Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Saling Menguatkan


__ADS_3

Arif.


Ia tak tau harus bagaimana di dalam pelukan sang Papa ia menangis sesegukan. Hatinya terluka dan ia begitu sedih saat mengetahui bahwa wanita yang baru saja ia halalkan 2 hari yang lalu harus kembali merasakan sakit nya penderitaan.


“Kamu yang sabar Ya Nak !! Kamu jangan lemah karena kamu adalah sumber kekuatan bagi Khanza jika kamu seperti ini bagaimana dengan Khanza” ucap Papa berusaha menenangkan dirinya.


Namun justru ia semakin terisak. Ketika sebuah tepukan halus yang di lakukan oleh Ayah mertuanya. Ia langsung melepaskan pelukan Papa. Dan beralih memeluk Ayah.


“Khanza pasti akan sembuh kan Yah ??” tanya nya dengan suara bergetar.


“Inysa Allah nak !! Atas izin Allah Khanza akan segera sembuh” ucap Pak Hadi berusaha kuat di depannya.


Namun justru hal yang tak terduga terjadi, ketika ia dan Pak Hadi masih berpelukan. Suara Khanza yang muncul di ambang pintu membuat mereka semua terdiam.


Ia melepaskan pelukan. Lalu menoleh kebelakang dimana ada Khanza sedang di gandeng oleh Mamanya sedang menatap kearah nya dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan.


“Kalian kenapa menangis ??” tanya Khanza terlihat kebingungan.


Sekuat tenaga ia berusaha untuk tersenyum. Lalu berjalan mendekat dan mencium kening sang istri.


“Kamu udah bangun sayang ??” tanyanya dengan suara serak.


“Jangan mengalihkan pembicaraan, aku kan nanya kenapa Kamu, papa dan juga Ayah menangis ?? Apa yang kalian tangisi ??”tanya Khanza bertubi-tubi.


“Tidak ada apa-apa Sayang” jawabnya berbohong.


Namun Khanza tak bisa langsung begitu percaya.


Apalagi saat melihat dirinya berpelukan sambil menangis dengan Pak Hadi.


“Masih gak mau jujur ??” hardik Khanza dengan sorot mata yang tajam.


“Kalian mau menyembunyikan apa dariku ??” Khanza berteriak. Membuat ia menelan Saliva nya berkali-kali.


Sungguh ia tak bermaksud membuat Khanza marah. Hanya saja ia belum sanggup mengatakan yang sejujurnya. Ia begitu takut melihat wanita itu menangis.


“Za please jangan marah-marah dulu !! Mas gak bermaksud buat merahasiakan apapun dari kamu”ia berusaha meraih tangan Khanza namun langsung di tepis oleh Khanza dengan cepat.


“Memang nya apa yang terjadi ??” tanya Mama.


Ia hanya menatap Mama dengan sorot mata memelas. Dari matanya ingin mengatakan kalau jangan bertanya apa-apa lagi. Seakan tau apa yang dirinya isyarat kan Mama menganggukkan kepala.


“Khanza, jangan marah-marah dulu ya Nak !! Ayo masuk sama Mama biar bisa istirahat lagi” ucap Mama dengan lembut. Berusaha membujuk Khanza yang sudah di banjiri air mata.


“Iya Ma” jawab Khanza demikian.


Ia menghela nafas karena merasa aman saat Khanza tak lagi bertanya ataupun marah-marah..


“Kapan kamu akan memberi tahu Khanza Nak ?? Tidak mungkin kalau masalah ini kita sembunyikan karena Khanza butuh berobat” tanya Papa.


“Secepatnya Arif akan memberi tahu Khanza Pa”

__ADS_1


“Ayah serahkan semua nya padamu. Kalau Ayah tak sanggup mengatakan sejujurnya” sahut Pak Hadi


--------------------


Khanza.......


Ia masih terus terisak didalam pelukan Mama mertuanya, ia merasa sakit saat mengetahui kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya.


Sejujurnya ia sudah bisa menebak kalau ini masalah kesehatan nya. Namun tidak bisakah Arif langsung bicara saja toh dia juga akan mengerti karena memang sudah pernah merasakan nya.


“Udah ya Nak jangan nangis terus !! Nanti Khanza gak akan sembuh-sembuh” ucap Mama mertuanya.


Namun tangisnya tak bisa di hentikan, dan ketika suara pintu terbuka dan di susul masuknya sang suami, membuat Mama melepaskan pelukan. Ia langsung memalingkan wajahnya enggan untuk menatap wajah Arif.


“Mama keluar dulu. Kalian selesaikan masalah nya baik-baik kalau ada apa-apa panggil Mama, Mama tunggu di depan”ucap Mama sambil kembali mengelus kepalanya.


“Iya Ma” sahut Arif.


Setelah kepergian Mama. Arif duduk di samping tempat tidurnya. Sementara dirinya masih betah untuk menghadap kesamping hingga posisi mereka saling membelakangi.


Begitu tragis bukan ?? Biasanya kalau pengantin baru akan melakukan hal romantis berbeda sekali dengan dirinya dan Arif yang sudah bertengkar walau tak tau apa masalahnya.


“Maafin Mas ya sayang !!” Arif memecahkan keheningan.


“Iya” jawabnya singkat.


“Mas gak bermaksud menyembunyikan apapun dari kamu, Hanya saja Mas belum sanggup untuk menceritakan nya”


“Apa ini berhubungan dengan penyakit kanker hati yang dulu aku derita ??” ia langsung bertanya.


Lama ia menunggu jawaban. Menanti jawaban yang mungkin akan membuatnya syok. Tapi ia harus tetap kuat, ia harus terus menjalankan kehidupan selanjutnya apalagi saat ini ia sudah menjadi seorang istri. Ia punya kewajiban yaitu melayani suaminya.


“Jawab Mas !!” Hardik nya dengan tegas.


Ia mendengar Arif menghela nafas nya sebentar.


“Iya sayang, penyakit kanker hati kamu kambuh lagi”


Deeegggggg..


Kenapa begitu menyakitkan saat ia benar-benar mengetahui semua ini. Kenapa sesakit ini.


Air mata yang sudah mengalir kini bertambah deras. Bahunya naik turun tanda kalau ia benar-benar terguncang. Ketika ia merasakan sebuah pelukan hangat Malah semakin membuatnya sakit.


“Kamu harus kuat ya sayang !! Ada mas di samping kamu, Mas janji akan melakukan apa saja asal kamu bisa sembuh” ucap Arif dengan air mata yang mengalir.


“Kita lalui ini sama-sama ya sayang !! Kita pasti bisa. Percaya sama Mas"


-----------


Arif.....

__ADS_1


Ia langsung memeluk erat tubuh Khanza yang masih terisak dengan tangisan yang memilukan.


Begitu sakit hatinya melihat istri kesayangan nya harus menangis seperti ini tapi ia tak bisa melakukan apa-apa selain memberi semangat dan berusaha mencari pengobatan yang terbaik untuk istrinya.


“Mas janji akan mencari tempat pengobatan yang terbaik untuk kamu, mas janji sayang”


Hiks---Hiks----Hiks.


“Kenapa harus Khanza yang merasakan semua ini Mas ?? Kenapa tuhan gak adil sama Khanza ??”


Ia hanya menggeleng untuk tak membenarkan ucapan Khanza.


“Kamu jangan ngomong gitu sayang, Allah itu adil sekali kepada setiap hambanya. Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya” ia berusaha memenangkan.


“Tapi Khanza gak kuat menerima sakit seperti ini Mas, Khanza gak kuat”


Hati nya semakin teriris mendengar setiap kata yang Khanza ucapkan, begitu malang istri nya itu di umur segini sudah merasakan penyakit yang mematikan.


Namun ia tetap akan berusaha untuk membantu penyembuhan Khanza. Ia akan bekerja sama dengan para dokter untuk melakukan yang terbaik untuk sang istri.


Lama Khanza menangis akhirnya saat ini Khanza sudah tidur mungkin lelah karena menangis atau karena efek obat yang tadi Khanza minum.


“Aku titip Khanza dulu Yah” ucapnya kepada pak Hadi yang sedang duduk di sofa ruangan Khanza.


“Mau keruangan dokter Raka sebentar”


“Silahkan Nak !!” ucap Pak Hadi dengan tulus.


Ia meninggalkan Pak Hadi di ruangan Khanza sendiri karena kedua orang tuanya sedang pulang sebentar , nanti akan kesini lagi.


“Udah di kasih tau sama istri kamu ??” tanya Raka saat ia sudah berada di ruangan.


ia mengangguk membenarkan.


“Gimana kondisi dia ?? Gak drop kan ??” tanya Raka lagi.


“Enggak, cuman ya nangis terus mungkin sedih karena kanker hati itu kembali lagi menyerang tubuhnya”


“Setiap orang yang mengalami musibah ini pasti akan sedih Rif, tapi kita sebagai orang terdekat nya harus memberikan dukungan”


“Apa yang harus kita lakukan Ka, tolong beri aku petunjuk”


Raka memandang wajahnya “Aku akan berusaha, kita berjuang sama-sama untuk penyembuhan Khanza”


“Langkah pertama Khanza akan menjalani kemoterapi sama di bantu dengan obat-obatan”


Ia mengangguk, apapun akan ia setujui asal istrinya bisa sembuh dan kembali berkumpul dengan nya di rumah. Kembali bercanda dan membahas masalah rumah tangganya yang baru beberapa hari.


“Dan untuk sementara kamu tunda dulu masalah kehamilan Rif, fokos sama kesembuhan istri kamu dulu, takutnya nanti kalau istri kamu udah hamil malah akan membahayakan istri dan calon anak kamu kelak” jelas Raka.


“Iya Ka” jawabnya lemah. Bingung harus bagaimana karena semalam Khanza baru saja membahas masalah anak. Dan kemungkinan besar untuk sementara ia akan menolak jika Khanza akan segera hamil.

__ADS_1


__ADS_2