
“Sam...,” teriak Kailla saat melihat Sam turun dari mobil dengan memegang ponsel di tangannya. Dia bisa melihat jelas kedatangan Sam dari jendela kaca restoran.
Tampak Sam keluar dari mobil. Baru saja sopir kantor menjemputnya di airport. Tadinya dia berpikir Kailla yang akan menjemputnya sendiri. Mereka berpisah kurang dari sebulan, tapi dia sudah merindukan kenakalan, keusilan, kecerewetan dan kejahatan majikannya itu.
“Iya Pak, Pak Presdir tidak mengizinkan istrinya menjemput di airport. Terlalu ramai, dia khawatir dengan Nyonya,” sahut sang sopir menjawab penasaran tamu jemputannya.
“Ah, Pak Pram seperti tidak tahu saja, seberapa mengerikan istrinya. Apa yang harus ditakuti, yang ada orang-orang takut dengan istrinya,” celetuk Sam, senyum sumringah tampak di wajahnya. Ini pertama kali dia menginjak kaki di luar dari Jakarta dan kampungnya.
Begitu turun dari mobil, dia langsung masuk ke dalam restoran mencari keberadaan Kailla. Saat sudah menemukannya, dia melihat Kailla menangis menatap ke arahnya.
“Ah... Non Kailla tidak bahagia, pasti mau mengeluh kejahatan Pak Pram padaku,” ucapnya pelan saat pertama kali melihat Kailla kembali. Saat ini majikannya terlihat sedikit kurus dan sedang menangis tersedu-sedu menatapnya.
“Non Kailla, I’m Coming!” ucap Sam saat sudah berdiri tidak terlalu jauh dari Kailla.
Deg—
Pandangan Sam beralih pada sosok cantik di samping Kailla. Gadis manis berambut panjang yang saat ini juga ikut menatap ke arahnya. Sam jadi malu sendiri.
“Wah, kalau begini sih, bisa cepat move on dari si Siti. Siti tidak ada apa-apanya dibanding gadis manis ini!” ucap Sam pelan.
Sam menatap perempuan cantik di samping majikannya itu tanpa berkedip, sampai dia melupakan kehadiran Kailla yang cemberut dan kecewa karena diabaikan. Tangis Kailla semakin pecah, saat Sam tidak mempedulikannya, malah menatap penuh damba pada Mitha.
***
Flashback On
Sam pulang ke kampung, selama diistirahatkan Pram. Tapi dia harus menelan kekecewaan. Siti sang cem-ceman sudah menikah dengan anak jurangan kambing di kampungnya. Dengan susah payah, dia berusaha move on. Menangis berhari-hari hanya untuk melupakan Siti. Beruntung David menghubunginya, dengan secepat kilat dia kembali ke Jakarta.
Beberapa hari yang lalu Pram menghubungi Sam , memintanya menyusul ke Austria. Kailla merindukannya dan bakso yang suka keliling di komplek perumahannya. Tapi Pram hanya bisa mengabulkan salah satu saja dari permintaan Kailla, karena dia tidak mungkin menerbangkan bakso atau penjual bakso dan gerobaknya. Setelah mendengar cerita Pram, Sam akhirnya berinisiatif membawa oleh-oleh bakso untuk Kailla. Bakso Mas Sugeng yang keren, si gerobak hitam kesukaan majikannya.
Dia sudah tersenyum bahagia menenteng bakso komplit dengan mie dan sayuran itu masuk ke bandara. Tapi masalah mulai timbul, saat petugas bandara menghentikannya. Memberitahu kalau baksonya itu tidak bisa ikut terbang bersamanya. Dengan pasrah dan kecewa dia mengikhlaskan bakso komplit itu disita petugas.
“Maafkan aku Non!” bisik Sam lirih. Menatap kantong bening itu semakin menjauh darinya.
__ADS_1
“Tung...tunggu Pak!” panggil Sam tiba-tiba, berlari menghampiri petugas bandara.
“Iya , ada apa?” tanya petugas bandara.
“Aku pinjam sebentar, mau difoto sebagai barang bukti. Soalnya ini pesanan orang Pak!” jelas Sam langsung meraih kantong berisi bakso dari tangan petugas.
Setelah mengambil beberapa foto, Sam pun menyerahkan kembali kantong bakso itu kepada petugas sambil menelan salivanya.
“Sayang banget kalau dibuang, mending dimakan tadi,” ucap Sam berjalan lemas menuju ruang tunggu.
Ini adalah penerbangan pertamanya, pengalaman pertama untuknya naik pesawat. Bisa dibayangkan saat Pram mengabarinya, hatinya langsung melambung ke udara. Dia ingat bagaimana dia berteriak, mengejutkan Donny dan beberapa security di pos beberapa saat setelah Pram memutuskan panggilannya.
Belum lagi begitu kembali ke kontrakan, saat dia menceritakan kepada emak dan bapaknya. Kedua orang tuanya langsung sujud syukur. Ikut bahagia, anak mereka akan berangkat keluar negri. Sebelum keberangkatan Sam, mereka mengadakan selamatan kecil-kecilan mengundang tetangga dekat kontrakan untuk mendoakan Sam selamat sampai ke tujuan.
Flashback off
***
“Sam..!” panggil Kailla lagi saat melihat Sam masih saja memandang Mitha sedari tadi.
“Ayo kita pesan makanan!” tawar Kailla, mengajak Sam duduk.
Sam yang memang sudah lapar, segera duduk di kursi tepat di samping Mitha sambil mengulum senyumnya.
“Maaf Non, siapa ya?” tanya Sam ragu, menunjuk ke arah Mitha.
“Penerjemah suamiku,” kenal Kailla.
“Oh... maaf Neng, kenalkan nama saya Samuel. Panggil Sam saja, asistennya Non Kailla,” ucap Sam menyodorkan tangannya pada Mitha sambil mempersembahkan senyum terindahnya.
“Mitha..,” sahut Mitha menyambut tangan Sam buru-buru. Dia sudah melihat gelagat tidak baik dari laki-laki yang menjadi asisten Nyonyanya ini. Sedari tadi laki-laki ini menatapnya. Sebenarnya dia tidak masalah, tapi laki-laki berpakaian sederhana itu bukan typenya sama sekali.
“Oalllah, jangan dipercaya Mit. Namanya Samsul bukan Samuel!” potong Kailla kesal melihat Sam yang memperhatikan Mitha sedari tadi.
“Astaga Non........, itu di kampung Non, kalau di Austria, Samuel.” Sam berusaha membela diri.
__ADS_1
“Sudah pesan saja mau makan apa!” omel Kailla kesal melihat asistennya itu.
Mata Sam membulat saat melihat buku menu berukuran tebal di hadapannya. Membolak-balikan dari halaman pertama sampai halaman terakhir tidak ada satu pun makanan yang menarik untuknya.
“Non, aku pesan di warteg atau warung padang saja Non,” ucapnya berbisik pada Kailla, takut di dengar Mitha kalau selera dan lidahnya sangat nasionalis. Kalau kata Donny, asisten Pak Riadi, lidah mereka itu lidah nusantara.
“Huh... pesan yang ada saja!” dengus Kailla kesal melihat tingkah asistennya.
“Tapi ini masalah selera Non, mana bisa di paksa,” Sam tetap bersikeras.
“Tidak ada warteg atau warung padang disini! Tidak usah banyak mau!” omel Kailla, membuat Sam menciut seketika. Apalagi dia malu saat Mitha juga ikut menatapnya dan mendengar seleranya yang kampungan.
Sam terpaksa membuka kembali buku menu di hadapannya. Kali ini, dia memilih dengan melihat foto-foto yang ada di buku menu. Setelah berulang kali melihat, akhirnya dia menentukan pilihannya.
“Non, aku mau empal ini Non!” Tangan Sam menunjuk ke foto steak di buku menu, yang lengkap dengan kentang, buncis dan wortel di sampingnya.
“Itu steak, Sam!” Kailla tertawa cekikikan mendengar ucapan Sam. Dia menyesal selama ini tidak pernah membawa Sam masuk ke restoran. Setiap kali makan di luar, Sam selalu meminta jajan sendiri, tidak mau ikut dengannya.
“Iya Non, aku pesan steak ini. Sudah dapat sambel kan Non?” tanya Sam memastikan, setelah melihat ada lalapan buncis, wortel rebus dan kentang yang disusun di samping daging.
“Astaga Sam, ini steak bukan pecel lele,” gerutu Kailla lagi.
“Iya..iya, sambelnya yang ada saja!” ucap Sam pasrah. Tidak mau mendengar omelan Kailla lebih jauh.
“Non, dapat nasi kan?” Sam bertanya kembali. Nasi itu penting untuknya. Sampai tidak ada nasi di paketan steaknya, dia berencana meminta Kailla memesan seporsi nasi untuknya.
Kailla langsung melotot, membuat nyali Sam menciut tidak mau bertanya lagi. Dia ikhlas saja disodor makanan apapun, dari pada kena semprotan Kailla. Yang penting bisa mengganjal perutnya saat ini.
Sam adalah pemuda kampung yang dibawa Donny bekerja menggantikan posisi Donny sebagai asisten Kailla waktu itu, yang mendadak naik kelas harus mengawal Pak Riadi. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Pram tetap mempekerjakannya. Melihat keluguan Sam, Pram terpaksa mempekerjakan Bayu secara diam-diam untuk mengawal Kailla. Pram sebenarnya sempat ingin memecat Sam karena dianggap tidak becus, tapi Kailla membelanya.
Pertama kali ke Jakarta, Sam tidak mengerti apa-apa, walaupun usianya 5 tahun di atas Kailla. Satu-satunya kemampuan yang dimilikinya adalah menyetir mobil, ketrampilan yang di dapatnya karena lama menjadi kenek angkot di kampungnya. Sam hanya lulusan SMA, di kampungnya yang sangat terpencil.
***
Terimakasih.
__ADS_1
Love You All. - Samsul / Samuel.