
Di dalam pesawat bayi kecil Arif menangis kencang sehingga membuat semua orang panik karena tidak bisa menenangkan bayi kecil itu.
Bahkan Kenan yang sudah memiliki dua orang anak saja bingung cara menenangkan nya.
Pak Hadi yang sudah kehabisan akal, tiba-tiba terbesit di hatinya untuk membawa cucunya itu mendekati Khanza yang sudah diam seribu bahasa. Wajahnya pucat dan mata yang tetap terpejam.
Seperti sebuah keajaiban bayi mungil itu langsung diam saat di tidurkan di samping jenazah Khanza. hingga semua itu berhasil memancing tangisan semua orang termasuk Kenan dan Pras.
"Anak Papa kangen ya sama Mama" ucap Arif kepada putrinya. Ia terisak dengan air mata yang semakin deras menetes.
Arif duduk di samping putri kecilnya itu, tangan nya menggenggam tangan Khanza yang sudah kaku dan dingin. Untuk kedepan nya tangan halus itu tidak akan pernah lagi mengelus rambutnya, tidak akan ada lagi yang membantunya memasang dasi saat akan berangkat bekerja.
"Selamat jalan sayangku, Mas akan berusaha ikhlas jika memang ini yang terbaik" Arif mengecup kening Khanza dengan sangat lama, kecupan terakhir yang akan ia berikan sebelum sang istri di makamkan.
Tiba-tiba Arif teringat dengan surat titipan dari dokter, namun Arif belum ingin membukanya nanti saja kalau sudah di rumah dan proses pemakaman selesai.
Tidak berapa lama sudah ada pemberi tahuan kalau pesawat akan segera mendarat, Arif langsung bersiap untuk menghubungi Papanya agar menjemputnya di Bandara.
Setelah pesawat sudah berhenti Arif langsung menelpon sang papa, Bandara itu sangat sepi tidak seperti biasanya, dan anehnya ada banyak pria berpakaian hitam sambil membawa payung.
Arif melirik ke arah Pras.
"Tuan Kenan yang melakukan nya" Jelas Pras seakan tau arti tatapan Arif.
Arif tidak menjawab, ia justru beralih menggendong kembali putrinya. Hingga suara ambulance terdengar membuat Arif yakin kalau itu adalah Papanya yang akan menjemput.
Benar saja Papanya turun dari mobil ambulance lalu bergegas menhampiri Arif dengan yang lain. Sementara Pak Hadi sibuk mengurus putrinya dengan bantuan Kenan serta anak buahnya, sedangkan Pras membawakan seluruh barang Arif.
"Pa, Khanza ninggalin Arif" ucap Arif sambil memeluk sang Papa.
"Sabar Nak ini adalah ujian untukmu" balas Papa yang juga menatap tubuh Khanza dengan mata yang berkaca-kaca.
Mereka semua masuk kedalam mobil, Arif menyerahkan anaknya kepada papa karena dirinya akan menemani sang istri di dalam mobil ambulance.
__ADS_1
Dengan senang hati papa menerima bayi mungil itu, cucu pertamanya yang sangat ia tunggu selama ini.
"Kita pulang ya nak" ucap Papa kepada cucunya.
Selama dalam perjalanan Arif tak pernah melepaskan tangan sang istri, wajah Khanza semakin pucat mungkin karena aliran darahnya sudah berhenti dengan lama.
“Apa yang kamu tulis Sayang ?? Kenapa kamu tutipkan kertas itu kepada Mas ??” tanya Arif walau mustahil akan mendatap jawaban
Hingga tidak berapa lama sudah terdengar suara lantunan ayat suci Alquran yang para tetangga bacakan, Arif semakin menguatkan diri karena sekarang ia benar-benar sadar kalau istrinya pergi untuk selamanya.
Saat pintu mobil terbuka Mama Risa langsung memeluk tubuh Khanza sambil menangis tersedu-sedu.
“Kenapa secepat ini kamu ninggalin kami Nak ?? Kenapa ??” ucap Mama Risa.
Para ibu-ibu yang melihat juga meneteskan air mata, mungkin merasa kasihan ataupun iba terhadap Arif sekeluarga.
“Yang sabar ya Mas Arif”
“Ikhlaskan Mbak Khanza”
Dan masih banyak lagi ucapan dari ibu-ibu yang lainnya, Arif hanya menanggapi dengan anggukan tanpa berniat untuk menjawab.
----
Sinta yang mendengar kalau sahabatnya sudah meninggal, ia langsung kerumah Arif, di dalam perjalanan tangis Sinta pecah, karena tidak menyangka kalau sahabatnya itu telah pergi meninggalkan nya.
“Khanzaaa. Lo kenapa ninggalin Gue Za ?? Kenapa ?? Padahal tugas kita di kampus belum selesai ??” Sinta mengguncang tubuh Khanza yang baru di balut dengan kain kafan setengah.
“Khanza.. Hiks-hiks. Lo jahat Za, Lo kenapa ninggalin gue”
Tidak berapa lama kedua orang tua Sinta datang, sama seperti Sinta mereka juga menangis karena memang Khanza sudah di anggap anak sendiri oleh kedua orang tua Sinta.
“Ayah” Sinta langsung memeluk Pak Hadi.
__ADS_1
“Iya nak, ikhlas kan Khanza ya,!! ayah juga sedih banget” jawab pak Hadi memeluk sahabat anaknya itu.
Di luar rumah sudah banyak teman-teman kampus Khanza bahkan beberapa dosen berdatangan, mereka semua ingin mengucapkan turut berduka cita kepada Pak Hadi dan yang lain nya.
Selesai di kafani dan di sholat kan, Khanza sudah bisa di bawa kerumah terkahir nya. Mama Risa menangis histeris saat semua orang mengangkat tubuh Khanza.
“Khanza maafin Mama nak, maafin Mama yang pernah nyakitin Khanza" suara Mama Risa terdengar sangat lemah.
Percuma meminta maaf karena Khanza tidak akan lagi menjawab, Mama Risa hanya akan larut dalam kesalahan nya karena pernah memperlakukan Khanza dengan tidak baik hanya karena Khanza mengidap penyakit kanker.
“Laillahailallah” suara itu menggelegar seiring langkah semua orang menuju pemakaman.
Sinta membawa foto Khanza ia berdiri di samping Arif, sementara Arif berjalan tanpa ekspresi, ia tidak lagi menangis mungkin karena air matanya sudah habis.
Pandangan Arif kosong, ia berjalan seolah tidak ada apa-apa, mungkin karena beban yang ia pikul terlalu berat. Kehilangan orang yang paling di sayangi begitu menyakitkan apalagi Arif dan Khanza baru menikah setahun yang lalu.
“Tunggu Mas sayang, kita akan bertemu lagi nantinya” batin Arif.
Mereka semua tiba di pemakaman khusus keluarga Tentara, iya Khanza di makamkan di samping Melati istri pak Hadi yang tak lain Ibunda Khanza.
Pak Hadi turun langsung untuk mengangkat jasad anaknya masuk kedalam liang lahat, mengumandang kan Adzan di samping tubuh Khanza. Dua kali sudah Pak hadi mengumandankan Adzan dulu saat pertama sekali Khanza lahir dan kedua saat Khanza menutup mata.
Selesai mengumandangkan Adzan, Pak Hadi menyeka air matanya. Kembali ia menatap putrinya yang kini sudah berbalut kain putih polos.
"Entah bagaimana caranya Ayah ikhlas nak !" batin Pak Hadi lirih.
Di atas sana Papa mengulurkan tangannya, ia bermaksud menyambut pak Hadi agar naik lagi ke atas. Karena yang lain akan menutup makam itu dengan tanah.
Walau berat Pak Hadi tetap melakukannya, ia naik meninggal kan Khanza sendiri, meninggalkan putri kecilnya yang amat ia sayangi.
"Sabar ya Mas" ucap Papa nya Arif.
Pak Hadi hanya mengangguk, ia menatap semua orang yang bersiap menimbun makam Khanza, sementara Arif tetap terdiam membisu, tatapan yang kosong cukup menjelaskan betapa terlukanya laki-laki itu.
__ADS_1
Tapi semua orang bisa apa untuk menghibur Arif, mereka hanya bisa mengucapkan kata sabar.