
Setelah berhasil membujuk istrinya, Pram pun mengajak Kailla masuk ke dalam kamar. Membantu Kailla mengganti gaun malam putih yang tadi dipakainya dengan gaun tidur berbahan satin.
“Kai, aku ke dapur sebentar. Mengambil vitaminmu,” pamit Pram menjelaskan maksudnya keluar dari kamar tidur mereka saat ini.
“Ya," sahut Kailla singkat. Ia sedang duduk di depan meja rias, membersihkan make-up yang masih menempel di wajahnya sambil mengingat perbincangannya dengan Bella tadi sore.
“Kalau bisa, aku mau kuliah lagi. Tapi saat ini, aku sedang hamil.” Kailla berkata sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata.
Tidak ada perubahan pada Kailla saat ini, hanya beratnya sedikit bertambah dibandingkan saat ia masih belum hamil. Dan pertambahn berat itu terlihat di wajahnya yang semakin membulat.
“Pipiku bertambah gembul,” ucap Kailla menggerakan wajahnya ke kiri dan kanan, menggembungkan kedua pipinya dan tersenyum menatap ke cermin.
“Kalau sembilan bulan, akan selebar apa tubuhku,” ucapnya pelan.
“Bagiku kamu tetap cantik, Kai!” ucap Pram tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kailla sembari meletakkan nampan di meja riasnya. Pram mencium pipi Kailla.
Cup.
“Kalau bertambah berat, pasti tambah menggemaskan,” ucap Pram, menatap Kailla dari pantulan cermin.
“Benarkah? Kamu tidak akan berpaling dariku?” tanya Kailla menatap ke arah cermin. Tampak Pram tersenyum untuknya.
“He-em,” gumam Pram mengangguk. Ia menyentuh kedua pundak Kailla, memberi keyakinan pada istrinya.
“Ah! Kenapa kamu jadi begitu manis!” ucap Kailla, mengedipkan matanya, menggoda Pram.
“Kemarilah, Nyonya,” ajak Pram. Membawa Kailla duduk menghadapnya. Ia sendiri memilih berlutut supaya bisa sejajar dan leluasa berbicara dengan Kailla.
“Suatu saat aku juga akan bertambah tua. Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama padaku?” tanya Pram, menggenggam kedua tangan Kailla.
Kailla melotot menatap Pram. “Aku belum bisa menjawabnya. Aku harus melihat setua apa dirimu saat itu,” jawab Kailla sambil tertawa, menggoda suaminya yang berpura-pura kesal.
“Berani meninggalkanku ... kupastikan akan mengurungmu seumur hidup di dalam kamar ini!” ancam Pram, menempelkan keningnya pada kening Kailla.
Mendengar ancaman Pram, Kailla langsung cemberut.
“Aku juga ... mungkin aku akan menyusahkanmu, seperti yang kamu lakukan padaku saat ini. Apa kamu akan meninggalkanku?” lanjut Pram, menaikkan kedua alisnya. Ia siap menunggu jawaban Kailla.
“Hah?” Kailla terkejut dengan pertanyaan Pram.
“Suatu saat keadaan itu akan berbalik, Sayang. Beberapa tahun lagi, mungkin kamu yang harus mengurusku, mengurus segala keperluanku yang mulai pikun bahkan lupa yang mana istriku,” ucap Pram.
“Aku pasti akan menyusahkanmu, seperti yang kamu lakukan padaku sekarang,” lanjut Pram.
Kailla mengangguk dan tersenyum jahil.
“Oh, kalau sampai terjadi seperti itu, aku akan mengirimmu ke panti jompo!” sahut Kailla sambil tertawa terbahak-bahak. Tawanya benar-benar pecah, saat jawabannya membuat mata Pram melotot.
“Baiklah, kemasi baju dan barang-barangmu sekarang, Kai! Besok aku akan mengantarmu ke panti asuhan,” ucap Pram, ikut melakukan hal yang sama.
Bugh ... bugh!
__ADS_1
Dua pukulan mendarat di pundak Pram, ditambah sebuah cubitan di pinggang.
“Aw ... sakit, Kai!” seru Pram, saat Kailla memukul dan mencubitnya dengan sekuat tenaga.
“Aku tidak mungkin setega dirimu, Sayang. Kalau kamu mungkin saja akan membuangku pada saat itu terjadi,” ucap Pram pelan.
Bagi Pram, cinta Kailla masih belum cukup besar untuknya. Istrinya masih belum memantapkan hatinya, walau Kailla mengatakan mencintainya. Istrinya masih terlalu muda untuk memahami arti cinta itu sendiri. Bukan tidak mungkin, suatu saat Kailla bertemu dengan laki-laki lain yang lebih segalanya, lebih muda dan tampan, menawarkan cerita cinta anak muda seperti drama-drama Korea dan Kailla akan meningagalkannya tanpa mempertimbangkan apa pun.
Cinta Kailla padanya hanya sebatas perasaan dan kenyamanan. Tidak ada tanggung jawab dan komitmen di dalamnya. Saat cinta Kailla itu habis untuknya , berarti tidak ada lagi yang tertinggal. Tidak ada lagi alasan Kailla bertahan dan tetap di sisinya. Harapan Pram hanya buah hati yang ada di rahim Kailla saat ini.
Setiap membayangkan semua itu, hatinya menciut. Harus menggunakan cara apa lagi, ia merebut hati Kailla. Segala cara sudah digunakannya selama dua tahun ini. Ia hanya bisa berdoa, seiring berjalannya waktu, istrinya menjadi lebih bijak. Lebih memahami rumah tangga bukan hanya sekedar cinta dan sayang, tetapi ada tanggung jawab untuk sama-sama berjuang dan mempertahankannya supaya tetap utuh.
Bagi Kailla saat ini, hubungan rumah tangga mereka seperti orang yang sedang berpacaran. Istrinya bahkan tidak berpikir terlalu jauh. Tidak memikirkan bagaimana hidup mereka 5 tahun, 10 tahun atau 20 tahun ke depan. Kailla hanya menikmati dan menjalani apa yang ada di depan matanya. Ia tidak punya cita-cita, tidak punya impian, hanya melangkah di jalan yang sudah disiapkannya.
“Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, Sayang. Asal kamu tidak melakukan kesalahan fatal padaku,” ucap Kailla, membingkai wajah Pram dengan kedua tangannya.
Cup. Sebuah kecupan manis mendarat di bibir Pram.
“Promise?” tanya Pram.
“Ya, aku memang manja, kekanak-kanakan, tetapi aku cukup tangguh untuk hatiku sendiri.
“Aku tidak pernah memikirkan dan mempertimbangkan banyak hal, tetapi untuk meninggalkan seseorang aku akan berpikir ribuan kali. Karena dalam hidupku ....” Kailla tidak dapat melanjutkan kata-katanya, karena Pram sudah melanjutkan untuknya.
“Tidak akan ada pengulangan cerita dengan tokoh yang sama,” lanjut Pram. Ia sudah hafal dengan motto hidup Kailla. Makanya ia sangat menjaga Kailla selama ini.
Sekali Kailla melangkah pergi meninggalkannya, walaupun masih ada cinta di sana, Kailla tidak akan pernah mau kembali lagi padanya sampai napas berhenti. Pram selama ini menjaga semua kesabarannya, salah satunya karena kalimat itu juga.
“Selama ini ... aku tidak pernah sekali pun berpikir untuk meninggalkanmu. Walau aku kesal padamu,” ucap Kailla.
“Bukannya ... kemarin sempat mau meninggalkanku?” tanya Pram saat mengingat Kailla yang mengamuk sepulang dari gathering.
“Tapi kamu mengikatku sekencang ini, bagaimana aku bisa kabur,” celetuk Kailla.
“Karena saat kamu lepas dariku, aku sudah tidak punya harapan lagi,” sahut Pram pelan.
“Suatu saat, aku akan melepaskanmu, di saat aku sudah benar-benar yakin perasaanmu padaku. Aku juga tidak mau mengekang dan membatasi ruangmu seperti sekarang,” jelas Pram.
“Janji?” tanya Kailla.
“Ya, di saat yang tepat. Sekarang minum vitaminmu,” pinta Pram mengambil segelas air putih dan memasukkan vitamin ke dalam mulut Kailla. Istrinya masih saja susah menelan pil atau tablet.
“Buka mulutmu, Sayang,” pinta Pram, membantu Kailla memegang gelas air putih.
Kailla meneguk habis air putih di gelasnya dengan buru-buru, segera meletakkan gelas kosong ke atas nampan sambil menutup mulutnya menahan mual.
Melihat itu, Pram langsung menyingkirkan tangan Kailla yang sedang menahan agar air bercampur vitamin itu tidak dimuntahkannya kembali.
Tangannya langsung meraih tengkuk Kailla dan mencium bibir istrinya dengan lembut.
“Sudah?” tanya Pram, setelah melepaskan ciumannya.
__ADS_1
“Sudah," sahut Kailla menutup mulutnya kembali.
“Masih mual?” tanya Pram lagi, mengusap punggung Kailla lembut.
“Sudah tidak lagi.” Kailla menjawab.
“Kamu selalu mengambil keuntungan dariku,” dengus Kailla setelah melihat senyum penuh kemenangan dari bibir Pram.
“Anakku memang pintar. Dari dalam perut Mommy saja sudah berada di pihak Daddy,” ucap Pram, kembali mengusap perut Kailla.
“Dasar” gerutu Kailla.
“Ayo kita tidur. Aku takut nanti anakku mengajak Daddy main bola lagi,” goda Pram.
***
Kailla terbangun saat mendengar seseorang menggedor pintu kamarnya dengan keras. Setelah perdebatan panjang semalam, akhirnya Kailla terpaksa mengalah dan tidur di kamarnya malam ini.
Tok ... tok ... tok.
“Non ...."
"Pak ...." Terdengar suara panik Bu Sari dari luar pintu kamar.
Mendengar itu, Kailla langsung bangkit dari tidurnya dan membangunkan Pram.
“Sayang, bangun. Sepertinya ada masalah di luar,” panggil Kailla mengguncang tubuh Pram yang sedang tertidur lelap.
“Hmm,” gumam Pram.
Melihat suaminya masih betah dengan tidurnya, Kailla langsung turun dari ranjang tanpa menunggu Pram lagi.
“Sayang! Ayo bangun!” panggil Kailla menepuk paha Pram dengan kencang, sebelum berlari membuka pintu kamarnya.
Ceklek.
“Ada apa, Bu?” tanya Kailla merapikan gaun tidurnya yang berantakan.
“Bapak sesak napas. Dari tadi sepertinya mencari Non Kailla dan Pak Pram,” jelas Bu Sari.
Mendengar itu Kailla langsung berlari turun ke kamar Daddy di lantai satu. Sebelumnya ia masih sempat berpesan pada Bu Sari.
“Bu, tolong bangunkan suamiku!” perintah Kailla.
“Baik, Non,” sahut Bu Sari mencoba masuk ke dalam kamar membangunkan Pram.
****
Terima kasih.
Love you all.
__ADS_1