
Keesokan harinya setelah Arif berangkat bekerja Khanza juga langsung pergi.
“Bi aku pergi dulu ya !!” ucap Khanza kepada Bi Asih yang kemaren baru mulai bekerja bersama sang suami Mang Ucup.
“Mau kemana Bu ??” tanya Bi Asih.
“Ketemuan bentar sama Teman Bi, udah ya Assalamualaikum” ucap Khanza lagi.
“Walaikumsalam. Hati-hati Bu” ucap Bi Asih namun Khanza sudah berada di luar rumah jadi tak menjawab ucapan Bi Asih lagi.
Saat di luar rumah Khanza menghampiri Mang Ucup untuk mengantarnya ketempat ketemuan dengan Sinta.
“Mang anterin saya sebentar” ucap nya kepada Mang Ucup.
“Baik Bu”
Khanza langsung ke mobil, lalu memberi tahu Mang Ucup kemana tujuan nya saat ini.
----
Sementara itu..
Arif baru saja sampai di tempat nya bekerja. Seperti biasa Arif akan di sibukkan dengan banyak nya pasien. Tak ada waktu sedikitpun untuk nya bersantai.
“Sibuk bro ??”
Arif menghentikan kegiatan nya sebentar lalu menoleh kesamping dimana ada Raka Yang sedang menatap kearahnya.
“Iya nih. Kenapa Ka ??”Arif mendekati Raka.
“Oh enggak, gue cuman mau bilang tentang pengobatan bini Lo” ujar Raka
Jika sudah membahas masalah pengobatan Khanza. Arif akan semangat untuk mendengarkan karena baginya kesehatan Khanza adalah yang utama.
“Gimana ?? Apa ada kendala tentang pengobatan istri gue ??" Tanya Arif penasaran.
“Gue kemaren dapat pesan kalau di Singapura ada rumah sakit yang memiliki pengobatan yang bagus. Bahkan katanya disana udah ada yang sembuh bagi yang menderita Kanker Hati seperti istri Lo. Coba deh bawa Khanza berobat kesana siapa tau kan Khanza bisa sembuh”jelas Raka.
“Di Singapura ya Ka ??” tanya Arif lagi.
“Iya. Kalau Lo mau sih”
“Gue rundingan dulu sama Khanza sama Ayah mertua gue. Kalau mereka setuju ya gue juga setuju. Thanks ya Ka udah ngasih info”
“Sama-sama Rif” Raka menepuk bahu Arif.
Setelah mengatakan itu Raka kembali keruangan nya. Sementara Arif langsung memikirkan tentang pengobatan Khanza.
“Jika memang disana kamu bisa sembuh Mas akan bawa kamu kesana sayang” ucap Arif.
----
Sementara itu.
Khanza dan Sinta sudah berada di kafe tempat mereka janjian.
__ADS_1
“Ada apa sih Za ?? Tumben ngajakin ketemuan disini ??” tanya Sinta heran.
“Aku mau minta tolong sama kamu Sin”
“Tolong apa Za ??”
“Bantuin aku gimana caranya supaya suami aku mau melayani aku lagi”.
“Hah maksudnya ??"
“Iya bagaimana caranya supaya mas Arif mau melakukan hubungan suami istri lagi Sin”
Sinta masih saja bingung dengan ucapan dan penjelasan Khanza. Iyalah siapapun pasti akan bingung secara Khanza dan Arif adalah pasangan yang sah pengantin baru pula.
Namun Sinta tetap membantu Khanza cara bagaimana supaya Arif mau melakukan hubungan suami istri lagi.
“Kasih obat perangsang aja Za !!” usul Sinta kemudian.
“Yakin akan berhasil ??” tanya Khanza.
“Di coba aja dulu Za, aku sih gak tau berhasil atau enggak secara aku belum pernah menjebak orang. Tapi setiap aku baca di Novel-Novel cara ngejebak laki-laki ya di kasih obat perangsang” Sinta kembali menjelaskan.
Khanza tampak berpikir sebentar, lalu kemudian sebuah senyum terbit di bibir Khanza.
“Ok thanks ya Sin. Semoga dengan cara ini aku bisa cepat hamil”
“Aamiin. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Za”
Mereka berdua menikmati makan siang dengan nikmat. Kali ini makanan yang dimakan Khanza ada rasanya tidak hambar seperti biasa. Begitu nikmat makanan ini namun sesaat kemudian pikiran nya tertuju kepada sang suami.
“Kenapa gak di habiskan ??” tanya Sinta saat melihat Khanza menyudahi makan nya padahal makanan di piring Khanza masih banyak.
“Aku ngerasa berdosa tau gak makan-makanan itu.” ucap Khanza menunduk sedih.
“Maksudnya ??” Sinta tak paham apa yang di ucapkan Khanza.
“Selama ini suami dan Ayah ku melarang keras untuk aku makan-makanan seperti ini. Aku boleh makan yang tidak ada rasanya atau hambar dan aku tau mereka melakukan itu karena ingin aku sembuh. Namun apa yang sekarang aku lakukan ?? Aku malah enak-enakan makan seperti ini tanpa memikirkan perasaan mereka. Jahat banget kan aku”
Melihat Khanza sudah menangis. Sinta pun menyudahi makanan nya tak peduli dengan perutnya yang masih minta di isi. Sinta menggeser kursi nya untuk duduk di samping Khanza ia mengelus punggung Khanza dengan lembut.
“Kamu gak jahat kok Za, kan kamu gak ingat tadi, udah gak papa sekali ini Za” ucap Sinta menenangkan.
“Tapi tetap saja Sin aku telah melanggar apa yang selama ini suami aku larang”
“Ya sudah gak usah sedih kan cuman dikit yang kamu makan Za. Setengah aja gak ada kok”
Khanza menatap piringnya dimana masih begitu banyak makanan. Benar kata Sinta ia hanya makan sedikit tadi. Mungkin tidak apa-apa lagi
bagi tubuhnya.
“Aku mau pulang Sin” ucap Khanza.
“Ya sudah hati-hati di jalan. Makanan nya biar aku yang bayar” ujar Sinta.
Namun Khanza tetap mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah. Tentu ia tidak akan langsung setuju begitu saja saat Sinta akan membayar makanan nya. Walaupun Khanza tau kalau Sinta mampu membayar nya.
__ADS_1
----------
Sebelum pulang kerumah Khanza lebih dulu mampir ke apotek untuk membeli obat yang sudah ia diskusikan bersama Sinta tadi. Dengan perasaan malu yang bertahta Khanza melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam apotek.
“Ada yang bisa saya bantu mbak ??” tanya petugas apotek.
“Hmmm anu” Khanza tampak bingung untuk mengungkapkan nya. “Saya mau beli obat perangsang mbak” ucap Khanza setengah berbisik. Saking kecilnya petugas apotek hampir tak mendengar
“Bisa lebih jelas gak mbak suaranya ?? Gak kedengaran soalnya”
Khanza mendengus kesal. Dengan memperhatikan sekelilingnya Khanza kembali berkata namun sekarang sedikit keras supaya ia tak perlu lagi mengulang ucapan nya.
“Saya mau beli obat perangsang Mbak ??” ujar Khanza.
“Oh, mau yang merek apa ??” petugas apotek kembali bertanya.
“Aduh yang mana aja deh Mbak. Yang manjur pokok nya” jawab Khanza kesal.
Terlihat petugas apotek mengambil kan apa yang Khanza minta. Setelah itu menyerahkan sebuah obat yang Khanza yakini adalah obat perangsang.
“Berapa mbak ??” tanya Khanza
“56 ribu” jawab petugas apotek.
Khanza mengeluarkan uang sejumlah 100 ribu lalu memberikan nya kepada petugas apotek.
“Kembalian nya ambil aja mbak” ucap Khanza sambil berlalu dari sana dengan perasaan senang.
------
Malam harinya Khanza sudah bersiap untuk bertempur dengan sang suami.ia sudah memakai pakaian yang seksi dan sudah cukup wangi.
Rasanya geli bercampur malu setiap ia melihat lekuk tubuhnya melalui pantulan cermin.
Namun Khanza tak lagi memikirkan kesana, yang berada di pikiran nya sekarang adalah sang suami yang sedang bermain di atasnya.
Khanza mendengar suara langkah seseorang. Itu pasti sang suami.
“Sayang Mas pulang” ucap Arif sambil membuka pintu kamar.
“Sayaa---” ucapan Arif terpotong demi melihat penampilan sang istri malam ini. Berulang kali Arif menelan Saliva nya karena penampilan Khanza begitu membangkitkan sesuatu didalam sana.
“Hai Mas” ucap Khanza cuek. Ia langsung mendekati Arif dan mencium punggung tangan Arif.
“Kamu kok pakai baju seperti ini sih Dek ??” tanya Arif gugup.
“Panas Mas. Makanya Khanza pakai baju ini” jawab Khanza berbohong.
Khanza memperhatikan wajah Arif. Ia tahu kalau suaminya itu sudah merangsang. Apalagi wajah Arif sudah memerah seperti tomat.
“Hehe, ternyata seperti ini wajah kamu kalau lagi pingin Mas. Kita lihat sekuat apa kamu bertahan” batin Khanza tersenyum jahat.
“Mas mau mandi dulu” ucap Arif segera berlalu dari hadapan Khanza.
“Kalau cara ini gak berhasil juga ya terpaksa aku harus memakai obat itu” gumam Khanza setelah suaminya masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Suara gemericik air yang berada didalam membuat Khanza yakin kalau suaminya benar-benar mandi.