Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 166 : Rumah Baru Di Pinggir Laut


__ADS_3

Sepanjang penerbangan Austria - Indonesia, Kailla memilih diam. Sesekali dia tertidur, tapi itu pun tidak lelap. Saat transit, malah dia hanya menelusup di pelukan Pram berjam-jam, tanpa mau bicara sama sekali. Hatinya sedang gundah gulana, walau dia berusah kuat, tapi kehilangan Sam sangat berat untuknya.


Tepat saat turun dari pesawat, menginjakan kaki kembali ke tanah air, dia langsung menangis hebat. Air mata itu turun deras, seolah ada yang tertinggal dan rasa kehilangan yang membuatnya enggan pulang.


“Aku benar-benar sudah meninggalkannya di sana Sayang,” ucapnya pelan sambil terisak, kembali menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata di dalam dada bidang suaminya. Kedua tangannya membelit erat pinggang Pram.


“Iya, tidak apa-apa, nanti juga akan terbiasa Sayang,” hibur Pram, menepuk lembut punggung Kailla. Mereka sedang menunggu Bayu dan Bu Ida yang sedang mengumpulkan koper-koper mereka.


“Rasanya beda, sewaktu aku berangkat ke Austria aku hanya akan meninggalkannya 1-2 bulan. Tapi sekarang, 4-5 tahun. Bagaimana aku melewatkannya,” isak Kailla.


“Tidak apa-apa, kan masih ada aku suamimu. Ada daddy, masih ada Bayu dan Donny juga. Bahkan masih ada Bu Ida dan Bu Sari menjagamu setiap hari,” ucap Pram, mengecup pucuk kepala Kailla yang masih bergetar hebat dalam pelukannya.


“Mereka tidak sepanjang waktu bersamaku. Kalau Sam hanya tidur saja, kita tidak bersama. Selebihnya kami selalu bersama-sama. Bahkan kalau membuat kesalahan, kami akan menanggungnya bersama,” cerita Kailla mengingat bagaimana dia menghabiskan 2 tahun ini bersama Sam.


“Iya..., aku tahu.” Selama 2 tahun ini, Sam satu-satunya orang yang setia di sisi Kailla. Berbeda dengan perasaannya ke Donny, walaupun Donny mengawalnya selama 18 tahun.


“Aku pertama kali merasakan kebebasanku bersamanya,” ucap Bella. Tangisnya semakin kencang, sampai dia harus menggigit kemeja Pram supaya suaranya tudak terdengar keluar.


“Aku ada kejutan untukmu dan anak kita. Sudah, jangan menangis lagi,” ucap Pram, memberi jarak antara dia Kailla, kemudian menghapus wajah itu dari air mata yang masih saja mengalir deras.


“Kenapa Sam tidak kuliah di Indonesia saja?” keluh Kailla.


“Sudah... jangan dipikirkan. Suatu saat Sam akan kembali. Jangan menangis lagi,” bujuk Pram, menggandeng istrinya itu keluar dari bandara. Mencari Donny dan David yang akan menjemput mereka.


***


Di dalam mobil pun, Kailla masih tetap menangis. Meskipun tidak sekencang sebelumnya. Dia hanya menyandarkan kepalanya di dada Pram, sambil menautkan jemari tangannya ke jemari tangan Pram.


“Apa kabar anakku hari ini?” tanya Pram. Perjalanan hampir 19 jam, membuat mereka tiba di Indonesia pada keesokan harinya.


Kailla menatap Pram sekilas kemudian mengangguk, memilih menelusupkan kembali wajahnya, mencium aroma Pram. Dia baru protes dan mengeluarkan suaranya saat mobil yang ditumpanginya keluar tol tidak jauh dari bandara.


“Kenapa kita keluar tol disini? Bukannya harus keluar di Lebak Bulus?” tanya Kailla heran. Selama ini dia tinggal di Jakarta Selatan, dan pada saat ini mobil mereka keluar tol masih di Jakarta Utara.


“Kamu serius membeli rumah disini?” tanya Kailla, setelah mengingat kembali percakapannya dengan Pram beberapa waktu lalu.


Pram hanya mengangguk.


“Aku tidak mau Sayang, aku mau dekat dengan daddy,” tolak Kailla.


“Lihat dulu rumahmu, baru kita bicarakan lagi,” sahut Pram, tidak mau berkomentar lagi.


Saat mobil masuk perumahan mewah yang menghadap langsung ke laut, Kailla langsung terkejut. Dia langsung membuka jendela mobil dan bisa dipastikan aroma air laut dan sedikit amis menyeruak di hidung.

__ADS_1


Dia berbalik menatap Pram, sambil tersenyum.


“Kamu menyukainya?” tanya Pram, ikut bergeser, menemani Kailla melihat pemandangan lewat jendela mobil.


Kaila mengangguk. “Suka. Terimakasih Sayang,” ucap Kailla, mengecup pipi Pram.


“Nanti sampai di rumah baru berterimakasih. Aku harus menghitungnya berapa banyak yang harus kamu bayar nanti malam,” goda Pram, mengedipkan matanya.


Tak lama, mobil pun berbelok ke salah satu rumah tiga lantai bernuasa klasik modern. Begitu turun dari mobil, Kailla langsung berlari menghampiri Pram.


“Aku suka Sayang. Hanya saja pagarnya terlalu tinggi. Aku tidak bisa melihat laut dari lantai satu,” ucap Kailla, tersenyum. Memeluk Pram dan mengecup wajah Pram berulang kali.


“Tapi aroma laut terlalu menyengat,” keluh Kailla.


“Hahahaha. Selain aroma laut yang mengganggu, kamu harus bersiap dengan banjir yang biasanya melanda perumahan kita. Itu resiko yang harus dibayar kalau memilih tinggal disini,” ucap Pram terkekeh, mengajak Kailla masuk ke dalam rumah.


“Ah......!” keluh Kailla.


“Tapi di belakang rumah, ada dermaga kecil. Ada speedboat dan yacht milikmu terparkir disana. Kamu bisa mengajak Bayu mencobanya. Sesekali menikmati sensasi belanja ke Alfamart menggunakan speedboat. Hahahaha. Aku tidak bisa membayangkan,” ucap Pram tertawa terbahak-bahak.


“Coba ada Sam disini. Pasti menyenangkan sekali!” celetuk Kailla.


Begitu pintu rumah terbuka tampak daddy yang duduk di kursi roda sudah menyambut mereka di ruang tamu.


“Dad..,” sapa Pram, mengikuti Kailla, memeluk lelaki tua yang terlihat lebih kurus. Tapi sekarang Pak Riadi sudah bisa tersenyum, sedikit ada kemajuan.


“Ah Dad, aku benar-benar merindukanmu,” ucap Kailla, menitikkan air mata. Sudah lama dia tidak menyentuh tangan daddynya.


“Dad.. aku punya kejutan untukmu,” ucap Kailla, berdiri dan berbisik di telinga Pak Riadi.


Dengan tersenyum, Kailla meraih tangan daddynya yang lemah tak bertenaga dan menuntun tangan renta itu untuk menyentuh perutnya.


“Disini ada cucumu,” bisik Kailla.


Daddy hanya bisa tersenyum, ada dua bulir air mata ikut jatuh saat mendengar berita yang disampaikan putri kesayangannya.


“Daddy jangan menangis, daddy harus sehat. Nanti bisa bermain dengan cucu daddy,” ucap Kailla, menahan tangisnya. Kedua tangannya sedang menghapus air mata yang turun di wajah tua sang daddy.


Pak Riadi langsung menatap Pram, seolah ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak bisa diucapkan.


Melihat tatapan mata Pak Riadi, Pram kemudian membisikkan sesuatu.


“Daddy, jangan khawatir. Aku akan menjaga Kailla dan cucumu,” ucap Pram pelan, menggengam tangan mertuanya, memberi keyakinan semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Setelah puas memeluk dan melepas rindunya pada ayahnya, Pram mengajak Kailla ke kamar mereka yang terletak di lantai dua.


“Maaf Kai, aku membeli rumah ini jauh-jauh hari sebelum kamu hamil. Jadi kamar kita ada di


lantai dua. Nanti aku akan meminta David membicarakan dengan pihak kontraktor, merenovasi salah satu kamar di lantai satu untuk kita. Tidak mungkin kamu bolak balik naik tangga dalam keadaan hamil seperti ini,” jelas Pram, menggandeng Kailla naik.


“Sejak kapan daddy pindah kesini?” tanya Kailla tiba-tiba.


“Baru beberapa hari yang lalu,” sahut Pram singkat.


“Rumah yang di Pondok Indah?” tanya Kailla lagi.


“Sementara dibiarkan kosong. Tapi aku ada rencana meminta orang tua Sam, tinggal disana, sekalian merawatnya. Suatu saat kita pasti membutuhkan rumah itu,” jelas Pram.


“Maksudnya?” tanya Kailla bingung.


“Seperti yang aku katakan sebelumnya, tinggal disini beresiko banjir. Dan kalau itu terjadi, kita bisa tinggal sementara di rumahmu yang lama. Dan kita butuh orang untuk merawatnya agar tetap bersih.”


“Dan kamu meminta orang tua Sam yang menjaganya?” tanya Kailla.


“Rencananya begitu. Aku dengar, orang tuanya tinggal di kontrakan dan tidak bekerja. Kita bisa memintanya merawat rumah yang disana dan memberinya gaji. Tapi aku belum menanyakan langsung ke orangnya. Aku sudah meminta David mengajak mereka tinggal bersama kita di rumah belakang. Selamanya, Sam akan ikut denganmu. Makanya jangan menangis lagi untuknya,” jelas Pram.


“Hah?! Maksudmu sekarang kedua orang tua Sam ikut dengan kita?” tanya Kailla memastikan.


“Iya, rumahmu jadi ramai sekarang. Kita kan sama-sama sendirian, tidak punya saudara atau pun keluarga. Jadi anggap saja mereka keluarga kita,” ucap Pram sambil tersenyum.


Pram membangun beberapa rumah kecil di belakang rumah utama yang sekarang ditempatinya. Semua untuk tempat tinggal para asisten dan pembantu.


Dia tidak hanya memboyong Pak Riadi ke sini, semua asisten dan pembantu Pak Riadi, termasuk security juga dibawa Pram pindah ke rumahnya yang baru. Mereka semua berjasa merawat istrinya sejak kecil, jadi dia tidak mungkin meninggalkan mereka semua. Mereka bahkan sudah mengabdi pada Riadi puluhan tahun.


Selain itu, Pram membutuhkan mereka semua untuk menjaga Kailla dan anaknya yang akan lahir nanti. Mereka orang-orang yang setia dan dapat dipercaya Pram.


***


Memulai hari pertama di rumah yang baru.


Kailla yang belum terbiasa dengan kamar barunya, tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pagi-pagi sekali dia sudah dikejutkan dengan suara seseorang berteriak kencang dari gerbang depan rumah barunya. Bahkan pada saat itu, security saja masih setengah terlelap. Jam di nakas, baru menunjukkan pukul 03.00 pagi.


“NON KAILLA!”


“NON KAILLA!”


“NON KAILLA!”

__ADS_1


To be continue!


__ADS_2