
Pram tiba di rumah Ibu Citra saat hari menjelang malam. Baru saja mengetuk pintu, Kinar sudah membuka pintu terlebih dulu.
“Malam, Ibu Citra bagaimana?” tanya Pram pada Kinar yang masih berdiri di samping pintu.
“Baik. Bapak bisa menemuinya langsung di kamar. Ibu sudah tahu,” jelas Kinar.
“Maaf, tolong panggil Pram saja,” pinta Pram, sebelum mengikuti Kinar menemui Ibu Citra di kamarnya.
“Malam Bu,” sapa Pram saat masuk ke sebuah kamar sederhana. Pram lumayan terkejut sekaligus miris melihat kondisi kamar yang mungkin terlihat kurang layak ditempati oleh wanita yang sudah berusia senja itu.
Kamar itu sempit, hanya ada dipan kecil cukup untuk satu orang dan sebuah meja kecil di sisinya. Kasur yang sudah lusuh dan tipis, sungguh tidak nyaman untuk ditiduri.
Pram tidak bisa membayangkan kalau memang benar yang duduk disana itu adalah ibu kandungnya. Dia menghela nafas berkali-kali, sebelum memilih duduk di sebelah Ibu Citra yang menatapnya sedari masuk tanpa berkedip.
Air mata kembali mengalir deras di wajah renta itu. Ibu Citra terlihat sangat menyedihkan saat ini.
“Maaf Bu, apa aku menganggu Ibu?” tanya Pram, memulai pembicaraan.
Ibu Citra hanya menggelengkan kepala. Dengan tangan gemetar, dia meraih tangan Pram dan menggenggamnya. Genggaman itu erat, seolah tidak mau berpisah lagi.
“Kamu benar-benar Reynald anakku,” ucapnya lirih, mengusap pelan wajah Pram. Air matanya kembali tumpah, lebih deras dari sebelumnya.
“Wajah ini, benar-benar wajah papamu,” ucapnya lagi.
“Mirip.. sangat mirip. Papamu setampan dirimu dulu,” lanjut Ibu Citra lagi.
“Aku tidak mungkin salah mengenali putraku sendiri, walau aku memeluknya tidak lebih dari setahun,” lanjut Ibu Citra, kembali menangis.
Ibu Citra masih mengingat jelas, terakhir kali menggendong putranya yang belum genap setahun. Tiba-tiba menghilang dari kamar kontrakannya saat ditinggalnya mandi. Putranya sedang terlelap saat itu dan suaminya sedang tidak ada di rumah.
Setelah kejadian, dia masih berusaha bertanya pada tetangga sekeliling rumah, tapi tidak ada satu pun yang mau menjawab. Semuanya hanya menggelengkan kepala. Entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu karena tidak mau terlibat lebih jauh.
“Ibu, maaf apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Pram memberanikan diri. Perlahan, dia meraih tangan keriput yang sedari tadi gemetar.
“Kamu.... kamu.. bagaimana kamu bisa sampai ke sini?” tanya Ibu Citra. Menatap wajah Pram, meneliti di sana. Berusaha mengingat, rupa putrannya yang hilang.
“Kamu banyak berubah Nak, dulu kamu masih di dalam gendonganku,” lanjut Ibu Citra, memperagakan seorang ibu yang menggendong bayinya. Air mata tidak berhenti mengalir saat dia bisa menangkup wajah Pram.
“Aku tidak bermimpi... aku benar-benar melihat putraku sekarang. Selama 39 tahun aku menunggumu datang padaku,” ucapnya pelan.
“Tidak pernah putus doaku untukmu setiap malam. Dan akhirnya Tuhan mendengarkanku, mengirimmu padaku,” ucap Ibu Citra, terus-terusan berbicara.
“Ibu bisa ceritakan padaku. Apa yang terjadi saat itu? Bagaimana putramu bisa hilang?” tanya Pram penasaran.
“Saat kamu lahir, perusahaan papamu sedang berkembang pesat. Mengalahkan perusahaan pesaingnya yang sudah berdiri lebih lama. Salah satunya perusahaan keluarga Wijaya,” cerita Ibu Citra, pandangannya kosong, tapi bibirnya terus berkata-kata. Seolah sedang tersedot ke dalam cerita masa lampau.
“Adikku, lebih tepatnya adik sepupuku Anna datang meminta bantuan padaku. Meminta papamu, menyelamatkan perusahaan keluarga Wijaya yang hampir bangkrut.”
Pram mulai merangkai semua cerita yang bisa ditangkapnya saat ini.
“Lalu bagaimana Bu?” tanya Pram.
“Papamu mencoba membantu, mengingat Anna adalah kelurgaku. Tapi semua bantuan papa disalahgunakan, sebaliknya mereka menghancurkan perusahaan papa dengan cara yang licik.”
“Mengambil alih semua aset-aset dan perusahaan papamu. Tidak sampai disitu, entah bagaimana ceritanya, tapi papamu berkewajiban atas hutang-hutang perusahaan dengan jumlah yang tidak sedikit. Padahal menurut papa, dia tidak mengetahui apa-apa,” lanjut Ibu Citra.
“Ternyata setelah diusut, semua itu dikerjakan oleh Riadi, suami Anna. Aku tidak tahu motifnya apa,” ucap Ibu Citra.
Matanya semakin sembab, emosinya mulau tidak stabil. Terlihat Pram mengusap lembut tangan Ibu Citra, mencoba menenangkan.
__ADS_1
“Seharusnya, eh... papa kan bisa melaporkan tentang kecurangan itu ke polisi kalau memang memiliki bukti yang kuat,” jawab Pram mencerna semua cerita yang baru saja di dengarnya. Pram ikut terseret dan memanggil papa seperti yang diucapkan Ibu Citra.
“Papa pernah mengancam Riadi. Selain itu, kondisi papa yang sudah tidak memiliki apa-apa, benar-benar menjadikannya dalam posisi sulit.”
“Maksudnya?” tanya Pram, sedikit bingung.
“Sahabat-sahabat papa semua menjauh, tidak ada satu pun yang menolong pada saat itu.”
“Puncaknya saat kamu menghilang, papa sudah tidak sanggup lagi dengan tekanan hidupnya.”
“Bagaimana bisa menghilang?” tanya Pram penasaran, mencoba bertanya sekali lagi.
Ibu Citra menggeleng, kembali menangis. Rasanya tidak akan sanggup mengingat kejadian memilukan itu.
“Jangan menangis lagi Bu, bukankah katamu tadi aku ini putramu?” hibur Pram, tersenyum, menepuk punggung renta Ibu Citra dan membawanya ke dalam pelukan.
“Hanya saja, malam sebelum papamu memilih bunuh diri, dia bercerita banyak tentang Riadi. Dan kemungkinan Riadi lah yang menculik putra kami. Dilakukannya untuk menghilangkan semua jejak kejahatannya. Tidak akan ada yang membalas perbuatannya, tidak ada yang akan menuntut keadilan untuk kami suatu saat nanti,” cerita Ibu Citra, mengingat apa yang dikatakan suaminya dulu.
“Kami mencari mencarimu sampai putus asa, air mata pun habis sudah.”
“Aku sebenarnya anak yang diangkat Riadi saat berumur 10 tahun,” ucap Pram pelan.
Dimata Ibu, mungkin Riadi sangatlah buruk. Tapi di mataku, sampai sejauh ini dia adalah orang tuaku, orang yang merawatku,” cerita Pram.
Ibu Citra menggeleng. “Tidak, putraku tidak boleh menyayangi musuhnya,” ucapnya pelan. Kedua tangannya menangkup wajah tampan Pram yang dianggap putranya yang hilang.
“Aku dirawat beberapa tahun di rumah sakit karena tidak sanggup kehilangan kalian. Aku tidak rela, putraku menyayangi pembunuh itu,” ucap Ibu Citra mulai emosi.
“Maaf Bu, sampai saat ini aku tidak yakin kamu ibuku sampai ada kejelasan. Aku datang ke sini, tidak lebih untuk mengetahui masa lalu mertuaku. Walau aku sedikit berharap, mungkin saja ibu adalah ibu kandungku, karena kesamaan data di akta. Tapi untuk saat ini, aku melakukan apa yang harus dilakukan mertuaku. Meminta maaf dan menebus kesalahannya yang sedang terbaring koma.”
“Bu, kalau ayah angkatku melakukan kesalahan pada Ibu, aku akan mewakilinya meminta maaf. Riadi sudah beberapa hari koma,” cerita Pram.
Mendengar kata-kata Pram, Ibu Citra kembali menangis.
“Kamu putraku, bukan putranya. Jangan meminta maaf padaku untuk dia. Dia tidak pantas mendapatkan semua kasih sayangmu,” pinta Ibu Citra dengan berlinang air mata.
“Bahkan di setiap doaku, aku tidak pernah berhenti mengutuknya dan putrinya,” ucap Ibu Citra pelan.
Deg—
“Ibu.....,” panggil Pram. Dia lumayan terkejut saat Ibu Citra ikut mengutuk istrinya. Istri yang dijaga dengan kedua tangannya sendiri. Istri yang sekarang mengandung anaknya. Pram tidak bisa membayangkan, seandainya Ibu Citra benar-benar ibu kandungnya. Ibu kandungnya sendiri sedang mengutuk istri dan anaknya saat ini.
“Dia memiliki putri kan? Aku dulu pernah melihatnya membawa seorang gadis kecil bersamanya,” jelas Ibu Citra.
“Beberapa kali dia menemuiku di panti, setelah kematian istrinya. Dia pernah membawa gadis kecil itu bersamanya. Gadis itu menunggunya di mobil.”
“Kalaupun dia tidak mendapatkan karma itu, aku yakin putrinya yang akan menanggung semua perbuatannya. Putrinya pasti akan merasakan apa yang aku rasakan,” ucap Ibu Citra penuh dendam.
Dia sudah menanggung sakit hatinya selama puluhan tahun, rasanya tidak adil malau Riadi dan keturunannya bisa berbahagia di atas kesedihan dan air matanya.
“Anggap saja aku putra Ibu,” ucap Pram, tersenyum. Berusaha mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak mau Kailla selalu dijadikan tumbal Ibu Citra, sekalipun nanti hasil tes DNA, Ibu Citra adalah ibunya. Entahlah, dia yang terlalu terbiasa hidup tanpa Ibu atau memang hatinya belum bisa menerima perempuan tua ini adalah ibu kandungnya. Terlalu lama tinggal bersama Riadi, dia sudah merasa menjadi bagian dari Riadi Dirgantara.
Agak susah hati Pram menerima kenyataan kalau orang tuanya masih hidup, karena memang selama ini dia sudah mengubur dalam-dalam semua itu. Bahkan dia sudah berdamai dengan keadaannya. Tapi entahlah saat hasil tes berbicara, dia tidak mau memikirkannya sekarang. Hidupnya saat ini adalah milik Kailla dan anaknya.
Mendengar kata-kata Pram, Ibu Citra mengamuk.
“Kamu memang putraku. Wajah ini, wajah Pratama Indraguna,” isaknya, kembali menangkup wajah Pram.
__ADS_1
“Kamu benar-benar putraku,” isak Ibu Citra kembali.
“Iya, aku putramu,” sahut Pram, berusaha menenangkan.
“Ibu, kalian harus pindah dari sini. Aku akan meminta orangku mencari rumah yang
lebih layak untuk ditinggali,” ucap Pram, setelah Ibu Citra kembali tenang.
“Aku juga akan mengirimkan uang setiap bulan untuk kebutuhan Ibu dan Kinar,” lanjut Pram.
“Kamu..., tidak akan menemui.... mama lagi?” tanya Ibu Citra, sedih. Kali ini dia meminta Pram, memanggilnya mama.
“Aku masih ada pekerjaan, harus kembali ke Jakarta secepatnya,” jelas Pram.
Pram mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan kartu nama dan segepok uang lembaran berwarna merah.
“Ini untuk Ibu. Ada kartu namaku di sini. Ibu bisa menghubungiku kapan saja. Tapi aku harus segera kembali ke Jakarta,” ucap Pram, menunjuk ke arah kartu namanya.
“Aku harus kembali sekarang. Aku pamit Bu,” ucap Pram, sekali lagi memeluk Ibu Citra.
“Terimakasih,” ucap Ibu Citra, memeluk Pram, kembali terisak.
“Iya Bu, suatu saat aku pasti kembali,” ucap Pram, mengusap tangan Ibu Citra.
Setelah berpamitan dengan Ibu Citra, Pram keluar menemui Kinar.
“Kinar, aku titip Ibu. Aku harus kembali ke Jakarta,” ucap Pram. Terlihat Pram menyodorkan sebuah kartu untuk Kinar.
“Ini apa Pak?” tanya Kinar bingung.
“Untuk memenuhi kebutuhan kalian. Akan ada orangku yang membantumu nanti. Dia akan menghubungimu,” lanjut Pram.
“Aku pamit. Terimakasih selama ini sudah merawat Ibu Citra,” ucap Pram. Berlalu pergi meninggalkan Kinar yang terus menatap punggungnya.
***
Sampai di kamar hotel, Pram menghubungi Kailla seperti janjinya. Saat sambungan video tersambung, terlihat pemandangan yang sangat dirindukan Pram. Istrinya sedang berbaring di ranjang, dengan gaun tidur kesukaannya.
“Sayang, kamu sudah tidur?” tanya Pram saat melihat Kailla yang sudah memejamkan matanya.
“Hmmmmm,” gumam Kailla masih memeluk gulingnya.
“Aku matikan saja, kalau kamu sudah tidur ya,” ucap Pram.
“Jangan..,” tolak Kailla, berusaha membuka mata dan menahan kantuknya.
“Kamu dari mana? Kenapa malam sekali baru menghubungiku,” tanya Kailla dengan suara serak.
“Aku keluar sebentar tadi. Ada sedikit urusan,” jawab Pram.
“Kamu tidak bertemu dengan gadis cantik kan?” todong Kailla, tiba-tiba kantuknya hilang. Mengingat suaminya sendirian di sana, jauh darinya.
***
Terimakasiha.
Love You All
Mohon like dan komen ya..
__ADS_1