Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Kesedihan


__ADS_3

Khanza.........


Perlahan matanya mulai terbuka. Kepalanya masih terasa sangat pusing dan juga sakit. Ia menatap sekelilingnya yang ternyata ada Arif suaminya. Serta ayah dan kedua mertuanya.


Apa yang terjadi ??


Ia berusaha mengingat semua kejadian sebelumnya namun tak bisa. Otaknya tak bisa mengembalikan memory sebelumnya.


“Syukurlah kamu udah sadar sayang !!” ucap Arif sambil mengecup keningnya dengan lembut.


“Aku kenapa Mas ??” tanya nya tak mengerti.


“Tidak apa-apa, kata dokter karena kecapekan” sahut Ayah yang berjalan kearahnya.


Kecapekan ??


Apa jangan-jangan benar kalau ini karena semalam ?? Oh ya ampun betapa malunya ia kalau teringat dengan kejadian semalam.


“Khanza mau makan apa Nak ?? biar mama Carikan ??” tanya Mama dengan senyum mereka..


“Nanti saja Ma, Khanza belum lapar”


“Tapi kalau lapar jangan sungkan ya Nak !! nanti biar Papa dan Mama yang cari”


Beruntung sekali dirinya karena memiliki mertua yang begitu baik. Ia hanya mengangguk menjawab ucapan dari Papa mertuanya.


“Kamu dirawat dulu ya sayang !! keadaan kamu masih terlalu lemah !!” bisik Arif.


“Tapi aku gak papa Mas ! aku cuman lelah aja !!” tolaknya karena merasa enggan untuk di rawat di rumah sakit.


Ini hari bahagianya. Masa iya dia di rawat di rumah sakit. Enggak banget kan ??


“Betul kata suami kamu sayang. Khanza di rawat Dulu sampai keadaan Khanza kembali pulih”


------------


Arif....


Ia masih memandang wajah cantik istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Beberapa jam yang lalu Khanza sudah di pindahkan keruang rawat.


Walau sebelumnya Khanza terus menolak untuk dirawat namun luluh begitu saja saat melihat Mata Ayah sudah berkaca-kaca.


Benar memang Ayah adalah kelemahan Khanza.


“Permisi !!” ucap Raka yang baru saja masuk kedalam ruangan.


“Eh Ka. Masuk !!” ajaknya kemudian.


Raka mengangguk dan melangkah masuk kedalam ruangan dimana Khanza dirawat. Lalu kemudian duduk disampingnya.


“Yang lain kemana ??” tanya Raka basa-basi.


“Lagi pulang. Lo tau sendiri hari ini acara resepsi gue dan Khanza. Dan hancur begitu saja karena keadaan Khanza. Gue gak masalah sama acara tersebut satu yang gue pikirin hanya kesehatan istri gue Ka”


Raka menepuk bahunya dengan pelan. Mungkin tau apa yang saat ini ia rasakan.


“Oh ya ada apa kesini Ka ??” ia akhirnya bertanya.


“Maafin gue ya Rif kalau harus menyampaikan berita ini. Apalagi pas di hari bahagia Lo. Tapi gue harus katakan karena Khanza harus dapat penanganan yang lebih !!”


Ia terdiam Jantungnya berpacu dengan kuat. Ada apa ini ?? Dan bayangan ketika Khanza mengalami penyakit mematikan itu kembali terbayang.


“Ada apa Ka ??” tanya nya lirih. Berusaha menepis semua bayangan tersebut. Berharap apa yang akan di sampaikan Raka berbeda dengan apa yang saat ini ia pikirkan.


“Penyakit Kanker Hati Khanza kembali”


Duaaarrrrr.


Hatinya remuk redam, ketakutan nya yang beberapa saat lalu menjadi kenyataan. Kenapa begini akhirnya ?? kenapa semua itu kembali menyerang istrinya. Wanita yang teramat ia sayangi.

__ADS_1


Bagaimana ia harus memberi tahu Khanza dan kedua orang tuanya. Lalu Ayah kata apa yang akan ia ucapkan kepada sosok lelaki yang telah membuatnya dan Khanza bersatu.


Tak terasa satu tetes air mata sudah jatuh membasahi pipinya.


“Lo yang sabar ya Rif !! ini cobaan buat kalian”


Ia menggeleng. Tak tau harus bagaimana.Tuhan begitu cepat memberikan rumah tangganya cobaan..


---------------


Khanza.......


Ia terbangun karena merasakan sentuhan halus dan lembut yang terus membelai rambutnya.


“Mas”


“Hmmmmm”


“Kenapa sayang ??” Arif kembali bertanya.


Namun justru ia hanya menggeleng, lalu sesaat kemudian ia menatap mata Arif yang saat ini bengkak. Wajah Arif sembab dan sisa-sisa air mata masih membekas di pipinya.


“Mas nangis ??” ia bertanya, jari jemari nya mengelus rahang Koko yang saat ini telah halal untuk ia sentuh.


“Engga”


“Jangan bohong !!” hardiknya cepat “Tu mata Mas bengkak pasti habis nangis iya kan ??” lanjutnya lagi.


“Enggak sayang” Arif malah mencium puncak kepalanya, Begitu dalam dan penuh kasih sayang.


Mendadak ia luluh tak lagi bertanya tentang wajah sembab sang suami. Ia beralih memainkan ponselnya dan melihat tenyata sudah jam 10 malam.


Ternyata sudah cukup lama ia tertidur, dan sekarang matanya tak mengantuk sama sekali.


“Mas tidur dulu, Mas pasti ngantuk kan, udah jagain Khanza dari tadi”


Arif langsung naik keatas tempat tidur, hingga mau tak mau membuatnya bergeser sedikit untuk memberi ruang kepada sang suami agar bisa tidur juga.


Tangan Arif melingkar di perutnya, membuat jantungnya kembali berpacu dengan kuat padahal ia dan Arif sudah melakukan hal yang lebih dari ini. Tapi kenapa ia masih saja gugup saat di sentuh oleh pria itu.


“Kamu ini masih aja gugup, padahal kita udah melakukan lebih dari ini” goda Arif membuatnya kesal.


Ia memukul dada Arif dengan pelan. Tentu saja kelakuan nya itu membuat Arif langsung tergelak.


“Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku ya sayang !!”


Ia terhenyak kaget karena mendengar bisikan dari sang suami, Entah kenapa kata-kata itu seperti ada kesedihan terdalam yang ia sendiri pun tak tau apa.


“Aku gak akan ninggalin kamu mas, kita akan menua bersama.


---------


Arif.


Ia hanya bisa tersenyum samar, menanggapi ucapan dari istrinya.


Memang harus begitu Khanza harus menua bersama nya, Khanza tidak boleh meninggalkan dirinya apapun yang terjadi.


Penjelasan dari Raka tadi sore sungguh membuat rasa yang sedang indah harus terjun bebas kedalam jurang yang dalam dan penuh duri. Sakit sekali.


Ia tak bisa membayangkan kehidupan Khanza selanjutnya yang akan menjalani kemoterapi. pasti akan menyakitkan sekali.


“Lagi liatin foto siapa sih ?? Fokus amat ??” tanya nya kepada Khanza yang begitu fokus ke layar ponsel.


“Enggak ada, cuman lihat-lihat foto teman-teman di IG”


“Oh”


Suasana mendadak hening, Khanza fokus dengan layar ponsel sementara dirinya dengan pikiran bercabang.

__ADS_1


“Mas” panggil Khanza.


“Hmmmm”


“Nanti kita mau punya anak berapa ??”


Deggggg.


Jantung Arif berpacu dengan kuat, bingung harus menjawab apa, ia sendiri sekarang sudah tak memikirkan masalah anak semenjak mengetahui kalau sakit Kanker hati Khanza kembali. Jika Khanza hamil maka akan membuat kondisi Khanza semakin memburuk.


Tidak iya tidak akan membiarkan Khanza hamil, ia tak ingin kehilangan wanita yang begitu ia sayangi. Tak apalah kalau ia dan Khanza tidak memiliki keturunan asal ia dan Khanza bisa terus bersama. Nanti ia bisa mengadopsi anak jika memang Khanza begitu ingin mempunyai anak.


“Mas kok diam sih ??” seru Khanza demi melihat dirinya hanya diam membisu.


“Eh iya maaf sayang, tadi kamu ngomong apa ??”


“Isss” Khanza mendelik kesal “Kamu tu lagi mikirin apa sih ?? Aku ngomong begitu jelas gak kedengaran”


“Maaf sayang”


“Tau ah”


Ia segera menarik Khanza kedalam pelukan, tak ingin Khanza marah dengan nya.


“Beneran tadi Mas gak fokus mungkin efek ngantuk, sekarang Adek ngomong lagi ya !!” tuturnya begitu lembut.


“Aku tu nanya, nanti kita mau punya anak berapa ??”


Berulang kali ia mencium puncak kepala sang istri, wangi sampo yang menjadi favorit Khanza begitu melekat dan mungkin wangi ini yang akan ia rindukan. Karena jika Khanza akan menjalani pengobatan pasti wangi itu akan berubah.


“Nanti kita pikirkan ya, untuk sekarang kita jalani saja dulu”


“Enggak bisa gitu dong !!”hardik Khanza lagi. “Masalah anak itu harus di diskusikan mau berapa, biar aku bisa program dan nanti jarak nya berapa tahun”


Ia bahkan tak pernah menyangka kalau semua itu sudah Khanza pikirkan. Jujur di hatinya begitu bahagia mendengar kalau Khanza mau mengandung anaknya tapi melihat keadaan Khanza seperti ini ia tidak akan tega kalau membiarkan Khanza mengandung yang mana akan membahagiakan Khanza sendiri.


“Iya sayang iya, Mas tau kok tapi maksud mas untuk sementara jangan bahas itu dulu. kita fokus ke kesehatan kamu”


“Nanti kalau Kamu udah sehat kita bisa menentukan semua nya. kamu paham kan maksud Mas ??”


Akhirnya Khanza mengangguk, ia langsung membenamkan kepala Khanza di dadanya.


Membiarkan wanita itu kembali terlelap dan ia juga bisa tertidur dengan nyenyak. Berharap bisa sedikit melupakan tentang penyakit Khanza saat ini.


Tentu ia belum ingin jujur kepada Khanza, ia tak ingin Khanza sedih dan menjadi drop. Rencananya ia akan bicara pelan-pelan dengan Khanza.


-----------------


Keesokan paginya ia terbangun lebih dulu, ketika telinga nya mendengar suara Papa, Mama dan Ayah mertuanya. matanya terbuka dengan lebar lalu langsung bangkit karena merasa malu sudah tertidur di ranjang dimana seharusnya milik Khanza.


“Bagaimana keadaan Khanza Rif ??” tanya Ayah sambil memperhatikan wajah Khanza yang masih terlelap.


Sejenak ia menghela nafas dengan kasar, menarik nafas dalam-dalam lalu di hembuskan secara perlahan.


“Kenapa Nak ?? Apa terjadi sesuatu ??” sahut Papa yang juga bertanya.


“Kita bicara di luar saja Pa, Yah” ucapnya kepada Papa dan ayah


Mungkin Papa dan ayah akan kebingungan namun tanpa bertanya mereka langsung menyetujui lintahnya sementara Mama menunggu didalam untuk menemani Khanza.


“Ada apa ??” tanya Ayah dengan raut wajah serius.


“Penyakit kanker hati Khanza kembali Yah dan sudah stadium 2 menuju 3”


“Astaghfirullah'AlAdzim” ucap Ayah dan Papa serempak.


“Kenapa bisa kembali lagi nak ?? Bukan kah waktu itu sudah di lakukan tindakan operasi ??” tanya ayah dengan sorot mata kesedihan.


Ia hanya mampu menggeleng, belum tau harus menjelaskan apa. Dulu ia begitu berharap saat Khanza sudah di operasi penyakit mematikan itu tidak akan pernah kembali. Namun nyatanya tuhan berkehendak lain. Ketika ia dan Khanza akan menjalani hari-hari bahagia malah semua itu kembali lagi..

__ADS_1


__ADS_2