Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 156 : Dimana Suamiku


__ADS_3

“Bu, disimpan saja di kulkas kuenya. Daripada di meja, yang ada jamuran nanti. Yakin aku, tidak ada yang mau makan kecuali Pak Pram. Hahahaha!” Sam terbahak, dia belum bisa move on dari tampilan kue buatan majikannya.


“Aku berani jamin. Rasa dan tampilan tidak akan jauh berbeda!” Lagi-lagi Sam membahas masalah kue Kailla yang gagal total.


“Emang Non Kailla itu bakatnya cuma membuat kekacauan, tidak ada bakat membuat kue.”


“Sam.. kelewatan kamu. Itu Non Kailla bikinnya seharian loh,” jelas Bu Ida.


“Emang tadi kenapa sih dengan Non Kailla?” tanya Bu Ida.


Sam menggeleng. “Sepertinya Pak Pram yang menelepon.”


“Terus?” Bu Ida penasaran.


“Terus ya gitu deh!” sahut Sam, beranjak pergi meninggalkan Bu Ida dengan penasarannya.


***


Di kamar Kailla menangis sejadi-jadinya. Pram benar-benar menghancurkan semua yang ada di bayangannya. Dia sudah bersusah payah melakukan semua permintaan Pram, tapi lagi-lagi Pram meninggalkannya dan lebih memilih pekerjaan.


Dan sudah dua malam Pram tidak pulang ke rumah. Berkali-kali Pram mencoba menghubungi Kailla, tapi tidak satu pun di terima Kailla. Pram hanya bisa mengirim pesan teks yang hanya dibaca Kailla, tanpa ada satu pun yang dibalasnya. Kalau bukan karena Pieter yang mengurungnya di kamar rumah sakit, Pram pasti sudah kabur dan pulang menemui istrinya. Tapi Pieter benar-benar tidak mengizinkannya melangkah keluar pintu sama sekali.


Dan Kailla, menghabiskan sepanjang harinya dengan mengurung diri di kamar. Tidak mau bicara bahkan tidak mau melakukan apapun, hanya tidur di kamar. Dia keluar hanya untuk makan, itu pun hanya porsi kecil. Nafsu makannya hilang seketika. Belum lagi, dia tidak bisa tidur dan memendam kesal pada Pram. Semakin mengingatnya, dia semakin kecewa.


Tepat di hari ketiga, dia tidak bisa lagi bersabar. Saat terbangun dari tidurnya, dia sudah membulatkan tekad.


“Baiklah! Kalau dia masih tidak mau pulang, aku yang akan mengirim kopernya sendiri ke kantor!” ucap Kailla kesal.


Segera dia bersiap ke kamar mandi, membersihkan diri. Tapi dia dibuat kaget saat melepas pakaiannya, dia melihat bercak darah di celana dalamnya.


“Apa aku haid?” Kailla bingung. Dia tidak begitu paham.


“Apa ibu hamil itu masih mendapatkan haid? Bukannya kalau hamil sudah tidak haid lagi,” ucapnya pelan, kebingungan.


“Tapi perutku tidak sakit sama sekali, mungkin tidak apa-apa,” ucap Kailla sambil mengelus perutnya.


“Apa nanti aku tanyakan pada Bu Ida saja ya.”


Setelah bersiap-siap, dia langsung keluar kamar dan mencari Sam. Mereka akan ke kantor hari ini. Agendanya untuk melabrak Pram, suaminya.


“Sam, ayo ikut denganku,” ajak Kailla. Sam dan Bayu sedang menikmati sarapannya di ruang makan.

__ADS_1


“Non, tidak sarapan?” tanya Bu Ida.


Kailla menggeleng. “Aku makan di kantor saja Bu,” jawab Kailla.


“Ayo Sam buruan. Rotinya dibungkus saja! Jangan sampai kesiangan, nanti suamiku keburu dipatok ayam!” ucap Kailla setengah kesal. Setiap menyebut nama Pram, mood Kailla langsung hancur. Mengingat sudah dua malam dia ditinggal tidur sendiri.


“Buruan Sam! Non Kailla itu lagi sensi, maklum saja sudah dua malam tidak dibelai,” ucap Bayu, menyikut Sam yang masih saja makan dengan pelan.


“Iya, lagi jablai. Untung suaminya Pak Pram, coba kalau Bang Toyib, habis kita semua. Dua hari ditinggal saja sudah seperti ini, apalagi kalau dua kali lebaran,” bisik Sam, langsung bangkit dari duduknya.


“Bu, aku berangkat ya,” pamit Kailla.


“Jalan Bro, lapis legit dikulkas dijaga-jaga. Jangan sampai digondol maling. Kalau hasil mediasi ke kantor hari ini berhasil, bukan tidak mungkin lapis legit itu mau dilaunching sama Non Kailla,” ucap Sam, menepuk pundak Bayu.


****


Sampai di kantor, Kailla buru-buru turun dari mobil. Target dia sekarang adalah ruangan Pram.


“Ayo Sam, jalannya jangan kayak siput!” omel Kailla saat melihat Sam masih sibuk merapikan rambutnya di kaca mobil.


“Bentar Non, kan mau ngecek masih ada sisa kuning telur nyelip di gigi apa gak,” sahut Sam.


Sam sudah tersenyum bahagia saat Kailla mengajaknya ke kantor. Dia bisa bertemu dengan pujaan hatinya, Neng Mitha. Sayang Kailla tidak memberitahunya terlebih dulu. Kalau tidak, pasti dia akan memakai kemeja biru dongker andalannya. Yang dibeli khusus untuk lebaran hari pertama tahun kemarin.


“Huh..! Pantes saja otakmu cuma segini Sam.. Sam. Dulu waktu pembagian otak pasti kamu datangnya telat. Makanya jalan itu yang cepat,” gerutu Kailla.


“Lah! Non Kailla yang waktu pembagian otak sudah datang duluan, kenapa masih bisa dapat otaknya hampir sama denganku. Harusnya kan Non bisa milih.” Sam menyerang balik.


“Kurang ajar kamu Sam!”


Kailla setengah berlari begitu keluar dari lift. Terlihat buru-buru dia membuka pintu ruangan suaminya.


Ceklek! Begitu pintu terbuka, ruangan suaminya kosong.


Hanya ada tumpukan berkas di atas meja. Tak lama Mitha masuk mengantar berkas, meletakkan di atas meja Pram.


“Pagi Nyonya,” sapa Mitha tersenyum.


“Mit, suamiku mana?” tanya Kailla heran.


“Pak Presdir sudah dua hari tidak ke kantor Nyonya,” jawab Mitha.

__ADS_1


Deg—


Sontak mengejutkan Kailla.


“Suamiku dimana? Bukannya dia lembur!” ucap Kailla dalam hati.


Sam yang berdiri di belakang Kailla ikut mendengar.


“Ckckckck... hebat Pak Pram, baru sebulan tinggal di Austria, sudah punya istri lagi. Ini pasti pulang ke rumah istri muda,” celetuk Sam bercanda.


Mendengar kata-kata Sam, Kailla langsung berbalik menatap Sam, langsung menangis.


“Non... jangan menangis Non. Aku tadi cuma bercanda. Pak Pram tidak mungkin begitu,” hibur Sam, merasa bersalah.


“Nyonya jangan berpikiran yang aneh-aneh. Pak Pram mungkin ada kerjaan di luar,” jelas Mitha, menepuk punggung Kailla lembut.


Melihat Mitha yang menepuk punggung majikannya, Sam ikut-ikutan. Tapi dia bukannya menepuk pungung Kailla, tapi dia mencuri kesempatan mengelus tangan Mitha.


Mitha langsung melotot, menatap ke arah Sam.


“Maaf Neng khilaf,” ucap Sam mengedipkan matanya.


“Sebaiknya Nyonya tanyakan ke Pak Pieter saja. Dari kemarin, hanya Pak Pieter yang berhubungan langsung dengan Pak Pram.


Tanpa menunggu lagi, Kailla langsung berlari menuju ke ruangan Pieter. Dia lupa dengan janjinya pada Pram, kalau dia akan menjauhi laki-laki itu. Yang terpenting sekarang, dia harus tahu dimana suaminya selama dua hari ini.


Selama dua hari ini, dia tidak membaca dengan jelas semua pesan-pesan Pram. Dia hanya tahu Pram banyak kerjaan di kantor dan harus lembur. Semua telepon Pram juga tak ada satupun yang diterimanya.


Sampai di depan ruangan Pieter, Kailla langsung menerobos masuk.


Ceklek!


Tampak Pieter sedang duduk dengan rambut acak-acakan. Sudah dua malam dia tidur di rumah sakit menunggui Pram. Bahkan, sekarang dia belum sempat mandi. Tadi dia buru-buru ke kantor.


“Dimana suamiku?” tanya Kailla.


***


Terimakasih dukungannya. Love You All.


Kalau sempat bisa mampir di novelku yang satunya ya. “Menikahi Majikan Ibu”

__ADS_1



__ADS_2