Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 45


__ADS_3

“Lalu apa yang harus di lakukan dok ??” tanya Arif lagi.


“Kami tim dokter akan memantau terus kesehatan istri bapak sampai bayi itu lahir, dan kami akan memberikan obat yang paling aman untuk di konsumsi istri bapak” Jawab Mahendra.


“Apa kanker itu tidak akan menyebar kalau menunggu istri saya lahiran dok ??”Arif kembali bertanya.


“Tidak pak, kehamilan tidak akan membuat kanker tumbuh lebih cepat, terkadang perubahan hormon dapat merangsang kanker tertentu. Walau ini jarang terjadi”


Arif begitu lega mendengarnya kalau kehamilan istrinya akan baik-baik saja sampai lahiran nanti, semoga saja Istri nya akan sembuh secara normal.


“Besok kalian datang lagi kesini untuk mendiskusikan dengan dokter kandungan langsung, mengenai kehamilan istri bapak” pinta Mahendra.


“Baik dok”


Setelah itu Arif pamit pulang, di hatinya begitu legah mendengar semua ini. Begitupun dengan Khanza karena bisa mempertahankan kehamilan nya. Kemaren ia sempat was-was kalau dokter akan menyarankan untuk mengugurkan kandungan nya.


“Itu berarti Khanza akan lahiran disini ya mas” tanya Khanza saat berada di mobil.


“Iya sayang, kamu lahiran disini”


"Tidak apa-apa Khanza akan lahiran dimana saja asal bayi nya selamat."


“Mau jalan-jalan dulu enggak ??” tanya Arif kepada sang istri.


“Kalau Ayah mau aku ikut saja” jawab Khanza sambil bertanya kepada Pak Hadi.


“Ayah langsung pulang saja, kalian kalau mau jalan-jalan silahkan Ayah mau istirahat” jawab pak Hadi.


“Ya sudah pulang aja Mas” ucap Khanza.


“Baiklah kalau begitu”


Arif langsung menjalankan mobilnya menuju rumah, mobil itu adalah mobil Alya saat dulu Alya kuliah di Singapura. Entah harus dengan cara apa Arif berterima kasih kepada keluarga Kenan karena sudah banyak membantunya.


Awalnya Kenan juga menyarankan untuk Arif dan Khanza menginap di rumah Alya saja namun Arif langsung menolak karena tidak ingin terlalu banyak merepotkan


“Mas aku ingin bakso” ucap Khanza..


...****************...


Bulan berlalu begitu cepat tak terasa kandungan Khanza sudah memasuki usia 8 bulan, tubuh Khanza sangat kurus di karenakan mual dan Muntah berlebihan. Arif memahami hal itu karena Khanza berjuang dua hal melawan kanker dan meneruskan kehamilan nya.


Setiap hari Arif akan selalu menjaga Khanza tidak ada waktu yang Arif lewatkan. Jika sebelumnya Khanza kontrol seminggu sekali sekarang hampir tiap hari Arif mengajaknya berobat mungkin saking cemasnya terhadap keadaan sang istri.


Hal yang selalu Arif banggakan dari Khanza yaitu Khanza tak pernah mengeluh apapun yang terjadi pada tubuhnya Khanza akan selalu berusaha kuat, tapi itu berhasil membuat air mata Arif tak berhenti menetes.


Seperti pagi ini Khanza baru saja keluar dari kamar mandi, Arif sudah tau kalau Khanza habis muntah, tapi Khanza malah menampakan senyuman kepada sang suami.

__ADS_1


“Kamu gak papa dek ??” tanya Arif penuh kekhawatiran.


“Iya sayang, aku baik-baik saja Mas tenang saja ya !!” balas Khanza.


Tangan Khanza mengelus pipi sang suami, menatap wajah Arif dengan penuh cinta..


“Aaawwww” pekik Khanza tertahan.


“Ada apa sayang ?? Mana yang sakit ??” Arif terlihat panik melihat Khanza yang kesakitan.


Namun Khanza hanya menggeleng “Tidak apa-apa Mas. Anak kita menendangnya kekencangan makanya Khanza merasa sakit”


Arif menghela nafas panjang, lalu kemudian berjongkok untuk mensejajarkan dirinya ke perut sang istri. Di ciumnya perut buncit secara berulang. Saat Arif mengelus perut Khanza bayi yang ada dalam kandungan Khanza merespon dengan memberikan tendangan yang kuat.


“Anak Papa sehat-sehat ya di dalam, kalau lagi main jangan kekencangan kasian Mamanya kesakitan gitu” ucap Arif seolah sedang berbicara kepada orang yang sudah mengerti.


“Nanti kalau sudah keluar Papa yang akan ngajakin dedek main, jadi sekarang dedek anteng dulu ya di perut Mama”


Khanza tersenyum sambil mengelus rambut Arif dengan lembut, ia begitu bersyukur selama kehamilan nya Arif begitu perhatian, kasih sayang yang Arif berikan selalu bertambah.


“Iya Papa” balas Khanza sambil menirukan suara khas anak kecil.


Arif terkekeh mendengarnya, ia berdiri dan mengecup bibir Khanza dengan cepat.


“Sehat terus ya Mama, biar bisa main sama dedek nantinya” ucap Arif begitu tulus.


“Itu pasti sayang, Mas akan selalu mendoakan kamu, tidak kamu punya pun Mas akan mendoakan kamu terus”


Khanza memeluk erat tubuh suaminya.


“Sekarang minum susu dulu ya, terus sarapan dedeknya pasti udah laper” titah Arif.


“Iya Mas”


Khanza melepaskan pelukan nya lalu mengikuti langkah Arif untuk duduk di sofa kamarnya. Arif memberikan segelas susu kepada Khanza.


Walau susu itu rasanya hambar tapi Khanza selalu meminumnya sampai habis, bukan hanya dirinya yang Khanza pikirkan tapi anak dalam kandungan nya.


----------------


Siang harinya Khanza sedang bersantai di halaman depan, menikmati angin berhembus dengan pelan menerpa wajahnya.


“Lagi ngapain Nak ??” tanya Pak Hadi


Khanza menoleh dimana Pak Hadi berada, ia tersenyum manis.


“Lagi santai aja Yah” jawab Khanza.

__ADS_1


Waktu usia kandungan nya masih 3 bulan Pak Hadi pamit pulang ke Indonesia karena ada tugas negara dan baru kembali 2 hari yang lalu. Pak Hadi ingin menemani putrinya lahiran.


“Arif mana Nak ??” tanya Pak Hadi sekarang ia sudah duduk di kuris bersebelahan dengan Khanza.


“Tadi keluar sebentar Yah, Khanza ingin makan buah” jawab Khanza.


“Oh, bagaimana kandungan kamu baik-baik saja kan ??”


“Alhamdulillah baik Yah, sebentar lagi ia akan lahir”


Pak Hadi mengelus perut Khanza, membuat janin yang ada di perut Khanza menendang dengan gerakan lembut.


“Dia selalu merespon kalau ada yang menyentuhnya Yah, aktif banget” jelas Khanza melihat Tatapan pak Hadi.


“Apa jenis kelamin nya Nak ??” tanya Pak Hadi penasaran.


“Insya Allah perempuan Yah”


“Wah kakek bakalan beli boneka yang banyak ini, sehat-sehat ya Nak jangan menyusahkan Mama”


Khanza tersenyum, beruntung sekali dirinya karena selalu mendapat dukungan dari keluarga. Apalagi sekarang Mama mertua nya begitu antusias menunggu kelahiran Cucu nya. Bahkan sehari bisa tiga sampai empat kali Mama Risa menelpon Khanza hanya untuk menanyakan perkembangan calon cucunya.


Padahal Khanza sudah meminta Mama Risa menyusul ke Singapura untuk menemaninya lahiran nanti, tapi Mama Risa menolak dengan alasan ingin menjaga rumah.


“Ya sudah Ayah masuk kedalam dulu, kamu jangan lama-lama di luar panas soalnya” ucap pak Hadi


“Iya ayah, aku nungguin Mas Arif dulu” jawab Khanza.


Pak Hadi mengelus kepala putrinya lalu kemudian berlalu masuk kedalam rumah.


Tidak berapa lama Arif pulang, Khanza senang karena keinginan nya keturutan juga.


“Ini permintaan Bumil tersayang nya Mas” ucap Arif menyerahkan satu kantong plastik buah apel berwarna hijau kepada Khanza.


Sebenarnya Arif mudah mendapatkan buah apel itu namun Khanza ingin Apel itu di petik langsung dari pohonnya, ya sudah dengan bantuan google map Arif mencari penanam buah apel di negara ini.


“Makasih sayang” ucap Khanza sambil mengecup pipi sang suami hingga membuat Arif begitu gemas.


“Sama-sama , ayo masuk” ajak Arif.


Khanza menurut, setelah masuk kedalam rumah Arif mencuci buah apel yang ia dapatkan , mencucinya hingga bersih sampai ia merasa tak ada lagi kuman yang menempel di buah tersebut


Lalu mengupasnya tak lupa juga memotongnya kecil-kecil agar Khanza bisa menikmati buah apel itu.


“Spesial buat istri kesayangan Mas” ucap Arif sambil menyerahkan satu piring yang sudah berisi potongan buah apel.


“Makasih Mas” lagi dan lagi Khanza mencium pipi sang suami

__ADS_1


__ADS_2