
“Silahkan di Adzanin !!” titah Pak Hadi.
Arif menganggukan kepalanya, setelah itu Arif berwudhu agar bisa mengumandangkan Adzan untuk putri kecilnya.
Dengan air mata berderai Arif mengumandangkan Adzan tepat di telingah kanan putrinya, seakan mengerti putri kecil itu tampak tenang, seolah meresapi suara sang Ayah yang begitu serak karena menahan tangis.
Selesai mengumandangkan Adzan Arif sudah tak kuasa menahan tangisnya, di samping boxs bayi kecilnya yang masih merah Arif menangis kencang, meraung bagaikan orang yang kehabisan akal.
Iya betul Arif memang kehabisan akal, karena kebahagiaan nya sudah di ambil secara paksa dalam hidupnya. Begitu kejam bukan hidup yang ia jalani ??
Wanita yang begitu ia cintai telah pergi untuk selamanya. Ia bahkan belum berhasil menjadikan Khanza ratu dalam rumah tangganya .
Rasanya Arif ingin sekali melompat di gedung tinggi agar bisa menyusul sang istri yang sudah pergi jauh, jauh sekali sehingga Arif tidak bisa menggapai nya.
“Khanzaaaaaaaa” Arif berteriak sekuat mungkin, memanggil nama seseorang yang bahkan tak akan menangkapnya lagi.
Malihat sang menantu begitu terpuruk Pak Hadi menatapnya dengan Iba, ia tak tau harus berbuat apa karena dirinya juga butuh kekuatan.
Bahkan pak Hadi yang paling menderita karena sudah di tinggalkan dua wanita yang paling ia cintai yaitu sang istri Melati dan Khanza putrinya.
Takdir begitu tega membuat ia menjadi sebatang kara seperti ini, kehilangan dua wanita sekaligus membuat nya seperti hilang arah.
“Kenapa tuhan tidak adil, kenapa secepat ini tuhan mengambil nya dariku” Arif kembali bersuara, melampiaskan semua kekecewaan yang bertakhta dalam dirinya. Mungkin dengan begini rasa sakit, sedih bisa sedikit hilang ia rasakan.
Dengan berjalan pelan, Pak Hadi mendekati menantunya yang sekarang duduk di samping box bayi itu. Di raihnya tubuh Arif sehingga Arif jatuh kepelukan Pak Hadi.
“Khanza udah janji sama aku Yah kalau dia tidak akan meninggalkan aku” ucap Arif pelan.
“Dia juga berjanji pada Ayah” balas Pak Hadi berusaha sekuat tenaga menahan rasa sesak di dadanya.
“Khanza berjanji akan menua bersama ku Yah”
“Dia juga berjanji akan menemani Ayah sampai Ayah menutup mata”
“Lalu kenapa Khanza ninggalin Arif ??”
Untuk yang ini Pak Hadi tidak bisa menjawab ucapan menantunya, ia sendiri masih mencerna setiap kejadian yang menimpah Khanza.
__ADS_1
Bayangan tentang kenakalan Khanza mulai melintas di pikiran Pak Hadi bagaikan sebuah Film pendek, bagaimana Khanza begitu manja padanya, bagaimana Khanza selalu membuat pak Hadi naik darah karena Khanza selalu berbuat onar.
“Siapa yang akan membuat Ayah marah lagi Nak ??” batin Pak Hadi lirih.
Tubuh Pak Hadi terguncang, deru nafasnya naik turun, ia sudah terisak dalam tangisnya, sebelah tangan nya meremas kemeja Arif.
“Kita harus kuat, ada titipan dari Khanza yang harus kita jaga” ucap pak Hadi
Arif menggeleng “Arif tidak bisa Yah, ini terlalu menyakitkan” balas Arif.
“Putrimu butuh kamu Nak, dia sudah tidak punya Ibu” ujar Pak Hadi mengingatkan
“Tapi aku butuh Khanza yah”
Bukan hanya Arif yang masih sangat membutuhkan Khanza namun juga Pak Hadi, Khanza adalah buah cintanya bersama Melati, lalu jika Khanza telah pergi untuk siapa ia hidup lagi.
Dulu saat kehilangan sang istri, Pak Hadi seolah tak ada semangat lagi untuk melanjutkan hidup, dan sekarang ia kehilangan Khanza. Entah bagaimana kehidupannya nanti.
-----------
Keesokan harinya jenazah Khanza sudah siap untuk di bawah pulang, Pak Hadi sudah memutuskan kalau pemakaman Khanza akan di laksanakan di Indonesia.
Tidak berapa lama Kenan dan juga Pras datang, mereka berdua yang mendengar kabar kalau istri Arif meninggal langsung terbang ke Singapura.
“Sabar bro, mungkin memang ini jalan nya” ucap Kenan menguatkan Arif
“Jalan ini terlalu berat untuk aku jalani Ken, dia terlalu tega meninggalkan aku dengan menitipkan seorang bayi yang mana aku tidak tau cara mengurusnya" balas Arif
Kenan tau apa yang di alami oleh Arif, dulu dia juga merasakan saat kehilangan Alya, namun bedanya Alya tidak meninggal.
“Ayo pulang, pesawatnya sudah siap, kasian istrimu kalau belum juga di makamkan” ajak Kenan
“Iya dokter Arif, kasian Nona Khanza” sahut Pras.
Dengan tangan bergetar Arif mengangkat putri kecilnya, menggendong nya dengan pelan-pelan, tidak lupa botol susu si kecil untuk putri nya jika nanti ia kehausan.
“Kita pulang Nak” ucap Arif kepada putri kecilnya yang belum ia kasih nama.
__ADS_1
*********
Sementara itu
Di rumah Arif, Mama Risa yang mendengar kabar kalau sang menantu meninggal dunia langsung menangis histeris, ia ingat perlakuan nya terhadap Khanza saat Khanza baru di istri oleh anaknya.
“Maafkan Mama Nak, Mama pernah jahat sama Khanza” ucap Mama Risa sambil memeluk foto pernikahan Arif dan Khanza.
Sementara suaminya sedang mengundang orang untuk melaksanakan pengajian, rumah Arif sudah ramai karena para tetangga sudah berdatangan mereka semua menunggu jenazah Khanza tiba di Indonesia.
“Kasian ya Mas Arif Baru saja menikah sudah di tinggal sama sang istri” ucap Ibu-ibu yang duduk tidak jauh dari Mama Risa.
“Iya, baru setahun menikah sudah jadi duda” sahut ibu yang lain.
“Sudah diam, kita kesini untuk mendoakan almarhum bukan untuk mengibah” omel Bu RT .
“Maaf Bu” kedua ibu tadi langsung minta maaf.
Air mata Mama Risa masih begitu deras menetes, putranya pasti sangat terluka sekarang karena di tinggalkan sang istri, bagaimana cara Arif menjalani hari-harinya setelah ini.
Sedangkan Mama Risa tau kalau putranya begitu mencintai Khanza.
Lantunan surat Yasin terus di bacakan oleh para ibu-ibu dan bapak-bapak, hingga sebuah telefon dari Arif membuat acara terhenti, Arif mengabarkan kalau mereka sudah Tiba di Indonesia.
“Papa ke Bandara dulu Ma” ucap Papa kepada Mama Risa.
Mama Risa mengangguk, sang suami ke Bandara menggunakan mobil ambulance untuk menjemput Khanza, ada dua mobil yang ikut satunya untuk Arif dan yang lain.
Tidak lupa Papa membawa perlengkapan bayi takutnya cucunya membutuhkan semua itu.
“Baru saja ngerasain punya menantu malah sudah pergi” batin Papa lirih.
Dari awal memang Papa nya Arif begitu menyayangi Khanza, ia tidak pernah mempermasalahkan walau Khanza mengidap penyakit kanker.
-------
Mama Risa duduk di kursi di depan rumah, ia menunggu kedatangan menantunya yang akan menjadi hari terakhirnya bertemu.
__ADS_1
Setelah ini ia tidak akan pernah bertemu Khanza lagi, dan kenyataan lain ia tidak lagi menjadi mertua.
"Maafkan Mama nak !!" kembali Mama Risa bergumam.