
“Empuk dan nyaman,” gumam Kaila, memejamkan matanya. Mulai tertidur di punggung suaminya.
“Sayang..., kamu tidur?” tanya Pram, saat merasa beban di punggungnya semakin berat.
“Sayang..,” panggil Pram lagi, dia langsung tertegun setelah dua kali panggilannya tidak direspon Kailla. Seketika dia mematikan kompornya. Melepaskan kedua tangan Kailla yang membelit kencang perutnya
“Hmmmm, aku mengantuk. Kamu sudah selesai memasaknya,” tanya Kailla, dengan suara serak dan malas-malasan.
“Ayo, kita tidur saja sekarang,” ajak Pram, langsung menggendong Kailla yang sudah setengah tertidur.
“Sayang, kepitingku sudah matang?” tanya Kailla masih memejamkan matanya, saat Pram menurunkannya di tempat tidur.
“Tidur saja sekarang, aku akan menyelesaikannya dan menyimpan di kulkas,” ucap Pram, berusaha melepaskan kedua tangan Kailla yang masih mengunci erat lehernya.
“Sayang, aku merindukanmu,” ucap Kailla, membuka matanya tiba-tiba, menatap wajah Pram yang sedang berada di depan matanya.
Pram yang sudah hafal maksud Kailla, langsung menolak.
“Aku harus ke dapur sekarang,” ucap Pram. Kalau tetap di kamar, Pram sudah tahu akan berakhir kemana nantinya.
Dia langsung berlari ke dapur setelah terlepas dari Kailla. Berlama-lama disana, menyelesaikan masakannya, kemudian mengintip istrinya dari pintu kamarnya yang dibuka pelan. Tampak Kailla sedang tidur, tapi tidak lelap. Sebentar-sebentar Kailla bergerak ke kiri dan kanan mencari posisi nyaman dengan mata yang masih terpejam.
Pram menghela nafas, kemudian menutup pintu kamarnya kembali. Kalau tidak mengingat pesan dokter beberapa hari yang lalu, sudah pasti dia akan memenuhi permintaan Kailla.
Malam itu Pram memilih tidur ruang kerja, setidaknya bisa membantu Kailla dan dirinya sendiri. Kalau tetap di kamar, dia pasti tidak sanggup menolak permintaan Kailla.
***
Pagi itu Kailla terbangun dengan sakit kepala menyerangnya. Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak. Menatap ranjang kosong di sebelahnya.
Deg—
“Pagi sekali dia sudah ke kantor,” ucap Kailla heran, menatap jam di atas nakas baru pukul 05.30 pagi. Tadinya Kailla berencana akan ikut ke kantor bersama Pram, mau berpamitan dengan Mitha. Selain itu, dia juga mau mengajak Mitha berbelanja oleh-oleh yang akan di bawa pulang ke Indonesia.
Sambil memijat pelipisnya, Kailla keluar dari kamarnya. Masih dengan pakaian tidurnya.
Suasana di luar masih senyap dan sedikit gelap. Asistennya belum ada yang datang.
Saat berjalan mengendap keluar dari kamarnya, tanpa sengaja dia menjatuhkan standing lamp di dekat pintu kamarnya. Sontak membuat dia terkejut sendiri.
“Ahhhhhhhhhhhhh,” teriaknya kencang, berlari keluar menuju unit ketiga asistennya.
Tok!Tok!Tok!Tok!
__ADS_1
Kailla menggedor pintu apartemen sambil meneriakkan nama Bu Ida.
“Buuuuuu!” teriak Kailla sambil menangis ketakutan. Jantungnya berdegup kencang.
“Buuuuuuu, Sammmmm, Bay....!!!” tolong aku!” panggil Kailla masih saja terus menggedor.
Tak lama tampak Bayu membuka pintu dengan wajah bantalnya.
“Iya Non,” sapa Bayu dengan suara serak dan mata masih setengah terpejam. Lengkap dengan rambut berantakan, menyandar di daun pintu.
Kailla langsung menerobos masuk tanpa banyak bicara. Tujuannya saat ini adalah kamar Bu Ida. Saat pintu kamar di buka, tampak Bu Ida baru selesai mandi dan berpakaian.
“Kenapa Non? Kok pagi-pagi sudah disini?” tanya Bu Ida heran melihat Kailla di unitnya.
“Aku takut. Suamiku tidak ada di rumah. Pagi-pagi sudah berangkat ke kantor,” adu Kailla masih dengan wajah berantakan.
Dia langsung duduk di atas ranjang, mengelus dadanya. Menghela nafas, supaya sedikit lebih tenang.
“Perutku jadinya sakit. Aku tadi berlari kesini. Ada hantu di dekat kamarku Bu!” jelas Kailla.
“Hah!” Bu Ida menggeleng, mendengar ketakutan Kailla yang sejak dulu tidak berubah.
“Aku tidur disini saja dulu,” ucap Kailla, membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur Bu Ida, mengelus perutnya yang terasa sakit.
“Sakit Bu, seperti nyeri atau kram begitu,” jelas Kailla.
“Mau Ibu bantu usap Non?” tawar Bu Ida. Dia tidak tahu harus berbuat apa, majikannya sedang hamil saat ini.
“Tidak perlu Bu, istirahat sebentar sudah baikan. Mungkin tadi aku berlari terlalu kencang. Aku sudah tidak ingat ada bayiku di dalam sini,” ucap Kailla, memejamkan matanya.
“Bu, nanti kalau sudah mau kembali ke unitku, tolong bangunkan aku,” pinta Kailla.
***
Pram terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Dia masih memakai kemeja yang sama saat berkunjung ke rumah Winny. Semalam, dia sengaja menghindari Kailla, dan memilih tidur terpisah.
Dengan memijat tengkuknya dia keluar dari ruang kerjanya. Mengedarkan pandangannya.
Deg—
Ada yang tidak beres saat ini. Pintu apartemennya terbuka lebar. Tidak ada seorang asisten pun sudah datang saat ini. Pram langsung melangkah menuju ke kamarnya mencari Kailla. Dan benar saja, standing lamp di samping pintu sudah terjatuh, berantakan di lantai. Pintu kamarnya pun terbuka lebar.
“Kai..., Kai...,” panggil Pram, langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Kamar itu kosong, tidak ada istrinya di sana. Mencari ke dalam kamar mandi pun tetap sama. Pram kembali keluar mencari ke seluruh ruangan, lagi-lagi istrinya tidak ada.
“Kailla hilang!” ucapnya panik, berlari keluar menuju unit apartemen asistennya.
Menggedor pintu sambil berteriak.
“Sam! Bay! Keluar kalian!” teriak Pram.
Tak lama, tampak Sam yang masih enggan membuka matanya berdiri sambil menyandarkan kepalanya di depan pintu. Dia belum menyadari siapa yang menggedor pintu apartemennya pagi ini. Kesadarannya belum terkumpul sempurna. Bahkan dia bisa tertidur kembali saat ini. Semalaman dia chat dengan Mitha. Belum lagi saat Mitha mengatakan juga sayang padanya, dia tidak bisa tidur. Menatap pesan teks itu sambil tersenyum seperti orang gila.
“Ada apa!?” tanya Sam ketus, masih dengan mata terpejam, dia menutup mulutnya yang menguap lebar. Sontak membuat mata Pram melotot. Baru saja Pram akan membuka mulutnya, Sam sudah mengomelinya terlebih dulu.
“Pagi-pagi sudah mengganggu saja!” omel Sam saat tidak mendapat jawaban dari tamu yang masih belum disadarinya, Dia sudah bersiap menutup kembali pintunya. Tapi segera ditahan oleh Pram.
“Kalau mau minta sumbangan di depan saja, di unit majikanku sana. Disini penghuninya miskin semua. Buat makan saja susah!” ucap Sam masih mengomel.
“Sam!” panggil Pram masih berusaha membangunkan asisten Kailla yang masih melantur tidak jelas.
“Seperti suara macan tua,” ucap Sam mulai membuka matanya. Mendengar kata-kata Sam, Pram semakin meradang. Dia sudah mencoba bersabar sedari tadi.
“Sam!” teriak Pram. Seketika membuat Sam sadar sepenuhnya, langsung menegakkan posisi berdirinya yang sedari tadi bersandar di pintu.
“Sini kamu!” Pram langsung mencekal Sam, membawa asisten Kailla itu keluar.
“Istriku hilang, cari sampai ketemu!” ucap Pram, melepas cekalannya mendorong kasar Sam. Sam yang mendengar ucapan Pram tidak kalah panik. Masih memegang sarungnya supaya tidak melorot, dia berlari menuju ke unit majikannya, tapi sampai disana dia mengingat sesuatu. Kemudian dia berlari lagi mencari Pram.
“Pak, harus mencari Non Kailla kemana?” tanya Sam dengan polosnya saat sudah berdiri di hadapan Pram kembali.
“Cari di mana saja! Sampai ketemu!” perintah Pram kesal. Dia sudah berlari menuju ke lift, hendak ke bawah mencari Kailla.
Tapi dari kejauhan, tampak Bayu datang dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
“Ada apa Pak?” tanya Bayu menghampiri Pram yang terlihat kacau di depan pintu lift.
“Kailla tidak ada di apartemen, tolong cari,” jawab Pram, menekan tombol lift berulang- ulang.
“Oh, Non Kailla ada di kamar Bu Ida. Tadi dia berlari ketakutan dan mengetuk pintu apartemen kami Bos,” jelas Bayu santai.
***
Terimakasih. Love You All.
Bab berikut kita sudah di Indonesia ya..
__ADS_1