
Entah sudah berapa gelas kopi yang dihabiskan Bayu dan Sam sambil menunggu kedua majikannya keluar dari kamar. Bahkan Sam berulang kali mengecek jam di pergelangan tangannya.
“Gila! Sudah jam 10 masih belum mau keluar juga,” ucap Sam kesal. Menatap pintu kamar majikannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Habis berapa ronde itu!” gerutu Sam kesal.
“Haha..., jangan ditunggu. Kalau Pak Pram capek, juga keluar sendiri,” ucap Bayu.
“Bu Ida saja tidak protes, padahal bolak-balik panasin makanan, tapi orangnya gak keluar-keluar,” lanjut Bayu lagi.
“Aku sudah terlatih Bay, jangan disamakan dengan Sam. Sam baru disuruh lihat pintu kamar saja, dia sudah protes,” ucap Bu Ida.
“Iya, dia belum pernah merasakan diusir keluar dan menunggu di depan, hanya karena Pak Pram mau main injit injit semut sama Non Kailla. hahaha...” Bayu menambahkan.
Baru saja Sam mau membuka suara kembali, Kailla sudah keluar dari kamar dengan penampilan acak-acakan. Hanya dengan kaos milik Pram dan celana pendek.
“Bu, mie goreng instan masih ada?” tanya Kailla sambil menguncir asal rambutnya.
“Tinggal sebungkus Non,” jawab Bu Ida, mengeluarkan mie dari dalam lemari.
“Ini Non,” sahut Bu Ida.
“Non... sedang hamil. Tidak bagus makan mie instan. Ibu sudah buatkan sarapan,” ucap Bu Ida berusaha mencegah.
“Bukan untukku Bu. Suamiku yang mau makan,” ucap Kailla membuat ketiga asisten itu terkejut. Semua di keluarga Riadi tahu, Pram tidak pernah mau makan mie instan atau makanan kemasan.
“Pak Pram?” tanya Bu Ida memastikan sekali lagi.
Kailla mengangguk.
“Apa tidak salah Non?” tanya Bu Ida lagi.
“Sebenarnya aku yang menginginkannya, tapi suamiku tidak mengizinkannya,” ucap Kailla lemas. Segera dia meraih panci dan mengisinya dengan air, kemudian memanaskannya.
“Bu tolong lanjutkan!” pinta Kailla, dia kembali ke kamarnya. Masih berharap bisa membujuk Pram.
***
“Sayang.., panggil Kailla. Pram masih bertelanjang dada, telentang di atas ranjang memejamkan matanya.
“Hmmm,” gumam Pram.
Segera Kailla naik di atas tempat tidur, duduk tepat di samping Pram. Masih sibuk membujuk suaminya itu.
“Aku mau Sayang,” rengek Kailla menarik lengan Pram yang masih terlipat menahan kepalanya.
“Tidak boleh! Kamu tidak boleh makan itu,” tolak Pram tegas. Matanya masih terpejam.
“Sedikit saja,” bujuk Kailla lagi.
“Tidak, sesuai perjanjian awal. Aku saja yang akan makan,” tolak Pram, tidak ada kompromi lagi.
“Sayang.., kan aku yang mengidam mie goreng. Bagaimana bisa kamu yang makan!” gerutu Kailla.
__ADS_1
Itu kan anakku juga. Jadi sama saja aku atau kamu yang makan,” ucap Pram.
Sebenarnya dia tidak akan pernah mau makan mie kemasan seperti itu, tapi Kailla beralasan dan membawa-bawa anaknya.
“Sayang......” Kailla masih saja sibuk membujuk Pram. Sampai suara Bu Ida memanggil dan mengetuk pintu kamar mereka.
“Non, mie nya sudah siap.”
“Iya Bu, aku segera kesana.” Buru- buru Kailla turun dari ranjang, tapi baru saja akan berlari keluar, Pram sudah menarik tangannya.
“Kamu tidak usah curang Nyonya,” ucap Pram bangkit dari tidurnya, mengambil kaos di dalam lemari. Terlihat Pram masuk ke kamar mandi, membersihkan muka dan menggosok gigi sambil tersenyum licik. Terlintas ide jahil di otaknya.
Setelah menyelesaikan semuanya, dengan terpaksa dia mengikuti langkah Kailla yang sudah keluar terlebih dulu.
Begitu Pram sampai di meja makan, ketiga asisten pun langsung menyingkir. Memberi tempat pada majikannya itu menyantap makanannya.
“Bu, hari ini masak apa?” tanya Pram, duduk di samping Kailla. Pram tersenyum menatap Kailla yang sedang memandang sepiring mie goreng tanpa berkedip.
“Tadi masak nasi tim ayam Pak,” sahut Bu Ida.
“Oke, tolong siapkan untuk Kailla Bu,” perintah Pram.
“Baik Pak.”
Tidak membutuhkan waktu lama, sepiring nasi tim lengkap dengan acar timun sudah tersaji di depan Pram.
“Kai, ayo habiskan sarapanmu,” ucap Pram, menyodorkannya nasi tim kepada Kailla.
“Aku tidak mau, aku mau mie,” tolak Kailla. Pandangannya belum beralih dari sepiring mie goreng yang aromanya menggugah selera.
Tak lama ketiga asisten itu pun keluar dari unit majikannya sambil tersenyum usil. Setelah memastikan pintu sudah tertutup, Pram menarik piring mie goreng itu ke hadapannya.
Tangannya sedang menggulung mie goreng dengan garpu, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya dalam porsi yang lumayan banyak.
“Daddy belum pernah makan mie ini. Daddy melakukannya untukmu Nak,” ucap Pram setelah menelan habis mie di dalam mulutnya, sambil mengelus perut Kailla.
“Kai, kamu boleh menciumku sekarang. Masih ada aroma mie goreng yang tersisa di mulutku,” tawar Pram, menunjuk ke arah bibirnya. Seringai licik itu muncul kembali di bibir Pram.
Kailla yang sedari tadi sudah menelan ludahnya, hanya bisa melotot mendengar kata-kata Pram.
Melihat Kailla diam, Pram kembali menggulung mie goreng dengan garpu dan memasukkannya ke mulut.
“Yakin tidak mau?” tanya Pram.
“Ah... mana bisa begitu!” gerutu Kailla.
“Kamu masih bisa merasakannya di bibir dan mulutku,” ucap Pram.
“Kalau lidahmu lincah, malahan kamu bisa merasakan lebih banyak aroma mie di dalam mulutku,” lanjut Pram sambil tertawa.
“Ah......!” Kailla sudah tampak kesal melihat Pram sedari tadi mempermainkannya.
“Ini yang terakhir Nyonya, kalau kamu masih tidak mau menciumku, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa,” ancam Pram.
__ADS_1
Kailla menatap sedih sisa mie yang tertinggal sesendok kecil di atas piring. Pram benar-benar tega padanya. Bahkan suaminya itu tidak mengizinkannya mencoba sedikitpun.
Pram meraih tengkuk Kailla tiba-tiba, mencium istrinya dengan beringas. Membiarkan Kailla menikmati aroma mie yang masih menempel di bibirnya. Setelah melepaskan ciumannya, dia langsung menyuapkan mie yang tersisa di piring itu ke mulut istrinya.
“Aku tidak mengizinkanmu lagi setelah ini,” ucap Pram, menepuk pucuk kepala Kailla sambil tersenyum.
“Kamu mengerti?” tanya Pram.
“Iya..,” sahut Kailla sambil tersenyum. Setidaknya dia masih bis menikmati mie goreng itu, walau cuma sedikit.
“Habiskan sarapanmu, setelah itu bersiaplah. Aku akan membawamu jalan-jalan,” ucap Pram.
“Kamu tidak ke kantor?” tanya Kailla heran.
“Kamu merusak jadwalku hari ini Nyonya. Untuk pertama kali kamu memintanya padaku, kita harus merayakannya,” jawab Pram, seketika membuat wajah Kailla bersemu.
***
“Kamu menyukainya?” tanya Pram saat mereka sudah berkeliling kota Wina dengan kereta kuda.
Kailla mengangguk.
“Bagaimana dengan anakku, apa dia juga menyukainya?” tanya Pram tersenyum pada Kailla.
“Iya, dia sangat menyukainya daddy,” sahut Kailla tersenyum, mengusap perutnya sendiri.
“Tetap tersenyum seperti itu, Sayang. Aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi,” ucap Pram.
Kailla mengangguk. Bergegas turun dari kereta kuda yang sudah berhenti di depan Wiener Staatsoper, gedung opera kebanggaan kota Wina.
“Kai.., panggil Pram, meraih tangan Kailla.
“Ada yang harus aku katakan.”
“Hmm,” gumam Kailla tertunduk. Mereka sedang berada di pusat kota. Dan Pram merengkuhnya di tengah keramaian.
“Terimakasih, kamu membuatku merasa benar-benar memiliki keluarga sekarang,” ucap Pram.
“Terimakasih, karena bersedia mengandung anakku. Aku akan menjaga kalian dengan nyawaku sendiri,” lanjut Pram.
“Terimakasih karena sudah mencintaiku, Kai. Walau kamu masih belum mau mengakuinya. Aku masih sanggup menunggumu,” ucap Pram.
“Iya..” Kailla hanya menjawab singkat.
“Aku mencintai kalian.”
****
__ADS_1
Terimakasih. Love You All.