Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 165 : Kembali Ke Jakarta


__ADS_3

Kailla sudah bersiap, sedang menunggu Pram sambil bermain ponsel di sofa ruang tamu. Sudah lama sekali dia tidak main game lagi. Sejak berada di Austria, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan menonton konten berisi review makanan atau jajanan.


Tak lama, tampak Pram keluar menyeret koper-koper milik mereka. Melihat itu, Sam segera mengambil alih koper dari tangan majikannya. Sam tertunduk lemas, membayangkan sebentar lagi mereka akan kembali ke Indonesia. Berbanding terbalik dengan Kailla. Sedari bangun tidur, dia sudah tersenyum sumringah, senyuman itu tidak lepas sama sekali dari bibirnya.


“Itu bibir nanti tidak bisa tertutup lagi,” ucap Pram meraih dagu Kailla dan menciumnya sekilas. Pram memilih duduk di samping Kailla, menunggu ketiga asistennya.


“Aku sudah tidak sabar bertemu daddy,” sahut Kailla, menyandarkan kepalanya di dada Pram.


“Kai, Kamu tidak lihat tampang asistenmu itu,” bisik Pram di telinga Kailla, meminta Kailla memandang ke arah Sam.


“Dia belum berhasil mendapatkan Mitha, tapi kita sudah mengajaknya pulang,” ucap Pram


“Kamu tidak mau bertemu Mitha? Bukannya kemarin kamu ingin menemuinya,” tawar Pram. Dia masih ingat bagaimana Kailla merengek, minta ikut ke kantor untuk bertemu Mitha, tapi dia tidak mengizinkannya. Perut Kailla sempat kram dan nyeri, jadi Pram memintanya berada di atas tempat tidur seharian. Tapi setelah Bu Ida menasehatinya, kalau itu normal terjadi, Pram sedikit tenang.


“Boleh,” jawab Kailla tanpa menoleh ke arah suaminya. Dia terlalu sibuk memenangkan pertempuran di ponselnya. Pram menatap Kailla, rasanya tidak rela meninggalkan tempat ini. Ada banyak kenangan, perjuangannya disini. Perjuangan untuk mendapatkan istrinya.


Setelah semua koper-koper mereka siap, Pram langsung memerintahkan Sam dan Bayu membawanya ke mobil.


“Kalian ke mobil duluan,” perintah Pram kepada ketiga asistennya.


“Ayo!” ajak Kailla. Langsung berdiri, bersiap menyusul.


“Kita ke kamar sebentar,” ajak Pram sambil tersenyum menggoda.


“Ada yang tertinggal?” tanya Kailla heran.


Pram menggeleng. “Terlalu banyak cerita disini. Rasanya tidak tega meninggalkannya.”


“Aku kira ada apa,” celetuk Kailla.


Setelah berada di kamar, Pram langsung menyerang istrinya, membungkam bibir Kailla. Bahkan tangannya sudah melucuti satu persatu pakaian Kailla. Kailla yang memang sedari kemarin memintanya pada Pram langsung menyambut dengan gembira.


“Kita main pelan saja. Hanya sebentar, cuma buat kenang-kenangan terakhir kita disini,” ucap Pram sambil tertawa. Dia sudah gila sekarang.


Ada banyak cerita mereka disini. Perjalanan rumah tangganya dimulai dari sini, kamar ini. Bahkan mungkin anaknya yang sedang tumbuh di rahim Kaila mulai terbentuk dari sini.


***


Mereka masih berpelukan di atas ranjang tanpa pakaian, berkali-kali Pram mengecup kening Kailla.


“Dia baik-baik saja kan di dalam?” tanya Pram mengusap perut Kailla.


“Iya...,” sahut Kailla.


“Ayo kenakan pakaianmu, Kai. Mereka menunggu kita di bawah,” pinta Pram. Dia segera bangkit dan bergegas mengenakan pakaiannya juga.


“Kamu kurang kerjaan!” omel Kailla setelah merapikan pakaiannya.


“Kai, aku lupa memberitahumu. Aku sudah membeli unit ini. Rasanya tidak rela melepaskannya pada orang lain,” ucap Pram, membuat Kailla terkejut dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


***


Ketiga asisten sedang menunggu di parkiran dengan mengomel dan menggerutu.


“Huh! Katanya cuma sebentar, ini sudah lebih dari satu jam,” gerutu Sam. Sam sedang sensitif, dia harus berpisah dari Mitha, di saat lagi sayang-sayangnya.


“Sudah, tunggu sebentar lagi,” ucap Bu Ida menenangkannya.


Dan benar saja, tak lama dari kejauhan tampak Pram menggandeng Kailla keluar dari lobby apartemen.


“Tuh kan, kita disuruh nunggu disini. Dia main perosotan sama istrinya!” Sam masih saja kesal.


Setelah memastikan semuanya tidak ada yang tertinggal, mereka semua masuk ke dalam mobil, bersiap berangkat menuju ke bandara. Sepanjang perjalanan Pram memeluk Kailla, membiarkan istrinya itu menikmati hangat dekapannya. Ketiga asistennya berada di mobil yang berbeda dengan mereka.


Sam yang masih saja uring-uringan sepanjang perjalanan, langsung tersenyum saat mobil yang membawa mereka berhenti di halaman kantor KRD. Tanpa menunggu yang lainnya, dia langsung berlari masuk menemui Mitha.


“Kai, kalau kita meninggalkan Sam disini, apa kamu keberatan?” tanya Pram , masih di dalam mobil.


“Hah..!” Kailla terkejut, kebingungan menatap Pram.


“Kamu melihatnya kan? Bagaimana Sam berlari masuk menemui Mitha barusan.”


Kamu tidak kasihan dengannya. Dia masih bisa belajar banyak hal, tapi kamu mengikatnya erat bersamamu.” Pram berkata.


“Sebelum kita berangkat ke Austria, aku memintanya melanjutkan kuliah,” lanjut Pram lagi.


“Tapi....,”


“Kamu tidak melihat tadi, bagaimana dia. Dia tidak mau berpisah dengan Mitha. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan meninggalkannya disini. Membiarkan dia melanjutkan kuliahnya disini. Nanti setelah selesai, dia bisa kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan,” jelas Pram, meminta pengertian Kailla.


Kailla menggeleng, menatap ke arah pintu kantor. Tempat dimana punggung Sam menghilang di baliknya.


“Dia membuang waktunya hanya untuk pekerjaan seperti ini. Dia masih muda, jalannya masih panjang,” bujuk Pram lagi.


“Ayolah Kai, kalau kamu sayang padanya, seharusnya kamu mendukungnya. Akan jadi apa dia, kalau terus-terusan ikut denganmu. Setidaknya kita bisa membuatnya menjadi lebih baik.”


“Tapi, aku masih mau bersamanya.” Kailla menolak.


“Aku berjanji, memastikan dia akan bersama kita. Untuk sementara, biarkan dia meneruskan pendidikannya. Oke?” tanya Pram.


“Biarkan dia disini, menyelesaikan kuliah. Aku juga sudah meminta Pieter, memberikan beasiswa pada Mitha untuk melanjutkan S2 nya. Setelah mereka menyelesaikan kuliahnya, mereka akan tetap bekerja pada kita.”


“Mitha juga?” tanya Kailla bingung.


“Iya, menurut cerita Pieter, dia mau melanjutkan S2 nya tapi terkendala biaya. Selama bekerja dengannya, menurutku dia berpotensi bisa lebih baik dari sekarang. Aku mau dia tetap bekerja di perusahaan.”


“Tidak lama, hanya 4-5 tahun. Setelah itu aku akan menarik Sam kembali ke Indonesia,” lanjut Pram, setelah melihat Kailla tidak meresponnya.


“Oke...?” tanya Pram meminta persetujuan.

__ADS_1


“Baiklah..,” jawab Kailla dengan terpaksa.


Cup!Cup! Pram mengecup kening Kailla.


“Kamu masih memilikiku, kamu tidak membutuhkan Sam lagi,” ucap Pram, mengajak Kailla turun dari mobil. Bayu dan Bu Ida memilih tetap menunggu di mobil.


Setelah berpamitan dengan Mitha, Pram memanggil Sam.


“Sam, kalau kamu masih belum mau kembali ke Indonesia, kamu bisa tetap disini. Lanjutkan kuliahmu disini,” tawar Pram.


Sam langsung menatap Kailla yang sedang tertunduk sedih. Dan tidak mau membalas tatapannya.


“Tapi bagaimana Non Kailla?” tanya Sam, beralih menatap ke Pram. Dia tidak tega meninggalkan Kailla. Walaupun dia ikut Kailla baru 2 tahun, tapi rasanya sudah seperti keluarganya sendiri.


“Kailla setuju,” jawab Pram, merangkuk pundak Kailla supay menangis di dalam pelukannya.


Istrinya sedari tadi hanya menunduk tidak mau berkata-kata.


Pram sudah merencanakannya sejak pertama melihat Sam menyukai Mitha. Sam tidak mungkin mendapatkan Mitha hanya dengan apa yang dimilikinya sekarang. Tapi dia belum mau membicarakannya dengan Kailla. Dia khawatir Kailla akan terbawa pikiran dan mengganggu kehamilannya.


Bahkan saat ini kedua orang tua Sam sudah tinggal di kediamannya yang baru. David sudah mengurus semua untuknya di Indonesia. Dia harus mengikat Sam demi Kailla dan Sam memang orang yang bisa diandalkan Pram, terlepas sifat polos dan bodohnya. Apalagi beberapa hari ini Pram masih saja menerima teror ancanam. Dan dia tidak bisa percaya pada siapapun saat ini, kecuali Sam. Sam asisten Kailla yang paling setia, melebihi Bayu dan lainnya.


“Baiklah Pak, saya setuju untuk melanjutkan kuliah disini,” jawab Sam dengan penuh kepastian. Tapi dia sedikit sedih melihat Kailla yang tidak mau menatapnya lagi. Majikannya itu hanya terus-terusan menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan suaminya.


“Ini kunci apartemen, kamu bisa tinggal apartemen yang biasa aku dan Kailla tempati,” ucap Pram menyerahkan kunci apartemen ke tangan Sam.


“Baik, terimakasih Pak,” ucap Sam. Pandangannya beralih menatap punggung Kailla


“Non, terimakasih selama ini,” ucap Sam menahan haru. Dia melihat punggung Kailla berguncang, menandakan majikannya itu sedang menangis hebat di dekapan suaminya.


“Non...,” panggil Sam lagi, saat Kailla tidak mau menatapnya sama sekali.


“Sayang, aku menunggu di mobil,” ucap Kailla bergetar, berusaha terlihat kuat di depan Sam. Dia memilih pergi, meninggalkan Sam sambil mengusap kasar air matanya,


“Non, aku pasti kembali,” ucap Sam pelan. Melihat Kailla menjauh pergi darinya.


Setelah berpamitan dengan Pieter sekaligus memberikan surat penyerahan jabatannya yang sudah ditandatanganinya, Pram kembali ke mobil. Dia masih melihat Kailla menangis.


Sam yang baru saja mengambil tas ranselnya dari mobil yang ditumpangi Bayu dan Bu Ida, hanya berdiri melambaikan tanganya sambil mendekap tas di dadanya.


Baru saja mobil yang di tumpangi Kailla sampapi ke gerbang perkantoran, tiba-tiba Kailla berteriak pada sopir.


“Pak stop!” perintah Kailla. Dia langsung berlari menghampiri Sam dan memeluk asistennya itu.


“Kamu harus cepat kembali Sam. Aku menunggumu,” ucap Kailla terisak.


“Aku sudah menggangapmu seperti keluargaku. Hanya kamu teman pertama dan terbaikku. Kita melewati banyak hal selama dua tahun ini. Kita berbagi banyak hal yang orang lain tidak tahu. Bahkan kamu yang paling tahu isi hati dan perasaanku dibandingkan daddy dan suamiku.”


“Selamanya kamu harus bersamaku, walaupun kamu sudah menikah nanti. Kamu dan keluargamu akan menjadi keluargaku. Selamanya kamu orangnya Kailla Riadi Dirgantara.”

__ADS_1


***


Terimakasih. Love You All.


__ADS_2