namun tak bisa. Khanza tetap memejamkan matanya.
Ayah dan kedua orang tuanya sudah begitu panik.
“Bawa kerumah sakit Nak !!” ucap Mama yang begitu Khawatir.
“Biar Ayah siapkan mobil !!” sahut Ayah mertuanya.
__ADS_1
Ia mengangguk. Pikirannya tak bisa lagi berpikir jernih. Yang ada di pikiran nya sekarang hanya satu keadaan Khanza.
Hiruk pikuk suara dari gerombolan para tamu terus terngiang di telinganya. Mungkin banyak yang bertanya ada apa dengan Khanza atau mungkin ada juga yang menghujatnya. Namun ia tak peduli. Ketika Ayah sudah kembali dan mengatakan kalau mobil sudah siap. Ia segera menggendong Khanza dan membawanya keluar.
Melewati segerombolan para tamu yang ingin sekali melihat wajah Khanza yang masih dengan mata tertutup.
“Biar Ayah yang bawah !!”
“Jangan Yah !!” tolak nya dengan cepat. Ia tau suasana hati Ayah sama dengan nya. Sama-sama khawatir dengan keadaan Khanza yang tiba-tiba pingsan.
“Biar saya saja mas Hadi” sahut Papa dengan cepat.
“Iya Yah biar Papa saya aja yang bawa. Ayah duduk di sebelah Papa sementara aku yang akan menemani Khanza berdua dengan Mama” jelasnya kemudian.
“Baiklah kalau begitu”
Ia dan yang lain nya segera masuk kemobil. Dan Papa langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara Mama sudah menangis sambil mengusap rambut Khanza dengan lembut.
Begitupun dengan dirinya. Walaupun tak meneteskan air mata namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia begitu khawatir dengan Khanza. Takut kalau terjadi hal buruk kepada Khanza.
Tidak berapa lama mereka sudah sampai di depan rumah sakit dimana dirinya bekerja.
“Tunggu sebentar. Aku akan panggil suster dulu”
Dengan cepat ia berlari memasuki rumah sakit. Lalu kemudian balik dengan mendorong brankar di bantu oleh dua orang perawat.
“Bawa ke IGD ya sus !!” ucapnya dengan tegas kepada dua suster disana.
“Baik dokter Arif !!” jawab kedua suster itu serempak.
Dengan pakaian Khanza yang masih mengenakan gaun pengantin dan dirinya yang masih mengenakan jas menarik perhatian para pasien dan yang lainnya. Namun lagi-lagi ia tak peduli.
“Dokter Arif. Kok kamu disini ??” tanya Raka
“Tolong periksa istri gue Ka !! dia tiba-tiba pingsan Gue gak bisa konsen buat periksa”
Walau dengan kebingungan Raka tetap mengiyakan. Raka masuk keruang IGD untuk memeriksa keadaan Khanza.
Sementara dirinya menunggu di depan IGD bersama Ayah, Papa dan Mama dengan perasaan gelisah tentunya. Gelisah, dan juga khawatir.
“Kamu harus baik-baik saja sayang !! aku mencintai kamu” batinnya dengan penuh harap.
Mendadak ia menyesal karena teringat dengan kejadian semalam. Apa mungkin Khanza menjadi drop karena keegoisan nya sendiri.
Ingin marah namun entah karena apa. Tapi yang jelas ia kecewa dengan dirinya sendiri.
--------------
BERSAMBUNG.
JANGAN LUPA KLIK TOMBOL LIKE,
TERUS KOMEN.
__ADS_1
DAN KALAU ADA YANG MEMILIKI POIN BISA LAH DI BAGI BIAR SEMANGAT TERUS NULISNYA.