Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 188. Mengerjai Pram


__ADS_3

“Lalu kenapa tadi istri kecilku menangis?” tanya Pram tiba-tiba.


Kailla langsung terkejut, raut wajahnya berubah seketika. Ia baru teringat kalau tadi ia sedang berakting untuk mengerjai Pram. Tangannya langsung mendorong kasar tubuh Pram, menjauh darinya. Kemudian, ia melanjutkan aktingnya.


“Pergi, aku tidak mau dekat-dekat denganmu lagi!” ucap Kailla, berusaha mengeluarkan air mata buayanya kembali.


“Kamu sengaja, kan? Memintaku tidak ikut denganmu ke Bali, supaya kamu bisa bersenang-senang dengan wanitamu. Hik ... hik ... hik ....” Isak tangis Kailla terdengar kembali.


Pram heran, melihat perubahan Kailla yang tiba-tiba. Baru saja istrinya menjadi begitu penurut, tetapi sekarang kenapa tiba-tiba menangis tanpa sebab.


“Maksudmu apa, Kai?” tanya Pram, masih belum mengerti arah pembicaraan istrinya.


Kailla tampak berpikir. Ia ragu menunjukkan foto yang diambilnya tadi. Ia harus benar-benar mendramatisir keadaan terlebih dulu sampai suaminya yakin. Barulah ia bisa menunjukkan foto itu sebagai penunjang sandiwaranya.


Tangisnya kembali terdengar, dengan susah payah ia harus mengeluarkan air matanya kembali. Tadi sebenarnya situasi sudah mengalir, tetapi tiba-tiba Pram mencari pakaiannya dan membuat ia harus memulainya dari awal lagi.


“Aku tidak mau bicara denganmu lagi! Aku mau tidur!”ucap Kailla, bergegas menuju ke ranjang. Ia sengaja berbaring telungkup di sana, sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


“Kai, ada apa? Wanita mana yang kamu maksud?” tanya Pram ikut duduk di ranjang, berusaha mencari tahu.


“Aku membencimu.” Samar-samar terdengar suara Kailla yang tertutup bantal.


“Ya, katakan dulu masalahnya padaku,” bujuk Pram. Meraih tangan istrinya supaya mau menatapnya.


“Kai, kamu kenapa?” tanya Pram lagi. Ia sudah mulai panik, saat melihat Kailla mencari-cari selimut. Ia sudah sangat hafal dengan kebiasaan istrinya saat marah padanya.


“Tidak, katakan padaku apa masalahmu,” ucap Pram, mencekal tangan Kailla yang sedang menggapai ujung selimut.


“Baiklah! Aku akan menunjukkan padamu,” ucap Kailla dengan wajah dibuat sekesal mungkin.


Tangan Kailla sedang meraih ponsel di kantongnya dan menunjukkan foto yang diambilnya tadi ke depan wajah Pram.


“Hah! Apa itu? Siapa itu?” tanya Pram kaget. Matanya melotot, jantungnya hampir copot saat mengenali laki-laki di foto itu adalah dirinya yang sedang berduaan dengan perempuan yang tidak dikenalnya dengan pakaian kurang bahan.


“Kai, itu bukan aku,” tolak Pram menggelengkan kepala.


“Itu bukan aku, Sayang!” Pram menolak mengakui.


“Bagaimana bukan kamu. Coba kamu perhatikan lagi!” Kailla kembali menunjukkan ponsel berisi foto-foto itu ke depan mata Pram.


Pram masih tidak bisa menerima kenyataan. Terlihat, ia menatap sekeliling. Melihat lokasinya memang foto itu diambil di kamar ini, tetapi bagaimana bisa sampai ia tidak menyadari ada seorang perempuan jadi-jadian masuk ke kamar dan menempel padanya.


Pram bergidik saat melihat salah satu foto di mana ia menyentuh gundukan dada perempuan itu


“Kai, aku sungguh tidak tahu apa-apa. Aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa,” ucap Pram tegas, berusaha meyakinkan istrinya. Wajahnya masih menunjukkan rasa tidak percaya. Bagaimana bisa ia tidak tahu, ada perempuan masuk ke dalam kamarnya.


“Kamu masih mau menyangkal? Bukti sudah di depan mata!” gerutu Kailla, pura-pura marah.


Kailla sudah ingin tertawa, melihat wajah suaminya saat ini.


“Kai ... dengar. Aku tidak ... aku tidak ....” Pram tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia meremas kasar rambutnya, tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana ia menjelaskan kepada istrinya yang sifatnya beda dengan istri-istri lain. Kailla tidak akan mau mendengarkan penjelasannya.


“Kai, aku benar-benar tidak tahu apa-apa," ucap Pram, mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Menatap istrinya yang sedang melotot padanya.


“Aku tidak mau bicara padamu!” ucap Kailla, melipat tangan di dadanya.

__ADS_1


“Aku tidak percaya padamu lagi!” lanjut Kailla, ketus.


“Aku akan meninggalkanmu ...."


“Ti ... tidak! Itu bukan aku. Semuanya cuma salah paham, Sayang,” potong Pram. Ia harus menyelamatkan dirinya sendiri dengan segala cara.


“Ayolah, Kai. Aku tidak berbuat macam-macam selama di sini. Aku bersumpah,” jelas Pram dengan sungguh-sungguh.


“Ayo mana fotonya. Aku melihatnya lebih jelas lagi,” pinta Pram menyodorkan tangannya ke hadapan Kailla.


“Tidak! Kamu pasti mau menghapusnya. Supaya aku tidak memiliki bukti perselingkuhanmu lagi,” tolak Kailla dengan wajah cemberut. Kailla yakin, seandainya Pram melihat lebih teliti lagi, semua dramanya akan berakhir.


“Ayolah, Kai. Bagaimana aku bisa menjelaskan padamu. Kemarikan ponselmu, aku akan melihatnya lebih jelas lagi,” pinta Pram, setengah memohon.


“Tidak!” tolak Kailla. Ia memilih duduk di ranjang, tidak mau menatap Pram.


“Ayolah, Kai. Aku mohon jangan seperti ini. Aku bersumpah, aku tidak tahu apa-apa mengenai foto itu,” ucap Pram, dengan wajah memelas.


“Tidak! Aku tidak menerima permintaan maaf!” tolak Kailla, menunduk. Ia sedang berusaha menahan tawanya saat ini. Wajah suaminya benar-benar menyedihkan saat ini.


“Kai, dengarkan aku. Aku tidak melakukannya. Aku tidak mengenalnya,” jelas Pram. Berlutut di depan Kailla, sambil menggengam kedua tangan istrinya.


“Aku tidak mau tahu!” ucap Kailla ketus, menghempas kedua tangan Pram.


“Aku tidak mau kamu menyentuhku. Tanganmu itu sudah bekas menyentuh tubuh perempuan lain. Aku melihatnya sendiri di foto,” ucap Kailla.


“Aku tidak tahu apa-apa, Kai,” jelas Pram, memohon.


“Dari mana kamu mendapatkan foto-foto itu, Kai?” tanya Pram, berusaha melunakkan hati istrinya.


“Kai ... ayolah, aku minta maaf.” ucap Pram, mengecup kedua tangan Kailla.


“Berarti kamu mengakui? Kenapa kamu minta maaf?" tanya Kailla, menatap tajam ke arah Pram dan mulai curiga.


“Mengakui apa?” tanya Pram bingung.


“Mengakui ada perempuan lain yang bersamamu selama di Bali,” tanya Kailla serius.


“Tidak ada, Sayang. Tidak ada siapa-siapa,” sahut Pram.


Pram menghela napas kasar.


“Aku bersumpah, Kai, aku tidak tahu apa-apa,” ucap Pram. Baru saja ia akan beranjak, tetapi ia mengingat sesuatu. Ia harus memastikannya lagi.


“Kemarikan ponselmu, Kai. Aku akan memeriksa siapa perempuan itu. Kalau tidak yakin, aku akan melaporkannya ke polisi!” perintah Pram. Mengulurkan tangannya, meminta Kailla menyerahkannya sendiri.


“Tidak mau!” tolak Kailla. Mendengar suara Pram saat ini, Kailla sudah ketar-ketir.


“Kai, mana ponselmu,” pinta Pram lagi. Kali ini ia serius. Melihat penolakan Kailla, Pram semakin curiga ada yang tidak beres dengan istrinya.


“Berikan ponselmu sekarang atau aku blokir semua kartu kreditmu, Kai,” gertak Pram setelah melihat Kailla tetap tidak mau menyerahkan ponselnya.


Kailla tersentak saat mendengar kata-kata Pram. Dengan terpaksa, ia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya dan menyerahkan kepada Pram.


“Aduh! Aku lupa tadi bertanya di mana kamar Sam. Aku harus meminta bantuannya. Biasanya otak Sam paling lancar di saat terjepit seperti ini,” batin Kailla.

__ADS_1


Melihat Pram yang sedang serius memandang foto-foto di ponselnya, Kailla berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar. Ia harus menyelamatkan dirinya sendiri saat ini. Namun, baru saja ia akan menarik gagang pintu, Pram sudah berteriak kencang, memanggil namanya.


“KAILLA! SINI KAMU!!” panggil Pram berkacak pinggang menatap tajam ke arah istrinya yang bersiap kabur setelah membuat kekacauan.


Perlahan Kailla berbalik, menatap Pram dengan ragu-ragu.


“Ya ... Sayang,” jawab Kailla pelan.


“Mau ke mana kamu?” tanya Pram.


“Mau mene ... mui Sam ...." jawab Kailla sambil mengarahkan telunjuknya ke pintu kamar.


“Kemari!” panggil Pram memberi kode dengan tangannya supaya Kailla mendekat.


“Aku tidak mau. Kamu pasti mau memarahiku,” tolak Kailla.


“Aduh! Perutku sakit, Sayang,” ucap Kailla beralasan, meremas perutnya sendiri.


“Kamu jangan banyak alasan,” ucap Pram, bergegas menghampiri Kailla dan menyeretnya tempat tidur.


“Ahh!” teriak Kailla, saat Pram mendorongnya ke tempat tidur.


“Keterlaluan kamu, Kai. Kamu mengerjaiku, hah? Aku akan menerkammu sekarang!” omel Pram.


Tidak ... tidak! Aku cuma bercanda, Sayang,” ucap Kailla, menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Lepas pakaianmu sekarang!” perintah Pram.


“Aku tidak mau!” tolak Kailla. Ia sudah siap turun dari ranjang, tetapi Pram sudah mencekalnya.


“Kamu mau ke mana?” tanya Pram tersenyum licik.


Kailla menggeleng sambil tertawa. “Aku tidak mau main lagi. Aku sudah lelah, Sayang,” pinta Kailla, masih saja tertawa.


“Enak saja! Kamu mengerjaiku sedari tadi. Sekarang giliranku.”


“Ayo, aku mau melihatmu memakai lingerie seperti di foto ini,” pinta Pram, menunjukkan ponsel yang memperlihatkan foto yang diambil Kailla.


“Lain kali sebelum mengambil foto, cincin nikahnya dilepas dulu, Non,” jelas Pram, menempelkan keningnya pada kening Kailla.


Pram sudah membantu Kailla melepas pakaian, matanya membulat saat melihat istrinya begitu cantik dengan lingerie merah menyala.


“Cantik!” bisik Pram di telinga Kailla. Pram sudah mengigit kecil telinga Kailla, kedua tangannya pun sudah meremas gundukan kembar yang menggodanya sedari tadi.


“Ini sedikit lebih besar dari biasanya, Sayang,” bisik Pram, menggoda istrinya yang sedang merona malu.


“Ah, jangan menggodaku lagi,” ucap Kailla, kedua tangannya sudah memeluk erat leher Pram yang sedang berada di atasnya.


“Aku mencintaimu, Nyonya. Jangan mengerjaiku lagi. Aku tidak mungkin mengkhianatimu. Pegang kata-kataku. Tidak akan ada seorang pun yang bisa membuatku meninggalkanmu,” ucap Pram.


Kailla mengangguk. “Aku juga mencintaimu, Tuan.”


***


__ADS_1


__ADS_2