
Sementara itu.
Arif terbangun dari tidurnya, semalam ia bermimpi aneh sekali, ia bermimpi tentang Khanza yang meminta tolong kepadanya, mimpi itu seakan nyata, tapi dia juga bingung kenapa Khanza minta tolong karena jelas bagaimana bisa ia menolong Khanza yang sudah beda alam dengan nya.
Arif melihat kesamping dimana anaknya masih terlelap, semalam ia tidak tahu jam berapa Mama menidurkan bayi kecil itu di samping Arif.
“Pagi anak Papa” ucap Arif sambil mencium kening anaknya.
Arif baru ingat kalau anaknya belum memiliki nama, sejenak Arif berpikir untuk memberi nama anaknya siapa.
“Kiandra Putri Praja” gumam Arif.
“Nah sekarang nama anak Papa adalah Kiandra. Semoga jadi anak yang Sholeh ya Nak”
Sejenak Arif menatap sekelilingnya, dimana dulu ada seseorang yang mondar-mandir dikamarnya dengan senyum yang cantik, namun sekarang tidak ada lagi. Semuanya kosong tak tersisa.
****
Setelah mandi Arif langsung turun kebawa bersama anaknya, hari ini Arif belum akan bekerja, Kenan memberinya libur sampai keadaannya benar-benar sembuh.
“Eh cucu Nenek udah bangun” Mama Risa langsung mengambil alih menggendong anaknya Arif.
“Jam berapa Kia tidur Ma?” tanya Arif.
“Dia sudah punya nama ?” Mama Risa balik bertanya.
Arif mengangguk “Kiandra Putri Praja panggilan nya Kia” ucap Arif.
“Nama yang cantik, secantik orangnya.” jawab Mama
Arif tersenyum canggung..
Setelah sarapan semuanya berkumpul di ruang TV, ada Arif, Mama Risa, Papa, Pak Hadi, dan Bi Sri, mereka berkumpul sambil memandangi wajah Kia.
“Kia mirip sekali sama Khanza, bibirnya, matanya dan hidungnya” ujar Pak Hadi sambil membayangkan wajah putrinya.
“Iya Pak, mirip sekali sama Non Khanza, saya masih ingat gaya tidur seperti adalah gaya tidur non Khanza” Bi Sri terlihat antusias mengatakan nya.
Kia kecil tampak begitu pulas tidur di Jaga oleh semua orang, hanya Kia yang akan menjadikan obat penawar rindu mereka semua kepada Khanza.
Mahendra telah bersiap untuk melakukan operasi, tubuh Khanza sudah berada di ruang operasi, Mahendra di temani oleh dokter Chika untuk mengawasi rahim Khanza.
“Bagaimana sudah siap ?” tanya Dokter Chika.
Mahendra mengangguk, ada 4 orang dokter di sana serta 5 orang suster untuk membantu Mahendra, benar-benar sesuatu yang di rencanakan dengan matang.
Operasi itu berjalan sampai 5 jam lebih, hingga akhirnya semua nya selesai, operasinya berjalan lancar dan Khanza akan sembuh total. Namun dengan kehidupan yang berbeda tentunya ia bukan lagi Ayesa Khanza Gunawan namun Laras Putri Mahen
__ADS_1
“Berjalan lancar operasinya” gumam Mahendra tersenyum senang.
Khanza langsung di pindahkan keruang rawat, sementara tim dokter yang lain nya masih menangani seseorang yang menjadi pendonor untuk Khanza.
2 hari berikutnya Khanza sudah sadarkan diri, ia menatap sekelilingnya dengan perasaan bingung, seorang suster yang di tugaskan menjaga Khanza langsung memanggil Mahendra
Dengan cepat Mahendra berlari kencang untuk sampai keruangan Khanza, benar saja disana Khanza sudah sadarkan diri.
“Sayang kamu sudah sadar” ucap Mahendra.
“Anda siapa ?” tanya Khanza.
“Aku Papa kamu Nak”
“Papa ?”
“Iya Papa kamu, Papanya Laras”
Seketika kepala Khanza sakit karena mencoba mengingat kejadian masalalunya.
“Sudah jangan di paksakan, yang penting sekarang Laras sembuh” ucap Mahendra.
“Nama ku Laras ?” tanya Khanza
“Iya Nak, nama kamu Laras”
Khanza masih menatap sekitarnya, ini semua terlihat sangat aneh dan membingungkan. Khanza merasa disini bukan tempatnya, tapi kenapa ia tidak bisa mengingat semuanya.
Dan satu lagi ia merasa ada yang hilang, entah apa itu, yang jelas Khanza seperti merindukan seseorang tapi tidak tau siapa.
Setelah seminggu Khanza di rawat dan Mahendra sudah menyatakan kalau Khanza sembuh total akhirnya Mahendra membawa Khanza pulang.
Dan Khanza bukan lagi namanya karena saat ini ia bernama Laras Putri Mahen.
“ Ini kamar kamu Nak” Mahendra membuka satu kamar dimana kamar itu sudah di sulap sebagus mungkin, banyak foto Khanza yang tertempel disana.
“Ini kamar Laras ?”
“Iya Nak ini kamar Laras”
Khanza menatap sekelilingnya, benar-benar terlihat asing, seperti nya ia tidak pernah berada disana.
“Sekarang Laras istirahat dulu, Papa mau kebawa sebentar" ucap Mahendra.
“Iya Pa”
--------------
__ADS_1
Hari ini Arif sudah mulai bekerja, walau Kenan belum mengizinkan tapi Arif ingin mencari aktivitas lain, jika ia berdiam di rumah terus maka bayangan tentang Khanza selalu ada di ingatan nya.
Arif begitu sulit melupakan Khanza, mungkin sampai kapanpun nama Khanza akan selalu ada di hatinya dan mungkin Khanza lah tempat labuhan hatinya yang terakhir.
“Kenapa udah kerja ?” tanya Raka.
“Enggak Papa, bosan di rumah terus" jawab Arif tanpa ekspresi
“Yakin udah siap bertempur dengan pasien ? Mending Lo diam aja dulu gue takut Lo salah” ujar Raka
Arif memandang Raka “Lo kira gue dokter Bodoh, walaupun gue lagi ada musibah kek gini gue akan membunuh pasien gue sendiri” ucap Arif emosi.
“Ok ok gue minta maaf” kata Raka sambil mengangkat kedua tangan nya keatas.
Namun Arif tak lagi menanggapi ia langsung menuju dimana ruangan nya berada, ruangan yang selama 10 bulan ini ia tinggalkan, tidak ada yang berubah semuanya masih sama hanya berbeda tata letak barang-barang di atas meja.
Dengan sangat kesal Arif mendudukkan diri di kursi sebelum bertempur dengan pasien, mungkin jika ia bekerja bayangan tentang sang istri akan sedikit hilang di ingatan nya, bukan Arif ingin melupakan Khanza hanya saja Arif ingin sedikit bisa merelakan sang istri.
Karena sampai saat ini Arif begitu berat untuk merelakan Khanza.
Arif melirik jam tangannya, sudah saatnya ia mulai beraktivitas, ia segera memakai stetoskop yang ia lingkarkan di leher, lalu memakai jas putih kedokteran nya.
“Mana pasien yang harus saya periksa ?”
tanya Arif kepada suster yang mengikutinya.
“Disana dok" jawab Suster
Dengan langkah tegap Arif melangkahkan kakinya menuju ruangan pasien, ia mulai memeriksa pasien, namun apa yang di katakan Raka tadi benar adanya, bekerja di saat pikiran seperti ini bukanlah hal yang jelas, sering kali Arif salah menanyakan keluhan pasien.
Cukup memeriksa satu pasien Arif sudah kembali keruangan nya, jelas ia tidak akan melanjutkan pekerjaan ini, karena akan membahayakan banyak orang.
“Ni minum dulu” Raka mengulurkan satu buah Aqua gelas untuk Arif, tadi Raka memperhatikan kinerja Arif, dan tau bagaimana Arif selalu salah.
“Sorry Ka”
“Tidak apa-apa, gue tau Lo sedang terluka mungkin menurut Lo bekerja seperti ini bisa bikin pikiran Lo teralihkan”
“Iya Gue pingin nya begitu, namun ternyata salah pikiran gue masih saja tertuju kepada Khanza dan Khanza. Gue belum bisa Nerima istri gue pergi Ka”
Arif duduk di kursi, Raka pun mengikuti.
“Jangan memaksa kan hal yang tidak bisa kamu lakukan Rif. Jalani semuanya dengan baik, gue yakin Lo pasti bisa melewati semua ini”
“Entahlah Ka, gue rasanya begitu sulit menjalani hari setelah kepergian Khanza” jawab Arif begitu pilu.
Tanpa mereka sadari kalau Khanza yang sebenarnya masih hidup, ia masih tertinggal di negara Singapura, dan sekarang ia sudah di nyatakan sembuh dari segala sakit yang selama ini menyerangnya.
__ADS_1
Namun Khanza yang sekarang tentu berbeda dengan Khanza yang dulu, karena Khanza yang sekarang sudah berubah menjadi sosok Laras.