
Satu hari menjelang hari H, Khanza rasanya sudah deg-deg kan.
Seperti saat ini Khanza sedang berdiri melamun di sudut kamarnya. Kamar yang saat ini sudah di hias secantik mungkin.
Tok
Tok
Tok
Ketika sebuah ketukan pintu membuat Khanza kaget. Ia menoleh kebelakang dimana Tante Ira sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum penuh kasih sayang, tak lupa sebuah nampan yang berisi makanan untuk Khanza.
Entahlah sebelum nikah Khanza semakin di manjakan. Tak hanya Tante Ira tapi juga sang Ayah yang sangat memanjakan dirinya. Ketika Ia bertanya Ayah nya akan menjawab seperti ini.
*Sebentar lagi kamu akan menjadi istri orang, dan satat janji suci itu sudah di ucapkan oleh lelaki yang meminang mu itu berarti Tugas Ayah sudah selesai, karena tanggung jawab Ayah akan beralih kepada suami kamu.
Jadi izinkan Ayah memanjakan kamu menjelang pernikahan ini. Kamu adala anak Ayah satu-satunya dan harta Ayah yang paling berharga*.
Begitulah ucapan Ayah kala Khanza bertanya dengan sikap Ayah akhir-akhir ini.
Berbeda dengan Tante Ira, Khanza bahkan langsung meneteskan air mata saat mendengarkan ucapan Tante Ira waktu itu.
Kamu itu keponakan tante satu-satunya, izinkan tante memanjakan Khanza ya, tante juga ingin Khanza merasakan ada seorang Bunda yang menemani Khanza jelang pernikahan. jadi anggaplah kalau Tante ini Bunda kamu.
Khanza mengangguk. Walau Ia tak pernah bertemu dengan Bundanya tapi saat melihat tante Ira. Ia merasa melihat Bundanya.
"Ngelamun terus mikirin apa sih ?" Tanya tante Ira yang saat ini sudah duduk di sofa yang berada di kamar Khanza.
"E-nggap kok Tan" Jawab Khanza sambil ikut duduk di samping Tante Ira.
"Ini makan dulu, biar besok kamu fress gak pucat karena kurang makan !!" seloroh Tante Ira.
"Tapi Khanza belum laper Tan"
"Apanya yang belum laper, Khanza kan belum makan dari tadi. Pagi cuman sarapan roti bakar aja kan ?"
Dengan sedikit paksaan akhirnya Khanza mau menerima suapan yang di beriakn Tante Ira.
Walau awalnya Ia tidak mau di suapi tapi tak bisa menolak ketika Tante Ira sudah memelototkan matanya.
"Sudah Tan, Khanza udah kenyang" ucap Khanza sambil mendorong piring yang masih berisi nasi beserta lauknya.
"Baru tiga suap Za, lagi ya !! minimal habis setengahnya"
Namun Khanza menggeleng, memang saat ini rasanya eneg kalau di buat makan. Apalagi dengan perasaan deg-degkan yang Ia alami membuat nafsu makan nya berkurang.
__ADS_1
Huuuuuuuuu
Tante Ira menghembuskan nafas kasar. Dia meletakkan satu piring nasi yang hampir tak berkurang karena Khanza hanya makan tiga suap itupun dengan suapan kecil. Namun Ia tak bisa memaksa karena dirinya pernah merasakan rasanya seperti Khanza menjelang pernikahan.
"Kamu jangan cemas berlebihan Za, bawa enjoy, kalau kamu terlalu cemas nanti kamu sakit" ujar tante Ira sembari mengelus punggung nya dengan lembut.
"Apa mau ketemuan sama calon biar gak cemas lagi " seloroh Tante Ira lagi sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Apa sih tan" Cibir Khanza dengan wajah memanas.
"Hehehe" Namun justru Tante Ira terkekeh geli kemudian kembali berkata-
"Belum boleh ya, harus sabar dulu besok pasti ketemuan. Dan Tante tidak akan melarang lagi"
"Ih Tante udah deh !"ucap Khanza yang sudah memerah seperti tomat.
"Ya sudah Tante keluar dulu, kamu istirahat dan kalau lapar panggil Tante nanti Tante ambilin"
Khanza hanya mengangguk, setela kepergian Tante Ira, Khanza langsung berjalan ke ranjang untuk beristirahat.
************************************
Adzan Dzuhur berkumandang, saling bersahutan dari masjid satu ke masjid yang lain nya.
Assalamualaikumwarahmatullah.
Ia menolehkan kepala ke kanan lalu kekiri.
Kemudian Arif menengadahkan kedua tangan nya untuk berdoa, memohon ampunan dan kelancaran untuk acara pernikahan na besok.
Ya Allah besok adalah pernikahan hamba dengan wanita ang engkau pilihkan untuk hamba. Maka dari itu hamba mohon lancarkan lah dan bantulah hamba dalam mengucapkan janji suci supaya tidak ada kesalahan. Aamiin.
Begitu khusuk Arif dalam berdoa, berharap besok ia mampu melafaskan janji suci dengan sempurna.
Setelah melaksanakan sholat Dzuhur Arif ingin beristirahat siang, Ia sama seperti Khanza yang tidak di perbolehkan kemana-mana. Jenuh itu sudah pasti dan Rindu itu yang sangat besar Ia rasakan.
Di rumahnya juga ramai untuk acara ngunduh mantu nantinya. Kerabat dari Papa dan Mamanya sudah pada datang, seserahan sudah siap dan mas kawin nya juga sudah sempurna.
“Kamu lagi apa Dek ??” tanya nya pada diri sendiri.
Arif memandang Langit-langit kamarnya. Sambil membayangkan wajah cantik Khanza, Sesekali Ia tersenyum namun sesaat kemudian Ia berubah merengut entahlah apa yang saat ini Ia pikirkan.
Waktu terasa begitu lambat, kalau saja Ia sendiri bisa memutar waktu dengan cepat akan Ia lakukan.
“Dari tadi gak ada SMS dari Dia” gerutunya kesal.
__ADS_1
Namun hal tak terduga terjadi, tak ada ketokan pintu namun pintu kamarnya langsung dibuka membuat Arif terperanjat kaget.
“Astaga” ucap Arif sambil mengelus dadanya.
“Kalian” tunjuk Arif kepada Kenan, Aska dan juga Zaki yang saat ini tengah tersenyum manis ke arah dirinya.
“Weeeh. Calon pengantin muka nya tegang amat” seloroh Aska yang tanpa di persilahkan sudah duduk di atas ranjang milik Arif di susul oleh Kenan dan juga Zaki.
“Gue tu tegang karena kaget” jawab Arif.
“Jangan tegang dulu bego. Nanti aja tegangnya kalau udah malam pertama” ucapan tak berpaedah yang Kenan katakan membuat Arif memutar matanya jengah.
“Mau di ajarin gak ??” kali Ini Zaki yang bertanya.
“Ajarin apaan ??” tanya Arif begitu polos.
Ketiga Pria tampan itu mendekat dan langsung berbisik di telinga Arif.
"Malam pertama, kita ahlinya Lo---"
Mata Arif langsung melotot sempurna mendengar bisikan tak masuk akal dari ketiga teman nya, yang satunya adalah bosnya sendiri. Sialan.
“Kalian pikir gue gak bisa begituan. Gampang itu mah tinggal di masukin doang terus naik turun” jelas Arif membuat Kenan, Aska, dan juga Zaki tergelak karena tertawa.
“Apanya yang naik turun ??” tanya Aska sok polos padahal pikiran nya sudah traveling
kemana-mana mendengar kata naik turun.
“Jangan sok polos deh !! eneg gue lihat nya” cibir Zaki kemudian.
“Tau nih anak, kek gak pernah aja main turun naik” Sahut Kenan
Arif mengusap wajahnya kasar dan di hatinya langsung beristighfar berkali-kali mendengar celotehan dari ketiga teman brengseknya itu.
“Gue gak akan ngasih Loh tiket bulan madu soalnya di rumah sakit banyak pasien. Tapi tenang Gue udah mempersiapkan hadiah istimewah buat Lo” ujar Kenan dengan mimik wajah serius.
“Apaan tu ??” tanya Arif penasaran ??
Hingga serempak Kenan, Aska dan juga Zaki menjawab.
“K O N D O M”...
------
Ketemu lagi nih sama Kenan, Aska dan Zaki.. Ayo ada yang kangen gak sama mereka.
__ADS_1