
Setiba di rumah sakit Raka langsung memeriksa keadaan Khanza. Dan beruntung wanita itu tidak kenapa-kenapa, ia baik -baik Saja. Kepalanya yang terkena benturan justru menimbulkan efek yang baik untuk Khanza.
Sembari tersenyum Raka mendekati Arif yang saat ini terlihat sangat panik.
"Bagaimana keadaan istri gue ?" tanya Arif.
"Lo tenang saja ! istri Lo baik-baik saja. Dan sebentar lagi dia akan mengingat Lo"
"Hah, maksudnya ?"
"Iya karena benturan yang tidak di sengaja justru memicu ingatan Khanza pulih, selamat ya, akhirnya Lo gak jadi duda"
Sujud syukur langsung Arif lakukan saat mendengar penjelasan Raka, ia ternyata masih memiliki istri.
Begitupun dengan pak Hadi yang tersenyum senang, putri kecilnya yang teramat ia sayangi ternyata masih hidup dan sekarang akan kembali bersama dengan nya.
******
Sementara itu Mama Risa dan sang suami yang mendapat kabar kalau Khanza masih hidup langsung pergi ke rumah sakit, sedikit tak percaya apa yang di jelaskan oleh putranya.
Setiba di rumah sakit kedua nya langsung menuju ruangan dimana Khanza berada. Mama Risa begitu syok saat melihat menantunya beneran masih hidup dan saat ini masih terpejam.
"Bagaimana ini bisa terjadi nak ?" tanya Mama Risa pada Arif.
"Ceritanya panjang Ma, nanti Arif jelaskan kalau Khanza sudah sadar"
"Dia beneran Khanza ?" sahut sang Papa penasaran.
"Iya Pa, bahkan Arif sudah melihat bukti hasil operasi Caesar waktu Khanza melahirkan Kia"
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu"
Mama Risa dan juga sang suami sangat bersyukur kalau memang Khanza masih hidup.
Hingga perlahan mata Khanza mulai terbuka, dan hal pertama yang ia ucapkan adalah-
"Ayah...." panggilnya dengan pelan
Pak Hadi yang mendengar suara Khanza langsung mendekat, ia mengelus kepala Khanza sambil menunggu anaknya benar-benar sadarkan diri.
"Iya sayang ini Ayah nak"
"Khanza kangen sama Ayah"
"Ayah juga kangen banget sama Khanza"
"Khanza mau peluk Ayah"
__ADS_1
Pelukan erat dan hangat Pak Hadi berikan pada putrinya, air mata menetes begitu saja membasahi pipi pak Hadi. Tak pernah menyangka kalau putri yang ia sangka meninggal ternyata masih hidup.
"Mas Arif mana Yah ?" akhirnya Khanza sadar kalau dirinya sudah memiliki suami.
"Aku disini sayang" jawab Arif.
Khanza melepaskan diri lalu menatap kearah Arif dimana saat itu suaminya sedang tersenyum, Khanza merentangkan kedua tangannya dan langsung di sambut mesra oleh Arif.
"Terima kasih telah kembali sayang" bisik Arif di telinga Khanza.
Khanza tak menjawab ia menempelkan pipinya di dada sang suami. Namun tak berapa lama Khanza ingat sosok Mahendra, laki-laki yang menyayanginya dengan tulus selama satu tahun ini.
Ternyata Khanza tak lupa dengan Mahendra, ia tetap mengingat laki-laki itu sebagai sosok Papa.
"Kenapa mas tega ninggalin aku sama Papa Mehen ?" tanya Khanza.
Sejenak Arif dan Pak Hadi saling pandang. Sebelum akhirnya Arif kembali berkata-
"Mas tidak pernah meninggalkan kamu sayang, ceritanya panjang"
"Maksudnya?"
Arif langsung menceritakan semuanya, tentang perbuatan Mahendra yang memberi tahu kalau Khanza telah meninggal, bahkan Arif juga menceritakan kalau mereka semua memakamkan wanita mirip Khanza setahun yang lalu.
"Astaghfirullah, kenapa papa tega melakukan itu ? apa salah ku ?"
"Menurut Raka kamu itu sangat mirip dengan almarhum putrinya dokter Mahen, mungkin itu alasannya"
*******
Sore harinya Mahendra dan beberapa anak buahnya tiba di Indonesia, ia sudah mendapat info dimana Khanza saat ini. Bahkan Mahendra tau kalau Khanza masuk rumah sakit.
"Apapun yang terjadi aku akan membawa Khanza pergi lagi" batin Mahendra.
Mobil mewah yang di sediakan anak buahnya sudah menunggu, dan siap membawa Mahendra kemanapun pria itu menginginkan.
"Antarkan aku dimana anak ku berada" pinta Mahendra
"Baik tuan"
Mobil mewah itu pun melaju, membela jalanan ibu kota yang cukup padat.. Mahendra menyandarkan kepalanya di kaca mobil memikirkan bagaimana hidupnya jika tanpa Khanza.
Setahun bersama Khanza ia seperti kembali hidup, rumahnya kembali ramai oleh tawa Khanza. Sudah lama Mahendra menginginkan hal itu. Makanya ia tak rela jika rumahnya kembali redup lagi.
Beberapa saat kemudian mobil Mahendra tiba di rumah Pak Hadi, karena info dari anak buahnya kalau Khanza sudah pulang dari rumah sakit.
"Benar ini rumahnya ?"
__ADS_1
"Iya tuan"
Mahendra turun setelah seseorang membukakan pintu. Disana sudah ada seseorang yang menunggu dirinya
Arif yang memang dari awal paham kalau Mahendra pasti akan menyusul Khanza, pria itu tak takut sedikitpun apalagi saat ini Khanza sudah ingat siapa dirinya.
"Mana anak ku ?" tanya Mahendra
"Berani kalian menculik anak ku Hah ? akan aku laporkan kalian ke polisi" sambung Mahendra lagi
"Kami juga bisa melaporkan anda karena memalsukan kematian. Saya pikir hukuman anda akan sangat berat apalagi anda sebagai dokter"
Mahendra terdiam, hingga tak berapa lama ia mendengar suara seseorang memanggil.
"Papa" teriak Khanza
"Laras"
Khanza langsung memeluk Mahendra, ia ingat selama tinggal dengan Mahendra tak sedikitpun pria itu melukainya. Mahendra sangat memanjakan nya dan menyayangi nya dengan tulus.
"Nama ku Khanza Pa bukan Laras"
"Kata siapa nak, kamu Laras anak Papa"
Khanza melepaskan diri lalu menatap wajah Mahendra.
"Anak Papa sudah tiada, dan Papa menggantikan aku.. Itu salah Pa sampai kapanpun Laras yang asli tidak akan bisa di gantikan. Dia putri Papa"
"Saya pernah merasakan kehilangan seorang anak dan itu sangat menyakitkan. Jadi saya paham dengan apa yang anda rasakan makanya saya memaafkan kesalahan anda" tiba-tiba Pak Hadi menyahut membuat pandangan Mahendra teralih.
"Kamu boleh menganggap Khanza anak kamu, tapi tolong jangan pisahkan dia dari saya. Dia harta saya satu-satunya" sambung Pak Hadi lagi.
"Khanza juga mau kok punya dua Ayah. Yaitu Ayah Hadi dan Papa Mahen. Biar banyak yang jagain Khanza "
Melihat kelucuan Khanza, membuat Mahendra begitu gemas. Tak terasa pria itu meneteskan air matanya. Ia mulai menyadari kesalahannya karena memisahkan Khanza dari orang-orang yang mencintainya.
"Maafkan Papa nak ! maaf Papa menyakiti mu" ucap Mahendra dengan tulus
"Khanza sudah memaafkan Papa, lagian selama Khanza tinggal sama Papa, tak sedikitpun Papa pernah membentak Khanza walaupun Khanza salah"
Mahendra tersenyum ternyata Khanza masih mengingat semua kebaikannya.
"Jadi boleh saya menganggap Khanza anak ?" tanya Mahendra pada Pak Hadi.
"Silahkan saya juga merasa senang kalau banyak yang menyayangi putri saya yang nakal ini"
Khanza cemberut, sekarang ia bahagia padahal tadi ia begitu terkekang karena cerita dari sang suami.
__ADS_1
Bi Sri mendekat sambil menggendong Kia.
"Ini anak Khanza, dan jadi cucu Papa juga" ucap Khanza