Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 140 : Tamu Di Pagi Hari


__ADS_3

Kailla sudah masuk ke dalam mobil diikuti Pram dan Bayu. Tampak dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil sambil memejamkan matanya. Dia terlalu banyak berjalan seharian ini. Kakinya terasa pegal.


Kailla kembali mencondongkan tubuhnya, supaya lebih leluasa memijat betisnya yang sudah mulai berontak kesakitan.


“Kenapa?” tanya Pram.


“Kakiku sakit,” adu Kailla, mengernyitkan wajahnya.


“Letakkan kesini kakinya!” perintah Pram, menepuk pahanya.


Tanpa menunggu lama, Kailla langsung menaikan kakinya ke atas pangkuan Pram.


“Sakitnya disini,” rengek Kailla menunjukkan betisnya.


“Oke, tidak masalah. Aku akan memijatnya. Mau dibayar berapa ronde?” tanya Pram, menggoda Kailla.


“Hah?!” Mata Kailla terbelalak seketika.


“Bayaran itu menentukan kualitas pijatannya Nyonya,” jelas Pram.


“Tidak jadi!” tolak Kailla. Langsung menurunkan kembali kakinya.


“Hahaha.., aku bercanda. Ayo kemari, aku akan memijatnya dengan penuh cinta.” Pram langsung meraih kedua kaki Kailla, meletakkannya kembali di pangkuan dan mulai memijat.


“Acara jalan-jalanmu menyenangkan?” tanya Pram tiba-tiba.


Kailla menggeleng. “Aku tidak mau lagi,” adunya pada Pram.


Tak sampai 10 menit Pram memijatnya, Kailla sudah memintanya berhenti.


“Sudah! Sudah mendingan. Tidak perlu dipijat lagi.” Kailla langsung menurunkan kedua kakinya.


Kembali dia menyandarkan tubuhnya, sembari memejamkan mata, bersiap untuk tidur.


“Kai..., apa yang kamu rasakan tadi di luar sana?” tanya Pram.


“Hmmm, tidak ada. Rasanya ingin tidur sekarang,” sahut Kailla.


“Jangan melakukannya lagi. Kalau kamu ingin pergi, kamu harus memberitahuku terlebih dulu,” ucap Pram menatap Kailla. “Aku berjanji tidak akan melarangmu, tapi kamu harus membawa Bayu bersamamu,” lanjut Pram.


“Kemarilah!” Pram langsung meraih tubuh Kailla agar tertidur di pelukannya.


“Kamu ketakutan di luar sana?” tanya Pram berbisik di telinga Kailla.


“Hmmm,” gumam Kailla.


“Aku lebih takut lagi,” sahut Pram membelai rambut panjang Kailla yang saat ini dikucir kuda.


“Maafkan aku,” bisik Kailla lirih.


“Jangan membuatku khawatir lagi Kai,” pinta Pram.


Kailla langsung bergelayut di leher Pram, menikmati aroma suaminya. Aroma yang belakangan ini bagai candu untuknya. Kailla mulai mengecup leher dan memainkan kancing kemeja Pram sampai dia tertidur di dalam pelukan hangat suaminya itu.


Sampai di lobby apartemen, Pram buru-buru mengancingkan kembali kemejanya sebelum turun dari mobil. Kailla membuka hampir seluruh kancing kemejanya demi bisa menelusup dan mencium aromanya. Kehamilan membuat kebiasaan Kailla banyak berubah. Semakin kesini, Kailla semakin manja padanya. Bahkan sekarang istrinya itu tanpa malu-malu lagi saat ingin memeluknya.


Pram harus menggendong Kailla yang sudah terlelap. Mau tidak mau, dia harus melakukannya. Istrinya terlalu lelah berkeliling kota dengan berjalan kaki.


Begitu sampai di depan unit, buru-buru Bayu membantu Pram membuka pintu.


“Bu, tolong siapkan makanan untuk Kailla, sepertinya dia tidak makan dengan benar tadi,”


pinta Pram saat melewati dapur. Bu Ida pun langsung memanaskan sup daging untuk majikannya itu.

__ADS_1


Pram terpaksa harus menendang pintu kamar tidurnya supaya bisa masuk ke dalam.


Meletakkan istrinya dengan hati-hati ke atas ranjang sambil tersenyum menatap wajah kelelahan Kailla.



“Kamu tidak tahu seberapa aku mengkhawatirkan kalian,” ucap Pram pelan. Jari-jarinya sedang merapikan rambut Kailla yang berantakan.


Pram terpaku saat menatap perut rata istrinya, senyum kembali muncul di bibir. Dengan berjongkok di sisi ranjang, Pram mencium perut Kailla. Mencoba merasakan kehadiran buah hatinya di sana.


“Hai jagoan daddy! Baik-baik di dalam sana ya. Jangan bikin susah mommy,” bisik Pram pada anaknya yang masih di dalam rahim Kailla. Tangannya pun berulang kali mengelus dan mengusap perut Kailla.


“Kalau mommy nakal, kamu harus berontak di dalam sana ya. Kamu harus di pihak daddy,” ucap Pram sambil terkekeh.


Sejak mengetahui Kailla hamil, dia merasa hidupnya lengkap. Dia akan mempertaruhkan apa saja, bahkan nyawanya untuk menjaga keluarganya. Cukup dia dan Kailla saja yang merasakan bagaimana menyedihkannya hidup tanpa kasih sayang orang tua. Tapi tidak untuk anak-anak mereka nanti.


***


Keesokan paginya.


Pram terbangun dari tidurnya saat alarm di ponselnya berbunyi. Tersenyum menatap Kailla yang masih tidur lelap dalam pelukannya. Setelah dua hari pisah ranjang, tadi malam Pram sudah kembali tidur di kamarnya. Menikmati empuknya ranjang dan bisa memeluk erat istrinya sepanjang malam.


Senyum terukir di bibirnya setiap mengingat bagaimana Kailla menyusul ke ruang kerja semalam. Merengek padanya, demi bisa menelusup ke dada telanjangnya.


“Kamu memang benar-benar anak daddy! Kamu tahu bagaimana cara menyelamatkan harga diri daddy,” ucap Pram tersenyum licik sembari mengusap perut Kailla, mengingat selama hamil Kailla yang selalu mau menempel padanya.


Pandangan Pram sekarang beralih ke Kailla, rasanya tidak rela membiarkan istrinya itu terlelap. Dia sudah merindukan Kailla lagi.


“Sayang...., bangun!” panggil Pram, berusaha membangunkan Kailla. Tangannya sudah menelusup ke balik gaun tidur, berharap sentuhan nakalnya bisa mengganggu tidur lelap sang istri.


Begitu tangannya mulai merambat ke atas bersentuhan dengan bra yang menutupi mainan kembar kesukaannya selama sebulan ini, dia pun mulai mengomel kembali.


“Masih saja!” omel Pram setelah mendapati Kailla masih tetap mengenakan bra saat tidur. Dengan sengaja dia menarik tali bra Kailla, seketika membuat empunya menjerit kaget bercampur kesakitan.


“Ahhh...,” jerit Kailla tiba-tiba. Baru saja dia akan melayangkan pukulannya pada Pram, tapi suaminya itu sudah menggulingkannya terlebih dulu.


“Aku lapar Sayang,” ucap Pram tersenyum menggoda. Dia sudah bersiap melahap istrinya.


“Ya sudah, minta sama Bu Ida!” sahut Kailla, masih memejamkan matanya.


“Hah...!” Mata Pram langsung membulat mendengar jawaban Kailla. Tanpa meminta izin lagi dia langsung melepas gaun tidur Kailla. Tidak memberi kesempatan Kailla memberontak.


“Aku tidak mau lagi,” tolak Kailla.


“Kita kan sudah membicarakannya semalam. Kamu lupa?” tanya Pram, menghentikan kegiatannya seketika.


“Hmmmm,” gumam Kailla, sama sekali tidak mau menatap Pram yang sedang mengunci tubuhnya yang hampir telanjang karena ulah Pram.


“Ingat kan? Kamu bebas mengecup dan mencium aroma tubuhku kapanpun kamu mau dan berlaku sebaliknya!” Pram berusaha mengingatkan.


“Aku sedang tidak berminat padamu,” sahut Kailla. Bersiap untuk tidur kembali.


“Ayo, jangan tidur lagi,” rengek Pram. Dia sudah menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya. Bibirnya pun sudah mengecup leher dan dada Kailla, membuat tanda kepemilikan di mana-mana.


Senyum liciknya kembali muncul, saat mendengar desahan yang keluar dari bibir Kailla.


“Kamu sudah tidak bisa melawanku lagi Sayang. Ayo kita selesaikan,” bujuk Pram.


Tepat saat Pram akan melakukan penyatuan, Kailla mengatakan sesuatu di sela-sela desahannya, yang membuat nafsunya hancur seketika. Istrinya benar-benar licik. Bisa-bisanya dia berbuat curang di detik-detik menegangkan seperti ini.


“Ah.. Sayang, kamu tidak berpikir... kalau kamu sering menerkamku, lama-lama anakmu muak denganmu,” ucap Kailla tersenyum.


“Hah..?! Maksudmu?” tanya Pram seketika melepaskan istrinya.

__ADS_1


“Anakmu juga butuh istirahat di dalam sini. Kalau kamu terus-terusan bertamu, lama-lama dia benci padamu,” jelas Kailla sambil mengusap perutnya.


Mendengar kata-kata Kailla, Pram mendengus kesal.


“Hahaha....!” Kailla terbahak saat melihat Pram tidak meneruskan lagi kegiatannya.


Suaminya itu hanya telentang di sampingnya, sambil menutup wajah dengan lengannya.


Pram sedang meredam hasratnya. Kata-kata Kailla cukup menggoncang pikirannya. Kalau dia sering menerkam istrinya, bukan tidak mungkin akan mengganggu anaknya yang masih lemah. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada kehamilan Kailla. Dia harus memastikan bayinya baik-baik saja.


***


Kailla sedang menikmati sarapannya saat bel pintu berbunyi. Bu Ida yang sedang membersihkan ruang tamu segera membukakan pintu untuk tamu mereka pagi ini. Pram sudah berangkat ke kantor tepat pukul 08.00 pagi tadi.


“Pak Pieter,” ucap Bu Ida saat melihat tamu yang muncul sambil membawa bungkusan makanan di tangannya.


“Kailla-nya ada?” tanya Pieter.


“Non Kailla sedang sarapan. Tuh!”sahut Bu Ida heran. Menunjuk pada Kailla yang sedang duduk di kursi mini bar. Dahi Bu Ida berkerut, Pram belum lama berangkat ke kantor, tapi kenapa laki-laki ini malah datang kesini mencari Kailla.


Bu Ida bukanlah orang bodoh, yang bisa ditipu. Melihat gelagatnya saja, dia tahu laki-laki ini ada maksud terselubung.


“Tidak bisa dibiarkan!” ucap Bu Ida. Dia segera menghubungi Pram. Melaporkan kalau teman majikannya itu sedang bertamu dan menemui Kailla.


Pieter langsung berjalan menuju ke dapur, menghampiri Kailla yang sedang menikmati roti tawar dan jus jeruknya.


“Pagi Kai..” sapa Pieter mengejutkan Kailla.


“Oh.. Kak Pieter. Suamiku sudah berangkat ke kantor tadi. Ada apa ya?” tanya Kailla heran.


Pieter meletakkan bungkusan makanan itu ke atas meja. Tepat di depan Kailla.


“Untukmu,” ucap Pieter singkat.


“Ini apa?” tanya Kailla bingung.


Pieter tidak menjawab, tapi langsung membuka makanan di dalam bungkusan itu.


“Hah, ini bakso?” tanya Kailla terkejut.


“Iya..., kamu menginginkannya kan?” tanya Pieter memastikan.


“Hmmm, suamiku yang memintamu membawanya kesini?” tanya Kailla. Dia ingat kemarin Pram berjanji akan mencarikan untuknya.


Pieter hanya tersenyum tidak mengiyakan atau menolak. Tampak dia membantu Kailla menuangkan bakso itu ke dalam mangkok dan menyodorkannya ke hadapan Kailla.


“Kamu tidak ingin mencobanya Kai?” tawar Pieter, dengan lancang dia sudah duduk tepat di samping Kailla. Berlama-lama menatap istri sahabatnya yang tampak selalu menggemaskan di matanya.


“Sebentar lagi. Aku harus menghabiskan rotiku dulu,” sahut Kailla.


Tampak Kailla mengeluarkan ponselnya, dia bermaksud menghubungi suaminya. Mengabarkan kedatangan Pieter dengan baksonya. Tapi Pieter langsung meraih ponsel dari tangan Kailla.


“Mau menelepon Pram?” tanya Pieter.


“Iya...,” sahut Kailla sambil mengangguk


“Tidak perlu, aku sudah bertemu dengannya tadi di bawah. Dia sudah tahu kalau aku menemuimu.” Pieter beralasan. Padahal kenyataannya, dia sudah menunggu di mobil sejak pagi. Memastikan Pram berangkat ke kantor, dia baru menemui Kailla.


Sebenarnya Pieter tidak ingin bermasalah dengan Pram. Dia masih ingat dengan ancaman Pram. Kalau dia masih mengganggu istrinya maka mereka akan bertarung sampai salah satu dari mereka. meregang nyawa. Artinya kalau Pram tahu, dia menemui Kailla saat ini. Pram pasti akan mengajaknya bertarung sampai mati.


Dia datang kesini hanya karena kasihan melihat Kailla. Kemarin dia sempat mendengar keinginan Kailla dan untuk itulah dia datang pagi ini.


***

__ADS_1


Terimakasih. Mudah-mudahan lolos malam ini ya.


Love you all — Pram & Kailla


__ADS_2