
Keesokan harinya
Siang itu Arif melihat Pak Hadi sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi, segera ia melangkah untuk duduk mendekat.
“Mana Kia ?” tanya Pak Hadi
“Tidur siang Yah sama Bik Rin” jawab Arif.
Tak ada lagi pertanyaan dari pak Hadi, ia seakan fokus ke layar segi empat yang ada di depan nya, yang menampakkan berita tentang tanah longsor.
“Yah” panggil Arif.
“Hmmm” jawab Pak Hadi tanpa mengalihkan tatapan nya.
“Ini” Arif memberikan ponselnya dimana didalam nya ada foto Khanza yang kemaren di kirimkan oleh Raka.
“Foto siapa itu ? Maaf Ayah tidak terlalu jelas melihatnya” ucap Pak Hadi, matanya sedikit menyipit untuk memperjelas foto yang ada di ponsel Arif.
“Coba ambilkan kaca mata Ayah di kamar”
Dengan gerakan cepat, Arif langsung melesat pergi ke kamar Pak Hadi, tak ingin berlama-lama karena kaca mata yang di minta oleh Pak Hadi sudah tertangkap oleh indera penglihatan nya.
“Ini Yah” Arif langsung memberikan kaca mata milik Pak Hadi.
Pak Hadi langsung mengambil nya dan memakainya, ia kembali fokos kelayar ponsel, seketika matanya membulat dan jantung nya berdegup dengan kencang.
“Fo--to ini” ucap Pak Hadi terbata-bata.
“Dari mana kamu dapat foto ini ?”
“Ini bukan Editan kan ?”
“Jawab Ayah Rif !”
Serentetan kalimat yang di ucapkan Pak Hadi membuat Arif bingung harus menjawab dari mana.
“Ayah tenang dulu, biar Arif jelaskan” pinta Arif dengan nada lembut, ia tahu kalau Ayah mertuanya itu sangat terkejut karena melihat foto yang begitu mirip dengan Khanza, karena sama dengan dirinya kemaren.
“Arif juga kaget saat Raka mengirimkan foto itu Yah”
“Siapa Raka ?” belum sempat Arif melanjutkan penjelasan nya, Pak Hadi kembali bertanya.
“Dokter yang menangani sakit Khanza waktu di Indonesia Yah, dia teman kerjanya Arif”
“Ok, lanjutkan !”
Dengan menghela nafas sebentar, Arif kembali melanjutkan penjelasannya, bagaimana Raka yang menelpon dirinya dan bilang kalau ada orang yang begitu mirip dengan Khanza, walau awalnya Arif tidak percaya namun saat Raka mengirimkan fotonya barulah ia percaya kalau memang ada orang yang begitu mirip dengan Khanza.
“Kata Raka dia bersama dokter Mahendra” ucap Arif terakhir kali nya.
“Dokter Mahendra yang mengoperasi Khanza ?” Pak Hadi balik bertanya.
__ADS_1
“Iya Yah”
“Rencananya Arif akan kesana, ingin memastikan kalau itu bukan Khanza” ucap Arif lagi ketika tidak ada jawaban dari pak Hadi.
“Ayah mendukung mu, berangkatlah kesana, Kia biar Ayah dan Bi Sri yang jaga” ucap Pak Hadi menyetujui keinginan Arif yang hendak ke Singapura untuk memastikan jika itu bukan Khanza.
“Arif akan segera berangkat Yah, Besok”
“Ayah doakan yang terbaik, jika memang itu bukan Khanza kamu jangan sedih” ucap Pak mengingatkan.
“Jika itu Khanza ?” tanya Arif lagi.
“Minta penjelasan ke Dokter Mahendra tentang semua ini”
------------
Keesokan harinya Arif langsung ke Singapura, namun sebelum itu ia menelpon Raka terlebih dahulu.
“Jemput Gue di Bandara”
“Gue udah mau berangkat ke Singapura”
Begitu yang ia ucapkan ketika menghubungi Raka semalam.
Selama perjalanan Arif menatap keluar jendela, matanya fokos menatap langit-langit yang berwarna putih, sepertinya sedang mendung karena pesawat tiba-tiba hilang kendali.
Namun ia tak takut sedikitpun, ketika suara semua orang berteriak, di tambah para pramugari yang sibuk menenangkan penumpang, Arif Masih saja diam, tidak beranjak sedikitpun untuk mengetahui keadaan sekitar.
“Saya masih ingin hidup.”
“Tolong selamatkan kami semua”
Bahkan telinga Arif mendengar jelas para penumpang yang memohon kepada Pramugari untuk di selamatkan, lagi-lagi Arif hanya diam saja.
Di pikiran nya hanya satu jika memang ia akan berakhir disini, ia ikhlas karena dengan begitu ia bisa bertemu dengan Khanza.
Tujuan nya datang ke Singapura hanya untuk memastikan jika yang Raka lihat bukan lah Khanza, bukan Arif tidak bahagia namun ia tidak ingin terlalu berharap dengan kehadiran sosok yang begitu mirip dengan istrinya.
Dan akhirnya perjalanan panjang Arif selamat sampai tujuan, banyak para penumpang yang menggerutu dengan kesal karena kejadian tidak mengenakan di pesawat tadi.
Arif mengidarkan pandangan nya untuk menemukan Raka, dari kejauhan ia dapat melihat Raka melambaikan tangannya untuk memanggil Arif.
Dengan langkah cepat Arif langsung menghampiri Raka.
“Mau minum dulu ?” tawar Raka.
“Enggak, langsung pulang saja gue capek” jawab Arif
“Ya sudah Ayo”
Arif mengikuti langkah Raka menuju mobil.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Raka, Arif langsung beristirahat di kamar Raka.
“Lo udah pernah lihat cewek itu lagi ?” tanya Arif langsung.
“Belum, hanya sekali itu saja”
“Terus bagaimana caranya kita menemukan cewek itu ?”
Raka tampak berpikir, lalu kemudian tersenyum kearah Arif.
“Gampang karena dari jaket yang di pakai temannya ia kuliah di Universitas negeri di sini, gue tahu tempatnya” ujar Raka.
“Ya sudah ayo anterin gue kesana”
“Emang Lo gak capek ?”tanya Raka.
“Enggak, gue cuma ingin mastiin kalau cewek itu bukan Khanza, supaya gue gak di bantuin terus sama bayangan Khanza”
Raka menganggukan kepalanya, lalu langsung menyetujui keinginan Arif untuk mendatangi Universitas tempat Khanza kuliah.
“Jika itu Khanza gimana ?” tanya Raka sambil fokus menatap jalanan.
“Gue akan bawa di pulang”
“Gue juga heran pas lihat Mahendra bersama dengan cewek mirip Khanza, karena setau ku putrinya Mahendra sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan”
“Memang putri Mahendra agak mirip dengan Khanza.” sambung Raka lagi dan itu langsung membuat Arif terdiam.
Mungkinkah memang benar kalau itu adalah Khanza dan Mahendra melakukan tindakan kejahatan. Tapi Arif tak ingin berpikir negatif dulu ia harus mencari tau semuanya.
Arif dan Raka langsung pergi ke kampus dimana mereka bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan Khanza, beberapa kali Arif bertanya namun tidak ada yang kenal dengan Khanza, hingga menjelang petang Arif sudah menyerah apalagi dengan lingkungan kampus yang mulai sepi karena beberapa anak sudah pulang.
“Lo mau menyerah ?” tanya Raka menatap Arif.
Arif mengangguk “Sepertinya” jawab Arif jujur.
“Mungkin memang hanya mirip saja, dan Khanza ku memang sudah pergi yang jauh, yang tidak akan bisa aku gapai lagi” jelas Arif lagi.
Raka menghela nafas sebentar, lalu kemudian terbesit ide lagi.
“Atau gini saja, waktu itu kan gue lihat Khanza sama dokter Mahendra, bagaimana kalau kita tanya langsung ke beliau, atau kita datangi rumahnya” usul Mahendra.
“Tapi---” Arif tampak ragu karena ia takut kecewa.
“Udah ikut aja, Lo jadi orang jangan pesimis dong ! Baru juga sehari masa udah nyerah”
Raka langsung menarik tangan Arif dan membawanya ke mobil.
Sepanjang perjalanan, Arif hanya diam saja, hingga mendadak suasana menjadi hening, karena kedua nya tidak ada yang membuka pembicaraan, Raka fokus kejalanan sementara Arif berkelana dalam pikiran nya.
Dari awal saat melihat foto wanita yang begitu mirip dengan Khanza, Arif tidak terlalu berharap, dia datang ke Singapura hanya untuk memastikan saja, dan yang pasti dia ingin meredakan sedikit kerinduan yang ada.
__ADS_1