
Pandangan Pram sedikit pun tidak berpindah dari Kailla yang sedang duduk di pangkuannya.
“Tidak ada perubahan apa-apa. Masa sih Kailla hamil. Kita baru menikah 3 minggu,” batin Pram.
Pikiran Pram masih menerawang, dia tidak fokus saat ini. Dia bingung, tapi dia tidak tahu mau bertanya kepada siapa. Kailla pasti lebih tidak mengerti lagi dibanding dirinya. Pada saat seperti inilah dia merasa sedih, kenapa mereka berdua harus memiliki takdir yang sama. Sama-sama tidak memiliki ibu, tempat untuk bertanya dan meminta saran.
Satu-satunya ibu yang ada di rumahnya cuma Ibu Ida, asisten rumah tangga yang ikut diboyong kesini. Tapi mau bertanya ada rasa sungkan. Dia tidak terlalu akrab dengan semua asistennya.
“Ya sudah. Kita masih punya ibu google. Ibu sejuta umat,” ucap Pram dalam hati.
“Kai, kamu tidak hamil kan?” tanya Pram. Pertanyaan bodoh itu pun akhirnya keluar dari bibirnya. Jelas-jelas dia tahu, Kailla tidak paham sama sekali.
Kailla menggeleng. “Tidak Sayang. Kenapa bertanya seperti itu?”
“Kamu tidak merasa ada yang aneh di dirimu. Atau ada perubahan yang tidak biasa?”
Kailla tetap menggeleng.
“Kai, kamu beneran tidak ingat kapan terakhir kamu menstruasi?” tanya Pram lagi memastikan.
“Aku tidak ingat jelas, mungkin harusnya minggu lalu aku sudah mendapatkannya. Tapi jadwalku memang tidak teratur,” sahut Kailla.
Pram menghela nafasnya. Kemarin dia baru membahas dengan sekretarisnya dalam 2-3 minggu ini jadwalnya padat sekali. Dia tidak punya waktu mengantar Kailla ke dokter, jadwal konsultasi dan melakukan test TORCH dll untuk Kailla juga terpaksa diundur. Kalau memang Kailla tidak hamil, dia sedikit bernafas lega. Paling tidak, dia bisa bekerja dengan tenang.
Belum lagi tadi Donny menghubunginya, kondisi daddy tiba-tiba drop dan harus dirawat di rumah sakit. Dia terpaksa menyembunyikan berita ini dari Kailla. Dia tidak mau Kailla khawatir dan merengek lagi minta pulang ke Indonesia.
“Kai, kita makan di kantin saja ya. Sebentar lagi aku harus meeting,” tawar Pram sembari menatap jam di pergelangan tangannya.
Kailla mengangguk. Lagipula dia tidak begitu lapar. Beberapa hari ini dia sedang tidak nafsu makan. Kemarin saja dia seharian tidak makan, hanya mengisi perut dengan cemilan dan roti.
Dia hanya merindukan rumahnya, merindukan daddy dan Sam, sekutunya membuat kekacauan.
“Kai, mulai hari ini aku akan pulang malam. Mungkin sekitar 2 minggu ini, kita akan jarang bertemu,” ucap Pram saat mereka sudah di kantin.
“Hmmm,” gumam Kailla. Tangannya terlihat menusuk daging steak dengan garpu. Dia tidak makan sama sekali.
“Kai, kenapa tidak di makan?” tanya Pram setelah melihat Kailla menatap makanan yang tersaji tanpa menyuapkannya ke dalam mulut.
“Aku kenyang.” Kailla menjawab singkat.
“Besok aku akan bertemu dengan Winny lagi. Kita ada wawancara dengan media lokal. Kamu tidak keberatan kan?” tanya Pram.
__ADS_1
“Perusahaan kita dengan perusahaan Winny bekerja sama. Kita akan membangun hotel di sini,” jelas Pram lagi.
“Iya...,” Kailla menjawab singkat.
Pram heran melihat perubahan sikap Kailla. Dari tadi, tidak sekali pun Kailla membantahnya. Apa yang dikatakannya, Kailla hanya akan mengangguk dan menyetujui semua tanpa banyak protes.
“Kenapa istriku jadi begini penurut!”
“Sayang, kamu baik-baik saja? Kamu tidak sakit kan?” tanya Pram sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Kailla.
“Tidak, aku mau pulang saja sekarang,” sahut Kailla sambil berdiri. Entah kenapa mood dia sedang tidak baik hari ini.
“Kamu tidak menghabiskan makananmu Kai?” tanya Pram.
Kailla menggeleng. “Aku sudah kenyang.”
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke tempat Bayu. Malam ini kamu tidur duluan, tidak perlu menungguku. Aku pulang malam,” ucap Pram menggenggam tangan Kailla.
“Aku sudah meminta Bayu dan Bu Ida menginap di tempat kita selama aku pulang malam,” jelas Pram.
“Iya..” Kailla hanya menjawab singkat.
***
Pram harus bekerja keras menyelesaikan pekerjaan dan secepatnya kembali ke Indonesia. Selain masalah daddy yang sakit, dia juga tahu Kailla sudah tidak betah di Austria. Hampir tiap hari istrinya merengek minta pulang untuk bertemu daddy. Di tambah kesibukan Pram yang tidak punya waktu untuknya, memuat Kailla semakin bosan.
Malam itu Pram sampai di apartemen pukul 02.00 dini hari. Tadinya dia berencana menginap di kantor. Tapi hari ini dia sangat merindukan Kailla. Saat sampai di apartemen, tampak Bayu sedang tertidur lelap di sofa ruang tamu. Pram memilih untuk tidak membangunkannya.
Sampai di kamar, Pram disambut pemandangan istrinya yang sedang tidur sambil memeluk boneka kesayangannya. Pemandangan yang sama, setiap malam selama seminggu ini. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, Pram pun menyusul berbaring di samping Kailla.
“Kai... Sayang..,” panggil Pram membangunkan Kailla.
“Iya..,” sahut Kailla dengan suara serak dan mata masih terpejam.
“Aku merindukanmu. Kai, besok minta Bayu mengantarmu ke kantor. Kita makan siang bersama,” ucap Pram sambil memeluk istrinya.
“Iya, jam berapa sekarang?” tanya Kailla.
“Jam 2 pagi. Tidurlah! Aku juga mau tidur, aku lelah!” ucap Pram mengecup pipi Kailla sekilas dan langsung memejamkan matanya
***
__ADS_1
Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Kailla terbangun dan Pram sudah berangkat ke kantor. Tidak ada lagi ciuman selamat pagi dari Pram. Pram berangkat pagi-pagi sekali dan sengaja tidak membangunkan Kailla. Bahkan Bu Ida saja jarang bisa bertemu dengan majikannya itu.
“Apa yang dikerjakannya pagi-pagi sudah ke kantor,” gerutu Kailla, setelah seminggu ini dia memilih diam dan tidak protes.
“Pagi Non,” sapa Bu Ida begitu melihat Kailla keluar dari kamarnya. Majikannya sudah rapi hari ini. Tidak seperti biasanya yang hanya mengenakan gaun tidurnya.
“Bu, suamiku berangkat jam berapa tadi?” tanya Kailla.
“Tadi jam 5 pagi Non. Pak Pram pesan tidak boleh membangunkan Non,” sahut Bu Ida.
“Iya, aku akan kantor hari ini. Suamiku memintaku ke sana,” cerita Kailla pada Bu Ida. Tangannya sudah meraih selembar roti dan meletakkannya di atas piring. Tapi pada saat akan mengambil omelet, dia langsung meletakkannya kembali.
“Bu, telurnya kok amis ya.” Kailla langsung menutup mulutnya seketika. Amis dari telur itu seketika membuat perutnya mual. “Bu, tolong dibawa pergi saja!” perintah Kailla.
“Ini telur yang biasa Non makan,” sahut Bu Ida keheranan. Selama di Austria majikannya itu hanya mau sarapan dengan telur dan roti saja. Dan Bu Ida selalu menyajikan telur yang sama setiap hari.
“Mungkin aku sedang masuk angin Bu. Sudah seminggu aku tidak nafsu makan,” ucap Kailla, dia memilih menghabiskan jus jeruknya.
Dan disaat seperti ini hanya Bang Nex Carlos dan Teh Farida Nurhan saja yang bisa mengembalikan moodnya. Seminggu ini, hari-hari Kailla hanya diisi dengan menonton channel youtube mereka saja. Setidaknya itu bisa membantunya, saat dia sangat menginginkan sesuatu yang tidak ada di Austria.
Saat sedang serius menonton Farida Nurhan ngemplok, tiba-tiba Mitha mengiriminya pesan teks dan foto.
Nyonya, kamu kemana saja?
Kenapa tidak pernah ke kantor?
Ini aku kirimi foto Pak Presdir dan Bu Winny saat diwawancara media lokal.
Maaf telat!
Seminggu ini suamimu membuatku tidak bisa beristirahat.
Suamimu tampan sekali Nyonya, saya harus bersusah payah mengamankannya😜😜
Love Mitha🤗🤗
Kailla menatap foto suaminya dan Winny. Ada perasaan yang sulit diungkapkan. Seminggu ini dia jarang bisa bertemu Pram, tapi perempuan ini bisa dengan leluasa bersama suaminya. Walaupun Pram sudah meminta izin dan menceritakan padanya, tapi melihat fotonya entah kenapa ada rasa tidak rela.
__ADS_1
***
Terimakasih. -abaikan antingnya si Om ya, suka lupa dia kalau antingnya belum dicopot🤭🤭