
“Mau sampai kapan kita disini ?” tanya Arif kepada Raka.
“Tunggu sampai wanita yang bernama Laras keluar” jawab Raka, ia celingak-celinguk untuk memastikan bahwa target belum pergi.
Iya memang, setelah jam 5 subuh tadi, Raka mengajak Arif untuk kembali kerumah Mahendra, tapi mereka akan parkir agak jauh supaya tidak terdeteksi oleh kamera CCTV, kemaren Raka baru menyadari kalau rumah Mahendra di kelilingi oleh CCTV.
Namun sudah pukul 08 pagi belum ada yang keluar dari rumah itu, membuat Arif beberapa kali menggerutu dengan kesal namun Raka tetap bergeming, tidak sedikitpun ingin beranjak atau pergi dari sana. Ia ingin menunjukkan bahwa yang ia lihat beberapa hari yang lalu benar-benar Khanza.
Tidak berapa lama sebuah mobil melintas.
“Itu mobilnya Dokter Mahen" ujar Raka.
“Tinggal nunggu wanita yang bernama Laras keluar” kata Raka lagi.
Mata Arif fokos menatap gerbang rumah Dokter Mahendra, belum ada tanda-tanda orang yang keluar lagi.
Hingga tepat jam 11 siang, Mata Arif membulat demi melihat seorang wanita cantik yang mengenakan kemeja kotak-kotak yang di padukan dengan celana jeans.
“Khanza” gumam Arif namun masih bisa di dengar oleh Raka.
“Sekarang Lo percaya kan kalau gue gak salah lihat” balas Raka yang juga menatap wanita itu.
Namun Arif tak menjawab karena saat ini matanya tetap fokus menatap wanita itu yang entah sedang menunggu siapa, hingga tidak berapa lama sebuah mobil mendekati wanita itu dan orang yang di sebut Khanza oleh Arif memasuki mobil tersebut.
“Ikuti Ka” titah Arif.
“Ok”
Raka langsung menyalahkan mesin dan mengikuti mobil yang ada didepan nya.
“Jangan sampai ketinggalan jejak !”
“Ok”
“Jangan sampai gue kehilangan wanita itu lagi”
“Ok”
Dan sepanjang perjalanan hanya percakapan itu yang Arif dan Raka lakukan. Sampai dimana mereka tiba di sebuah kampus yang mereka datangi kemaren.
Arif langsung turun dari mobil dan mengejar Laras yang hendak melangkah ke kampus.
“Khanza”
Entah kenapa Laras mendadak berhenti, walau namanya bukan yang di sebut, namun panggilan laki-laki itu seperti tak asing baginya.
Laras menoleh kebelakang, dia menatap laki-laki yang tampan sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sayang” Arif langsung menubruk Khanza, dan memeluk nya dengan erat.
“Alhamdulillah kalau kamu masih hidup"
Laras heran dengan laki-laki yang memeluk nya itu, namun entah kenapa ia tidak ingin melepaskan diri, rasanya nyaman berada dalam dekapan laki-laki yang saat ini sedang terguncang.
__ADS_1
“Anda siapa ?” tanya Laras.
Deegggg.
Jantung Arif berdetak kencang, ia langsung melepaskan pelukannya dan memandang wanita di depannya ini.
“Ini aku Mas Arif suami kamu” jelas Arif dengan tegas.
“Suami ?” Laras bertanya dengan kening mengkerut.
“Iya suami kamu” jawab Arif lagi.
“Tapi Laras belum pernah menikah, anda salah orang kali”
Arif menatap Khanza, kali ini terdapat banyak lipatan di keningnya menandakan kalau laki-laki itu sedang berpikir dengan keras.
“Nama kamu siapa ?” tanya Arif lagi.
“Laras Putri Mahen”
Arif menggeleng, tidak berapa lama Raka mendekat.
“Nama kamu Khanza bukan Laras" ucap Raka langsung.
Dan saat itu juga kepala Khanza langsung berdenyut sakit, bahkan sakit nya sangat luar biasa, sehingga membuat Khanza pingsan beruntung Arif dengan sigap membantu Khanza.
“Ada yang tidak beres !” ucap Raka.
“Bawa kemobil biar kita periksa di rumah” titah Raka yang langsung di setujui oleh Arif
Arif dan Raka membawa Khanza kerumah, setelah sampai di rumah Raka mereka segera memeriksa keadaan Khanza.
"Apa yang terjadi dengan nya ?" Tanya Arif begitu penasaran.
"Dia baik-baik saja" jawab Raka.
"Apa dia beneran Khanza ?" Tanya Arif lagi.
"Entahlah saya tidak tau, kita lihat saja setelah dia sadar"
Arif dan Raka menunggu sampai Khanza sadarkan diri, sekitar 30 menit kemudian Khanza membuka matanya.
"Aaawwww" Khanza merintih karena merasakan kepalanya begitu pusing.
"Kamu sudah sadar ?" Tanya Arif.
Khanza menatap wajah Arif.
Deegggg.
Jantung Khanza berdegup sangat kencang, entahlah ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, tapi anehnya Khanza tak bisa mengingat siapa pria di hadapan nya ini.
"Aku dimana ?" Tanya Khanza.
__ADS_1
"Kamu di rumah teman ku, maaf kami bawa kamu kesini soalnya tadi kamu pingsan" jelas Arif.
AH,Rasanya ia ingin sekali memeluk wanita di depan nya itu, rasa rindu yang selama ini membelenggu perlahan memudar.
"Nama kamu siapa ?" Tanya Raka yang baru muncul.
"Saya Laras, saya anaknya dokter Mahendra, Apa kalian mengenal Papaku ?" Tanya Khanza.
Serentak Arif dan Raka saling pandang, terlihat sekali kerutan di kening Raka.
"Ini jelas ada yang salah, putrinya dokter Mahendra sudah tiada, dan kenapa sekarang wanita ini mengaku anaknya dokter Mahen" batin Raka.
"Sebentar ya !" Ucap Raka kepada Khanza.
Lalu Raka langsung menarik tangan Arif dan mengajaknya memasuki kamar Raka.
"Ada apa ?" Tanya Arif bingung.
"Dia istrimu Rif, gue yakin dia Khanza" kata Raka.
"Tapi kan dia tadi udah bilang sendiri kalau namanya Laras" jawab Arif.
"Gue ingat betul kalau anaknya dokter Mahendra udah tiada, bahkan gue juga mengantarkan pemakaman nya"
"Jika dia Khanza kenapa ia tak mengingat gue Ka ?"
"Ada sesuatu yang belum kita ketahui"
Raka memikirkan semuanya, sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam ia sedikit mengetahui informasi bagaimana seseorang bisa tak mengingat masalalunya.
"Kemungkinan Khanza di cuci otaknya, ini jelas di lakukan oleh dokter Mahen yang menginginkan Khanza tidak mengingat masalalunya" gumam Raka tapi masih bisa di dengar oleh Arif.
"Terus apa yang harus kita lakukan"
"Jalan satu-satunya bawa Khanza ke indonesia, pertemukan ia dengan Pak Hadi, karena ikatan antara ayah kandung dengan anak nya akan sangat kuat, kemungkinan juga ingatan Khanza akan kembali"
"Khanza tu bukan amnesia karena benturan di kepalanya, dia seperti itu karena perbuatan dokter"
Raka menjelaskan semuanya kepada Arif. Heran padahal Arif juga seorang dokter tapi ia sama sekali tak tau tentang keadaan Khanza.
"Caranya gimana ?" Tanya Arif.
"Kita culik dia"
Arif terdiam, ia memikirkan apa yang di katakan oleh Raka.
"Bagaimana caranya menculik dia ? kalau di bawah paksa dia pasti akan berontak. Dan orang-orang akan curiga Ka ?"
"Kamu kan dokter Rif, kenapa kamu gak bisa berpikir lebih. Kita bisa kan beri dia obat tidur supaya kita mudah membawanya" balas Raka.
Arif mengangguk anggukan kepalanya, semenjak bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan istrinya ia tak bisa berpikir lebih. Apalagi harus memikirkan memberi obat tidur pada Khanza.
"Semoga dugaan Lo benar Ka, kalau dia memang Khanza istri gue" ucap Arif.
__ADS_1
"Gue beneran yakin Rif, dia istri Lo, Ibu dari anak Lo" jawab Raka meyakinkan.