
Bab 54
Setelah sampai di rumah sakit dengan langkah cepat Arif memanggil dokter agar istrinya segera di beri penanganan, pikiran nya tidak bisa konsen saat berteriak memanggil dokter.
Dua orang suster langsung membantu Khanza, Arif memegangi tangan Khanza, Arif melihat wajah Khanza masih sangat tenang, tidak ada guratan rasa cemas walau sesekali Khanza meringis kesakitan.
Khanza tetap tenang, itulah yang membuat Arif terlihat sedih.
“Jangan panik Mas” ucap Khanza.
Harusnya kan Arif yang mengatakan itu semua, kenapa sekarang malah justru Khanza yang mengatakan nya. Gak kebalik ??.
“Iya sayang” jawab Arif berusaha setenang mungkin
Di depan ruangan sudah menunggu dokter Chika dan Dokter Mahendra.
“Kita harus segera melakukan tindakan operasi Bapak Arif, ketubannya sudah pecah" ujar Mahendra setelah dokter Chika selesai memeriksa Khanza.
“Lakukan dok, tolong selamatkan anak ku”Ujar Arif lagi.
“Kami akan berusaha” balas Mahendra.
Setelah Khanza di masukkan keruang operasi, Arif dan Pak Hadi semakin tidak tenang, apalagi ini sudah malam.
“Selamatkan anak dan istriku ya Allah” hanya itu lah yang selalu Arif ucapkan , memohon kepada sang pemilik kehidupan untuk menyelamatkan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Lampu berwarna merah masih menyala dengan terang, itu berarti operasi masih di laksanakan. Arif tidak bisa duduk dengan tenang ia terus gelisah sambil mondar-mandir.
Tidak berapa lama seorang suster keluar.
“Mana peralatan anak Bapak ??" Tanya Suster tersebut
Arif menyerahkan tas yang berisi perlengkapan anak nya “Anak saya sudah lahir sus ??" Tanya Arif
“Sudah Pak, perempuan sangat cantik” jawab suster itu.
“Lalu bagaimana keadaan istri saya ??” tanya Arif lagi.
__ADS_1
Namun Suster itu tidak lagi menjawab, ia malah langsung meninggalkan Arif tanpa mengucapkan satu katapun.
“Sus jawab dulu” teriak Arif kesal.
Tapi sayang, pintu ruangan operasi sudah tertutup kembali dengan rapat. Percuma ia berteriak tidak akan ada yang mendengarnya, Yang ada Arif akan di seret sama sekuriti.
“Tenang dulu Nak, semoga Khanza baik-baik saja" pinta Pak Hadi walau ia sendiri begitu khawatir.
Suasana mendadak mencengcam, Arif begitu ketakutan tidak biasanya dia seperti ini. Pikiran nya hanya Khanza dan Khanza seorang.
Hingga 2 jam berlalu Dokter Mahendra keluar dari ruang operasi, Arif dan Pak Hadi langsung mendekat untuk menanyakan bagaimana keadaan Khanza.
“Bagaimana keadaan istri saya dok ??” tanya Arif.
“Maafkan kami Pak, istri bapak tidak bisa kami selamatkan, ia banyak mengeluarkan darah di tambah gejala kanker yang ia derita”
Duaaarrrrr.
Bagai di sambar petir, Arif dan Pak Hadi terdiam seketika. Mereka masih mencerna setiap ucapan yang dikeluarkan oleh Mahendra.
“Tidak ini tidak mungkin” Arif langsung memegangi kerah baju Mahendra “Dulu anda yang bilang kalau kehamilan itu tidak akan membuat istri saya kenapa-napa, lalu ini apa ?? Kenapa Anda membiarkan istri saya pergi” teriak Arif di depan wajah Mahendra.
“Saya sudah berusaha Bapak Arif kedepannya itu sudah Tuhan yang menentukan”
Sebagai seorang dokter saat di salahkan oleh keluarga pasien tentu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidup, itulah yang Mahendra alami sekarang.
Tanpa banyak perkataan Arif masuk ke dalam ruang operasi, Dokter Chika akan mencegah namun Mahendra melarang ia membiarkan Arif melihat sang istri.
Di dalam sana Arif melihat tubuh Khanza yang sudah di tutupi dengan kain berwarna putih, dengan cepat Arif menyingkirkan kain itu. Air matanya sudah mengalir dengan deras. Ia melihat wajah Khanza yang sangat pucat, bibir yang biru serta kulit yang dingin.
“Kenapa kamu ninggalin Mas Sayang ??” ucap Arif.
“Bukan nya kamu sudah berjanji akan menuah bersama Mas ?? Lalu kenapa kamu ninggalin Mas ?? Ayo bangun Mas ingin melihat senyummu” Arif mengguncang tubuh Khanza dengan kencang, namun sayang Khanza Sudah tak merespon lagi.
Di samping nya suara tangisan bayi begitu menggelegar, ia adalah anak Arif buah cintanya bersama Khanza.
Namun Arif tak memperdulikan tangisan anaknya, yang ada di pikiran nya sekarang hanya Khanza, sang istri.
__ADS_1
“Kamu tega ninggalin Mas sayang, kamu tega” Arif kembali berteriak.
Tubuhnya terasa lemah, penglihatan nya memudar, hingga Brrruuk. Arif jatuh pingsan.
-----------
Arif membuka matanya, ia menyipitkan mata karena merasa silau dengan sinar lampu.
Di sebelahnya ada Pak Hadi yang duduk dengan tatapan kosong, Arif mengingat setiap kejadian yang barusan terjadi.
“Khanza” ucap Arif lirih saat ingat kalau sang istri telah pergi.
Pak Hadi mendekat, ia memandang wajah Arif dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Kamu telah menghamili anak ku, jika Khanza tidak hamil semuanya tidak akan terjadi” ucap pak Hadi tanpa ekspresi.
Arif hanya diam saja, mungkin benar kalau dirinya Yang salah dalam hal ini, jika Khanza tidak hamil pasti sekarang masih hidup.
“Ini ada titipan dari Khanza” ucap pak Hadi sambil menyerahkan satu bua kertas yang di lipat begitu kecil.
Arif menerima kertas itu, namun ia masih enggan untuk membacanya.
“Ini bayi ibu Khanza” seorang suster datang dengan mendorong kereta bayi.
Arif duduk ia memandang wajah bayi yang barusan di lahirkan istrinya, seketika Air mata Arif kembali menetes dengan deras.
“Siapa yang akan membantu Mas mengurusnya sayang, kenapa kamu tega meninggalkan kami berdua” batin Arif lirih sambil memandang wajah putrinya.
Bayi mungil itu seolah mengerti kalau sedang berada didekat sang Ayah. Ia membuka matanya perlahan membuat siapa saja menjadi gemas.
Tapi tidak untuk Arif, ia belum percaya kalau saat ini dan seterusnya ia akan sendiri membesarkan bayi mungil itu.
Pak Hadi pun ikut menatap cucu pertamanya itu, atau bisa jadi akan menjadi cucu satu-satunya. Dia juga tak bisa berkata apa-apa, ia hanya menatap wajah mungil bayi yang menurutnya sama persisi dengan Khanza.
"Kenapa nasibmu sama dengan Mama kamu nak ! dulu Mama kamu di tinggalkan saat baru lahir, dan kamu juga mengalami hal ini" batin pak Hadi. Ia begitu ingat bagaimana sang istri melahirkan Khanza dan itu menjadi hari terakhirnya di dunia.
Sekarang pak Hadi tak punya siapa-siapa lagi, harta berharga nya yaitu Khanza juga sudah meninggal kan nya. Pak Hadi terduduk, tubuhnya yang tua tak bisa menahan lagi.
__ADS_1
"Ayah tidak apa-apa ?" tanya Arif mendekati Ayah mertuanya.
Pak Hadi menggeleng dengan gerakan lemah, ia tak tahu harus menjawab apa ?. Semua ini terlalu menyakitkan untuknya