
Bu Sari baru saja masuk ke kamar majikannya hendak membangunkan Pram. Tapi saat berdiri di ambang pintu, laki-laki tampan itu sudah terbangun lebih dulu.
“Kailla mana Bu?” tanya Pram, sambil memakai kaos hitamnya.
“Di kamar Bapak,” sahut Bu Sari.
“Bapak kenapa?” tanya Pram lagi, buru-buru keluar dari kamarnya, ikut menyusul istrinya.
“Tadi sempat sesak nafas. Terus kelihatannya nyariin Pak Pram dan Non Kailla,” jelas Bu Ida lagi.
“Bu, tolong ambilkan segelas air hangat untuk Kailla, aku akan menyusulnya ke sana,” pinta Pram saat berdiri diujung tangga, menatap ke arah kamar mertuanya.
Saat masuk ke dalam kamar Pak Riadi, terlihat Kailla sedang duduk di tepi ranjang sambil menangis mengenggam tangan daddynya.
“Sus, apa yang terjadi?” tanya Pram pada perawat yang sedang membereskan berbagai keperluan Pak Riadi, memasukkan ke dalam tas. Ada beberapa data rekam medis dan laporan rumah sakit juga ikut dimasukkan ke dalam tas.
“Tadi sempat sesak nafas, tiba-tiba pandangan dan tangan Bapak menunjuk ke pintu. Habis itu tidak sadarkan diri,” jelas perawat.
“Kai, sudah.. kita harus membawa daddy ke rumah sakit,” pinta Pram, membantu Kailla yang sudah melemas untuk berdiri.
“Daddy pasti tidak apa-apa,” hibur Pram lagi. Membawa Kailla ke dalam pelukannya.
“Semua baik-baik saja,” ucap Pram lagi, mengecup pucuk kepala istrinya.
Bu Sari yang baru masuk membawakan segelas air hangat dan menyodorkannya pada Pram.
“Ini Pak,” ucap Bu Sari.
“Kai, minum dulu. Kamu tidak perlu ke rumah sakit. Aku yang akan pergi,” jelas Pram, membantu Kailla menghabiskan air hangat.
“Tapi aku mau ikut,” tolak Kailla.
“Tidak! Kamu tetap di rumah. Aku dan Donny saja,” pinta Pram.
Tapi...,” Kailla baru saja akan menolak. Tapi Pram sudah mengangkat jari telunjuknya, meminta istrinya menurut.
“Kali ini saja, aku mohon menurut padaku,” pinta Pram.
“Aku akan menjemputmu nanti. Ini masih tengah malam. Kamu dan anak kita butuh istirahat,” lanjut Pram lagi, menghapus air mata yang mengalir di wajah Kailla.
“Bu, tolong panggilkan Bu Ida dan Sam di rumah belakang. Minta mereka menemani Kaila. Pastikan istriku baik-baik saja,” perintah Pram. Tak lama terlihat Donny muncul dari balik pintu.
__ADS_1
“Kita berangkat sekarang Pak?” tanya Donny langsung membantu membopong tubuh Pak Riadi yang tidak sadarkan diri menuju ke mobil yang terparkir di halaman depan rumah.
“Sus, ikut bersamaku,” pinta Pram mengajak sang perawat pergi bersama.
Kailla yang masih saja menangis, tidak bersuara sama sekali. Dia hanya diam saja, mengikuti perintah Pram.
“Sayang, aku berangkat sekarang, aku segera menjemputmu. Kamu istirahat di rumah. Sam dan Bu Ida akan menemanimu,” pinta Pram.
“Iya, kamu harus mengabariku,” pinta Kailla, memeluk erat Pram.
“Jangan menangis lagi,” ucap Pram, mengecup kening Kailla. Mengusap pipi Kailla sebelum meninggalkan kamar, menyusul Donny yang sudah masuk ke dalam mobil.
Kailla langsung bergegas masuk ke kamar, memilih menangis sambil memeluk guling.
***
Sampai di rumah sakit Pak Riadi langsung masuk ke ruang IGD dan ditangani dokter. Satu jam menunggu, tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang IGD.
“Maaf Pak, sepertinya pasien ingin bertemu dengan keluarganya. Begitu siuman tangannya menunjuk ke arah pintu. Mungkin ada yang mau disampaikan,” jelas sang perawat.
Pram langsung berdiri dan mengekor masuk ke dalam ruangan.
Terlihat daddy sudah sadar, tapi masih banyak selang terpasang di tubuhnya. Tangannya yang lemah bergerak, seolah meminta Pram mendekat.
Dengan bersusah payah, Pak Riadi menggerakan mulutnya tapi tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dia harus berjuang sekuat tenaga untuk bisa menyampaikan rahasia yang selama ini disimpannya.
“Aku tidak mau meninggal dengan membawa semua rahasia ini dan membuat Pram salah paham suatu saat nanti,” batinnya.
Tangannya sedang mengenggam erat tangan Pram. Terlalu erat, sampai bergetar. Pak Riadi tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya. Rahasia terbesar dalam hidupnya. Dia hanya takut, Pram mengetahui rahasia yang selama ini disimpannya rapat dan akan menyakiti Kailla karena salah paham. Seharusnya dia menjelaskannya sejak dulu, menghindari kesalahpahaman.
Tapi saat dia mengetahahui Kailla hamil, hatinya sedikit lega. Pram mungkin bisa menyakiti Kailla tapi Pram tidak mungkin menyakiti darah dagingnya sendiri. Anak mereka yang akan menjadi penyelamat untuk Kailla.
Terlalu banyak rahasia yang disimpannya, sampai dia tidak bisa hidup dengan tenang. Walaupun dia sudah mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Pram. Tapi karena sifat pengecutnya, dia tidak berani mengakui kesalahannya sendiri.
Dia sudah berusaha menjaga Kailla dengan tangannya sendiri selama ini. Tapi semakin lama, fisiknya semakin melemah. Dia sudah merencanakan banyak hal, sampai tega memutuskan hubungan Pram dengan kekasihnya 17 tahun yang lalu.
Walaupun di awal dia tidak berencana menjodohkan Pram dengan Kailla, tapi pada akhirnya dia terpaksa mengambil langkah itu. Menyerahkan putri kesayangannya kepada orang yang paling berbahaya sekaligus paling menyayanginya. Karena selama 30 tahun ini dia juga melakukan hal yang sama, merawat putra dari orang yang mungkin saja sangat membenci dan mengutuknya.
Berharap perlakuannya selama ini pada Pram, bisa menebus dosa-dosanya di masa lalu. Dosa-dosa yang terpaksa dilakukannya demi orang yang dicintainya.
Bibir Pak Riadi bergetar, nafasnya pendek-pendek. Dia masih menggengam tangan Pram saat kesadaran dirinya.
“Dad, jangan khawatir, aku akan menjaga Kailla dengan tanganku sendiri,” bisik Pram menenangkan mertuanya. Berharap kata-katanya bisa mengurangi beban dan membuat Pak Riadi segera pulih.
__ADS_1
Melihat Pak Riadi kembali kehilangan kesadarannya, Pram langsung berlari keluar memanggil perawat dan dokter. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Yang bisa dilakukannya hanya berdoa semoga mertuanya baik-baik saja.
“Semoga semua baik-baik saja. Bagaimana dengan Kailla, kalau terjadi sesuatu pada daddy,” ucapnya pelan, mengusap kasar wajahnya.
Tak lama Donny muncul di depannya, menyerahkan segelas kopi hitam.
“Kopi Pak,” sodor Donny sambil duduk di samping Pram.
“Don, sewaktu kita di Austria, Bapak begini juga kondisinya?” tanya Pram, menyesap kopi hitamnya.
“Iya, sempat koma tiga hari Pak,” jawab Donny.
Pram mengangguk, tidak bisa melakukan apapun. Saat ini dia hanya menunggu tim medis melakukan tindakan terbaik untuk mertuanya.
Hampir satu jam menunggu, seorang perawat memanggil Pram.
“Maaf keluarga pasien?” tanya seoarang perawat.
“Saya..,” sahut Pram.
“Dokter ingin bertemu,” jelas perawat.
Saat masuk ke dalam ruangan di sebelah ruang IGD, tampak seorang dokter duduk sambil menautkan tangan di atas meja.
“Saya keluarga pasien Dok,” ucap Pram memperkenalkan diri, menatap mertuanya dari dinding kaca.
“Silahkan duduk. Maaf sebelumnya, saya berbicara dengan siapanya pasien.”
“Saya menantunya Pak,” sahut Pram, setelah ikut duduk di hadapan dokter.
“Pasien koma. Kalau melihat rekam medis pasien, ini koma yang ketiga kalinya.”
“Iya Pak. Bagaimana kondisi mertua saya?” tanya Pram.
Dokter menggeleng. “Maaf, kami sudah berusaha sebisa mungkin. Pasien harus dipindahkan ke ICU secepatnya. Saat ini, pasien bergantung hidup dari alat bantu saja.”
Ucapan dokter barusan menghantam Pram seketika. Apa yang harus dilakukannya kalau sampai Kailla tahu. Dia sudah tidak bisa mendengar lagi kalimat dokter selanjutnya. Hanya bisa menatap ke arah Pak Riadi yang tidur lelap.
“Dad, harus kuat untuk Kailla,” ucapnya dalam hati.
***
Terimakasih.
__ADS_1