Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 42


__ADS_3

Sekitar jam 09 pagi, Pak Hadi datang kerumah sakit untuk menemui Arif, ia jelas ingin menanyakan bagaimana bisa Khanza hamil.


“Ada apa Yah ??” tanya Arif setelah Pak Hadi berada di ruangan nya. Beruntung Arif telah selesai memeriksa pasien.


“Coba kamu jelaskan bagaimana bisa Khanza hamil ?? Bukan kah kamu sendiri yang bilang kalau Khanza tidak boleh hamil dulu” tanya Pak Hadi to the point.


“Maafkan Arif Yah, Arif gagal menjaga Khanza, memang seharusnya Khanza jangan hamil dulu tapi waktu itu Khanza menjebak Arif, memberikan obat perangsang di minuman Arif makanya Arif melakukan itu kepada Khanza.”


Pak Hadi memandang wajah menantunya, tak ada kebohongan sama sekali. Ia tahu betul kalau Arif jujur karena dulu Arif pernah bercerita soal ini kepadanya. Namun kenapa Arif tidak membuat Khanza ikut KB.


“Kan kamu bisa menyuruh Khanza ikut KB, kamu ini dokter tapi kenapa masalah itu tidak ada di pikiran kamu ??” tanya Pak Hadi lagi.


“Sudah Yah, aku sudah ingin membawa Khanza untuk KB tapi Khanza tidak mau dan malah membuat pertengkaran di antara kami”


“Sekarang bagaimana ?? Bukan kah kalau Khanza sudah hamil pengobatan Khanza harus sangat teliti ??”


“Aku akan tetap membawa Khanza ke Singapura untuk berobat Yah, rencananya kami akan berangkat hari Minggu besok”


“Ayah ikut” ucap Pak Hadi langsung.


*******


Malam hari nya Arif menceritakan kalau tadi siang Pak Hadi menemuinya di rumah sakit. Tak ada yang Arif tutupi dari istrinya.


“Maafkan aku ya Mas karena aku Mas jadi kena marah sama Ayah” ucap Khanza merasa bersalah.


“Tidak udah di bahas lagi dek, semuanya telah terjadi. Tapi mas mau menyampaikan juga kalau hari Minggu besok kita berangkat ke Singapura untuk pengobatan kamu, apa kamu setuju ??” tanya Arif


“Khanza setuju saja Mas, apapun akan Khanza lakukan asal bisa sembuh dan anak kita ini bisa lahir dengan selamat” jawab Khanza.


“Syukurlah kalau kamu setuju, semoga disana sakit kanker kamu bisa sembuh ya dek”


“Aamiin”


Masih ada 2 hari lagi sebelum keberangkatan, karena sekarang masih hari kamis. Besok hari Jumat Khanza akan pergi kemakam sang Bunda untuk meminta doa semoga pengobatannya berjalan lancar.


Ia masih ingin menikmati peran sebagai seorang istri, apalagi sebentar lagi Khanza akan menjadi ibu. Ia juga masih ingin meneruskan kuliah nya sampai wisuda.


Walaupun kelak ia tetap akan menjadi ibu rumah tangga, namun mempunyai gelar yang tinggi masih sangat ingin Khanza dapatkan.


“Mas” panggil Khanza.


“Hmmmm” jawab Arif.

__ADS_1


“Besok Khanza boleh izin keluar gak ??” tanya Khanza hati-hati.


“Kemana ??”


“Kemakam Bunda, Khanza ingin pamit sama Bunda untuk meminta restu kalau Khanza akan menjalani pengobatan”


“Boleh sayang, tapi harus sama Mas ya”


“Tapi Mas kan harus kerja”


“Mas akan izin sebentar, nanti di ganti saja Sift nya”


Khanza langsung tersenyum bahagia, karena besok ia akan berangkat bersama sang suami.


******


Keesokan paginya Khanza dan Arif langsung berangkat kepemakaman, makan Bunda Melati begitu bersih dan Rapih, tidak ada satu rumput pun yang tumbuh di atasnya. Khanza tau kalau sang Ayah selalu mengunjungi makam ini seminggu sekali.


“Assalamualaikum Bunda” ucap Khanza


tersenyum.


“Khanza datang Bun bersama suami Khanza”


Arif terus memperhatikan dan mendengarkan ucapan Khanza. Sesaat ia tertegun mendengar kalau Khanza begitu ingin jadi istri yang baik untuk dirinya.


“Kamu sudah jadi istri yang baik untuk Mas sayang, buktinya kamu rela mengandung anak Mas walau keadaan kamu seperti ini” batin Arif sedih.


Sementara Khanza masih terus bercerita banyak hal di depan makan Bundanya. Arif tau kalau istrinya itu tidak pernah bertemu dengan Bundanya sedari bayi. Mungkin bayangan wajah Bunda saja Khanza tidak tau.


“Ayo berdoa dulu !!” ucap Arif.


Khanza mengikuti, ia menengadahkan kedua telapak tangan nya untuk berdoa, mendoakan Bunda melati supaya tenang dialam sana. Juga mendoakan dirinya sendiri supaya cepat sembuh dari penyakit mematikan ini.


Selesai dari pemakaman Khanza dan Arif langsung pulang kerumah, di dalam perjalanan Khanza melihat pedagang buah-buahan. Air liurnya seakan ingin menetes melihat buah apel dan jeruk yang terlihat sangat segar.


“Kamu mau ??” tanya Arif yang mengetahui kalau sang istri selalu melirik kios buah-buahan itu.


”Boleh Mas ??” Khanza balik bertanya.


“Boleh sayang asal jangan berlebihan” jawab Arif membuat Khanza tersenyum bahagia.


“Makasih Mas, i Love You” ucap Khanza berbinar.

__ADS_1


“I Love You to sayang”


Segera Arif menghentikan mobilnya lalu turun untuk membelikan buah yang di inginkan sang istri. Namun sebelum pergi Arif terlebih dulu bertanya.


“Mau buah apa saja sayang ?” tanya Arif.


“Apel sama jeruk saja Mas. Emm Mangga sama buah naga juga segar. Udah itu aja” jawab Khanza.


“Siap sayang, tunggu disini ya !!” ucap Arif.


Khanza mengangguk, ia memperhatikan suaminya yang masuk kedalam kios itu, bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum.


Arif membeli buah yang di inginkan sang istri.


“Berapa total nya Bu ??” tanya Arif


“250 ribu Mas”


Arif segera mengeluarkan uang berjumlah 500 ribu lalu memberikan nya kepada ibu penjual buah.


“Ini kebanyakan Mas” ucap Ibu itu.


“Tidak apa-apa Bu, saya sengaja memberikan nya karena buah ini untuk istri saya yang lagi ngidam, mohon doanya Bu semoga istri saya dan calon anak saya sehat sampai lahiran nanti” balas Arif kemudian.


“Masya Allah terima kasih Mas, semoga istrinya sehat terus dan anak yang ada dalam kandungan nya menjadi anak Sholeh dan sholehah” ujar ibu itu sungguh sungguh.


“Aamiin, terima kasih Bu, kalau begitu saya pamit dulu”


Arif meninggalkan kios buah itu dan kembali ke mobil, di lihat nya Khanza sudah tertidur dengan mulut setengah terbuka.


“Lama ya nunggunya, maafin Mas ya sayang !!” ucap Arif sambil mencium kening Khanza sebentar..


Setelah itu Arif kembali melajukan mobil nya, tapi sekarang ia sangat berhati-hati karena ada dua nyawa yang harus ia jaga yaitu istri dan anak-anaknya.


“Ya Allah semoga anak dan istri ku selalu dalam lindungan mu. Aamiin” doa Arif dalam hati.


Setelah sampai di rumah Khanza juga tak kunjung bangun, Arif menjadi tidak tega untuk membangunkan istrinya. Dengan cepat ia menggendong Khanza, saat melewati ruang keluarga Arif melihat Mamanya sedang duduk santai.


“Lo Khanza kenapa Nak ??” tanya Mama Risa terlihat panik.


“Khanza hanya tidur saja Ma, tadi Arif tidak tega membangunkan nya” ucap Arif pelan karena tidak ingin mengganggu tidur sang istri.


Namun nyatanya Khanza tetap terjaga, suara Arif yang samar-samar telinga nya dengar mengganggu tidurnya.

__ADS_1


“Kok bangun ??” tanya Arif melihat Khanza membuka matanya


__ADS_2