Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 55


__ADS_3

Ciiiitt.


Bunyi rem yang di injak Raka berhasil membuyarkan lamunan Arif. Ia menatap sekitar dimana sudah berada di depan rumah seseorang yang terlihat begitu mewah.


“Bener ini rumahnya ?”Tanya Arif.


“Iya lah, gue udah pernah sekali kerumah dokter Mahendra” jawab Raka.


Arif langsung mengangguk, mereka berdua langsung keluar mobil dan berdiri di depan pagar mewah itu.


Raja langsung bertanya kepada seorang Satpam yang berjaga menggunakan bahasa Inggris tentunya.


Namun lagi dan lagi harapan tak sesuai harapan karena satpam itu bilang tidak ada yang bernama Khanza, walau Arif menyebutkan nama lengkap Khanza tapi tetap tidak ada.


Akan tetapi satpam itu menyebutkan satu nama yang membuat Raka mengkerut, yaitu Laras Putri Mahen.


“Gila, ini sangat gila, bukan nya Laras anaknya dokter Mahen udah tiada” ucap Raka setelah mereka berdua kembali kemobil.


“Terus yang di sebut sama satpam itu tadi siapa Ka, tidak mungkin kan dia salah sebut”


“Apa jangan-jangan Laras yang dia maksud adalah Khanza” Raka langsung menatap Arif.


“Sepertinya ada yang tidak beres” ucap Raka lagi.


Arif tampak berpikir, dia juga bingung harus bagaimana karena memang ia tidak terlalu kenal dengan dokter Mahendra, ia hanya mengetahui dokter itu saat pengobatan Khanza saja. Selain itu nol besar Arif tidak ada yang tau.


Apalagi mengenai keluarga Mahendra, Arif tidak tau, karena baginya buat apa mencari informasi tentang keluarga seseorang itu sangat tidak penting.


Malam harinya Mahendra baru pulang dari bekerja, namun saat akan memasuki rumah satpam di rumahnya berkata.


(Kalian bayangannya mereka bicara bahasa Inggris ya !)


“Tadi ada yang datang tuan”ucap Seto satpam di rumah itu.


“Siapa ?” tanya Mahendra sambil menghentikan langkahnya yang ingin memasuki rumah.


“Tidak kenal Tuan, tapi mereka menanyakan perempuan yang bernama Khanza”


Mendengar itu Mahendra langsung menoleh, rahangnya mengeras.


“Terus kamu jawab apa ?”


“Saya bilang tidak tau Tuan, karena memang di rumah ini tidak ada yang bernama Khanza, dan saya bilang kalau di rumah ini adanya Non Laras anaknya Tuan” jelas Seto lagi.


“Sialan !” umpat Mahendra dalam hati.


“Lain kali jangan beri informasi apapun tentang siapa saja yang ada di rumah ini” Tegas Mahendra sambil menatap Seto dengan tajam.

__ADS_1


“B--aik Tuan” jawab Seto ketakutan.


Mahendra langsung masuk kedalam rumah dengan amarah yang memuncak, dia tidak pernah menyangkan jika akan ada yang tau kalau Khanza masih hidup dan sekarang ada bersamanya.


Dengan langkah panjang Mahendra memasuki ruang CCTV, ia harus memastikan bahwa yang datang bukan orang yang saat ini ada di pikirannya.


Namun lagi dan lagi Mahendra mengerang karena melihat dengan jelas dua pria yang begitu ia kenal yang sedang di tampilkan di layar monitor.


“Raka dan Arif” gumam Mahendra.


“Dari mana mereka tau kalau Khanza ada disini”


“Apa dokter Chika yang mengatakan nya ?”


Hingga dengan cepat Mahendra menelpon dokter Chika untuk menanyakan tentang semua ini, namun jawaban dokter Chika ---


“Saya tidak tau Pak, karena tidak ada yang mendatangi saya !”


“Lagian jika memang ada yang bertanya saya tidak akan mengatakan semuanya”


Mahendra mengepalkan tangannya, buku-buku jarinya, berhasil menampakkan urat marah nya.


“Lalu mereka dapat informasi ini dari mana ?” Batin Mahendra.


Tok.


Tok


Tok.


“Masuk !” titah Mahendra.


Ceklek


Pintu di dorong dari luar, Laras tersenyum dengan manis kepada Mahendra, dan di balas seperti itu juga oleh Mahendra.


“Papa kapan pulang ?”tanya Laras


“Tadi, ada apa Nak ?” Mahendra balik bertanya.


“Tidak apa-apa pa, Laras cuman kangen sama Papa, Oh iya katanya Papa mau ikut seminar di Jepang ya ?”


Mahendra mengikuti Laras yang duduk di sofa


“Iya rencananya, kenapa memangnya ?”


“Kapan Papa berangkat ?” tanya Laras lagi.

__ADS_1


“Minggu depan”


“Oh” hanya itu Jawaban Laras.


Mahendra menatap wajah Laras, dan itu selalu berhasil membuat dirinya teringat dengan sang putri.


“Aku tidak akan memberi tahu kamu sebenarnya Nak, karena sampai kapanpun Laras akan tetap jadi anak Papa” batin Mahendra.


-----------


Matahari mulai menampakkan sinarnya dengan malu-malu, sinarnya menelusup kedalam cela jendela sehingga menimbulkan efek silau Dimata orang yang saat ini masih tertidur dengan damai.


Laras/Khanza menggeliat, mengucek kedua matanya untuk menyamarkan cahaya lampu yang beradu dengan cahaya matahari.


“Astaga udah pagi aja, perasaan baru aja tidur” gumam Laras dengan suara serak.


Laras bangun sambil merentangkan kedua tangannya, ia beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri.


Laras memandangi wajahnya di cermin wastafel, wajah yang putih dan bersih karena dirinya rajin merawat diri.


Sebenarnya ia masih bingung dengan tanda bekas operasi di perutnya, seperti bekas operasi Caesar, namun saat ia bertanya kepada Mahendra, yang ia peroleh hanya jawaban seperti ini -.


“Itu bekas operasi usus buntu setahun yang lalu Nak, masa Laras tidak ingat ?”


Iya jawaban itulah yang selalu ia dapat.


Laras menggeleng ia memang tidak ingat apapun tentang operasi,bahkan untuk mengingat kebersamaan nya dengan Mahendra saja tidak.


Walau setiap ia mengobrol dengan Mahendra, Laras selalu mendengarkan cerita tentang kebersamaan mereka, dan anehnya cerita itu seakan tidak pernah Laras temui atau ia jalani. Sangat aneh memang.


Laras mengambil sikat gigi dan memberinya pasta gigi, lalu menggosok giginya sampai ia merasa sudah bersih, barulah Laras berkumur untuk menghilangkan busa yang masih menempel di sekitar bibir nya.


Kemudian mengambil pembersih wajah dan meneteskan nya sedikit di telapak tangan, menggosok-gosok sampai menjadi bisa yang lembut, barulah Laras menyapukan nya kewajah sehingga membuat wajah Laras kencang dan putih berseri.


Setelah selesai Laras kembali kekamar, hari ini ia masuk kuliah jam 11 siang jadi ia bisa bersantai-santai dahulu.


Laras berjalan ke arah jendela lalu membuka gorden sehingga sinar matahari masuk dengan nyaman. Lalu kemudian berjalan ke arah balkon dan lagi-lagi Laras merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara pagi yang masih sangat segar.


Laras memejamkan matanya, ia benar-benar sedang menikmati udara pagi ini, bekas embun yang masih ada di dedaunan berhasil memberikan efek segar.


Setelah membuka matanya Laras melihat sebuah mobil berwarna hitam parkir tidak jauh dari rumahnya, Laras bahkan menyipitkan matanya sambil melihat kearah mobil.


Namun karena kaca di mobil itu berwarna hitam jadinya Laras tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil itu


“Mungkin mobil tetangga" gumam Laras lalu masuk kedalam kamar lagi.


"Tapi kok parkirnya disana sih ?"

__ADS_1


__ADS_2