
Arif....
Membuat Khanza selalu tersenyum dan tertawa seolah tanpa beban adalah impian terbesarnya, walaupun ia tahu pikiran Khanza begitu tertekan karena sakit kanker yang Khanza derita.
Namun ia berjanji sekuat tenaga ia akan berusaha bagaimana caranya membuat Khanza bahagia. Mungkin dengan menghadirkan momen-momen lucu seperti ini Khanza akan sedikit melupakan sakit yang di derita.
“Mas akan melakukan apapun untuk kamu sayang” ucapnya dalam Hati sambil memandang wajah Khanza yang masih tertawa karena candaan nya.
Tok--tok--tok.
Suara ketokan pintu membuat ia bangkit dan berjalan untuk membuka pintu ruangan Khanza. Ternyata yang datang adalah Papa dan Bik Sri.
“Maaf ya den tadi gak langsung kesini nemenin non Khanza, soalnya bapak bilang bareng saja” ucap Bik Sri merasa bersalah.
“Tidak apa-apa Bik. Lagian saya juga gak lama pulang nya” jawabnya kemudian.
Ia melihat sebuah rantang yang di bawah Bik Sri. Berikut dengan sebuah tas kecil yang ia yakini miliki Khanza. Ia melirik ke arah sang istri.
“Tadi aku suruh ibu buat bawain buku belajar aku Sayang, soalnya udah mau ujian, aku gak mau ketinggalan pelajaran” jelas Khanza yang seolah mengerti arti dari tatapan matanya.
“Tapi Khanza harus tetap jaga kesehatan ya !! Jangan di paksain kalau Khanza merasa tak sanggup” sahut Pak Hadi.
“Betul itu sayang, Mas juga gak mempermasalahkan kalau kamu gak jadi sarjana yang terpenting buat mas adalah kesehatan kamu” ia juga ikut menasehati Khanza.
“Iya Mas, tapi untuk sementara Khanza masih kuat. Khanza ingin mengejar cita-cita Khanza”
Ia tersenyum lalu mengangguk.
“Den itu ada makanan, sengaja Bibi buatkan untuk Aden takutnya Aden gak sempat makan karena sibuk urus Non Khanza” ucap Bik Sri kepadanya.
“Makasih Bi, wah udah repot-repot nih bawain aku makanan” ia tersenyum sopan kepada wanita yang telah memberikan dan mendidik istrinya itu.
“Tidak repot sama sekali den, ayo sana dimakan dulu mumpung anget”
Ia yang memang tak Sempat sarapan karena tadi bentrok dengan sang Mama langsung semangat aja. Tadi ia berbohong kepada sang istri sengaja ia lakukan karena tidak ingin Khanza menjadi khawatir.
“Tadi katanya udah sarapan kok masih lahap banget makan nya ??” tanya Khanza
Ia hanya terkekeh. Masih belum ingin menjawab ucapan sang istri. Masih menikmati makanan yang terlihat begitu nikmat tersebut.
“Ini makanan nya enak sekali Za, makanya aku lahap banget buat makan”
----------
Sinta.....
Setelah kejadian acara resepsi Khanza gagal walau tinggal acara akhir saja namun tetap saja banyak yang bilang gagal di karenakan Khanza pingsan di atas panggung pelaminan.
Ia sama sekali belum pernah melihat kondisi Khanza, dan rencananya hari ini ia akan kerumah sakit untuk melihat keadaan sahabat tersayang nya itu.
Habis mata kuliah pertama ia langsung menuju rumah sakit. Tak lupa ia membeli oleh-oleh untuk di berikan kepada Khanza.
__ADS_1
Setelah sampai dirumah sakit, ia langsung bertanya dimana ruangan Khanza berada, ternyata tak susah mencari karena Khanza berada di ruangan VVIP.
“Assalamualaikum” ucapnya setelah pintu ruangan ia dorong dari luar.
“Walaiakumsalam, eh nak Sinta masuk sini” jawab Pak Hadi menyambutnya dengan ramah.
“Iya om”
Ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan Khanza, dimana disana hanya ada Pak Hadi dan Bik Sri serta Khanza yang sedang menutup mata.
“Khanza nya lagi tidur, coba Om bangun kan dulu” pak Hadi hendak membangunkan Khanza namun ia langsung mencegahnya.
“Jangan Om !! Biarin Khanza bangun sendiri aku akan nunggu sampai Khanza bangun kok om” jawabnya kemudian.
“Oh yasudah kalau begitu”
Sambil menunggu Khanza bangun ia, Pak Hadi dan Bik Sri mengobrol serta bercanda, terkadang tertawa karena Pak Hadi menceritakan kejadian lucu saat sedang bertugas di ketentaraan.
Hingga tak terasa sudah dua jam ia berada disana, namun Khanza belum juga bangun padahal ia sangat ingin mengobrol dengan Khanza.
Tapi tunggu semenjak ia datang tadi ia belum melihat suami Khanza.
“Maaf Om kalau Sinta lancang, tapi dari tadi Sinta kok gak lihat suami Khanza ya Om ??” ia lantas bertanya, menghilangkan rasa penasaran yang mungkin akan merasuki pikiran nya.
“Suami Khanza sudah mulai bekerja hari Ini Sin, ini masih jam nya dia tugas” jawab Pak Hadi.
“Oh”
“Sinta” begitu yang ia dengar ketika Khanza memandang kearahnya.
“Iya Za, gimana keadaan kamu ??” ia bangkit berdiri dan mendekat kearah ranjang tempat tidur Khanza.
“Seperti yang kamu lihat, kapan kamu kesini ??”
“Udah dari 2 jam yang lalu”
“Loh kok gak bangunin aku Sih ??” Khanza memanyunkan bibirnya.
“Gak papa Za, soalnya aku lihat tidur kamu pulas amat jadi gak tega buat bangunin”
“Iya tapi aku kan gak enak sama kamu Sin, udah bikin kamu nunggu”
“Apa sih, kayak sama siapa aja” ia tersenyum menatap Khanza. Wajah Khanza tampak masih pucat sekarang dan satu lagi kulit tubuh Khanza seperti berwarna kuning.
Ia sampai menajamkan mata karena takut itu hanya penglihatan nya saja, namun ternyata benar kulit tubuh Khanza memang menguning.
“Cepat sembuh ya Za” ucapnya prihatin.
“Aamiin. Makasih Sin, semoga saja semua ini bisa aku lalui”
Ia dan Khanza mengobrol banyak hal, Khanza banyak menanyakan tentang pelajaran di kampus dan dengan senang hati ia memberi tahu Khanza apa yang Khaza lewatkan.
__ADS_1
Tidak berapa lama pintu ruangan Khanza di buka, ternyata yang datang suami Khanza membuat dirinya harus bergeser untuk memberikan ruang kepada suami Khanza.
--------------
Khanza......
Kedatangan Sinta sedikit mengobati rasa galau dan jenuh nya karena terkurung di kamar rumah sakit.
Apalagi Sinta memberi tahu dirinya tentang mata kuliah yang ia ketinggalan. Sinta memang sahabat terbaiknya.
Namun saat sedang asyik bercanda sang suami malah muncul dengan senyum menawan nya.
“Loh ada Sinta ternyata ?? Kapan datang Sin ??” tanya Arif ke Sinta.
“Tadi Kak” jawab Sinta yang sudah bergeser untuk memberi ruang suaminya agar duduk di sampingnya.
“Udah makan siang belum ??” tanya Arif kearahnya.
“Belum, baru bangun tidur soalnya” jawabnya jujur karena memang ia belum lama bangun dari tidurnya.
“Ya sudah bentar lagi makan siang di antar kamu langsung makan ya terus minum obat biar cepat sembuh. Katanya mau pulang”
Ia mengangguk, rasanya memang sudah tak betah berada di rumah sakit. Dari tempat dan bau nya ia sudah tak tahan. Namun ia berusaha kuat karena keinginan untuk sembuh begitu besar.
“Mas balik kerja lagi ya, Mas pulang jam 02”
“Iya, hati-hati Mas”
Setelah Arif pergi, makan siang nya beneran sudah di antar. Dengan bercerita dengan Sinta ia berhasil menghabiskan makan siang nya.
“Alhamdulillah. Habis non” ucap Bik Sri senang.
“Iya bu” jawabnya tersenyum.
“Sekarang minum obat dulu ya Nak !!” ucap Ayah
Ia menjawab dengan anggukan. Bik Sri kembali menyiapkan obat yang akan ia minum, setelah itu barulah ia meminum nya.
“Aku pamit pulang ya Za, udah lama banget aku disini. Besok kalau ada waktu aku kesini lagi”
“Ya.. kok bentar amat sih” jawabnya lesu.
“Kamunya aja yang ngerasa bentar aku loh udah nungguin kamu tidur sampai 2 jam. Tanya ke ayah kamu kalau gak percaya ” seloroh Sinta kemudian.
“Iya Nak Sinta memang sudah lama disini. Tadi Ayah udah mau bangunin kamu pas Sinta datang tapi kata Sinta jangan” sahut Ayah menjelaskan.
“Besok kesini lagi ya Sin” ucapnya setengah memohon.
“Gak janji ya Za kamu tau sendiri tugas kampus kita lagi banyak-banyak nya” jawab Sinta.
“Hmmmm. Baiklah hati-hati di jalan, makasih udah kesini ya Sin”
__ADS_1
Akhirnya dengan sangat terpaksa ia melepas kepergian Sinta.