
Setelah ketiga sahabatnya pamit pulang, Arif kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh ketiga pria Somplak yang membuatnya garuk kepala berulang kali.
Apalagi dengan kata terakhir yang Kenan ucapkan membuatnya hampir pingsan.
Bisa-bisa mereka akan memberikan Arif sebuah alat Kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
Padahal dirinya ingin Khanza bisa secepatnya hamil.
Hmmm. Mengingat tentang kehamilan dirinya bahkan belum membicarakan ini dengan Khanza. Apa Khanza akan setuju untuk secepat itu atau malah sebaliknya. Entahlah...
Arif mendesah.. Sudahlah tak perlu di pikirkan apa yang belum terjadi. Khanza pasti akan mengerti tentang keinginan nya yang ingin segera memiliki momongan.
Mengingat kalau umurnya sudah menginjak kepala 4. Serta teman-teman nya sudah pada memiliki anak semua..
“Semoga Khanza mengerti” batin nya.
************
Hari yang di tunggu pun tiba. Khanza sudah di hias begitu cantik. Ia memandangi penampilan wajahnya dengan bedercak kagum. Ia bahkan tak henti-hentinya tersenyum.
Ketika suara pintu terbuka dengan lebar, di iringi langkah kaki sang Ayah yang membuat perasaan Khanza entah kenapa mendadak sedih.
Laki-laki yang membesarkan nya dengan penuh kasih sayang.
Laki-laki yang menjaga nya dengan segenap jiwa dan raga hingga tak ada satu orang pun yang berani menyakitinya walaupun itu hanya seekor semut.
Laki-laki yang menuruti semua keinginan nya.
Namun sekarang lelaki itu juga yang akan mengantarkan nya kepada sosok laki-laki lain yang Ia cintai setelah Ayahnya. Iya Arif adalah lelaki kedua yang teramat berarti dalam hidup Khanza, karena Ayahnya sampai kapanpun akan tetap yang utama.
“Masya Allah anak Ayah cantik sekali” ucap Pak Hadi bedercak kagum.
Khanza mengu lum senyum nya, Pujian dari sang Ayah membuat Perasaan Khanza kembali menghangat.
“Jika berpakaian seperti ini kamu begitu mirip dengan Almarhum Bunda kamu” kembali Pak Hadi berbicara, namun sekarang dengan mata yang berkaca-kaca.
Pikiran nya kembali mengingat saat sang istri memakai pakaian sama seperti Khanza. Dimana Ia dan Melati akan menikah.
“Ayah” Khanza sekuat tenaga untuk menahan air matanya.
Pak Hadi kembali mendekat. Ia langsung memelum Khanza dengan sangat erat, begitu erat seolah mereka akan berpisah selama-lamanya.
__ADS_1
“Ayah tidak menyangkah jika putri kesayangan Ayah akan segera menikah. Dan tanggung jawab Ayah akan segera berpindah”
“Kamu jadi istri yang baik ya Nak !! Karena surga mu ada pada suami kamu”
Khanza hanya mengangguk, tak mampu lagi untuk berkata. Perasaan nya campur aduk sekarang antara sedih dan juga bahagia.
Tidak berapa lama pelukan tersebut terlepas. Pak Hadi membelai pipi Khanza sembari tersenyum kaku.
“Ayah turun duluan. Nanti Khanza di jemput sama Tante Ira jika acaranya hampir di mulai”
Khanza kembali mengangguk.
Setelah kepergian Pak Hadi, Khanza mendudukan diri di kursi tempat Ia di hias tadi.
Jika berpakaian seperti ini kamu begitu mirip dengan Almarhum Bunda kamu.
Kata-kata pak Hadi kembali terngiang di telingahnya. Khanza menggelengkan kepalanya dia tak boleh menangis. Hari ini adalah hari bahagianya karena akan segera menikah dengan Arif.
“Semoga Bunda tenang di alam sana” batin Khanza berdoa.
************
Saya terima nikahnya Ayesa Khanza Gunawan Binti Hadi Gunawan dengan mas kawin tersebut tunai***
“SAH”
“SAH”
“SAH”
Ketika para saksi mengatakan kata Sah, semuanya langsung menjawab.
“Alhamduliahirabbil alamin”
Di lanjut dengan membaca doa yang di lakukan oleh ustadz yang di undang.
Sekarang Arif dan Khanza sudah SAH menjadi pasangan suami istri. Keduanya tampak menampilkan senyum kebahagiaa.
Khanza mencium punggung tangan suaminya, di lanjutkan dengan Arif yang mencium kening Khanza begitu dalam, seolah enggan untuk melepaskan di tambah dengan perasaan rindu yang menggebu. Hingga bisikan laknat dari sala-satu sahabatnya yang datang membuat Arif menahan malu dan juga kesal.
__ADS_1
“Di lepas dulu ciuman nya, ini masih panjang acaranya gue tau Lo kangen”
Siapa lagi yang akan berani mengatakan itu jika bukan Kenan Putra Abraham, yang sengaja menyempatkan waktu untuk datang di acara pernikahan nya dengan Khanza. Bahkan Arif sendiri berpikir kalau Kenan akan datang pas resepsi aja.
Kedatangan Kenan membuat para kaum hawa berteriak histeris, apalagi yang menjadi fans beratnya. Membuat Arif lagi-lagi mencibir. Namun saat Kenan membalas senyuman para wanita Arif juga bisa membisikan ucapan maut yang akan membuat Kenan terdiam seribu bahasa.
“Gue bilangin Alya tau rasa Lo”
Acara demi acara dalam pernikahan Arif dan Khanza sudah selesai. Para tamu yang sebagian di undang sudah banyak yang pulang, tinggal para keluarga yang masih mengobrol di ruang keluarga atau masih menikmati hidangan yang tersaji.
Sementara kedua mempelai sudah duduk manis di dalam kamar, awalnya Khanza belum mau untuk di suruh istirahat tapi Tante Ira malah memaksa, apalagi dengan kata-katanya yang menyebalkan.
“Kemaren kan kangen, ayo sana masuk kamar. Peluk sama cium kan udah halal”
Mau tak mau Khanza langsung menurut, dengan perasaan kesal dan juga malu tentunya.
“Apa kabar dek ?? kangen gak sama Mas ??” tanya Arif sembari menatap wajah Khanza.
“B--aik” jawab Khanza gugup.
Arif terkekeh, Ia jadi kembali teringat saat pertama kali masuk kedalam kamar ini.
“Jangan gugup dong, masa sama suami sendiri gemetaran” seloroh Arif dengan masih terkekeh.
“Mana ada, enggak tu” cibir Khanza namun Ia langsung memalingkan wajahnya.
Hingga tak berapa lama sentuhan hangat dan lembut yang Khanza rasakan di kepalanya membuat Khanza menoleh, Dimana Arif memandangnya dengan tersenyum.
“Gak tau benar atau salah, namun selama Mama nyuruh aku bacain doa buat kamu, harusnya sih pas di depan tapi aku takut salah. Jadi disini aja ya”
Belum sempat Khanza menjawab. Arif sudah membacakan setiap kalimat doa dengan suara merdu dan juga lembut. Sambil memegangi ubun-ubun nya.
اللهم بارِكْ لي في أهلي، وبارِكْ لأهلي فِيَّ، اللهم ارزقْهم مِنِّي، وارزقْني منهم، اللهم اجمع بينَنا ما جمعتَ في خيرٍ، وفرِّق بيننا إذا فرقتَ في خيرٍ
“Allahumma barik li fi ahli, wa barik ahli fiya. Allahumarzuqhum minni, warzuqni minhum. Allahummajma’ bainana ma jama’ta fi khair. wa farriq bainana idza faraqta fi khair.
Artinya, “Ya Allah berkahilah kehidupanku dalam keluargaku, juga berkahilah keluargaku dalam hidupku. Ya Allah berikanlah rezeki untuk keluargaku dari ku dan berikanlah rezeki untukku dari keluargaku. Ya Allah kumpulkanlah kami sebagaimana Engkau kumpulkan dalam kebaikan, juga jangan pisahkan kami kecuali dalam perpisahan yang baik.”
“Aamiin” Seru keduanya serempak.
Arif kembali mencium kening Khanza, dan Khanza pun menikmati nya hingga rasa cinta itu tumbuh lagi.
__ADS_1