Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 101 : Hadiah Ketiga Untuk Pram.


__ADS_3

Saat ini Pram dan Kailla sudah berada di dalam mobil. Bersiap untuk menuju restoran. Tapi di perjalanan Pram meminta sopir menghentikan laju mobil mereka.


“Bisa tinggalkan kami berdua.” pinta Pram pada sang sopir dan Bayu setelah mobil berhentu di tepi jalan.


Pram beralih menatap Kailla saat ini.


“Kai, aku akan memberimu 3 hadiah sekaligus. Aku berharap setelah ini, kamu benar-benar bisa belajar menjadi dewasa.”


“Hadiah pertamamu.... “ Pram menarik nafas sebentar, sebelum melanjutkan kata-katanya.


“Setelah kita kembali ke Indonesia, kamu boleh tidak melanjutkan kuliah di tempatmu yang sekarang.”


“Hah! Serius?” Kailla bertanya untuk memastikan.


“Iya, tapi kamu harus tetap kuliah, ambil jurusan yang kamu sukai. Aku tidak akan memaksa. Apapun itu, kamu bebas menentukan pilihanmu sendiri,” jelas Pram lagi.


“Terimakasih Sayang,” ucap Kailla segera memeluk lengan Pram yang duduk di sampingnya.


“Kamu suka?” tanya Pram menatap Kailla.


“Hmmm......,” gumam Kailla sambil tersenyum.


Terlihat Pram mengeluarkan dompet dari saku celananya dan meletakkannya di atas pangkuan Kailla.


“Kai, aku sungguh tidak bisa melepasmu seperti orang kebanyakan. Aku minta maaf untuk itu. Bukan hanya dirimu, bahkan anak-anak kita akan mengalami nasib yang sama sepertimu. Mulai sekarang berdamailah dengan keadaanmu,” ucap Pram menepuk tangan Kailla yang saat ini sedang memeluk lengannya.


“Aku bisa apa, kalau suamiku sudah berkata seperti ini. Harapanku satu-satunya hanya padamu, setelah aku tidak bisa memohon pada daddy,” sahut Kailla sambil menunduk. Ada raut kesedihan muncul sekilas disana.


“Maafkan aku Kai,” ucap Pram sedikit menyesal.


“Kamu sudah mirip dengan daddy! Setiap kali bertemu denganku selalu minta maaf,” ucap Kailla.


“Ambil uang di dalam dompetku, berapapun itu. Aku memberimu waktu 2 jam dari sekarang. Kamu boleh keluar dari mobil, boleh jalan-jalan sendirian. Kamu boleh membeli apapun yang kamu mau. Aku menunggumu disini,” Pram membantu Kailla membuka pintu mobil, dan mengizinkan Kailla keluar saat itu juga.


“Benarkah? Aku boleh keluar tanpa Bayu?” tanya Kailla.


“Iya, ini hadiah keduamu. Cepat! Sebelum aku berubah pikiran,” sahut Pram. “Jangan lupa menghubungiku, kalau terjadi sesuatu,” lanjutnya lagi.


“Terimakasih,” ucap Kailla mengecup pipi Pram.


“Kembalilah sebelum 2 jam. Aku menunggu disini,” ucap Pram lagi, tersenyum melihat ekspresi kegembiraan yang ditunjukkan Kailla.


Pram hanya bisa melihat punggung istrinya menghilang di ujung jalan. Tampak Pram keluar dari mobil, dan memerintahkan Bayu.


“ Bay, ikuti istriku! Jangan sampai dia tahu kalau kamu mengikutinya! Pastikan dia baik-baik saja,” perintah Pram. Dia memilih berdiri di sisi mobil mengobrol bersama sang sopir.


“Pak bisa belikan kopi di kedai sana?” pinta Pram sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.


“Iya Pak,” jawab sang sopir.


Menunggu 2 jam disini bukanlah perkara mudah. Pram memilih memejamkan matanya duduk di dalam mobil sambil menunggu kopi panasnya datang.

__ADS_1


Dia tahu bagaimana perasaan Kailla saat ini. Dia juga mengalami hal yang sama 17 tahun silam. Saat kita tidak berdaya. Saat kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan. Tapi posisi Kailla lebih menyedihkan darinya.


Alasan itu juga yang membuat dia tidak mau menikahi Kailla 2 tahun yang lalu dan menunda kehamilan Kailla saat ini. Kalau dia bisa, dia akan memberi istrinya kebebasan seperti yang dimintanya. Tapi dia punya alasan kuat untuk menolak kebebasan yang diminta Kailla.


***


Setelah berjalan-jalan selama 2 jam, Kailla muncul kembali membawa shopping bag dan makanan di tangannya. Dari kejauhan dia hanya melihat sopir sedang berdiri di sisi mobil. Tidak ada Pram disana.


“Pak, suamiku dimana?” tanyanya pada sang sopir.


“Bapak menunggu di dalam mobil,” sahut sang sopir sambil menyesap kopinya.


Segera dia membuka pintu mobil dan melihat Pram sedang tertidur di dalam mobil dengan tangan terlipat di dada.


“Sayang.., kamu tidur?” tanya Kailla setelah duduk di dalam mobil.


“Hmmmm,” Pram hanya bergumam, matanya terpejam.


“Sayang....,” panggil Kailla lagi. Kali ini dia memilih menyandarkan tubuhnya pada Pram.


“Kamu sudah selesai jalan-jalannya?” tanya Pram dengan suara beratnya. Tangannya langsung meraih tubuh Kailla dan membawa istrinya itu ke dalam pelukan.


“Ayo buka matamu Sayang,” pinta Kailla saat melihat Pram masih saja memejamkan matanya.


“Kenapa? Kamu merindukanku?” tanya Pram saat sudah membuka matanya. Kailla sedang menatap wajahnya dari jarak dekat.


“Kamu tampan juga?” ucap Kailla, jari-jarinya sedang menyusuri lekuk wajah Pram.


“Tapi kerutan disudut matamu semakin bertambah,” ucap Kailla menyentuh sudut mata Pram.


“Haha.., kamu bertemu dengan siapa di luar sana. Kenapa tiba-tiba jadi pintar menggoda?” tanya Pram tersenyum menatap Kailla.


Cup! Pram tiba-tiba mengecup bibir Kailla sekilas.


“Aku mencintaimu Kai! Kapan kamu mau memulainya?” tanya Pram tiba-tiba.


“Hah! Maksudnya?” tanya Kailla bingung.


“Kapan kamu mau mulai mencintaiku Kai?” tanya Pram lagi. “Aku sudah 40 tahun, sebentar lagi masuk 41 tahun. Aku tidak bisa terlalu lama menunggu,” jelas Pram.


“Sayang, kita kesana..!” Kailla menunjuk sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari tempat mobil mereka terparkir. Dia memilih duduk menjauh dari Pram.


“Hahaha.. kamu mau mengalihkan pembicaraan Kai?” tanya Pram.


“Kemarilah! Aku mau menciummu,” lanjut Pram lagi.


“Aku tidak mau..” tolak Kailla. “Kamu tidak melihat Bayu dan si sopir itu menatap ke arah kita,” ucap Kailla memberi alasan.


“Tidak akan kelihatan Sayang. Ayo kemari! Aku penasaran, kamu jajan apa saja di luar sana,” ucap Pram.


“Aku tidak mau, aku tidak jajan apa-apa Sayang. Hanya sandwich saja.” tolak Kailla.

__ADS_1


“Ayo Sayang, cium aku sekarang. Aku akan mengeceknya sendiri,” rengek Pram.


“Tidak mau!” Kailla memilih keluar dari mobil dan berjalan menuju bangku kosong di taman.


Tak lama kemudian tampak Pram juga turun dari mobil mengekor Kailla sambil tersenyum menatap punggung istrinya yang berjalan di depannya.


“Kai, hadiah ketigamu. Kamu tidak penasaran?” tanya Pram menatap Kailla yang masih menunduk memandang sandwich di tangannya.


Kailla mengangkat kepalanya, menatap Pram dan memilih menunggu suaminya itu melanjutkan kata-katanya.


“Kamu bisa meminta apa saja padaku, asal aku masih sanggup memenuhinya.” ucap Pram pelan.


Kailla hanya diam menunduk.


“Mobil? Rumah? Perhiasan? Tas branded? Kamu bisa meminta sepuasmu asal uangku masih cukup untuk membelinya,” tawar Pram setelah menunggu Kailla yang tidak kunjung menjawab.


Kailla menggeleng. “Aku sudah memiliki semuanya. Kamu lupa aku putrinya siapa?”


“Kamu memang putri Riadi Dirgantara. Tapi sepertinya kamu lupa sekarang statusmu apa.


“Hah!”


“Sekarang kamu istri Reynaldi Pratama. Sebagai seorang suami, aku belum memberikan semua itu kepadamu.”


“Aku tidak mau semuanya.” tolak Kailla. Aku sudah memiliki banyak, daddy mewariskan semuanya untukku.”


“Lalu kamu mau apa?” tanya Pram lagi.






Kailla menghela napas sebelum menjawab. Sedari kemarin dia sudah memikirkan kata-kata Pram. Mempertimbangkan banyak hal, termasuk apa yang sudah Pram lakukan untuknya selama ini. Terkadang dia nakal, suka membuat keributan, kekacauan. Tidak jarang membuat suaminya malu dan harus banyak bersabar menghadapinya.


“Aku mau hamil sekarang, bukan hanya untuk daddy. Tapi juga untukmu.” Kailla menjawab sambil menunduk.


“Setelah ini tidak akan ada hadiah lagi untukmu Kai. Kamu yakin hanya meminta ini?” tanya Pram sekali lagi memastikan, setelah sempat terkejut dengan permintaan Kailla.


Kailla mengangguk.


“Baiklah!” Terlihat Pram berdiri di hadapan Kailla.


“Semoga kerjasama ini berhasil Nyonya, saya akan bekerja keras untuk itu!” Pram menyodorkan tangannya ke hadapan Kailla sambil tertawa.


***


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2