Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 128 : Pram Meradang


__ADS_3

Pram mengecup kening Kailla sekilas, sebelum akhirnya meninggalkan istrinya duduk sendirian di meja bundar itu.


“Aku tidak lama, sebentar lagi aku kembali,” pamit Pram.


“Iya, aku akan menunggumu disini,” Kailla menjawab. Pandangannya masih tertuju pada sang suami yang berjalan berdampingan dan berbincang dengan Winny.


Terlihat Pram memanggil Bayu dan membisikkan sesuatu sambil menepuk pundak asisten istrinya itu. Bayu langsung mengangguk dan berjalan menghampiri Kailla saat itu juga.


“Non, mau makan atau minum sesuatu?” tawar Bayu saat sudah berdiri di samping Kailla.


“Tidak..,” tolak Kailla. Saat ini dia tidak bisa makan apapun, yang ada hanya akan merepotkannya. Dia tidak mau mengambil resiko itu.


“Ambilkan aku jus saja Bay,” pinta Kailla setelah lama berpikir.


Tak lama Bayu sudah kembali dengan segelas jus di tangan. Tangan lainnya terlihat memegang piring berisi buah-buahan potong. Dia meletakkan keduanya perlahan ke atas meja, tepat di hadapan Kailla.


“Silahkan Non,” ucap Bayu.


Kailla duduk di sana sendirian, Bayu memilih berdiri di belakang sambil mengawasi majikannya. Sedari tadi Kailla mengedarkan pandangannya, mencari sosok Pram yang tidak kunjung mendatanginya. Padahal Pram berjanji, hanya akan pergi sebentar. Berkali-kali dia menatap jam di ponselnya. 5 menit, 10 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam. Selama itu Kailla hanya duduk diam dan menunggu. Sesekali dia masih bisa melihat Pram dan Winny yang mondar mandir menyapa tamu dan rekan bisnis mereka.


“Dia melupakanku!” ucap Kailla dalam hati.


Kailla mulai kesal, semakin menatap Winny dan suaminya, dia semakin emosi. Mereka berbincang dan saling melempar senyuman dengan rekan bisnisnya. Sesekali Winny tampak menepuk lengan Pram saat berbicara. Walaupun suaminya tidak menanggapi, tapi Kailla sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Menunggu terlalu lama, membuat moodnya hancur seketika.


Seorang laki-laki tampak duduk di meja yang sama dengan Kailla. Kailla mengerutkan dahinya, wajah laki-laki itu seperti tidak asing. Tapi Kailla tidak bisa mengingat. Siapa dan di mana dia pernah bertemu. Selama 15 menit mereka hanya saling mencuri pandang tanpa menyapa, akhirnya laki-laki itu melempar senyuman kepada Kailla.


Dengan berdiri dan menyodorkan tangan, dia memperkenalkan dirinya kepada Kailla yang terlihat kebingungan.


“Saya Hendrawan, teman kuliah Pram. Sekaligus suami Winny.” Laki-laki itu memperkenalkan diri. Dia tidak yakin siapa perempuan di hadapannya. Tapi melihat mereka bisa duduk di meja yang sama, bisa dipastikan perempuan ini bukan orang sembarangan.


“Saya Kailla, istri Pram,” kenal Kailla sembari menyambut uluran tangan teman suaminya itu.


“Oh... kamu istri Pram.” Laki-laki itu sedikit kaget mendengar Kailla memperkenalkan diri sebagai istri Pram.

__ADS_1


“Winny tidak bercerita terlalu banyak tentang Pram, jadi saya tidak mengetahui,” jelasnya lagi.


Kailla mengangguk sambil tersenyum.


“Sudah lama?” tanya laki-laki itu. Laki-laki itu saat ini sedang tersenyum pada Winny yang sedang berdiri berdua dengan Pram tak jauh dari tempat mereka duduk.


“Dari tadi sore,” Kailla menjawab. Pandangannya juga tertuju pada arah yang sama. Pram sedang berduaan dengan Winny.


Kailla menghela napasnya saat ini. Pemandangan yang membuat kepalanya semakin sakit.


“Permisi,” pamit Kailla pada suami Winny. Dia sudah tidak sanggup lagi harus berlama-lama menatap pemandangan yang sama sedari tadi. Hatinya tidak seluas hati suami Winny, yang bisa tetap tersenyum menatap istrinya berduaan dengan laki-laki lain. Atau Kailla yang tidak memahami seberapa jauh hubungan mereka. Pram, Winny dan suaminya adalah sahabat lama. Mereka sudah melewati banyak hal bersama. Sudah memahami satu sama lain.


Berbeda dengan dirinya. Dia masuk ke kehidupan Pram baru sebulan ini. Sejak menikah, dia baru belajar mengenal suaminya. Walaupun selama 20 tahun dia bersama Pram, dia tidak pernah mencari tahu atau pun tertarik tentang kehidupan suaminya itu sama sekali.


Kailla memilih mendatangi satu per satu meja yang menyajikan cemilan dan minuman. Tampak Bayu ikut mengekor di belakangnya. Hanya dengan melihat makanan itu saja, perutnya sudah protes. Dengan terpaksa Kailla memilih berdiri di meja yang menyajikan berbagai macam pilihan jus.


Entah sudah berapa gelas, Kailla memenuhi lambungnya dengan jus. Setidaknya itu bisa membuat bayi di rahimnya tidak kelaparan. Hampir semua jus dicobanya. Bayu yang berdiri tidak jauh darinya, sampai menggelengkan kepalanya. Melihat majikannya minum jus dengan rakusnya.


Ckckck.. itu perut apa galon ya,” ucap Bayu pelan.


Tapi begitu gelas terisi penuh, saat Kailla berbalik badan, dia bisa melihat dengan jelas suaminya dan Winny sedang mengobrol membelakanginya. Yang membuat Kailla memanas setelahnya adalah saat Winny sedang membetulkan ujung gaunnya sambil memegang erat lengan Pram untuk menjaga keseimbangan.


Akal sehat dan kesabaran yang selama beberapa jam ini berusaha dijaganya lenyap seketika. Emosinya memuncak. Dia bersabar menunggu, tapi suaminya malah berduaan disini tanpa memikirkan perasaannya. Dia sedang sakit, dia sedang tidak enak badan, bahkan dia tidak bisa makan dengan normal demi hamil anak Pram. Dan Pram, suaminya itu seolah tidak peduli padanya.


Tampak Kailla memegang erat gelas jus jambu itu. Matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya sedang panas saat ini. Bahkan kalau ada yang tidak sengaja menyentuhnya, akan ikut terbakar bersamanya. Dia melangkah dengan amarah yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Dia tidak bisa melihat siapa pun, yang ada di matanya hanya kemarahan pada wanita yang merebut perhatian Pram darinya. Tepat berada di hadapan Winny, dia menyiram jus jambu itu ke Winny.


Jus itu ditumpahkan tepat mengenai bagian dada Winny, merusak keindahan gaun yang dipakai Winny saat ini. Gaun itu seketika berantakan dan mengotori sebagian tubuh Winny.


Winny yang terkejut menatap Kailla heran.


“Kai, kamu kenapa?” Tidak ada amarah di dalam pertanyaan Winny.


Mendengar pertanyaan Winny, Kailla langsung tersadar akan kesalahan dan kebodohannya. Dia menatap Winny sambil menangis.

__ADS_1


“Maafkan aku...,” bisiknya pelan kemudian menunduk sambil menangis.


Respon Winny yang tetap sabar berbanding terbalik dengan Pram. Saat ini dia sedang menatap Kailla dengan tatapan siap membunuh. Tatapan yang belum pernah ditunjukkan pada Kailla selama ini.


“KAILLA! Kelewatan kamu Kai!!”


Kailla benar-benar mempermalukannya saat ini. Pram sudah bersiap melayangkan tamparannya pada Kailla yang sedang menunduk ketakutan. Mendengar suara Pram, Kailla mengangkat wajahnya sekilas. Sudah siap dan pasrah menerima tamparan Pram. Dia juga tidak mungkin pergi saat ini. Dia tahu, dia salah karena tidak bisa menjaga emosinya


Tepat pada saat itu, mata Pram menangkap sorot mata Kailla yang tidak berdaya dan siap menerima pukulannya. Istrinya sedang ketakutan saat ini. Kedua tangan Kailla saling meremas kencang, sudah siap menahan sakit yang sebentar lagi akan menghampiri wajahnya.


Deg—


Sorot mata yang sama, saat daddy memukulnya dengan ikat pinggang 10 tahun yang lalu. Dia ingat, saat itu dia harus menyelamatkan Kailla dari amukan daddy. Karena Kailla kecil waktu itu tidak mau pergi, menahan semua pukulan daddy.


Melihat sorot mata itu kembali, Pram langsung menurunkan tangannya seketika. Terlihat dia menghela napasnya berkali-kali, supaya tidak terbawa emosi.


“BAY! Bawa dia pulang!” perintah Pram pada Bayu dengan kasar.


Bayu hanya bisa menurut tanpa protes. Kejadiannya begitu cepat dan tidak terduga. Kalau tahu akan seperti ini, pasti dia sudah mencegah Kailla melakukan kebodohan di depan banyak orang,


Demikian juga Kailla, dia tidak menatap Pram sama sekali. Berjalan sambil menunduk. Ketika dia sudah melewati Pram, dia langsung merengkuh lengan Bayu sambil menangis.


“Non, kita pulang sekarang,” ajak Bayu. “Jangan menangis, mungkin Pak Pram sedang capek karena banyak pekerjaan .” Bayu berusaha menenangkan istri Bosnya itu.


“Win, maafkan istriku,” ucap Pram. Dia melepaskan jasnya dan memberikannya kepada Winny.


“Tidak apa-apa,” sahut Winny merasa tidak enak. “Pram, apa tidak terlalu berlebihan kamu memarahinya. Dia masih terlalu kecil,” lanjut Winny.


Terlihat Hendarwan mendatangi mereka. Dia baru saja kembali dari toilet. Jadi dia tidak mengetahui kejadian yang baru saja menimpa istrinya.


***


Terimakasih.

__ADS_1


Yang mau ngomelin Om Pram, waktu dan tempat di persilahkan!


__ADS_2