Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 158 : Cukup Punya Satu Anak Saja


__ADS_3

“Kamu pendarahan? Atau bagaimana maksudmu Kai?” tanya Pram mulai panik. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada kandungan Kailla. Sakit kepalanya menghilang seketika, saat otaknya berpikir hal terburuk yang akan terjadi pada kandungan Kailla. Bayi yang selama ini sangat diharapkannya.


“Kai, apa yang kamu rasakan?” tanya Pram mengusap perut istrinya.


Kailla menggeleng. “Tidak ada rasa apa-apa,” sahut Kailla.


“Izinkan aku melihatnya,” pinta Pram. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tangannya sudah bersiap menyingkap dress Kailla.


“Jangan!” tolak Kailla, merona malu.


“Darahnya banyak sekali?” tanya Pram saat mendapati Kailla mengenakan pembalut.


“Tadi pagi cuma sedikit Sayang,” jawab Kailla.


“Kita ke dokter sekarang. Aku tidak tenang,” ajak Pram membantu Kailla turun dari ranjang.


Kailla sudah bersiap meloncat turun dari ranjang yang lumayan tinggi untuk ukuran tubuhnya.


“Jangan-jangan! Jangan meloncat. Aku akan menggendongmu turun,” ucap Pram meraih tubuh Kailla dan menurunkannya perlahan.


“Kamu bisa jalan sendiri?” tanya Pram memastikan.


“Iya, ini tidak sakit Sayang,” jawab Kailla santai. Dia heran melihat Pram begitu panik. Bahkan tadi dia masih berlari kesana kemari. Kalau sampai Pram tahu, suaminya itu pasti akan memarahinya.


“Kita ke dokter sekarang,” ajak Pram, menggengam tangan Kailla.


Setelah bertanya ke bagian informasi, mereka sampai juga ke poli kandungan. Menunggu di ruang tunggu seperti pasangan lainnya. Pram hanya bisa memilih salah satu dari dokter yang sedang bertugas waktu itu. Dan yang jadi masalah tidak ada satu pun dokter perempuan yang bertugas di jam tersebut. Pram yakin, akan sulit sekali membujuk Kailla, tapi dia bisa apa. Istri dan bayinya yang terpenting saat ini.


Dan semua dugaannya menjadi kenyataan. Bagaimana Kailla menolak dan meminta ganti dokter bahkan ganti rumah sakit saat akan dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan penyebab pendarahan.


“Sayang, aku tidak mau,” tolak Kailla merengek pada Pram, saat perawat memintanya melepas celana dalam untuk melakukan pemeriksaan.


Pram yang berusaha membujuk terpaksa kena imbasnya. Ini kali keduanya Kailla menolak. Tapi kali ini, Pram tidak mengabulkannya seperti saat pertama kali melakukan pemeriksaan. Keselamatan bayi mereka yang terpenting saat ini.


“Sayang, cuma sebentar,” bujuk Pram membelai wajak Kailla sedang berbaring di ranjang pemeriksaan.


“Mau ya? Demi anak kita,” rayu Pram lagi, kali ini dia memilih mengecup pelipis Kailla berulang kali. Cara apapun akan dilakukan, asal Kailla bersedia. Dia sudah tidak peduli dengan perawat yang tersenyum menatap usahanya membujuk Kailla.


Tapi bukan Kailla namanya kalau cepat menurut. Istrinya tetap menggeleng.


“Ada aku disampingmu, dokternya tidak akan berani macam-macam,” bisik Pram.


“Aku tidak mau, ini memalukan sekali Sayang,” protes Kailla sambil berbisik. Beruntung perawat itu tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dalam bahasa Indonesia.


Cuma sebentar, kamu cukup tutup mata saja, seperti digigit semut,” bujuk Pram lagi.

__ADS_1


Hati kecilnya juga tidak bisa menerima, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini yang terbaik untuk memastikan bayi mereka baik-baik saja.


“Kamu boleh meminta apa saja padaku setelah ini. Aku berjanji,” ucap Pram.


Segala cara dipakai Pram untuk membujuk, akhirnya Kailla mau mengalah juga. Walau terpaksa dan mengomel. Sambil terisak dan kesal, dia tidak mau menatap suaminya sama sekali setelah itu.


Pram bisa bernafas lega, saat dokter mengatakan janinnya baik-baik saja dan tidak ada masalah. Kailla hanya butuh istirahat dan bedrest beberapa hari, sampai flek berhenti. Kondisi yang normal untuk ibu hamil muda yang mengalami kelelahan, tekanan atapun stress.


Pram memutuskan Kailla melakukan bedrest di rumah sakit, walaupun dokter mengizinkan Kailla di rawat di rumah. Sifat keras istrinya membuat Pram tidak percaya kalau meninggalkan Kailla di rumah sendirian. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatur Kailla. Tapi kalau di rumah sakit, Kailla akan patuh dengan perawat atau dokter yang merawatnya.


“Kamu masih marah?” tanya Pram lagi, setelah Kailla tidak mau menjawabnya. Istrinya itu memilih tidur membelakanginya.


“Aku tidak mau melihatmu,” ucap Kailla kesal.


“Baiklah, kepalaku masih sakit Kai. Aku ambil kamar lain saja, kalau kamu tidak mau melihatku,” ucap Pram, melirik Kailla.


“Aduh...!” teriak Pram memijat pelipisnya. Sontak membuat Kailla berbalik.


“Sayang.., kamu tidak apa-apa?” tanya Kailla panik. Dia segera bangkit dan duduk di ranjang. Tangannya menarik tangan Pram supaya mendekat padanya.


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Dokter tidak mau mengatakan apa penyakitku,” jawab Pram berbohong.


“Apakah sakit sekali?” tanya Kailla setelah melihat Pram berulang kali memijat pelipisnya.


“He..em,” gumam Pram.


“Kemarilah! Aku akan memijatmu!” ucap Kailla, menggeser duduknya berbagi tempat dengan suaminya.


“Ah, aku mau tidur di pangkuanmu saja Nyonya,” ucap Pram tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil menipu Kailla. Dia langsung berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya.


“Sayang, maafkan aku,” ucap Pram tiba-tiba.


“Kenapa? Kamu membuat kesalahan kah?” tanya Kailla, tangannya sedang memijat kepala Pram.


“Aku berbohong padamu dua hari ini. Aku hanya tidak mau kamu khawatir,” jelas Pram, menarik tangan Kailla dan menggengamnya.


“Iya, Pieter sudah menjelaskan padaku,” ucap Kailla.


“Kenapa kamu jadi penurut begitu padanya!” gerutu Pram.


“Hah! Kamu masih cemburu padanya. Aku kan sudah mengatakan aku tidak mencintainya,” ucap Kailla.


“Kai tadi sewaktu diperiksa, apa sakit?” tanya Pram.


Dia sendiri tidak tega melihatnya. Membayangkan alat yang digunakan untuk pemeriksaan, ada rasa kasihan pada istrinya. Kalau bukan karena bayi di kandungan Kailla, pasti dia akan mengabulkan semua permintaan Kailla tadi.

__ADS_1


“Sedikit, seperti digigit semut,” ucap Kailla sambil terkekeh.


“Ah.. kalau cuma digigit semut, untukmu pasti tidak ada rasa apa-apa. Bukannya kamu sudah terlatih digigit macan setiap malam,” sahut Pram sambil tertawa.


“Dasar!” omel Kailla, memukul lengan Pram.


“Dokter tadi berpesan, aku tidak boleh sering-sering menjenguk anakku,” ucap Pram.


“Aku hanya takut, dia tidak mengenali daddynya lagi setelah ini,” lanjut Pram.


“Alasan!” gerutu Kailla.


“Kai, apa hamil itu sungguh tidak mengenakan?” tanya Pram, dia berbaring menyamping supaya bisa mengelus perut Kailla, dan menciumnya berulang kali.


“Di awal-awal, iya. Tapi sekarang sudah terbiasa.”


“Kalau memang menyulitkan, kita cukup punya satu anak saja,” ucap Pram, menatap Kailla.


“Iya...,” ucap Kailla.


“Tapi.. aku tidak berjanji kalau kamu berselingkuh dariku.” Pram berkata, menatap tajam ke arah Kailla.


“Hah!? Maksudmu?” tanya Kailla terkejut.


“Kalau kamu berselingkuh, aku akan menghamilimu setiap saat,” sahut Pram terkekeh.


“Sampai kamu tidak punya kesempatan berselingkuh. Ingat itu! Aku tidak sedang mengancammu. Aku serius dengan kata-kataku kali ini,” lanjut Pram, telunjuknya sedang menekan kening Kailla,


“Kamu selalu mengatakan aku berselingkuh, kamu sendiri bagaimana?” tanya Kailla memajukan bibirnya.


“Aku menjaminkan nyawaku, aku tidak akan pernah berselingkuh. Sekarang ataupun nanti,” jawab Pram.


“Tidurlah, kamu harus banyak istirahat.” Pram bangun dan memilih tidur disamping Kailla. Mendekap erat istrinya.


“Aku sudah meminta Sam dan Mitha kesini, menemanimu. Setelah kamu tidur, aku harus ke kantor. Ada beberapa berkas yang harus aku tandatangani,” jelas Pram, ikut memejamkan matanya.


Tak lama tampak Sam dan Mitha masuk ke dalam kamar perawatan. Baru melangkah masuk, mereka dikejutkan dengan kedua majikannya yang sedang tidur berpelukan di atas ranjang rumah sakit.


“Ckckckck..., tidak di rumah, tidak di rumah sakit. Sama saja kelakuannya,” gerutu Sam.


“Neng Mitha, kalau baper tinggal kasih tahu ya. Jangan malu-malu. Nanti abang Samuel kekepin kayak Pak Pram sama Non Kailla,” goda Sam, memilih duduk di sofa diikuti Mitha.


Sedari pagi dia banyak menghabiskan waktunya dengan Mitha. Setidaknya gadis cantik itu sudah mulai mengganggap keberadaannya.


****

__ADS_1


Terimakasih. Maaf telat ya.


__ADS_2