Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 131 : Kailla Sakit


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Pram memilih tidur di ruang kerjanya malam ini. Perasaannya tidak tenang. Entahlah, bukan hanya karena dia sedang bertengkar dengan istrinya. Tapi ada sesuatu yang membuatnya gelisah sejak tadi.


Karena Kailla yang tidak mau didekati, Pram terpaksa meminta Bu Ida menginap di unit mereka malam ini. Dia khawatir saat istrinya membutuhkan sesuatu dan tidak leluasa meminta padanya. Jadi dengan ada Bu Ida, setidaknya Kailla akan lebih nyaman.


Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, saat Pram terbangun dari tidurnya. Dia tidak bisa tidur nyenyak. Tampak dia memijat tengkuknya yang lelah karena harus tidur dalam posisi duduk. Perasaannya juga semakin tidak tenang dibanding sebelum tidur tadi.


“Perasaan apa ini? Apa karena aku sudah terbiasa tidur dengannya selama ini,” ucapnya pelan.


“Lalu bagaimana dengan Kailla? Apa dia bisa tidur tanpa pelukanku?” lanjut Pram lagi. Dia mengkhawatirkan Kailla.


Pram akhirnya memilih menemui Kailla. Dia yakin istrinya hanya butuh waktu untuk memaafkannya. Bagaimanapun, Kailla membutuhkan pelukannya saat ini, sama seperti dirinya yang merindukan Kailla di pelukannya. Paling tidak dia bisa memeluk di saat istrinya tidur. Dia akan segera pergi sebelum istrinya terbangun nanti.


“Terserah setelah ini dia mau membunuhku, tapi aku harus memastikan dia baik-baik saja.” ucap Pram pelan sembari membuka laci meja kerjanya dan mengambil kunci cadangan.


Dia memilih mengetuk pelan pintu kamar tidurnya.


“Kai... Kai..,” Pram memanggil pelan.




Setelah memastikan istrinya sudah terlelap, dia memberanikan diri masuk ke kamar tidurnya. Dia tidak mau Kailla kesal dan terganggu karena melihatnya. Dia tidak mau lagi menambah kemarahan Kailla.


Begitu masuk ke dalam kamarnya, dia sudah disambut dengan pemandangan yang membuatnya hampir menangis. Istrinya tidur dengan wajah sembab memeluk boneka kesayangannya. Bahkan Kailla tidak mengganti pakaiannya. Masih dengan gaun yang di pakainya saat gathering dan masih lengkap dengan make-up. Hanya rambutnya saja yang sudah digerai.



“Sayang, apa aku sangat menyakitimu?” tanya Pram pelan sembari merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Kailla. Saat ini dia memilih tidur di samping Kailla. Membuang boneka yang berada di pelukan Kailla.


Pram tersenyum setiap mengingat hampir setiap malam dia harus bersaing dengan boneka Kailla. Bahkan tidak jarang dia harus berbuat curang, dengan melempar benda itu sejauh mungkin demi bisa memeluk istrinya.


“Kamu boleh memelukku lagi sekarang,” bisiknya pelan membawa tubuh mungil istrinya itu ke dalam dekapannya.


“Hmmmm.” Kailla sempat menggeliat di dalam tidurnya. Kepalanya sedang menelusup, mencari posisi ternyaman dalam pelukan Pram.


“Sayang... maafkan aku. Aku sudah menyakitimu,” bisik Pram pelan.


Baru saja Pram memejamkan matanya, tapi tangan yang sedari tadi membelai pundak telanjang Kailla merasakan sesuatu yang tidak biasa.

__ADS_1


Deg—


Badan Kailla panas. Pram langsung melepaskan pelukannya. Sebelumnya dia tidak menyadari sama sekali karena terlalu bahagia bisa memeluk istrinya.


“Kai... Kai, bangun Sayang,” panggil Pram sambil menepuk pipi Kailla yang juga tidak kalah panasnya.


Pram mengecek dahi dan leher Kailla dengan telapak tangannya.


“Panas sekali Sayang,” ucap Pram pelan.


Pram mulai panik, apalagi saat menggengam telapak tangan Kailla yang dingin.


“Ya Tuhan, Kailla demam,” ucap Pram. Dia tidak tahu harus bagaimana. Sekarang mereka tidak sedang di Indonesia. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Yang di otaknya sekarang adalah mencari handuk bersih dan memberi kompresan untuk Kailla.


“Sayang aku keluar sebentar ya,” ucap Pram pada Kailla yang saat ini bahkan tidak mendengarnya.


Pram langsung berlari memanggil Bu Ida yang tidur di kamar sebelah.


Tok..tok..tok..!


Tok..tok..tok..!


Pram mengetuk pintu kamar tidur Bu Ida tanpa jeda. Kalau tidak mengingat etika, dia sudah siap menerjang masuk dan membangunkan wanita tua itu.


“Suami macam apa kamu Pram!” gerutunya pada diri sendiri.


Pintu kamar yang masih tertutup memaksa Pram memanggil lebih keras lagi.


“BU..!” Kali ini Pram memanggil setengah berteriak. Tangannya terus mengetuk berulang-ulang.


Baru saja dia akan berteriak kembali, Bu Ida sudah muncul dari balik pintu dengan mata yang masih mengantuk dan rambut acak-acakan.


“Hmmmm,” sahut Bu Ida masih belum sepenuhnya sadar. Masih berpikir saat ini sedang berada di unitnya. Dan yang membangunkannya saat ini adalah Bayu. Tapi pada saat matanya terbuka sempurna. Dia langsung kaget.


“P..Pak..Pak Pram.....!” Dia langsung membulatkan matanya, berusaha menghilangkan kantuk yang sedari tadi masih enggan pergi.


A..ada.. aaa.. pa Pak?” tanyanya terbata. Matanya menangkap pasti ada sesuatu yang penting saat melihat kepanikan di wajah majikannya.


“Istriku demam, aku harus bagaimana Bu?” tanya Pram.

__ADS_1


“Hah..!?” Bu Ida langsung bergegas keluar masih dengan daster tidurnya. Tidak kalah paniknya dengan sang majikan. Terlihat dia berjalan ke arah dapur dan berhenti setelah menyadari kalau dia harus ke kamar majikannya untuk mengecek kondisi Kailla.


“Astaga! Aku sudah tua. Aku kira bangun untuk memasak,” ucapnya sambil menepuk keningnya sendiri. Pram yang mengekor dibelakangnya hanya bisa menggelengkan kepala.


Bergegas dia menuju kamar Kailla, memastikan kondisi Kailla.


“Aku akan mengambil kompresan,” ucap Bu Ida bergegas kembali ke dapur.


Tak lama dia sudah datang kembali membawa sebaskom air dingin dan handuk. Pram yang saat itu mengira Bu Ida membawa air panas langsung mengecek suhu air dengan mencelupkan tangannya. Dia tidak mau sampai air panas itu akan membuat kulit istrinya melepuh.


Mata Pram melotot saat merasakan dinginnya air di dalam baskom.


“Mau membuat istriku kedinginan!” omel Pram. Dia tahu jelas harus mengompres dengan air hangat. Tapi Bu Ida malah membawa sebaskom air dingin yang baru keluar dari kulkas.


Dengan kesal dia membawa baskom air itu ke dalam kamar mandi, membuangnya dan menggantinya dengan air panas dari kran. Tapi saat dia berbalik, kakinya menendang sesuatu di lantai.


Dahinya berkerut begitu memastikan benda apa yang baru ditendangnya.


“Apa ini?” Saat tangannya sudah memegang benda pipih berwarna putih dengan tanda garis merah. Dia meletakkan kembali benda aneh itu ke atas wastafel. Dia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan benda apa itu. Saat ini pikirannya diisi oleh Kailla. Kailla sedang sakit dan dia menjadi suami paling bodoh sampai tidak bisa menyadari istrinya sakit.


Tampak dia membawa baskom itu kepada Bu Ida, membiarkan asisten rumah tangganya itu mengompres istrinya. Yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah membawa Kailla ke dokter atau mencari stok obat yang sempat dibawanya dari Indonesia.


Dengan buru-buru dia membongkar koper di dekat pintu kamar, mencari stok obat yang dibawanya. Ada beberapa obat alergi Kailla juga bercampur dengan obat -obatan yang biasa diminum istrinya.Membaca satu per satu obat yang mengisi kotak obatnya itu.


Dia sebenarnya malas setiap berhadapan dengan obat-obatan ini. Kailla termasuk sangat susah minum obat. Bahkan tidak jarang, Kailla membuangnya di saat dia atau asistennya lengah.


Setelah berhasil menemukan obat yang tepat untuk istrinya, dia tersenyum. Tapi baru saja dia akan melangkah menemui istrinya. Kata-kata Bu Ida seketika membuat senyum di wajahnya hilang.


“Pak, wanita hamil itu tidak boleh minum sembarangan obat,” ucap Bu Ida. Dia tidak tahu kalau Pram belum mengetahui tentang kehamilan Kailla.



Pram terkejut mendengar kata-kata yang baru keluar dari mulut Bu Ida. Dia membeku seketika, tidak bisa berkata-kata. Dia belum terlalu paham maksudnya, tapi sudah sedikit mengerti arah pembicaraannya kemana.


“Maksud Bu Ida bagaimana?” tanya Pram memastikan lagi.


“Non Kailla kan sedang hamil, jadi dia tidak bisa minum sembarangan obat Pak,” jelas Bu Ida.


***

__ADS_1


Terimakasih. Hari ini saya up 1 bab lagi. Penasaran gimana reaksi Om Pram. Di next episode ya.


Love you all...😘😘


__ADS_2