Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 200. Daddy Ikhlas


__ADS_3

Air mata terus mengalir deras di wajah cantiknya, sederas darah yang merembes turun melewati kedua kakinya.


“Sa ... yang ... bangun!” panggilnya terisak.


Tangannya gemetar, berlumuran darah menguncang tubuh suaminya yang masih terlelap. Tangisnya pecah setelah berusaha sekuat tenaga memanggil Pram.


“Sayang!” jerit Kailla dengan sekuat tenaga. Jeritan memilukan sambil terisak.


“Kai, kamu kenapa?” tanya Pram terkejut mendengar teriakan Kailla, yang saat ini sudah berdiri di sampingnya dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir deras.


Kaila tidak menjawab, tetapi menunjukkan kedua tangannya yang bergetar penuh dengan noda darah.


“Sayang ... kamu kenapa, Sayang?” tanya Pram mulai panik. Segera bangkit dan mendapati Kailla yang berdiri hanya mengenakan atasan. Dari pangkal pahanya mengalir darah melewati kedua kakinya menuju ke lantai.


Pram terkejut. Panik dan tidak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menatap Kailla yang terlihat menyedihkan saat ini dengan tubuh gemetaran, menangis dan penuh noda darah di kedua tangan.


Terlihat Pram mengatur napasnya berkali-kali, sebelum akhirnya berlari mencari pembalut. Istrinya sudah hilang akal, tidak bisa berpikir lagi.


“Kai, pembalutmu diletakkan di mana?” tanyanya berusaha membongkar semua laci milik Kailla. Membongkar dan mengeluarkan isinya.


“Sayang ...." panggil Pram lagi. Berusaha menyadarkan Kailla.


Tidak ada jawaban, Kailla hanya menggeleng. Pram yang panik berlari turun ke lantai bawah memanggil para asisten. Teriakannya menggelegar, mengejutkan seisi rumah. Sam yang pertama kali muncul di hadapan Pram, masih dengan wajah bantal lengkap dengan kain sarung bermotif kotak keluaran Gajah duduk.


“Kita ke rumah sakit, Kailla pendarahan,” perintah Pram, membuat Sam ikut-ikutan panik.


Sam langsung berlari tunggang-langgang, mencari kunci mobil dan menyalakannya. Ia lupa dengan sandalnya, lupa dengan pakaiannya yang hanya mengenakan singlet dan kain sarung.


Tak lama, Pram muncul menggendong Kailla yang sudah mengenakan celana tidurnya kembali. Pram hanya sempat menyambar jaket hitamnya saja.


Di mobil Pram terus-terusan memeluk Kailla, tidak membiarkan istrinya menjadi lemah.


“Tidak apa-apa, jangan khawatir,” ucap Pram, berusaha menenangkan Kailla yang diam seribu bahasa.


“Jangan menangis lagi. Pasti baik-baik saja,” ucapnya lagi.


Terlihat tangan Pram mengusap perut Kailla terus menerus, berbisik pelan disana.


“Nak, ini Daddy. Kamu baik-baik saja, kan?” ucap Pram sambil menahan tangis.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Pram saat ini. Takut, panik dan ingin menangis. Perasaannya tidak jauh berbeda dengan Kailla. Hanya saja, ia berusaha menguatkan hatinya dan tidak terlihat lemah di hadapan Kailla, yang membutuhkan dukungannya saat ini.


“Sayang ...." panggil Pram memeluk erat istrinya, mengecup seluruh wajah Kailla.


“Sayang, aku takut,” bisik Kailla. Baru sekarang terdengar suaranya. Sejak tadi ia memilih diam.


“Tidak apa-apa. Semua pasti baik-baik saja. Berdoa, Sayang. Anak kita pasti kuat,” ucap Pram menguatkan Kailla.


“Aku takut,” ucap Kailla terisak.


***


Sampai di rumah sakit, Kailla langsung masuk ke ruang IGD dan ditangani oleh seorang dokter jaga dan perawat.

__ADS_1


“Ada apa, Pak?” tanya dokter.


“Istriku tiba-tiba pendarahan,” jawab Pram, meremas kedua tangannya. Ia sudah tidak sanggup menatap Kailla yang melemas terbaring di atas brankar rumah sakit.


Terlihat dokter itu melakukan pemeriksaan. Kailla yang biasanya sering protes, sekarang tidak banyak bicara. Hanya diam dan pasrah.


“Pak, saya akan menghubungi dokter obgyn. Mohon menunggu,” jelas sang dokter jaga.


Pram hanya mengangguk.


Tak lama, ia juga membantu Kailla mengenakan pembalut, kemudian mengecek tensi darah Kailla yang sedang berbaring di brankar.


“Nyonya tiduran saja, ya. Kondisi seperti ini harus bedrest,” jelas sang perawat, setelah merapikan semuanya


“Tensinya sedikit rendah, tetapi masih baik. Tunggu sebentar ya, Pak. Nanti dokter akan ke sini,” lanjut sang perawat.


“Tidak apa-apa, Sayang. Semua pasti baik-baik saja,” hibur Pram, memeluk erat istrinya.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Kai?” tanya Pram, menarik kursi. Duduk di samping brankar, sembari menggengam erat tangan Kailla.


Kailla menggeleng. “Aku tidak tahu, Sayang,” sahut Kailla, berurai air mata.


“Tiba-tiba bangun, perut ku sudah tidak enak. Berasa ada cairan yang keluar,” sahut Kailla.


“Sekarang masih sakit?” tanya Pram lagi.


“Sedikit ... bukannya yang sakit sekali.”


“Tidak apa-apa. Anakku pasti kuat di sini,” ucap Pram, mengelus kembali perut Kailla.


“Sakit, Sayang,” keluh Kailla meringis.


“Sayang, dokternya masih lama?” tanya Kailla, suaranya makin melemah, air matanya semakin mengalir deras.


“Sayang, kenapa? Sakit lagi perutnya?” tanya Pram lembut, masih berusaha menenangkan istrinya.


Kailla mengangguk.


“Tunggu sebentar, aku bertanya ke perawat dulu,” sahut Pram.


“Sayang, jangan pergi jauh-jauh,” pinta Kailla dengan manjanya, tidak mau melepas tangan Pram sama sekali.


“Ya, aku mau bertanya pada perawat di depan,” sahut Pram tersenyum.


Tak lama, ia sudah kembali. "Sebentar, Kai. Dokter SpOG yang biasa menanganimu sedang menuju ke sini,” jelas Pram menenangkan.


Pram cukup tahu diri, saat ini tengah malam. Pasti hanya ada dokter jaga yang bertugas di rumah sakit.


“Sayang, kenapa?” tanya Pram, kembali menarik kursi mendekati brankar. Melihat Kailla yang meringkuk dan meremas perutnya.


“Sakit, Sayang ... sakitnya semakin terasa,” jawab Kailla, meraih tangan Pram dan menuntun tangan suaminya supaya mengelus perutnya.


“Iya, sabar ya.” Hati Pram teriris, melihat bibir Kailla yang pucat, air mata mengalir terus menerus. Belum lagi tangan istrinya yang mendingin. Entah karena takut atau menahan tangisnya. Sesekali Kailla meringis.

__ADS_1


“Semua akan baik-baik saja,” ucap Pram lembut. Ia meletakkan kepalanya di atas brankar tepat di perut Kailla. Tangannya terus-menerus mengusap di sana, berbisik dan berbicara pelan pada anaknya.


Entah sudah berapa lama menunggu, rasanya waktu berjalan lambat sekali. Perut Kailla terasa semakin melilit dan sakit. Sakit yang susah diungkapkan, antara mulas dan nyeri menyatu. Bibirnya pun semakin memucat.


“Sayang, aku mau ke toilet,” pinta Kailla, merasakan perutnya yang semakin tidak bisa diajak kompromi.


“Perutku semakin tidak karuan,” pinta Kailla lemah.


“Sebentar,” ucap Pram. Dengan meyisipkan satu tangan di bawah kedua lutut Kailla, tangan satunya menahan punggung istrinya, Pram memilih menggendong Kailla dan membawanya ke toilet.


“Sayang, kamu boleh keluar,” pinta Kailla. Rasanya seperti BAB dan tidak mungkin ia meminta Pram menunggunya di dalam toilet.


“Aku menunggu di luar. Pintu toiletnya jangan di kunci,” pinta Pram, tidak tenang.


Beberapa menit menunggu di luar, terdengar teriakan bercampur tangisan dari dalam toilet. Pram panik, menerjang masuk ke dalam. Jeritan itu memilukan, Pram mengkhawatirkan Kailla. Tampak perawat juga mengekor di belakang Pram setelah ikut mendengar suara Kailla yang menjerit histeris.


Pemandangan yang pertama dilihat Pram dan seumur hidup tidak mungkin dilupakannya.


Kailla berdiri gemetar, dengan darah memenuhi lantai toilet. Darah merah bercampur darah yang menghitam. Yang membuat Pram terkejut, disana juga ada sepotong daging bercampur darah dengan ukuran tidak terlalu besar di dekat kaki Kailla berdiri.


Seketika amis darah menyeruak masuk di penciuman Pram, dia harus menenangkan istrinya yang saat ini berdiri dengan wajah ketakutan hanya mengenakan atasan saja.


“Ibu sepertinya keguguran,” ucap perawat panik, berlari keluar memanggil dokter.


Pram harus bersusah payah melangkah masuk ke toilet, supaya tidak menginjak darah yang memenuhi lantai. Dengan sigap, Pram meraih tisu, membersihkan kedua kaki dan ************ Kailla yang masih terkena noda darah lalu membantu istrinya mengenakan celananya lagi.


Pram harus menggendongnya kembali, Kailla sudah tidak bisa berjalan apalagi bersuara. Hanya menangis dan memeluk perutnya yang sudah tidak terlalu sakit.


Tepat saat menurunkan Kailla di atas brankar, perawat masuk bersama dokter SpOg yang kemarin dulu mereka temui.


“Maaf Pak terlambat. Rumah saya lumayan jauh dari rumah sakit,” ucapnya berusaha tersenyum. Sang dokter sudah melihat sekilas kondisi lantai kamar mandi.


“Tidak apa-apa. Saya akan memeriksa Ibu sebentar, ya,” ucap sang dokter menenangkan Kailla.


“Iya ....” sahut Pram menggengam erat tangan Kailla yang masih saja menangis tanpa suara.


Pram juga merasakan perasaan yang sama. Dia cukup jelas apa yang sudah mereka alami beberapa menit yang lalu. Dan dia tidak mungkin menangis di hadapan Kailla. Dia harus tegar untuk menenangkan istrinya. Ini duka mereka bersama. Yang pergi adalah buah hati mereka berdua.


Perawat terlihat memanggil seorang helper untuk membantu membersihkan lantai toilet, tetapi baru saja sang helper akan melangkah masuk, Pram sudah menahannya.


“Pak, tolong izinkan saya yang membersihkannya,” pinta Pram.


“Sayang, aku ke toilet sebentar,” pamit Pram, mengecup kening Kailla, berusaha menenangkan istrinya yang baru saja mengalami peristiwa mengerikan di dalam hidupnya.


Sampai di dalam toilet, Pram menutup pintu toilet. Dan disitu ia menangis, tanpa suara. Pram bisa melihat dengan jelas buah hati mereka yang sudah tiada. Tanpa merasa jijik, ia membersihkan dan menyiramnya dengan air. Lantai yang tadinya memerah, sudah kembali seperti semula.


Hanya tersisa, sesuatu yang Pram yakin itu adalah bayinya. Tangannya gemetar mengangkat potongan yang masih berbau amis darah, berwarna putih keabu-abuan. Seperti ada urat kebiruan di dalamnya, tidak berbentuk, tetapi Pram yakin itu calon anak mereka yang sudah tiada.


“Maafkan Daddy tidak bisa menjagamu,” isak Pram pelan, menangis. Ia sudah berusaha tidak menangis, tetapi air matanya tetap keluar.


“Daddy ikhlas. Terima kasih sudah mengisi hari-hari kami selama tiga bulan ini.” Pram berbisik lirih.


***

__ADS_1


Terima kasih. Love you all.


__ADS_2