Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 81 : Rahasia Kailla


__ADS_3

“Bay, kamu sudah persiapkan semuanya?” tanya Pram begitu Bayu sudah berdiri tepat di hadapannya. Saat ini mereka berada di ruang kerja Pak Riadi. Sejak beberapa hari ini, Pram lah yang lebih sering memakai ruangan ini untuk bekerja.


“Sudah Bos.” Bayu menjawab singkat.


Pram terlihat menarik napas, memijat pelipisnya. “Bagaimana istriku bisa melihatku di restoran?” tanya Pram.


“Hah!” Bayu tertegun mendengar pertanyaan Pram. Dia sendiri tidak mengetahui dengan jelas kejadiannya. Pada saat itu dia hanya memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil yang dikendarai oleh Sam.


“Saya kurang tahu Bos. Sepulang dari rumah sakit, kita sempat mampir di apotik. Apa mungkin disana?” jawab Bayu menunduk. Dia sedikit merasa bersalah mendengar pertanyaan Pram.


PLAKKK!! Tiba -tiba Pram melayangkan sebuah tamparan keras di wajah Bayu.


“Kamu dimana sampai tidak tahu?” tanya Pram. Tatapannya mematikan, bisa dipastikan saat ini Pram sedang marah mendengar jawaban Bayu.


“Sa..saya di mobil, tepat di belakang mobil Non Kailla. Tadinya saya pikir Sam yang akan turun menemaninya. Saya juga tidak terlalu memperhatikan.” sahut Bayu masih tertunduk.


“Kamu jelas-jelas tahu, kenapa aku memakaimu! Aku tidak bisa mengandalkan Sam.” Kali ini Pram memilih duduk di kursi kebesaran milik ayah mertuanya, mengusap wajah dengan kedua tangannya


“Maaf Bos, lain kali saya tidak akan ceroboh lagi. Saya sengaja memilih tidak turun dari mobil, karena takut Non Kailla tidak mau melihat saya, seperti sebelumnya,” sahut Bayu menjelaskan.


Pram menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali. Berulang-ulang, untuk meredam sedikit emosinya. Seharian ini, dia lelah sekali meladeni kelakuan Kailla. Emosinya lebih mudah terpancing ketika mendengar sesuatu yang tidak berjalan di tempatnya.


“Bay, kamu tahu kenapa aku memakaimu selain karena Sam tidak becus?” Pram bertanya, kali ini dia memilih menatap Bayu. Bayu hanya menggeleng.


“Kamu boleh duduk! Aku akan memberimu alasan, seberapa penting tugasmu. Jadi kamu tahu, ada nyawa seseorang yang dipertaruhkan kalau kamu lalai,” jelas Pram.


Bayu duduk tepat di hadapan Pram hanya terhalang sebuah meja kerja. Pram sendiri terlihat memutar kursi kesamping, menatap ke sebuah pigura besar yang tergantung di dinding. Ada potret Riadi Dirgantara sedang merangkul Kailla, istrinya di sana. Dia tersenyum melihat senyuman Kailla. Foto itu diambil saat Kailla baru masuk SMP, kurang lebih 8 tahun yang lalu.


Terlihat Pram membuka salah satu laci di meja kerja Pak Riadi. Dia mengeluarkan sebuah map merah dan melemparnya ke atas meja.


“Bukalah!” perintah Pram. Sejak dulu, Pram sudah terbiasa dengan ruangan ini. Pak Riadi selalu memberitahunya dimana saja biasanya dokumen-dokumen penting disimpan. Supaya suatu saat Pram membutuhkannya, tidak perlu bertanya-tanya lagi. Selain Pram, tidak seorang pun bisa masuk ke dalam ruangan ini tanpa izin, termasuk Kailla.


Bayu mengambil map merah itu dan mulai melihat isi di dalamnya. Ada potongan-potongan koran berita kecelakaan seorang wanita. Di bagian belakang ada data diri si wanita, berikut surat kematian, kartu keluarga dan lain-lain. Bahkan ada data-data hasil penyelidikan penyebab kecelakaan, termasuk salinan akta kelahiran Kailla di susunan paling terakhir. Kening Bayu berkerut, berusaha mencerna semua data di hadapannya saat ini.


“Itu ibu mertuaku, mama Kailla. Kalau kamu membacanya lebih teliti, kamu akan tahu penyebab kecelakaan tunggal itu karena apa. Dan sampai sekarang, belum diketahui dalang di balik kecelakaan itu.” jelas Pram.


Bayu sekarang sudah mulai paham. “Dia sedang hamil Non Kailla?” tanya Bayu, tangannya menunjuk sebuah foto.

__ADS_1


“Iya. Dan tujuan orang itu sebenarnya adalah Kailla, bayi di dalam perutnya,” jawab Pram. Karena dia satu-satunya pewaris RD Group dan seluruh aset milik Riadi Dirgantara.” jelas Pram.


“Selama 20 tahun ini, bahkan sebelum Kailla lahir. Pak Riadi memilih tidak mengakui Kailla secara hukum demi memastikan keselamatan putrinya,” jelas Pram lagi.


Tampak Bayu membaca data-data istri bosnya yang terselip di lembaran paling terakhir. Di dalam akta kelahiran, hanya ada nama ibunya saja tanpa identitas ayahnya. Ada selembar kertas berisi hasil tes DNA dari rumah sakit dan surat keterangan adopsi.


Setelah membolak balikan lembaran-lembaran kertas di hadapannya, matanya tertuju pada sebuah potongan koran yang berisi berita ibu si bayi.


“Ini...,” Bayu tampak ragu, jarinya menunjuk ke potongan koran itu sambil menatap Pram.


Pram mengangguk, “berita itu benar. Aku juga bingung bagaimana ayah mertuaku bisa terlibat dengan seorang p*lacur.”


“Kamu paham sekarang, kenapa harus menjaga istriku dengan baik. Kenapa aku selalu mengatakan, pastikan tidak ada orang asing mendekatinya.” Pram menatap tajam ke arah Bayu.


“Aku belum siap melihat istriku hancur kalau dia mengetahui yang sebenarnya,” ucap Pram pelan. Hampir tidak terdengar.


Sampai sejauh ini, Kailla tidak mengetahui apapun, bahkan dia tidak pernah tahu daddy tidak menikahi mamanya. Kailla tidak pernah tahu masa lalu mamanya yang kelam. Mereka berusaha keras, menutup semua informasi itu. Kailla tidak pernah melihat sendiri data-data pribadinya, karena Pram akan mengurus semua untuknya.


Cukup lama hening, Pram masih menatap pigura itu tanpa suara, Bayu masih sibuk membaca segala informasi yang dianggap perlu di ketahui. Siapa-siapa saja yang mungkin terlibat dan harus dihindari istri bosnya itu.


“Baik bos,” Bayu mengangguk dan menyodorkan map merah itu kembali kepada Pram.


“Bu Ida akan menemani Kailla selama di sana, jadwalku sangat sibuk nanti. Kasihan Kailla sendirian,” lanjutnya lagi.


Deg— Mata Pram menangkap bayangan seseorang di sela bawah pintu ruang kerja. Ada seseorang yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka sedari tadi.


“Kai, masuk sekarang!” teriak Pram setelah meyakini hanya Kailla yang berani melakukannya. Tangannya dengan sigap memasukan kembali map merah tadi ke dalam laci. Jantungnya berdetak kencang, dia khawatir Kailla mendengar semua pembicaraannya dengan Bayu barusan.


Tampak pintu ruang kerja dibuka dengan pelan, Kailla masuk dengan wajah tertunduk dan ragu-ragu. Dia sebenarnya tidak berniat menguping, tapi begitu lewat di dekat ruangan itu samar-samar dia mendengar suara Pram sedang berbicara dengan seseorang. Itu yang membawanya menempelkan telinganya di daun pintu. Dan betapa kesalnya dia, saat tahu Pram mengajak Bayu ikut dengan mereka.


“Apa yang kamu lakukan di depan pintu. Hah?” tanya Pram. Dia bangun dari duduknya menghampiri Kailla yang berdiri di dekat pintu. Melihat ekspresi Kailla saat ini, bisa dipastikan dia tidak mendengar sesuatu yang penting. Dia tahu jelas bagaimana istrinya.


“Kamu menguping pembicaraan kami?” tanya Pram. Dia harus membungkuk, supaya bisa mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kailla yang sedang menunduk.


Kailla yang sedari tadi menunduk, tiba-tiba menghentakkan kakinya ke lantai. Dengan wajah cemberut, dia mengarahkan telunjuknya pada Bayu.


“Aku tidak mau dia ikut!” ucap Kailla tegas. Mata Pram mengikuti arah telunjuk Kailla.

__ADS_1


“Kai, mulai sekarang sebut namanya dengan benar.” perintah Pram tegas, pandangannya sekarang beralih ke wajah cantik istrinya yang masih saja cemberut.


“Aku mau Sam, aku tidak mau dia!” rengek Kailla, dia balik menantang, menatap Pram dengan berani saat ini.


“Sebut namanya dengan benar, Sayang. Mulai besok Bayu yang akan menjagamu.” jelas Pram meraih tangan tangan Kailla dan membawanya duduk ke kursi yang tadi dia duduki.


“Aku tidak mau!” tolak Kailla lagi setelah duduk.


“Bay, tolong tinggalkan kami!” titah Pram. Dia harus menjelaskan kepada Kailla. Bagaimanapun Kailla harus menerima keputusannya kali ini. Terlihat Pram memilih berjongkok di hadapan Kailla. Dengan begitu dia lebih leluasa menatap wajah Kailla, melihat semua ekspresi yang terlukis disana.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Pram membuka pembicaraan.


“Aku mau Sam, aku tidak mau dia!” Kailla masih tetap merengek. Begitu mendengar Bayu akan ikut mereka, seketika dia meradang dan kesal. Laki-laki yang baru saja masuk ke dalam kehidupan mereka begitu dipercaya oleh suaminya. Padahal jelas-jelas, selama ini Sam yang menjaganya.


“Bayu! Namanya Bayu.” Pram kembali meminta Kailla menyebut nama asisten barunya.


“Iya.. ya.. BAYU!” Kailla bertambah kesal. Mendorong Pram yang sedang berjongkok di depannya hingga terjengkang.


“Kai, Aku suamimu!” ucap Pram keras setelah kembali ke posisinya semula.


Sebenarnya dorongan Kailla tidak terlalu kencang, tapi karena dia tidak ada persiapan dan posisinya sedang berjongkok sehingga dengan mudah membuatnya kehilangan keseimbangan.


“Tapi aku mau Sam ikut bersamaku. Om saja membawa Bayu, masa Sam tidak boleh ikut,” pinta Kailla. Merengek kembali menarik kaos yang dikenakan Pram.


“Astaga anak ini! Dari dulu tidak berubah.”


“Kai.. Kai..! Bajuku sobek,”ucap Pram berusaha melepaskan tangan Kailla yang terus-terusan menarik kaosnya.


“Kalau kamu mau, aku bisa membukanya.” goda Pram bersiap menarik kaosnya ke atas menampilkan roti sobek yang tersusun rapi di perutnya.


“Aku tetap mau Sam ikut bersamaku Om. Aku berjanji tidak akan menyusahkan Om nanti disana.” bujuk Kailla.


“Apa aku harus mengeluarkan air mata buayaku seperti biasanya ya. Terlintas ide jahil di benak Kailla. Bagaimanapun caranya dia harus membawa Sam ikut bersamanya.


***


Terimakasih dukungannya. Love You All.

__ADS_1


__ADS_2