
Mobil sport hitam milik Pram terlihat masuk ke dalam pelataran rumah sakit. Dia berjalan tergesa-gesa menuju ke bagian informasi dan mengambil sesuatu sebelum akhirnya naik ke ruang perawatan Pak Riadi.
“Sam, bisa keluar sebentar!” panggilnya sembari menepuk pundak Sam yang sedang tertidur.
“I..i..ya Pak.” Sam menjawab terbata. Terkejut dengan orang yang sedang memanggilnya. Segera dia bangkit dan mengikuti langkah Pram.
Pram membawanya ke kamar yang biasa ditempati Kailla. Begitu masuk dia langsung duduk di sofa, melipatkan tangan didada menatap tajam ke arah Sam.
“Dimana Kailla?”
“Maaf Pak, tadinya saya kira Non Kailla ada di kamar ini.” Sam tertunduk.
Pram menghela napasnya, berusaha menahan emosinya. “Seharusnya orang yang paling tahu setiap hal tentang Kailla itu kamu Sam. Itu tugasmu!”
“Maaf Pak.”
“Cari sampai ketemu!!!” perintah Pram setengah berteriak.
Ceklek...!
Tampak Kailla membawa toples ikan masuk dengan ragu-ragu. Dia sempat mendengar teriakan Pram dari balik pintu kamar tadi.
“Masuk!” perintah Pram begitu melihat Kailla.
“Iya Om.” jawabnya sambil menunduk. Memilih berdiri disamping Sam dan mengintip.
“Kenapa Sam?” Kailla berbisik pelan.
“Darimana aja Non, dicariin Pak Pram,” Sam ikut berbisik.
“Dari de..” belum selesai Kailla menjawab, tapi sudah terlebih dahulu dipotong Pram.
Sam, tinggalkan kami! Besok pagi jemput Kailla di apartemen ku!” titahnya sambil berdiri menghampiri Kailla.
Terlihat Pram berdiri tepat di depan Kailla, menatap gadis itu tanpa berkedip.
“Kemasi barang-barangmu, Kai. Ikut aku pulang ke apartemen.” pinta Pram sedikit lembut.
“Tapi Daddy.... “
“Aku akan mempekerjakan perawat untuk daddy. Mulai besok kembali ke kampus. Sudah cukup main-mainnya Kai.” tegas Pram lagi.
“Aku masih mau mengurus daddy.” tolak Kai.
“Kemasi barang- barangmu sekarang Kai, aku tunggu di kamar daddy,” ucap Pram berjalan meninggalkan Kailla yang mematung memegang toples ikannya.
__ADS_1
***
“Apalagi salahku,” gumam Kailla sambil memberesi semua barang-barangnya. Menghela napasnya berkali-kali.
Setelah semua siap, Sam membawa tas berisi perlengkapannya itu menuju kamar rawat Pak Riadi. Begitu mereka masuk, Pram terlihat duduk di sisi ranjang, menatap lekat ke arah Kailla. Ekspresi Pram saat ini susah dilukiskan dan ditebak.
“Kai, kemarilah!” Pram meminta Kailla mendekat ke arah ranjang. Pram bergeser, memberi kursi yang didudukinya kepada Kailla, dia sendiri memilih berdiri di samping gadis itu.
“Dad..,” sapa Kailla menggengam tangan keriput yang menampakan tulang tulang yang kian menonjol beberapa hari ini. Tampak Pram ikut menggengam di tempat yang sama, membuat Kailla terkejut mendongak seketika ke arah Pram yang sedang tersenyum padanya.
“Dad, izinkan aku membawa Kai tinggal bersamaku sementara daddy masih dirawat disini,” ucap Pram. Daddy menatap sayu, seulas senyum kaku terlukis bibirnya.
“Dad, besok setelah pulang kuliah aku akan kesini lagi. Aku mencintaimu Dad.” Kailla mencium kedua pipi sang daddy.
Setelah berpamitan, Pram mengenggam tangan Kailla untuk ikut bersamanya ke parkiran mobil. Tiba-tiba..
“Sam, ikan ku tadi ditaruh dimana?” tanya Kailla teringat ikan di toples yang tadi dibawanya.
“Masih di kamar Non.” Sam menjawab singkat.
“Om, aku mau membawanya bersamaku. Itu dikasih gratis sama penjual ikan yang di depan rumah sakit. Aku berteman dengan putrinya,” pinta Kailla.
Pram mengerutkan dahinya. “Kamu tadi siang pergi kesana?” tanya Pram.
“He-em.” Kailla menganggukan kepalanya. Wajahnya tiba-tiba menjadi sedih.
“Kasihan sama penjual ikannya. Sama putrinya juga. Sudah beberapa hari jualannya tidak laku,” cerita Kailla.
Begitu mereka tiba di parkiran mobil, Sam berlari menyusul membawa toples ikan di pelukannya. “Ini Non!” Sam menyodorkan yang segera disambut oleh Pram kemudian memasukannya ke dalam mobil.
“Sam ikut dengan kami!” titah Pram, terlihat dia menggandeng tangan Kailla menyeberang jalan menuju ke tempat penjual ikan. Della yang melihat kedatangan Kailla langsung memeluk kegirangan.
“Ayah, tante datang lagi!!” Della menarik tangan Kailla mengajaknya mendekat ke ayahnya. Terpaksa Pram melepaskan genggaman tangannya.
“Kai.., kamu boleh membeli semua ikannya.” ujar Pram mengejutkan Kailla. Terlihat Pram mengeluarkan dompetnya menarik setumpuk uang seratusan dan menyerahkan kepada Kailla.
“Benarkah?” tanya Kailla memastikan lagi sebelum menerima setumpuk uang yang disodorkan Pram. Pram mengangguk dan tersenyum.
Kailla berlari menghampiri Pram, memeluk tubuh kekar itu kemudian berjinjit mencium pipi Pram. Cup!! “Aku menyayangimu Om!” ucap Kailla. Seketika melambungkan hati Pram. Untuk pertama kalinya Kailla mengungkapkan perasaannya setelah sekian lama dia menunggu.
***
Kailla masih tersenyum sumringah begitu masuk ke dalam apartemen Pram. Sepanjang perjalanan dia memeluk toples ikan itu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
“Aku boleh meletakannya di dalam kamar?” tanyanya pada Pram.
__ADS_1
“Iya..” Belum selesai Pram menjawab, Kailla sudah berlari mendobrak pintu kamar tidur Pram. Diletakannya di atas nakas samping ranjang berbagi tempat dengan lampu tidur.
“Are you happy?” tanya Pram memeluk gadis yang sedang bahagia itu dari belakang.
“Iya.., thanks ya Om.”
Cup! “Aku mencintaimu” ucap Pram mengecup pipi Kailla yang merona.
“Kai, dimana ponselmu?” tanya Pram tiba-tiba. Kailla langsung memeriksa saku celananya.
“Tidak ada!”
Deg—
Dia langsung mencari ke dalam tasnya. Semua isi tas sudah terhampar di atas tempat tidur. Tapi ponselnya tidak juga ditemukan. Pram memilih menonton Kailla memporak porandakan seisi tasnya sambil duduk di tepi ranjang.
“Huh!! Ponselku hilang lagi.”
Pram mengeluarkan ponsel dari saku celananya, meletakan di tengah tengah isi tas Kailla yang berantakan.
“Ini kali kedua ponselmu membuat kekacauan! Tempo hari waktu ketinggalan di kantor, sekarang jatuh di pelataran rumah sakit.” jelas Pram menyentil kening Kailla.
“Bagaimana bisa ada sama Om?” tanya Kailla bingung.
“Untungnya bertemu dengan orang baik, dia menghubungiku. Kamu tahu, seberapa paniknya aku tadi. Aku harus meninggalkan rapat hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja,” jelas Pram
“Kemarilah!” Pram menarik Kailla duduk di pangkuan dan memeluknya.
“Dengar Kai, setiap yang kamu lakukan, akan ada orang lain yang ikut bertanggungjawab. Jadi berpikirlah sebelum melakukan sesuatu, jangan hanya menuruti kata hatimu,” jelas Pram.
“Maaf..”
“Sam harus menanggung semua yang kamu lakukan. Pikirkan itu! Aku mungkin tidak sanggup memarahimu, tapi aku bisa menggila pada orang lain,” jelasnya lagi mengeratkan pelukan pada gadis di pangkuannya.
***
Next :
Kailla terbangun dari tidurnya dengan wajah sembab. Kepalanya pusing, dari semalam dia menangis sampai tertidur. Tubuhnya terasa remuk redam, belum lagi bagian inti tubuhnya terasa perih.
“Hiks.. hiks..” isaknya tanpa bisa berkata-kata. Air mata kembali mengalir deras. Menarik selimut, memastikan tubuh polosnya tertutup sempurna.
“Dad.. hiks.. hiks..”
***
__ADS_1
Terimakasih dukungannya. Mohon bantuan like komennya. Love you all