Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 65 : Aku Yang Akan Menceraikannya!


__ADS_3

Baru saja Pram bermaksud duduk di sofa sambil menunggu Ibu Anita menghubungi putrinya, tiba-tiba ponsel di sakunya berdering kembali. Kali ini Bayu yang menghubunginya,


“Iya Bay?” ucap Pram begitu ponselnya menempel di telinganya.


“Bos, Hotel xxxx, kamar No 304. Saya dan beberapa anak buah sudah dalam perjalanan ke lokasi!” ucap Bayu.


“Oke saya segera kesana, Bay!” sahut Pram langsung berlari keluar dari rumah Anita tanpa berpamitan lagi. Segera dia melajukan mobilnya menuju alamat yang disebutkan Bayu.


Ibu Anita yang sedang menghubungi Anita langsung terkaget-kaget melihat Pram yang langsung pergi tanpa pamit padanya.


Pram melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, bahkan ketika mobilnya harus melewati jalanan macet dia menekan tombol klakson tanpa jeda membuat kesal pemakai jalan lainnya. Saat ini perasaaan Pram campur aduk, rasanya dia sudah ingin tiba secepatnya di lokasi, memeluk dan mengecup istrinya. Dia sudah sangat merindukan wajah cemberut dan menggemaskan Kailla. Kalau sudah bertemu nanti, dia bersumpah tidak akan melepaskannya.


***


Di dalam kamar, Kailla seharian hanya duduk sambil memeluk lututnya di atas ranjang. Tadi Anita sempat memberinya baju ganti dan memesankan makanan untuknya, tapi dia sama sekali tidak mau menyentuh makanannya.


“Ayolah Kai! Makan makananmu! Kalau sampai kamu sakit, Pram akan memarahiku. Aku hanya butuh Pram menceraikanmu, selebihnya aku tidak penting.” bujuk Anita. Sedari tadi dia terus terusan menatap ponselnya, menunggu Pram menghubunginya dan menyetujui menceraikan Kailla.


“Aku mau pulang tante! Aku tidak mau makan.” Kailla menjawab tanpa melihat Anita sama sekali.


“Tolong bekerja sama lah, Kai! Aku hanya butuh Pram menceraikanmu.” Kali ini Anita mengambil piring berisi nasi dan lauk pauk, menyodorkannya di depan Kailla.


Prang!!! Kailla menghempaskan piring nasi yang disodorkan Anita. Seketika piring keramik itu hancur berantakan. Nasi dan lauknya berhamburan di lantai. Anita terpaksa berdiri menjauh supaya tidak terkena pecahan piring di lantai.


“Cukup tante! Om tidak akan menceraikanku. Om tidak punya alasan menceraikanku. Lagi pula Om sudah berjanji kepada daddy, tidak mungkin ...” Kailla tidak dapat menyelesaikan kata-katanya, Anita sudah menyodorkan foto-fotonya berdua dengan Pram di hotel beberapa waktu lalu.


Kailla terkejut, bola matanya hampir keluar melihat foto yang disodorkan Anita.


“Haha.. ini alasannya kenapa Pram harus menceraikanmu,” sahut Anita tersenyum penuh kemenangan. “Dan kamu tahu, aku sedang hamil anak Pram sekarang.” lanjutnya lagi sembari mengelus perut ratanya.


Air mata Kailla langsung bercucuran. Dia sendiri tidak tahu kenapa menangis. Dia hanya ingin menangis saja. Kalau benar Pram menceraikannya, bagaimana nasibnya nanti. Bagaimana dengan daddy? Dia memilih menunduk dan menangis, memikirkan nasibnya ke depan. Kalau benar seperti yang dikatakan Anita, sudah dipastikan Pram akan menceraikannya.




“Baiklah kalau begitu, aku saja yang akan menceraikan Om. Tante tidak perlu bersusah payah menyekapku disini.” ucap Kailla setelah menghentikan tangisannya. Wajahnya sembab, dengan mata bengkak dan hidung memerah. Belum lagi napasnya yang tersengal-sengal karena terus terusan menangis dari pagi tadi.


Anita tersenyum puas, “Kalau tahu akan begini mudah, seharusnya kemarin dia tidak perlu susah-susah menyusun rencana,” gumamnya.

__ADS_1


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Kailla lagi. Dia menatap Anita dengan berlinangan air mata. Dia tidak punya jalan lain. Daripada Pram yang menceraikannya nanti, lebih baik dia yang menceraikan Pram. Setidaknya dia masih bisa berdiri tegak menatap dunia. Apa kata orang kalau sampai dia diceraikan Pram demi anak yang ada di kandungan Anita.


Terlihat Anita memanggil orangnya yang berjaga di luar pintu kamar. Laki-laki yang mengecup pipi Kailla semalam masuk ke dalam kamar, menyodorkan surat gugatan perceraian yang sudah disiapkan. Melihatnya, Kailla langsung bergidik ngeri. Bayangan kejadian di dalam mobil semalam terlihat nyata kembali di ingatannya.


“Tanda tangan disini! Setelah itu aku akan melepaskanmu.” perintah Anita. Senyum terukir di bibir merahnya. Selangkah lagi! Aku akan memaksa Pram menikahiku, bagaimanapun caranya.


Kailla mengambil pena yang disodorkan Anita, dia langsung membubuhkan tanda tangan ditempat yang ditunjuk Anita.


“Sudah! Aku mau pulang, tante.” ucap Anita. Dia bangkit dari ranjang, berjalan menuju pintu kamar.


Melihat itu, Anita langsung mendorong kasar Kailla ke atas ranjang kembali. Senyumnya kembali menakutkan seperti ki


“Haha.. tidak semudah itu Kai. Aku harus menghancurkanmu terlebih dulu, sampai Pram sendiri jijik melihatmu. Baru dia akan berpaling darimu!”


“Perkosa dia! Tapi tidak perlu membunuhnya. Aku ingin Riadi Dirgantara hancur ketika melihat putri kesayangannya. Hahaha.” Perintah Anita pada laki-laki yang barusan masuk dan membawa masuk surat gugatan. Anita sendiri memilih duduk di sofa bersiap menonton pertunjukkan.


“Tante.....” Kailla berbisik lirih.


Laki-laki yang memang dibayar Anita itu tampak begitu bersemangat. Dia menatap Kailla dari atas ke bawah, siap menerkam mangsanya.


“Ayo Cantik!” ucapnya. Menangkap kedua kaki Kailla, menariknya agar mendekat.


Kailla masih bisa berontak, menggerakan kepalanya kesana kemari, mendorong dan memukul dada laki-laki brutal yang sekarang menindihnya. Dan Anita, dia hanya tersenyum menonton pertunjukan di depan matanya, sesekali dia tertawa terbahak-bahak melihat Kailla yang masih melawan di sisa tenaganya.


Tenaga Kailla yang makin melemah, akhirnya membawanya menggigit telinga dan menarik rambut laki-laki itu.


“Aww!!” jerit laki-laki itu kesakitan. “Brengsek!! Kamu main-main denganku, gadis kecil!! Kesempatan itu dipakai untuk menendang laki-laki itu hingga tersungkur.


Lelaki yang kesakitan itu bangkit dengan mata merah menyorotkan kemarahan. Dengan teganya dia menampar pipi mulus Kailla yang bukan tandingannya saat ini.


Plakk!! Ada darah yang langsung mengucur di sudut bibir Kailla berbarengan permohonan seorang laki-laki yang dari tadi duduk di sebelah Anita.


“Sudah Kak!” mohon sang laki-laki yang Kailla kenal sebagai sopir kantornya.


“Tutup mulutmu Andika! Dia sedang membayar apa yang ayahnya lakukan pada ayah kita.” bentak Anita.


“Kasihan Kak. Dia melihat sendiri Kailla yang sudah tidak berdaya saat ini hanya bisa menangis. Tidak ada perlawanan, tidak ada pemberontakan lagi.


“Kamu masih terlalu kecil saat itu, sampai bisa memaafkan orang-orang seperti mereka! “ucap Anita menatap sinis pada adiknya.

__ADS_1


“Sudah cukup aku membantumu sampai sejauh ini, Kak! Terlihat dia mendekati laki-laki yang sekarang sedang mencium paksa Kailla. Baru saja akan melayangkan pukulannya pada laki-laki itu, Pram masuk menendang pintu kamar.


Melihat pemandangan di depan matanya, Pram langsung menyeret laki-laki yang sedang menguasai istrinya saat ini.


Brengsek!! Beraninya Kamu!!” Pram melayangkan pukulan membabi buta pada laki-laki yang tidak tahu malu itu. Di sela-sela pukulannya dia masih sempat berbicara pada Kailla yang bangkit duduk menatapnya sambil menutup tubuh bagian atasnya yang sudah setengah terbuka. Air mata Kailla mengalir deras tidak tertahankan.


“Kai, tutup matamu! Aku tidak ingin kamu melihatku seperti ini.” pinta Pram.


Bayu baru saja masuk ke dalam kamar setelah berhasil menaklukkan laki-laki yang berjaga di depan pintu kamar. Dia mendatangi Pram yang sedang melayangkan pukulan bertubi-tubi tanpa jeda ke wajah laki-laki yang melecehkan istrinya.


“Bos serahkan padaku,” ucap Bayu menghentikan Pram. Melihat Pram yang menggila, bukan tidak mungkin laki-laki itu akan mati di tangan Pram. Dia tidak mau hal itu terjadi. Pram tetap tidak peduli, dia masih terus memukul laki-laki yang sudah tidak bisa melawan di bawahnya.


“Bos! Lihat istrimu. Biar aku yang membereskannya.” teriak Bayu. Kata-kata Bayu kali ini sanggup menghentikan Pram. Dia langsung berlari menghampiri Kailla.


“Sayang, maafkan aku.” Terlihat Pram membuka jaketnya dan memakaikannya pada Kailla. Kemudian dia memeluk erat tubuh Kailla yang masih bergetar ketakutan.


“Jangan menangis lagi. Maafkan aku Kai,” bisiknya. Mengecup kening Kailla yang masih terus-terusan menangis. Dilihatnya wajah pucat berurai air mata itu. Sudut bibir Kailla robek, ada darah mengalir disana. Emosinya naik seketika.


“Brengsek!” Pram sudah mengepalkan tangannya bersiap menghajar orang itu lagi. Berani-beraninya dia memukul Kailla. Seumur hidupnya, belum pernah sekalipun dia memukul Kailla dan laki-laki itu dengan lancang memukul istrinya.


“Jangan pergi lagi Om,” bisik Kailla memeluk erat Pram. Meruntuhkan amarah Pram seketika.


Melihat kondisi Kailla saat ini, akhirnya Pram memilih menenangkannya. Memeluk Kailla dan membiarkan Bayu meyelesaikan sisanya.


“Jangan menangis lagi. Aku disini,” ucap Pram menepuk lembut punggung Kailla.


Anita yang sedari tadi menonton semua pertunjukan ini, hanya bisa menangis berurai air mata. Bahkan Pram tidak melihat kepadanya sama sekali.


“Kak.. “ sang adik memanggilnya. Berusaha menenangkan emosi Anita yang tidak stabil saat ini.


Anita tidak mempedulikan panggilan adiknya sama sekali. Dia masih terus berjalan menghampiri Pram sambil menangis.


“Rey... ini aku Anita, calon istrimu. Kamu melupakanku?” tanyanya pada Pram yang masih tetap memeluk erat istrinya.


Rey... ayo kita pulang, aku sudah lama menunggumu.” Dia menepuk punggung Pram, memanggil laki-laki yang bahkan saat ini tidak mau menatapnya lagi.


Adiknya Anita langsung menyusul kakaknya, menarik tangan itu supaya menjauhi Pram. Dia takut kalau Pram akan melukai kakaknya. Bagaimana pun dia tahu kondisi kakaknya sedang tidak baik sekarang.


“Rey...”

__ADS_1


***


__ADS_2