
“Dave, bisa tolong kembali ke ruang meeting.” perintah Pram pada David di telepon.
“Iya Pak.”
Tak berapa lama, tampak David berjalan tergesa-gesa memasuki ruangan. Dia masih mengatur nafasnya sebelum duduk di salah satu kursi kosong yang mengelilingi meja lonjong itu.
“Maaf, saya keluar sebentar,” pamit Pram mengajak Kailla yang terisak keluar dari ruangan.
Begitu pintu ruang rapat itu tertutup kembali, Pram langsung memeluk Kailla.
“Jangan menangis Kai. Itu permintaan daddy. Kalau kamu tidak mau menerimanya, aku akan menolaknya juga.” bisik Pram. Pram tidak mungkin menenangkan istrinya di tengah orang banyak yang bahkan tidak begitu dikenalnya. Dia juga tidak mungkin mempertontonkan sisi kekanak-kanakan Kailla di depan banyak orang, yang pada akhirnya akan merendahkan istrinya yang dianggap hanya seorang anak kecil.
“Kamu mau pulang?” tanya Pram, menangkup wajah Kailla. Segera dianggukin Kailla dengan cepat.
“Sebentar aku panggil Ste. Dia akan menjemputmu disini.” ucap Pram mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Stella. Tak membutuhkan waktu lama, ketukan high heel Stella sudah terdengar disusul senyum renyah sang sekretaris yang menyapa Kailla dari jauh.
“Ste, ajak Kailla ke ruanganku. Aku masih ada urusan di dalam.” perintahnya pada Stella.
“Siap Pak.” Stella menjawab singkat, menyunggingkan senyumannya pada Kailla.
***
“Maaf, jadi terganggu.” ucap Pram pada semua orang yang ada di dalam ruang rapat. Dia segera masuk kembali setelah memastikan Kailla baik-baik saja bersama Stella.
Tampak pengacara melanjutkan penjelasannya, setelah memastikan Pram sudah duduk dan siap mendengarkannya. Pram hanya mengangguk tanpa ekspresi mendengar poin-poin yang dijelaskan pengacara termasuk aset-aset yang akan dialihkan.
“Maaf, bisa kita bahas lagi nanti. Kebetulan istriku belum menyatakan pendapatnya. Nanti saya akan menghubungi Bapak lagi,” jelasnya pada ketiga orang di hadapannya.
“Baik Pak Pram, tidak masalah. Bapak bisa menghubungi saya kapan saja.” jawab Bapak pengacara.
Pram sudah siap berdiri meninggalkan ruang rapat, ketika pengacara mertuanya itu memintanya secara pribadi untuk berbincang-bincang.
“Maaf Pak Pram, bisa kita berbincang sebentar,” tanyanya pada Pram.
Pram mengangguk, dan memilih duduk kembali. Setelah memastikan di dalam ruangan hanya ada mereka berdua, sang pengacara pun memulai pembicaraannya.
“Saya hanya menyampaikan apa yang saya ketahui selama ini, dan mungkin mertuamu juga akan menyampaikannya. Tapi melihat kondisinya sekarang, mungkin dia tidak bisa menyampaikan langsung kepadamu,” jelasnya.
__ADS_1
“Kemarin saya sempat menjenguk Pak Riadi. Dia bukan hanya sekedar klien buat saya, tapi dia juga teman baik saya.” Terlihat sang pengacara menghela napas.
Mertuamu sangat menyayangimu. Bukan hanya karena kamu menikahi putrinya. Jauh sebelum putrinya lahir, dia sudah menganggapmu putranya.” ucap pengacara itu lagi,
“25 tahun yang lalu sebelum putrinya lahir, dia mewariskan semua aset-asetnya padamu. Walaupun setelah putrinya lahir, dia merubahnya. Tapi dia tetap tidak melupakanmu. Dan sekarang dia menitipkan putrinya juga padamu. Tolong jaga semua yang sudah dititipkan padamu, Nak.” Tampak pengacara itu menepuk pundak Pram yang sedang menunduk, kemudian meninggalkan Pram yang masih membeku di tempat duduknya.
***
Stella dan Kailla sedang berada di ruangan Pram saat ini. Sedari tadi dia tidak henti-hentinya menggoda putri pemilik RD Group itu. Dia sudah beberapa tahun bekerja di RD Group dari kailla masih mengenakan seragam putih biru. Dia tahu bagaimana Kailla yang sering menyusahkan daddynya dan Pram.
“Nyonya, bagaimana rasanya?” goda Stella menaikan alisnya menggoda Kailla.
“Rasa apaan sih Ste?” tanya Kailla menepuk lengan Stella.
“Rasanya.. Pak Pram,” bisiknya di telinga Kailla sambil terkekeh.
“Ih! Apa- apan sih Ste. Gak kamu, gak David penasaran banget kayaknya.” sahut Kailla.
“Bukan cuma aku sama David. Anak-anak dibawah juga penasaran.” ucap Stella terkekeh.
“Udahan ah, kepo aja kamu Ste..! Nanti aku laporin sama Om.”
“Nyo....” Baru saja Stella ingin menggoda Kailla lagi, tapi atasanya sudah masuk ke dalam ruangan.
“Ste, apa saja jadwalku hari ini.?” tanya Pram begitu masuk ke ruangannya. Dia memilih duduk di sofa , di samping Kailla.
“Semua sudah dihandle David Pak. Tapi besok ada meeting terkait pembukaan cabang di Austria. Nanti saya infoin lagi Pak. Belum final,” lapor Stella.
“Oke! Kai, ayo ikut denganku,” ajak Pram meraih tangan Kailla untuk ikut bersamanya.
Melihat Kailla yang dibawa pergi Pram, Stella menutup mulut menahan tawanya.
“Mentang-mentang pengantin baru, maunya nempel terus itu si Pak Pram,”ucapnya pelan sambil menggelengkan kepalanya.
***
“Kai, ada yang mau aku bahas.”ucap Pram setelah mereka berada di mobil.
__ADS_1
Kailla hanya menatap suaminya itu sekilas. Tidak berkata apa-apa, siap menunggu kata-kata selanjutnya.
“Aku akan membiayai semua perawatan Anita. Kamu keberatan, Kai?” tanya Pram menatap Kailla yang duduk disampingnya. Siap menunggu jawaban Kailla. Dia berharap Kailla setuju, tapi seandainya Kailla tidak menyetujuinya dia akan mengikuti semua kemauan istrinya itu.
“Tante sakit?” tanya Kailla heran.
“Iya Kai, sekarang di rawat di rumah sakit jiwa. Sebenarnya keluarganya masih mampu, tapi aku merasa ikut bertanggung jawab,” jelas Pram.
“Aku tidak mempermasalahkannya. Terserah Om saja.” sahut Kailla.
“Terimakasih Kai,” jawab Pram meraih tangan Kailla dan mengenggamnya.
Terlihat Pram memerintahkan Sam untuk mampir ke suatu tempat. Itu adalah tempat masa kecilnya Pram. Selama ini dia tidak pernah sekalipun menceritakannya ke siapapun, kecuali Pak Riadi. Biasanya kalau dia memiliki waktu luang, dia akan mampir sekedar berbagi makanan dan uang saku kepada anak-anak disana.
“Kai, aku berasal dari sini.” ucapnya pada Kailla yang keheranan, kenapa Pram membawanya ke tempat kumuh seperti ini.
“Hah!” Kailla terbelalak. Tidak ada siapapun yang menceritakan padanya bagaimana Pram bisa masuk ke keluarganya.
“Aku bertemu daddy saat sedang di jalanan. Dan daddy menawariku untuk pulang bersamanya saat itu.” Pram mulai bercerita.
“Daddy merawatku, mengirimku ke sekolah dan memenuhi semua kebutuhanku,” lanjut Pram lagi.
Mendengar cerita Pram, segera Kailla menghampiri dan memeluk lengan kekar suaminya itu. “Aku tidak mempermasalahkannya. Sekarang, Om suamiku.” Dia tersenyum menatap Pram.
“Kai, suatu saat kalau kamu mendengar kekurangan atau kesalahan daddy, tolong kamu bisa memaafkannya. Karena itu tidak sebanding dengan kebaikan yang sudah dilakukannya selama ini.” ucap Pram menatap dalam ke manik mata Kailla.
Mendengar kata-kata Pram, Kailla semakin bingung dan keheranan. Dia tidak mengerti arah pembicaraan suaminya itu.
“Sudah, jangan dipikirkan.” ucap Pram tersenyum, mengecup puncak kepala Kailla.
Sebenarnya Pram sedang khawatir, sejak pembicaraannya dengan pengacara tadi seperti ada beban di dalam hatinya. Dia tahu seberapa besar Kailla mencintai daddynya. Kalau sampai Kailla mendapati daddynya membuat banyak kesalahan di masa lalunya, pasti Kailla akan hancur. Bukan hanya sekedar campur tangan Pak Riadi terhadap hubungannya dengan Anita, tapi ada masalah lain yang sampai sekarang masih disimpan rapat oleh daddynya.
***
__ADS_1
Next : “Om benar-benar jahat! Teganya dia meninggalkanku dan daddy demi seorang wanita. Kemarin-kemarin tante, sekarang siapa lagi.” Kailla terlihat kesal menatap pemandangan di depannya. Suaminya itu sedang berpelukan dengan seorang wanita cantik di sebuah restoran.
Terimakasih dukungannya. Love you all.