Istri Kecil Sang Dokter

Istri Kecil Sang Dokter
Episode 33


__ADS_3

Khanza...


Malam harinya ia dan Arif turun untuk makan malam bersama, ini akan menjadi makan malam nya untuk yang pertama sekali semenjak menikah, walaupun pernikahan mereka sudah 1 bulanan tapi waktu mereka di habiskan di ruangan rumah sakit.


Maka dari itu ia begitu bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk bisa merasakan malam malam bersama suaminya.


“Ini sayur untuk Non Khanza.” ucap Bik Sri sambil menghidangkan satu mangkok sayur SOP di depan nya. Yang ia sendiri tau kalau sayur SOP itu tidak ada rasanya alias hambar.


Tapi ia tetap memakan nya dengan tenang, tak ada penolakan sama sekali. Sesakli matanya melirik masakan yang lain terlihat begitu nikmat dan mengguga selera tapi ia tahan karena keinginan nya untuk sembuh begitu besar.


“Aku minta SOP nya sayang !!” ucap Arif sambil menatap kearahnya.


“Tapi ini gak enak Mas” tolaknya dengan halus.


“Coba Mas cicip dulu, mana sini ??” Arif masih memaksa.


“Tapiiii”


Tanpa memperdulikan dirinya, Arif langsung mengambil semangkok SOP tersebut lalu memindahkan kedalam piring. Matanya terus menatap kegiatan Arif apalagi saat Arif mulai memasukan SOP tersebut kedalam mulut.


“Enak kok” ucap Arif dengan mulut penuh.


“Kamu jangan memaksa Mas kalau gak enak bilang !! Aku gak mau nanti kamu sakit” balas nya kemudian.


---------


Arif...


Tentu saja ia terpaksa memakan SOP yang rasanya begitu hambar tersebut. Ia melakukan semua itu karena ingin menanami sang istri dan membuat Khanza lebih semangat lagi untuk sembuh.


Bukan kah ia sudah berjanji akan melakukan apa saja untuk kesembuhan Khanza. Dengan cara seperti inilah ia melakukan nya.


“Alhamdulillah” ucap nya setelah menghabiskan makanan yang berada di piringnya. Perutnya rasanya mau muntah karena memakan makanan yang tak ada rasanya selain rasa yang di timbulkan oleh sayuran didalam nya.


“Kok punya mu belum habis dek ??” tanya nya lagi kesang istri dimana nasi dan lauk yang berada di piring Khanza masih begitu banyak.


“Udah kenyang Mas, Khanza gak kuat untuk menghabiskan nya”


“Tapi kamukan masih makan sedikit sayang, katanya mau sembuh” ia memaksa Khanza untuk kembali makan.


“Betul apa kata suami kamu Nak, makan lagi supaya kamu cepat sembuh” sahut Ayah


Akhirnya Khanza kembali memakan makanan nya walau tak habis. Cukup lah karena setidaknya Khanza sudah makan dan tinggal minum obat lagi.


Setelah makan malam ia dan Khanza langsung naik ke kamar.


“Minum obat dulu sayang !!” pinta nya dengan lembut.


“Nanti Mas, Khanza masih kekenyangan ini”


Huuuuuuu.


Ia menarik nafas panjang, harus ekstra sabar dalam menghadapi Khanza. Mungkin saat ini ia belum terbiasa dalam merawat Khanza tapi seiring berjalan nya waktu semuanya akan terbiasa.

__ADS_1


--------


Khanza...


Keesokan paginya Ia terbangun lebih dulu. Menoleh kesamping dimana sang suami masih terlelap dalam tidurnya. Terlihat begitu lelah walau mereka tak melakukan apapun semalam.


Ia sempat menawarkan kepada Arif jika ingin meminta hak, tapi Arif menolak dengan alasan tak ingin dirinya lelah.


“Aku ingin segera hamil. Supaya Mama bisa kembali menyayangi aku” gumam nya pelan sambil menatap langit-langit kamarnya.


Pikiran nya kembali menerawang kejadian satu Minggu yang lalu dimana sang Mama mengatakan sesuatu yang paling menyakitkan.


Flasback On..


“Kamu harus cepat hamil karena jika sampai dalam waktu dekat kamu belum hamil Mama akan meminta Arif menceraikan kamu”ucap Mama sambil menatapnya dengan tajam.


“Khanza akan berusaha Ma”


“Harus itu !!” Mama menunjuk wajahnya “Kamu harus memberikan Arif keturunan, ya setidaknya selama kamu jadi istri Arif ada sedikit kebahagiaan yang kamu berikan”


“Iya Ma” hanya itu yang dapat ia jawab.


“Bagus. Mama tunggu kabar baiknya”


Flasback Off...


Maka dari itu ia berusaha agar cepat mengandung. Ia akan berusaha bagaimana cara nya supaya Arif kembali menjamahnya seperti malam itu.


“Kamu udah bangun sayang ??” tanya Arif dengan suara serak khas bangun tidur.


“Selamat pagi suami ku sayang” ia tak menjawab ucapan Arif tapi justru memberikan kata selamat pagi.


“Pagi juga istriku yang cantik”


Arif mencium keningnya dengan lembut. Ia kembali tersenyum.


“Mas aku ingin” ucapnya dengan nada manja.


“Ingin apa ??” tanya Arif lagi.


“Iss. Dasar gak peka”


------


Arif...


Ia bukan nya tak peka dengan ucapan dari sang istri, hanya saja ia tak tega jika melakukan itu.


Sejak semalam ia menahan hasratnya mati-matian. Sejak Khanza menawarkan diri kepadanya. Namun ia langsung menolak dan lebih untuk tidur saja dengan pikiran yang kacau.


Ia bahkan tertidur begitu larut malam, karena mendinginkan hasrat yang sudah menggebu, aplagi gaya tidur Khanza yang semakin membuatnya tak tenang. Karena semalam Khanza hanya memakai baju tidur bercelana pendek melihat paha mulus Khanza yang tak tertutup apa-apa membuat sesuatu yang berada didalam celananya berdiri.


Sialan memang.

__ADS_1


Jika bukan karena tak ingin Khanza kembali drop mungkin ia sudah lakukan sampai puas.


Menjelajah tubuh sang istri dengan semangat. Tapi sekarang ada sesuatu yang harus ia pertimbangkan yaitu kesehatan Khanza.


Ia tak ingin Khanza kembali masuk rumah sakit hanya karena menuruti nafsu brutalnya.


“Ayo Mas !!” Khanza kembali memancingnya.


“Nanti ya sayang, kan kamu baru pulang dari rumah sakit.”


“Tapi aku ingin cepat hamil.Mas. kalau kita malas melakukan nya Khanza gak akan hamil-hamil”


Arif masih saja terdiam setiap Khanza bahas masalah kehamilan. Bukan Arif tak setuju kalau sang istri hamil hanya saja Arif terlalu mengkhawatirkan kondisi Khanza.


Tapi untuk menjelaskan semua nya kepada Khanza Arif juga bingung harus mulai dari mana supaya Khanza bisa paham tentang perasaan Arif.


“Mas” hardik Khanza


“Iya Sayang” jawab Arif masih berusaha selembut mungkin.


“Ayo kita lakukan supaya aku cepat hamil”


Khanza masih terus memaksa.


“Tapi dek, Mas belum siap”


“Belum siap apanya sih Mas ?? Kenapa jadi gini sih waktu itu kamu OkOk aja pas ngelakuin kenapa sekarang jadi begini” ucap Khanza marah-marah.


Tapi Arif tetap diam. Ia memandang wajah Khanza yang sudah basah karena air mata.


Tangan Arif terulur untuk menghapus buliran air mata Khanza.


“Sayang please dengerin Mas !! mas bukan gak mau melakukan itu hanya saja Mas takut kamu kembali drop seperti waktu itu. Tolong mengertilah !!”


“Khanza janji gak akan sakit lagi Mas. Asal izinkan Khanza kembali melayani Mas Arif.


Khanza ingin melahirkan keturunan untuk Mas” Khanza masih saja terisak.


Arif masih dengan pendirian nya untuk tidak melakukan hubungan suami istri dengan Khanza. Dalam hal ini Arif begitu tersiksa karena ia harus menahan hasrat nya sebagai laki-laki.


“Mas mengerti sayang, Mas juga ingin memiliki anak tapi kesehatan kamu itu yang lebih utama buat Mas”


Arif memegang kedua bahu Khanza. Mengusapnya dengan lembut supaya Khanza sedikit tenang.


“Tapi Mas Arif juga jangan halangi Khanza buat mengandung anak Mas” ucap Khanza.


Arif langsung menarik Khanza kedalam pelukannya. Begitu sakit hatinya melihat Khanza begitu menderita. Begitupun dengan Arif.


“Maafkan Khanza Mas, maaf karena tidak menjadi istri yang sempurna untuk Mas” ucap Khanza masih terisak didalam pelukan Arif.


“Mas juga bukan suami yang sempurna sayang” balas Arif dengan mengeratkan pelukan nya.


Hingga pagi ini di warnai dengan tangisan, tangisan haru yang begitu memilukan.

__ADS_1


__ADS_2