
Di dalam kamar mandi. Arif mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin. Semoga dengan begini pikiran nya bisa menjadi dingin.
Sungguh melihat Khanza memakai pakaian tersebut tak bisa membuat Arif menahan hasratnya.
“Sialan!!” umpat Arif karena sesuatu yang telah menegang dibawah sana tak juga kunjung kembali.
“Kenapa Khanza bisa memakai pakaian seperti itu sih ??”
Umpatan demi umpatan kekesalan terus Arif lontarkan.
Setelah di rasa pikirannya sudah mulai dingin Arif menyudahi aktivitas mandinya. Setelah itu ia keluar dari kamar.
Namun lagi lagi matanya tertuju dengan Khanza, dimana wanita cantik itu sedang duduk di atas kasur sambil menatap kearah Arif.
“Lama banget mandinya Mas ??” tanya Khanza dengan nada di buat sensasional mungkin.
“Tidak apa-apa. Mas ingin mendinginkan pikiran karena banyak kerjaan”
“Oh” hanya itu Jawaban Khanza. Padahal di dalam hatinya Khanza tersenyum senang.
Setelah memakai pakaian Arif langsung ikut merebahkan diri di samping Khanza. Sementara Khanza bersikap seolah tak peduli malah sekarang Khanza dengan sengaja menarik selimut dan menampakkan kaki mulus nya.
“Sayang jangan di buka nanti dingin” ucap Arif kembali menutupi kaki jenjang milik Khanza.
“Mas” panggil Khanza.
“Hmmm” jawab Arif sambil menatap langit-langit kamarnya.
“Mau aku bikinin Kopi apa teh ??” tawar Khanza.
“Kopi aja kalau kamu mau bikin sayang. Tapi kalau kamu capek jangan mending tidur aja nanti biar mas bikin sendiri”
“Enggak papa kok Mas lagian cuman bikin minum. Bentar ya aku bikinin dulu”
Arif mengangguk “Makasih sayang” ucap Arif lagi.
Khanza segera berlalu dan menuju dapur untuk membuatkan sang suami kopi.
Disana Khanza memandang obat perangsang yang tadi ia beli. Dengan senyuman menyenangkan Khanza menambah kan obat tersenyum ke minuman Arif.
Lalu Khanza kembali kekamar dengan secangkir kopi yang telah ia bikin.
“Ini sayang di minum dulu mumpung masih anget” pinta Khanza sambil menyerahkan satu gelas kopi kepada Arif.
“Makasih sayang” Arif mengambil gelas tersebut dan langsung meminumnya hingga tersisa setengah tanpa perasaan curiga sedikitpun.
Khanza duduk menghadap sang suami. Ia tersenyum dengan sangat cantik.
Lama kelamaan kepala Arif mulai pusing di tambah dengan rasa panas di tubuhnya.
“Kenapa sayang ??" Tanya Khanza dengan suara manja.
__ADS_1
Arif memandang wajah Khanza begitu cantik.
“Kamu cantik sekali sayang” ucap Arif sambil membelai wajah Khanza.
“Makasih Mas !!" Balas Khanza kemudian.
Tanpa aba-aba Arif langsung mencium Khanza.
Ciuman yang begitu menuntut serta bergairah, Khanza bahkan sampai harus berusaha dengan banyak untuk mengimbangi ciuman sang suami.
“Aku sayang sama kamu Za” bisik Arif di telinga Khanza.
“Aku juga sayang banget sama kamu Mas”
Hingga akhirnya Arif dan Khanza melakukan hubungan suami istri lagi. Khanza begitu menikmati peran nya.
*********
Keesokan paginya Arif terbangun lebih dulu. Kepala nya masih sangat pusing karena kejadian semalam. Arif memegangi kepalanya. Matanya menyipit untuk menyamarkan sinar matahari yang menelusup lewat jendela kamarnya.
Arif mulai merasakan ada yang aneh di tubuhnya, ia merasa kalau saat ini ia tak mengenakan apapun. Arif begitu berusaha untuk mengingat setiap kejadian semalam hingga ia baru ingat kalau semalam ia dan Khanza kembali melakukan hubungan suami istri.
“Astaga kok gue sampai begini sih ?? Padahal gue udah nahan banget supaya jangan melakukan itu” gumam Arif pelan.
Ia mulai merasa kalau ada yang aneh. Matanya tertuju pada minuman kopi yang masih tersisa setengah gelas, dengan segera Arif melihat gelas tersebut. Namun tanpa sengaja ia melihat obat yang terletak di laci nakas nya. Segera Arif melihat itu dan matanya langsung melotot sempurna demi melihat obat perangsang tersebut.
“Obat perangsang ??” gumam Arif. “Buat siapa ini ?? Apa jangan-jangan ??”
“Khanza bangun !!" Hardik Arif dengan suara berat.
“Huuuaaammm” Khanza menggeliat dari tidurnya “Ada apa sih Mas ??” tanya Khanza dengan suara serak.
“Apa kamu memasukan sesuatu kedalam minuman Mas semalam ?” tanya Arif langsung.
Mendengar pertanyaan itu dengan cepat Khanza membuka matanya lebar-lebar lalu kemudian duduk.
“Maksud Mas Arif apa ??” tanya Khanza gugup.
“Ini apa ??” tanya Arif sambil melempar obat perangsang yang ia temukan di laci meja nakas.
“I--tu. Aku gak tau Mas”
“Astaga Khanza” Arif mengusap wajahnya dengan kasar. “Kenapa kamu melakukan ini, akhirnya Mas gak bisa jaga hasrat Mas kan”
“Memangnya kenapa sih Mas kalau kita melakukan itu ?? Kita ini Sah sebagai suami istri, Mas Arif kayak jijik banget tau gak sama Khanza”ucap Khanza dengan air mata yang sudah berderai.
“Mas itu bukan jijik sama kamu sayang, tapi Mas lakukan ini ada alasan nya”
“Kesehatan aku kan ?? Sudah berapa kali Khanza bilang kalau Khanza udah sembuh Mas,” bentak Khanza.
“Iya Khanza mas ingin kamu sembuh dulu, udah sana mandi terus kita kerumah sakit kamu harus pakai KB. Mas belum ingin kamu hamil” titah Arif.
__ADS_1
“Enggak ,aku gak mau pakai KB biarin aja kalau memang dia sudah mau jadi anak Khanza udah siap jadi Ibu”
Arif semakin gusar ia pandangi wajah Khanza yang sudah di penuhi oleh air mata. Bukan seperti ini caranya untuk berbicara dengan Khanza. Ia harus bicara dengan lembut karena kalau dengan emosi Khanza pasti akan sedih.
Khanza masih diam mematung, kata-kata sang suami yang ingin dirinya memakai KB begitu menyakiti perasaan nya.
“Maafkan Mas!! Tidak seharusnya Mas menyalahkan kamu dalam hal ini” ucap Arif merasa bersalah.
“Apa aku salah Mas jika ingin mengandung anak mu ?? Apa kamu tidak ingin memiliki keturunan dari ku ??” tanya Khanza dengan Isak tangisnya.
“Bukan begitu sayang, bukan Mas tidak ingin kamu mengandung anak Mas, hanya saja untuk saat ini yang Mas inginkan adalah kesembuhan kamu, nanti jika kamu sudah sembuh Mas akan sangat mendukung keputusan kamu untuk hamil” jelas Arif menggebu. Meluapkan semua yang dia rasa selama ini.
“Kalau aku tidak sembuh bagaimana ?? Apa Mas akan mencari wanita lain untuk melahirkan anak ??”
“Kenapa sudah bahas jauh sekali sayang ??” tanya Arif ketika Khanza sudah membahas hal di luar kemampuan dirinya untuk menjawab.
“Pokoknya apapun yang terjadi Khanza tidak akan memakai KB. Khanza berdoa semoga di dalam ini sudah ada calon anak kita” balas Khanza sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Khanza bangkit lalu segera masuk ke kamar mandi. Sementara Arif terlihat begitu kesal karena sang istri sangat keras kepala.
“Kalau bukan karena obat sialan ini gue gak akan melakukan itu sama Khanza. Ya Allah bukan aku tak menginginkan keturunan hanya saja untuk saat ini kesehatan istri ku yang utama” gumam Arif sedih.
Tidak berapa lama Khanza keluar dari kamar mandi. Tak ada yang Khanza ucapkan ia hanya diam sambil berlalu lalang mengambil pakaian.
Sementara Arif terus menatap aktivitas Khanza.
Selesai berganti pakaian dan berhias Khanza turun kebawah meninggalkan sang suami. Sama seperti tadi Khanza tak juga berbicara mungkin perasaan nya masih kecewa kepada sang suami.
“Mau sarapan dulu Bu ??” tanya Bi Asih setelah Khanza duduk di kursi meja makan.
“Nanti aja Bi, nunggu bapak” jawab Khanza.
“Baik Bu” Bi Asih kembali melakukan aktivitas nya. Memasak dan mencuci piring.
Tidak berapa lama Arif turun dan melihat Khanza sedang duduk sambil melamun. Arif menghela nafas kasar sebelum menghampiri Khanza.
“Kenapa belum sarapan ???” tanya Arif berusaha selembut mungkin. Meredakan amarah yang masih memuncak.
“Belum laper” jawab Khanza cuek.
“Ya sudah Makan bareng sama Mas ya !!” Arif kembali membujuk Khanza.
“Mas makan aja duluan”
Brak.
Khanza mendorong kursi yang ia duduki sampai jatuh sehingga menimbulkan suara yang keras. Arif bahkan kaget di buatnya namun Khanza tak peduli.
“Ibu kenapa Pak ??” tanya Bi Asih kepada Arif.
“Biasa Bi, lagi kesal dia sama saya” jawab Arif sambil terkekeh.
__ADS_1