
Kailla sudah berdiri tepat di hadapan Pram yang sedang berbaring di sofa.
“Bangun! Keluar dari kamarku sekarang!” perintah Kailla pada Pram yang masih memejamkan matanya. Telunjuknya terarah ke pintu.
Pram bukannya bangun, sebaliknya dia malah tersenyum. Melipatkan kedua tangannya dengan angkuh di atas dada.
“Keluar dari kamarku!” usir Kailla lagi , setengah berteriak saat ini. Tangannya sudah menarik kasar lengan Pram supaya segera bangun dan pergi dari kamarnya.
“Kai, aku ini suamimu. Bagaimana bisa kamu mengusirku keluar,” sahut Pram dengan tenangnya.
“Bagiku sudah tidak!” ucap Kailla kasar.
“Dengar Kai, kamu bertanya pada siapapun saat ini. Mereka akan mengatakan kalau Kailla Riadi Dirgantara itu istrinya Pram,” sahut Pram santai. Saat ini dia hanya ingin menggoda Kailla. Dia sangat merindukan wajah kesal dan menggemaskan istrinya. Sudah terlalu lama dia mengabaikan Kailla.
Kailla menghembuskan nafasnya. Dia sedang mengumpulkan tenaga, bersiap menyeret Pram keluar dari kamarnya.
“Ayo, keluar dari kamarku!” Kailla sudah menyentak tangan Pram, menarik suaminya itu supaya turun dari sofa dan meninggalkan kamarnya.
“Nanti saja Kai, aku mau istirahat sebentar lagi. Kita gencatan senjata dulu beberapa jam. Aku beneran capek, Sayang.” Pram beralasan.
“TIDAK!” tolak Kailla.
“Aku tidak akan mengganggumu. Aku tidur di sini saja. Kamu bisa tidur di sana!” ucap
Pram menunjuk ke arah ranjang.
“Tidak mau! Aku mau kamu keluar sekarang!” teriak Kailla.
“Kai ... nanti kita atur lagi untuk pertengkaran selanjutnya. Sekarang aku benar-benar capek Sayang. Beri aku waktu tidur sebentar saja. Aku juga perlu tenaga untuk melawanmu Sayang,” bujuk Pram.
“Huh! Aku ini sedang marah padamu! Ayo keluar dari kamarku,” rengek Kailla.
“Iya, kamu boleh marah padaku. Aku tidak melarangnya. Tapi suamimu ini butuh istirahat Sayang,” ucap Pram.
“Sejak kemarin aku sudah memutuskan hubunganku denganmu. Jangan menyebut kata suami. Itu menjijikan!” omel Kailla.
“ Ya... ya maaf. Bukan suamimu, tapi Sayangmu,” goda Pram tersenyum.
Melihat Pram yang masih saja bercanda, Kailla mendengus kesal, menghentakkan kakinya ke lantai dan kembali ke ranjang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Pram yang melihat kekesalan Kailla akhirnya memilih mengalah. Segera dia bangkit dari tidurnya dan menghampiri istrinya.
“Sudah, jangan kesal lagi Nyonya. Aku keluar sekarang. Kasihan anakku di dalam sana kalau mommy-nya selalu marah-marah,” ucap Pram saat sudah berdiri di samping ranjang. Dengan sedikit memaksa membuka selimut yang menutup wajah Kailla.
“Sudah tidak panas lagi,” ucapnya setelah mengecek suhu di kening Kailla dengan tangannya.
Kailla terperanjat mendengar kata-kata Pram.
__ADS_1
“Bagaimana kamu bisa tahu aku hamil?” tanya Kailla heran.
“Aku daddy-nya, mana mungkin aku tidak tahu,” ucap Pram dengan bangganya. Padahal kalau Bu Ida tidak memberitahunya, sampai sekarang dia tetap jadi laki laki bodoh yang tidak mengetahui kehamilan istrinya.
Saat keluar pintu kamar, Pram berpapasan dengan Bu Ida yang sedang membawa nampan obat di tangannya. Pram langsung pusing seketika melihat obat yang sudah siap di dalam wadah.
“Nanti jangan digerus lagi Bu. Aku sudah tidak sanggup kalau harus meminumnya lagi,” ucap Pram bergidik, sambil berlalu. Meninggalkan Bu Ida dengan nampan obatnya.
“Pak.. Pak, ini bagaimana?” tanya Bu Ida sembari menunjukkan nampan di tangannya. Berusaha menghentikan langkah majikannya.
“Kailla sudah bangun. Bu Ida bisa membujuknya sendiri,” sahut Pram melangkah menuju ruang kerjanya.
“Oh ya, bantu Kailla berganti pakaian Bu. Aku tidak bisa melakukannya saat ini,” titah Pram dari balik pintu ruang kerjanya saat teringat istrinya masih mengenakan pakaian yang sama dari kemarin. Kailla juga pasti tidak akan mau dibantu olehnya.
Kepalanya sedikit pusing. Dia ingin membersihkan diri dan tidur sebentar. Tetap memaksa di dalam kamar hanya akan membuat Kailla tidak nyaman. Dia tidak mau membuat Kailla tertekan, apalagi saat ini istrinya sedang hamil.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Pram mencoba menghubungi Pieter untuk mengirim semua pekerjaannya melalui email. Hari ini dia tidak akan ke kantor. Dia tidak bisa meninggalkan Kailla yang masih belum sembuh benar.
***
Pram baru keluar dari ruang kerjanya saat hari sudah menjelang sore. Setelah mengecek beberapa berkas dan sempat tidur sebentar.
“Bu, Kailla sedang apa?” tanya Pram saat melewati dapur dan melihat Bu Ida sedang sibuk memasak makan malam.
“Tidur Pak,” sahut Bu Ida singkat.
“Tadi obatnya diminum?” tanya Pram lagi.
“Kenapa tidak memberitahuku!” omel Pram saat mendengar Kailla tidak makan.
“Lalu dia makan apa?” Pram lanjut bertanya.
“Tadi hanya makan roti saja.” Bu Ida menjawab singkat.
“Siapkan buburnya. Aku akan membawanya ke kamar,” perintah Pram. Mendengar cerita Bu Ida, hatinya tidak tenang. Bagaimanapun Kailla harus makan. Sudah cukup selama seminggu ini dia mengabaikan Kailla, tapi sekarang tidak lagi. Apalagi saat ini Kailla sedang hamil. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.
Pram masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi bubur. Dia tersenyum saat melihat istrinya sedang terlelap.
“Sudah tidak panas lagi,” ucap Pram, setelah menempelkan punggung tangannya di kening Kailla. Melihat Kailla terlelap, dia sebenarnya tidak mau membangunkannya. Dia khawatir Kailla akan marah-marah lagi padanya. Dan itu tidak baik untuk bayinya.
Tapi Kailla belum makan, mau tidak mau dia harus mengambil resiko. Sekalipun Kailla akan memukulnya, dia tidak peduli. Yang terpenting untuknya, Kailla harus makan.
“Kai... bangun Sayang!” panggil Pram, duduk sisi ranjang. Tangannya sedang menepuk lembut pundak Kailla.
Tampak Kailla menggeliat sebelum akhirnya mengerjap dan membuka matanya perlahan. Tapi pada saat melihat Pram, wajah damai Kailla berubah seketika.
__ADS_1
“Pergi! Aku tidak mau melihatmu!” usir Kailla saat kesadarannya sudah terkumpul sempurna.
“Kai, kamu harus makan,” ucap Pram pelan.
“Aku tidak mau makan!” tolak Kailla. Dia langsung berbalik memunggungi Pram.
“Sayang, makan. Kasihan anak kita,” bujuk Pram.
“Ayo, kamu boleh memukulku nanti. Tapi sekarang harus makan dulu,” lanjut Pram.
Mendengar kata-kata Pram, Kailla langsung menyentuh perutnya.
“Baiklah, aku akan makan untuk anakku. Tapi berhenti menyebutnya anak kita. Dia hanya anakku,” ucap Kailla ketus. Dia langsung bangkit duduk bersiap mengambil alih mangkok bubur yang ada di tangan Pram.
“Bagaimana bisa hanya anakmu, Nyonya. Hahaha.. aku sudah berinvestasi banyak. Ini tidak fair!” celetuk Pram.
“Aku tidak peduli. Dia di perutku, artinya dia milikku. Hanya milikku!” gerutu Kailla.
“Hahaha... kerja sama yang hanya menguntungkan salah satu pihak. Aku yang bekerja keras, aku yang investasi, aku yang lelah setiap malam. Bagaimana bisa saat sudah berhasil, jadi aku yang tidak dapat apa-apa!” canda Pram menggoda Kailla.
“Aku tidak peduli, ini milikku,” ucap Kailla mengusapnya sambil tersenyum.
“Iya itu milikmu, makanya harus makan sekarang,” bujuk Pram mengalah. Setiap mendengar Kailla mengakui anak di rahimnya, ada perasaan bahagia yang mengisi hati Pram. Setidaknya, Kailla sangat menyayangi bayi mereka, walaupun istrinya itu belum siap dengan kehamilannya.
“Aku akan menyuapimu,” ucap Pram. Pram sedang berusaha meluluhkan istrinya. Sedari tadi dia menolak melepaskan mangkuk buburnya. Dia sedang ingin memanjakan Kailla saat ini.
Kailla mengangguk.
“Tapi bukan berarti kita sudah baikan!” ucapnya dengan cemberut. Jujur, dia juga sangat merindukan Pram di balik sakit hati dan kekecewaannya.
“Enak ?” tanya Pram saat suapan pertamanya meluncur ke dalam mulut Kailla.
“Iya..,” sahut Kailla berusaha menyembunyikan senyumnya. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Pram. Dia tidak mau membiarkan Pram menang lagi sekarang.
“Kamu merindukanku kan?” tanya Pram, menggoda Kailla.
“Tidak!” sahut Kailla ketus.
Deg—
“Kenapa aku tidak mual dan muntah seperti biasanya ya,” batin Kailla.
__ADS_1
***
Terimakasih.