Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 79: Kita Selesaikan Dulu


__ADS_3

“Sam membuangnya tadi.” Kailla menjawab santai.


Mendengar jawaban Kailla, kemarahan Pram pada Sam yang tadi sempat mereda kembali memuncak.


“SAM!!!


Pram segera keluar dari kamarnya dengan wajah kesal. Karena terburu-buru, dia sempat kesusahan membuka pintu kamar yang sebelumnya dikunci Kailla dari dalam.


“Arrrhhhhhggg!” geramnya. Bukannya apa-apa, dia menyimpan semua dokumen keberangkatan mereka besok, di dalam koper tersebut.


Begitu pintu kamar terbuka, Pram langsung berlari menuruni tangga, sambil terus meneriakan nama Sam hampir di semua ruangan namun tidak mendapat jawaban sama sekali. Beruntung dia berpapasan dengan Bu Sari di ruang keluarga.


“Bu, lihat Sam?” tanya Pram masih dengan wajah kesalnya.


“Tadi ada di dekat kolam ikan belakang Pak. Katanya mau jagain tangga,” sahut Bu Sari. Bergegas Pram menuju ke kolam ikan yang di maksud.


“Ada apa lagi ini?” bisik Bu Sari keheranan.


***


Kailla masih berbaring di kamar, sepeninggalan Pram. Tapi tiba-tiba dia bangkit duduk.


“Oh my God!” serunya sambil menutup mulut. Dia masih mengingat jelas kemarahan Pram saat keluar kamar begitu mendengar Sam telah membuang koper miliknya.


“Bagaimana kalau di dalam koper itu ada dokumen perusahaan atau dokumen penting lainnya?” Kailla berkata lirih. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia takut Pram akan memarahinya juga, kalau sampai Sam benar-benar melakukan apa yang diperintahkannya beberapa jam yang lalu.


Mengingat itu, Kailla langsung bangun dari tidurnya, ikut berlari turun kebawah menyusul suaminya. Bagaimana pun dia harus menyelamatkan Sam dan dirinya sendiri.


***


Sam dan Bayu masih berdiri di samping tangga sembari mengobrol. Sesekali Sam menatap ke atas memastikan Pram sudah mau turun atau belum. Bagaimana pun dia tidak ingin mengecewakan majikannya itu lagi. Makanya sedari tadi dia memilih tidak beranjak sedikitpun dari tangga. Dia khawatir kalau Pram turun dan tidak melihatnya di bawah, dianggap tidak becus bekerja.


“Sam, ayo ke pos! Ngapain juga disini panas-panasan,” ajak Bayu menarik tangan Sam.


“Kamu saja Bay. Aku masih harus nungguin Pak Pram,” tolak Sam. Kepalanya mendongak ke atas, memastikan keberadaan Pram di balkon kamar Kailla.


“Astaga Sam! Sadar dong!” Bayu terlihat menepuk keras pundak Sam. “Pak Pram tidak akan tu....” Bayu tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, Sam sudah menyela kata-katanya terlebih dulu.

__ADS_1


“Kamu tidak di posisiku Bay. Kalau sampai aku mengecewakan Pak Pram lagi, aku yakin pasti dipecat kali ini,” terang Sam. Pandangannya sayu, menatap kolam ikan koi didepannya.


“Bodoh ah! Nih anak udah terlalu sering dapat tekanan dari Non Kailla, jadi kerja otaknya sudah melambat. Orang **** aja tahu kalau Pak Pram tidak mungkin turun lewat sini. Ngapain coba. Emang dikira Pak Pram lagi benerin genteng apa di atas.” ucap Bayu dalam hati sembari menggelengkan kepalanya menatap ke arah Sam.


“Ya sudah, aku kesana dulu!” pamit Bayu.


Baru saja dia akan beranjak, dari arah belakang mereka terdengar langkah kaki. Begitu Bayu membalikan badannya, tampak majikan mereka sedang berjalan menuju ke arah mereka dengan mata memerah, raut wajah penuh kekesalan. Melihat ekspresi Pram, Bayu yakin sebentar lagi akan terjadi sesuatu ditempat ini. Bergegas dia pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan Sam menyelesaikan masalahnya sendiri.


“SAM!” panggil Pram setengah berteriak.


Mendengar namanya dipanggil sontak Sam mendongak ke atas, memastikan keberadaan Pram.


“Aneh! Tidak ada siapa-siapa! Jelas-jelas itu suara Pak Pram yang memanggilnya. Tapi kok tidak ada orangnya.” Sam berkata pelan. “Apa sebaiknya aku cek saja ke atas,” lanjutnya lagi.


Baru saja dia akan menaikkan kakinya ke pijakan tangga, kembali Pram meneriakinya.


“SAM!!” panggil Pram masih dengan emosi. Saat ini dia sudah berdiri tepat di belakang Sam.


Mendengar suara Pram dari belakang, segera dia membalikan badannya. Jantungnya langsung berdetak kencang melihat kemarahan yang tercetak jelas di wajah majikannya saat ini.


“Pak.. Pram, bagaimana bisa disini? Saya dari tadi menunggu di...” Sam tidak dapat melanjutkan kata-katanya, dia langsung tersadar.


Melihat Sam yang terpaku diam di hadapannya, semakin memancing emosi Pram saat ini. Ditambah mengingat kata-kata Kailla, kalau Sam sudah membuang kopernya.


“Kamu buang di mana koperku?” tanya Pram menatap tajam ke arah Sam. Mata Pram saat ini sungguh menakutkan, seolah akan menelan Sam bulat-bulat.


Mendengar pertanyaan Pram, hatinya sedikit lega. Beruntung tadi dia tidak jadi membuangnya seperti perintah Kailla.


“Itu aku letakkan di....”


Brukkk!!


Kailla tiba-tiba datang memeluk erat Pram dari belakang. Jari-jari tangannya yang lentik saling menaut di perut rata suaminya itu.


“Sayang...” panggil Kailla lembut masih memeluk erat Pram. Menempelkan tubuhnya dengan tubuh belakang Pram dan menyandarkan kepalanya di punggung kokoh suaminya.


Merasakan perubahan sikap Kailla, Pram tersenyum kecut. Bukannya dia tidak mengenal Kailla. Pasti istrinya itu sudah melakukan kesalahan. Kailla tidak akan memanggilnya sayang dan memeluknya tiba tiba seperti ini kalau tanpa alasan.

__ADS_1


Melihat Pram yang masih mematung tidak merespon dirinya, segera Kailla memberi kode kepada Sam agar meninggalkan tempat itu secepatnya. Hanya ini yang bisa dilakukannya untuk lolos dari amarah Pram. Bagaimanapun dia harus menyelamatkan Sam dan dirinya sendiri saat ini. Dengan secepat kilat dia berpindah ke depan, berdiri tepat di hadapan Pram dan dengan berjinjit dia mengalungkan kedua tangannya di leher Pram. Bergelayut manja pada suaminya sambil tersenyum manis.


Pram menatap Kailla keheranan. Makin kesini, dia semakin yakin ada yang tidak beres dengan istrinya. Dengan sigap Pram merengkuh pinggang ramping Kailla, mengunci tubuh mungil istrinya itu dengan kedua tangannya, sehingga bisa dipastikan saat ini Kailla tidak bisa kemana-mana lagi.


“Sam dimana koperku?” Pram mengulang pertanyaannya karena Sam tak kunjung menjawab. Matanya masih menatap penuh damba pada istrinya.


Mendengar pertanyaan Pram, sontak Kailla terkejut. Buru-buru dia mengecup lembut bibir Pram.


“Sayang, kita ke kamar yuk,” bujuk Kailla lembut, jari-jarinya sekarang sedang memainkan kancing-kancing kemeja Pram yang sudah terbuka di bagian atasnya.


Mata Pram melotot mendengar kata-kata rayuan Kailla. Dia sudah akan tertawa mendengar kata-kata Kailla barusan. Tapi bagaimana pun, dia harus menyelesaikan urusannya dengan Sam dulu, baru mengerjai istrinya itu.


“Sam?” Pram memanggil sekali lagi, siap menunggu jawaban dari asisten istrinya itu.


“Kopernya saya letakkan di kamar lama Pak Pram.” Sam menjawab dengan lancar.


Mendengar jawaban Sam, Kailla langsung tersenyum. Buru-buru dia mendorong tubuh kekar Pram agar menjauh darinya. Tapi Pram sudah hafal dengan kelakuan istri kecilnya itu, sebelum Kailla mendorongnya, dia sudah bersiap. Dorongan kecil Kailla tidak membuat perubahan apapun. Dia tetap leluasa merengkuh tubuh istrinya.


“Sam, kamu boleh pergi sekarang!” perintah Pram sambil tersenyum menatap Kailla. “Aku masih ada urusan dengan istriku.”


Baru saja Sam akan melangkah, tiba-tiba Pram sudah berkata lagi.


“Sam, pastikan tidak ada seorang pun yang datang kesini, sebelum aku selesai dengan istriku!” ucap Pram. Matanya masih menatap lekat Kailla yang saat ini sedang berontak di dalam pelukannya.


“Om, tolong lepasin aku!” pinta Kailla. Masih berusaha melepaskan diri dari tangan Pram yang membelit erat pinggangnya.


“Sayang... panggil sayang seperti tadi,” pinta Pram tersenyum menggoda Kailla yang sekarang wajahnya memerah seperti kepiting rebus menahan malu.


“Tidak mau!” tolak Kailla. Dia masih saja meronta, berusaha melepaskan diri dari Pram.


Pram tersenyum licik. “Ayo Kai, kamu sendiri yang memulainya. Kamu sendiri yang datang memelukku duluan.”


“Aku tidak mau Om, lepasin aku,” Kali ini Kailla mendorong dan memukul keras dada bidang Pram.


“Kita selesaikan dulu, baru aku akan melepaskanmu!” ucap Pram tersenyum menatap Kailla.


***

__ADS_1


Terimakasih dukungannya. Love you all


__ADS_2