Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 160 : Sarapan Buatan Kailla


__ADS_3

Pagi itu Kailla terbangun lebih dulu dibandingkan Pram. Entah kesambet apa, tiba-tiba dia membuatkan sarapan untuk suaminya. Sejak dia mengalami pendarahan, Pram sudah tidak pernah menerkamnya setiap malam seperti biasanya. Pram hanya akan mencium dan memeluknya sepanjang malam.


Komplotan ketiga asisten Kailla masuk ke apartemen dengan mulut terngaga dan mata melotot, menatap sang Nyonya majikan pagi-pagi sudah memakai celemek dan bertempur di daerah kekuasaannya Bu Ida.


Sam bahkan harus mengucek matanya berkali-kali demi memastikan yang sedang menggosok wajan gosong itu benar-benar Kailla. Ya, percobaan Kailla gagal, telur gorengnya gosong karena api kompor yang kebesaran sedangkan bahan-bahan belum siap sepenuhnya. Dia terlalu sibuk melihat resep nasi goreng gila di youtube, sampai lupa telur di penggorengannya.


“Non, sedang memasak apa?” tanya Bu Ida.


“Aku mau membuat nasi goreng gila, Bu,” sahut Kailla hampir menangis, menunjuk ke arah sepiring nasi goreng yang kecoklatan karena gosong bukan disebabkan si kecap malika.


“Astaga!” Bu Ida sampai terkejut. Belum lagi toping telur ceplok yang menghitam di atas nasi gorengnya.


“Non, tinggalkan disitu saja. Ibu yang meneruskan mencuci,” pinta Bu Ida setelah melihat luka di tangan Kailla yang memerah.


“Iya, itu tangannya kenapa Non?” tanya Bu Ida.


“Kena minyak panas Bu,” sahut Kailla. Waktu kejadian dia sampai menangis menahan sakitnya cipratan minyak panas.


“Bagaimana bisa?”


“Telurnya gosong, api kompor kebesaran sampai menyebar ke samping wajan. Aku panik, telurnya kusiram pakai air, malah minyaknya meletus,” adu Kailla, mengusap tangannya yang memerah.


“Sudah, Non ke kamar saja. Biar ibu yang terusin,” tawar Bu Ida.


Sam yang cekikikan melihat sepiring nasi goreng buatan Kailla langsung menghentikan tawanya saat Kailla menatapnya tajam.


“Ini baru nasi goreng gila namanya,” celetuk Sam, saat melihat Kailla masuk ke kamarnya.


“Aku salut sama Pak Pram,” ucap Sam pelan. Bayu yang baru menyusul duduk hanya bisa menggeleng melihat sepiring nasi goreng di atas meja.


“Jatah Pak Pram?” tanya Bayu sambil tertawa menatap Sam dan Bu. Disambut gelak tawa Sam.


***


Kailla sudah kembali ke kamar, menatap pemandangan suaminya yang masih terlelap.


Pram baru bisa tidur, setelah jam 3 dini hari. Sepanjang malam, Kailla mengeluh sakit pinggang dan dia harus membantu memijatnya.


“Sayang..., bangun,” panggil Kailla, menggoyangksn tubuh Pram.


“Hmmmm,” gumam Pram, langsung meraih tubuh Kailla dan memeluknya erat.


“Good morning Sayang,” sapa Pram dengan suara seraknya. Mencium dan memeluk erat Kailla yang berada di atas tubuhnya.


“Kamu dari mana saja?” tanya Pram.

__ADS_1


“Aku membuatkan sarapan untukmu, tapi... .” Kailla tidak meneruskan kata-katanya, wajahnya terlihat sedih, mengingat nasi gorengnya yang gosong.


“Oh ya?” tanya Pram, membuka matanya. Menggulingkan Kailla ke ranjang. Mengunci tubuh Kailla dengan tubuhnya.


“Sudah belajar menjadi istri yang baik rupanya,” goda Pram.


Kailla hanya diam, tidak bisa membayangkan kalau Pram tahu hasil memasaknya tadi. Pasti suaminya itu akan menertawakannya.


“Ayo, aku sudah lapar. Aku mau mandi dan bersiap ke kantor,” ucap Pram, mengecup lembut bibir Kailla.


“Jangan lupa nanti malam kita akan ke tempat Winny.” Pram langsung bangkit dari ranjang dan ikut menarik tangan Kailla bersamanya.


“Kai, tanganmu kenapa?” tanya Pram terkejut saat akan meraih tangan Kailla ada tanda kemerahan.


“Kena minyak panas,” sahut Kailla menunduk.


“Sakit?” tanya Pram, mengelus.


“Sudah tidak terlalu,” sahut Kailla.


“Setelah mandi, aku akan membantu mengolesinya dengan salep,” ucap Pram lagi. Tersenyum, menepuk pucuk kepala istrinya.


“Sayang, ayo kita mandi bersama,” ajak Pram berjalan sambil memeluk Kailla menuju kamar mandi.


***


“Sayang, aku mau sarapan dengan masakanmu,” ucap Pram, saat sudah duduk.


“Sarapan dengang buatan Bu Ida saja ya?” tawar Kailla menunduk malu.


“Kenapa? Bukannya kamu bangun pagi-pagi untuk membuatkanku sarapan,” ucap Pram menatap Kailla.


“Bawakan kesini, aku pasti akan makan tanpa protes Sayang. Apapun rasanya,” bujuk Pram smanil tersenyum.


Kailla ragu, tapi setelah menatap Pram, dia berjalan ke dapur mengambil sepiring nasi goreng dan telur ceplok yang menghitam. Kemudian menyodorkannya di hadapan Pram dengan menunduk malu.



Pram tertegun menatap sepiring nasi goreng di depannya. Tidak bisa berkata apa-apa. Pandangannya beralih menatap istrinya yang sedang menunduk, berdiri di sampingnya.


“Tidak apa-apa, aku tetap akan memakannya,” ucap Pram menggengam tangan Kailla sambil tersenyum. Menarik sepiring nasi goreng itu mendekat padanya, tanpa banyak komentar lagi.



Istrinya berjuang dari tadi pagi hanya untuk sepiring nasi goreng ini. Dan perjuangan yang lumayan berat, sampai harus terkena cipratan minyak panas. Dia tidak sanggup mengecewakan Kailla. Bagaimanapun dia harus menghargainya, dengan begitu Kailla akan tetap semangat untuk belajar lagi.

__ADS_1


“Duduk di sampingku,” ajak Pram menarik tangan Kailla.


Terlihat Pram mengambil piring kosong, memindahkan telur ceplok dari atas nasi gorengnya.


“Sayang, ini aku tidak bisa memakannya. Terlalu hangus. Tapi aku akan makan nasi gorengnya,” ucap Pram tersenyum.


“Maaf.., tapi tidak perlu sarapan dengan itu. Sarapan dengan buatan Bu Ida saja ya?” tawar Kailla.


Pram kembali mengambil piring kosong, mengisinya dengan nasi goreng buatan Bu Ida.


“Makanlah, anakku sudah lapar,” ucapnya pelan, meletakkan sepiring nasi goreng itu ke hadapan istrinya.


Pram benar-benar menghabiskan nasi goreng buatan Kailla dengan cepat. Dalam sekejap nasi itu habis tanpa sisa. Dia tidak mengeluh atau berkomentar apa pun. Menghabiskannya tanpa banyak bicara.


“Sayang, habiskan sarapanmu, aku harus ke kantor sekarang,” ucap Pram, mengarahkan tubuhnya menghadap Kailla.


“Iya..,” sahut Kailla.


“Setelah itu minum susu dan vitamin ya,” ucap Pram lagi.


Terlihat dia berdiri, membersihkan mulutnya dengan tisu di atas meja. Kemudian mengecup puncak kepala Kailla.


“Aku berharap setiap hari bisa sarapan dengan makanan yang kamu buat sendiri. Terimakasih untuk hari ini,” bisik Pram di telinga Kailla.


Terlihat dia mengusap perut Kailla berkali-kali, seolah sedang berpamitan juga dengan anaknya.


“Aku titip anakku ya Kai,” ucap Pram kembali mengecup kening Kailla.


“Iya..,” jawab Kailla singkat.


“Cium aku sekarang, suamimu ini butuh penyemangat,” pinta Pram.


Kailla langsung berdiri, mengecup bibir Pram lembut. Dia seolah lupa, sedang ada ketiga asisten yang juga berada di ruangan yang sama.


“Aku mencintaimu Nyonya,” ucap Pram, kemudian meraih tengkuk Kailla dan memperdalam ciumannya.


Bu Ida langsung berbalik, menatap piring kotor di bak pencucian. Bayu langsung mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang sedang menayangkan acara berita pagi. Dan Sam... dia baru pertama kali mendapat hadiah undian dari Pram. Masih belum siap dan belum tahu harus bagaimana. Dia cuma menatap pemandangan di depannya dengan melotot.


“Akhirnya aku kebagian juga,” ucap Sam pelan.


****


Sudah tidak ada konflik lagi selama di Austria, 2 bab lagi, kita kembali ke Indonesia.


Love You All.

__ADS_1


__ADS_2