Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 157 : Aku Mencintai Suamiku Reynaldi Pratama


__ADS_3

“Dimana suamiku?” tanya Kailla.


Pieter yang terkejut karena pintu ruangannya terbuka tiba-tiba, hanya bisa diam. Otaknya sedang berpikir, harus menjawab apa pada Kailla.


Dia bisa melihat wajah Kailla yang sembab karena habis menangis.


“Kalau aku berbohong, kasihan Kailla. Tapi ini permintaan suaminya sendiri. Pram mengkhawatirkan istrinya. Tapi kalau melihat Kailla saat ini, jujur atau tetap menyembunyikannya, sama-sama akan membuat Kailla khawatir.”


“Kai... duduk dulu. Aku akan mengatakan dimana suamimu.”


“Katakan dimana suamiku?” tanya Kailla menolak untuk duduk dan mulai menangis lagi. Mengingat kata-kata Sam, airmatanya kembali mengucur.


Apa dia menikah lagi seperti kata Sam?” tanya Kailla dengan polosnya.


“Hahaha...Kai, kalau dia berani menikah lagi dan meninggalkanmu, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri,” jawab Pieter.


“Jangan...!” sahut Kailla.


“Hahahha.. kenapa tidak boleh membunuhnya?” tanya Pieter. Dia sudah ingin terbahak melihat tampang Kailla saat ini.


“Aku mencintainya. Aku mencintai Pram," ucap Kailla, masih tetap menangis.


“Ayo katakan dimana suamiku,” tanya Kailla lagi setengah memohon.


“Pram sakit. Sudah dua hari dirawat di rumah sakit.” Pieter akhirnya berkata jujur, sontak membuat tangis Kailla semakin kencang.


Pieter melihat itu, langsung menghampiri dan memeluk Kailla, mengusap lembut punggung Kailla.


“Apa dia baik-baik saja,” tanya Kailla di sela isakannya.


“Antar aku ke tempatnya sekarang. Aku mohon.” Kailla menarik lengan kemeja Pieter.


“Iya, aku akan mengantarmu ke tempatnya. Jangan menangis lagi , Pram tidak apa-apa. Ayo!” ajak Pieter, meraih tangan Kailla.


***


Begitu mobil Pieter tiba di rumah sakit, Kailla segera turun tanpa menunggu Pieter lagi. Dia berjalan masuk tidak tentu arah seperti orang kebingungan.


“Kai, lewat sini ruangan Pram,” ajak Pieter setelah melihat Kailla panik.


Tepat sudah berada di depan kamar rawat Pram, Pieter langsung meraih tangan Kailla. Menghentikan langkah Kailla yang sudah tidak sabar ingin masuk melihat suaminya.


“Jangan membuat Pram mengkhawatirkanmu. Dia sangat mencintaimu. Melihatmu seperti ini, dia akan menyalahkan dirinya sendiri,” ucap Pieter, merapikan rambut Kailla yang berantakan.


“Jangan menangis lagi, Pram baik- baik saja, dia hanya butuh istirahat.” Kali ini dia menghapus air mata yang masih berantakan di wajah Kailla.


“Dia tidak memberitahu yang sebenarnya, karena dia mengkhawatirkanmu dan bayi kalian. Dia bahkan menolak dirawat disini tadinya hanya karena tidak bisa meninggalkanmu sendirian di rumah,” jelas Pieter.


Kailla mengangguk.


“Kalau mau tetap disisinya, menjadi kuatlah. Kasihan dia berjuang untukmu sendirian selama ini. Dia tidak muda lagi.”


“Iya..,”sahut Kailla sambil mengangguk.


“Kalau memang mencintainya, tunjukkan padanya kamu memang mencintainya,” ucap Pieter lagi.


Kali ini Kailla memilih menunduk. Selama ini dia tidak pernah mengatakan terus terang pada Pram semua isi hatinya.

__ADS_1


“Aku tidak tahu, apakah kita masih punya kesempatan berbicara berdua seperti ini.” Pieter menghela nafas, sebelum melanjutkan kata-katanya lagi.


“Aku mencintaimu, Kai,” ucap Pieter pelan.


“Dari hari pertama melihatmu di depan ruang kerja suamimu. Bahkan pada saat itu, aku tidak tahu kamu istri Pram,” lanjut Pieter lagi.


“Semoga kamu bahagia bersama Pram,” ucap Pieter, mengulurkan tangannya pada Kailla.


Kailla menatap Pieter lama, sebelum akhirnya memilih memeluk laki-laki itu.


“Terimakasih Kak Pieter,” ucap Kailla setelah melepaskan pelukannya.


“Tapi aku tidak pernah mencintaimu Kak Pieter. Aku hanya mencintai suamiku, Reynaldi Pratama.” ucap Kailla.


“Dan aku juga mencintaimu, istriku Kailla Riadi Dirgantara.” ucap Pram tiba-tiba.


Dia baru saja kembali dari jalan-jalan di taman rumah sakit. Di dalam kamar seharian membuatnya bosan.


Deg—


Kailla terdiam. Dia ragu. Tapi dia mendengar suara berat Pram di dekatnya. Dia menatap Pieter, heran.


Pieter hanya tersenyum, “Dia ada di belakangmu,” ucap Pieter, sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Pram, yang sedang berdiri di belakang Kailla.


Kailla langsung menutup mulutnya, menahan malu. Dengan menunduk, dia berbalik, mencuri pandang pada Pram.


“Jangan melihatku seperti itu,” ucap Kailla, langsung memeluk erat Pram.


“Kamu berani memeluk laki-laki lain di belakangku. Hah!” ucap Pram menyentil kening Kailla.


“Aku akan memghukummu!”


“Istrimu cengeng sekali. Dari kantor sampai kesini, kerjanya hanya menangis saja. Dia mengira selama dua hari ini, kamu menikah lagi.Hahahahha!” Pieter terbahak.


“Sayang..., dia berani menggodaku,” lapor Kailla pada Pram.


“Aku malah melihatmu menggodanya. Bukannya tadi kamu memeluknya duluan,” ucap Pram.


“Pieter, tolong urus administrasi rumah sakit Aku mau pulang hari ini,”


“Baik..,” sahut Pieter.


***


Sayang, kamu sakit apa?” tanya Kailla saat mereka sudah berada di dalam kamar rawat Pram.


Hanya kecapekan saja. Tapi sekarang, kepalaku masih sakit. Hanya tidak separah awal masuk rumah sakit.” jelas Pram.


“Kamu sudah sarapan?” tanya Pram.


“Aku tidak lapar. Aku masih kenyang,” jawab Kailla. Memilih duduk di sofa bed sambil meluruskan kaki dan memijatnya.


“Kenapa, kamu capek?”


“Sedikit...” Kailla menjawab singkat.


“Kemarilah! Tidur bersamaku disini,” ajak Pram, menepuk sisi ranjangnya yang masih kosong.

__ADS_1


“Tapi di situ sempit Sayang,” tolak Kailla.


“Bukannya bagus, jadi kita bisa berpelukan supaya tidak terjatuh. Ayo, kemari!” ajak Pram.


Dengan ragu-ragu, Kailla menghampiri Pram. Naik diatas ranjang rumah sakit, dan berbagi tempat dengan suaminya.


“Apakah kamu merindukanku dua hari ini?” tanya Pram. Membawa Kailla ke dalam pelukannya.


Kailla mengangguk dengan malu-malu, menelusup wajah meronanya ke dalam dada Pram.


“Kamu bisa tidur nyenyak?” tanya Pram.


“Tidak, aku tidak bisa tidur,” adu Kailla.


“Aku juga sama. Kenapa tidak mau menerima panggikan teleponku,” tanya Pram.


“Kita kan bisa mengobrol sampai tertidur seharusnya,” lanjut Pram lagi.


“Kemarin itu, aku sedang kesal padamu. Karena kamu beralasan lembur lagi,” oceh Kailla.


“Dan kamu menangis semalaman? Sekarang masih kesal padaku?” tanya Pram.


“Tidak lagi,” jawab Kailla singkat.


“Apakah karena sudah mencintaiku?” tanya Pram menggoda Kailla.


Buk!Buk!


Dua pukulan mendarat di dada Pram. “Jangan menggodaku!” ucap Kailla kesal.


“Kamu curang Nyonya! Kamu mengatakan kepada semua orang, kalau kamu mencintaiku. Tapi kenapa tidak mau mengatakannya padaku. Untung tadi aku sempat mendengarnya,” gerutu Pram.


Pram langsung menggulingkan tubuh Kailla, mengunci tubuh mungil itu di bawah tubuhnya. Tanpa permisi, ******* bibir istrinya.


“Kai, sudah berapa hari aku tidak bertamu ke tempat anakku?” tanya Pram setelah melepas lum*tannya.


“Aku merindukannya, bisik Pram di telinga Kailla.


Tangan Pram sudah bergerilya kemana-mana. Membelai kulit tubuh istrinya, berharap perlakuannya akan membuat Kailla melayang. Bibirnya pun sudah mengecup leher Kailla, memberi tanda kepemilikannya.


“Sayang, pintunya tidak dkunci,” ucap Kailla mengingatkan Pram.


Pram langsung bergegas turun, mengunci pintu kamar dan buru-buru kembali naik ke atas ranjang.


“Kita belum pernah mencobanya disini,” bisik Pram pelan.


Kailla mengangguk, tapi...


Baru saja tangan Pram menelusup masuk ke dalam pakaiannya. Kailla langsung teringat sesuatu.


“Sayang, maaf.. aku baru ingat. Aku sedang haid,” tolak Kailla begitu mengingat bercak darah di celana dalamnya tadi pagi. Kata-kata Kailla langsung mengejutkan Pram. Seketika Pram menghentikan kegiatannya. Dia menatap Kailla, mencari maksud dari perkataan istrinya barusan.


"Apa maksudmu Kai?" tanya Pram bingung. Istrinya sedang hamil, bagaimana bisa mendapatkan haid.


Lama dia berusaha mencerna kata-kata Kailla, sampai akhirnya dia bisa menangkap ada sesuatu yang tidak beres pada istrinya.


"Kamu pendarahan? Atau bagaimana maksudmu Kai?" tanya Pram mulai panik. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada kandungan Kailla.

__ADS_1


***


Terimakasih.


__ADS_2