Istri Kecil Sang Presdir

Istri Kecil Sang Presdir
Bab 130 : Pisah Ranjang


__ADS_3

Non, ayo kita pulang,” ajak Bayu setelah menunggu hampir setengah jam Kailla tak kunjung bangun dari duduknya. Masih betah memeluk lutut dan sekarang mulai menangis kembali.


Kailla menggeleng. “Aku tidak mau pulang, aku tidak mau bertemu dengannya lagi,” sahut Kailla pelan. Saat ini semangatnya sudah hancur saat Bayu menjelaskan kepadanya sejauh apapun dia melarikan diri, Pram pasti akan menemukannya.


“Non, ayo pulang. Disini dingin,” bujuk Bayu lagi. Terlihat Bayu membuka jaketnya dan menyodorkannya pada Kailla.


“Pakai ini, nanti Non sakit. Mana pakaiannya kurang bahan seperti ini,” ucap Bayu saat memperhatikan Kailla yang hanya mengenakan gaun tanpa lengan.


“Aku tidak mau,” tolak Kailla masih terisak. Melihat jaket yang masih menggantung di tangan Bayu, sakit hatinya pada Pram semakin bertambah. Tadi dia masih sempat melihat Pram menyerahkan jasnya untuk Winny.


Lama terisak sambil menuduk, sampai akhirnya Kailla menatap sepatu hitam mengkilap tiba-tiba muncul di depan matanya yang saat ini sedang menunduk.


“Sayang..., maafkan aku,” ucap Pram tiba-tiba. Dia sudah berdiri tepat di hadapan Kailla.


Diam— tidak ada jawaban sama sekali.


Pram akhirnya memilih duduk di samping Kailla setelah istrinya itu tidak mau menjawab bahkan menatapnya pun tidak mau. Baru saja Pram akan merangkul pundak istrinya, tiba-tiba Kailla sudah bangkit berdiri.


“Bay, ayo kita pulang sekarang!” ajak Kailla. Langsung berjalan menuju mobil yang tadi ditumpanginya kemudian menutup pintu mobil tanpa menatap ke Pram sama sekali.


“Bay, aku titip Kailla,” ucap Pram. Dia berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya, menatap Kailla yang menghilang masuk ke dalam mobil dengan tatapan yaang sulit diartikan. Dia menyesal saat ini. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan, dia terlalu sibuk dengan urusannya bersama Winny. Beberapa jam yang lalu, dia bahkan sempat lupa kalau Kailla sedang menunggunya.


Terlihat dia menghela nafasnya, menepuk pundak Bayu.


“Bay, mobilku akan berjalan di belakang. Kalau Kailla tertidur, tolong hentikan mobilnya. Aku ingin bersamanya,” perintah Pram.


“Siap Bos!” sahut Bayu.


Tampak mobil sedan hitam dengan merk dan type yang sama berjalan beriringan di jalanan kota Wina. Kailla yang menumpangi salah satunya memilih diam, menyandarkan kepalanya di jendela mobil. Telunjuknya sedang melukis sesuatu di kaca mobil yang berembun karena suhu dingin di luar sana. Air matanya kembali menetes saat ini.


“Aku menyesal menikah dengannya, aku menyesal hamil anaknya.” bisiknya lirih.


Deg—

__ADS_1


“Hamil.”


“Bahkan dia menyakitiku di hari pertama aku tahu ada anaknya di dalam rahimku. Aku pastikan dia tidak akan bisa menyentuh bayinya sama sekali. Aku tidak akan memberitahunya ada bayinya di dalam sini.” ucap Kailla.


“Kita pasti bisa tanpa daddymu Sayang,” ucap Kailla pelan mengusap perut ratanya.


Kailla mengelus lembut perutnya sambil tersenyum. Walau dia belum siap saat ini, meskipun dia sangat takut menghadapi kehamilannya, tapi di saat seperti ini dia merasa tidak sendiri. Ada bayinya yang selalu bersamanya.


Bayu meminta sopir menghentikan laju mobilnya saat memastikan Kailla sudah terlelap. Bunyi decitan ban mobil yang bergesekan dengan jalan raya, seketika membuat Kailla menggeliat sebentar dalam tidurnya. Tampak Pram berlari keluar dari mobil dan masuk ke dalam mobil yang ditumpangi Kailla. Senyum tersungging di bibirnya saat melihat Kailla yang sedang terlelap dengan menyandarkan kepalanya di jendela mobil.


“Sayang...,” bisik Pram pelan. Langsung meraih tubuh Kailla dan membawanya ke dalam pelukan.


“Aku mohon maafkan aku,” bisik Pram pelan. Dia tersenyum saat Kailla yang tanpa sadar merengkuh lehernya dan bergelayut manja padanya seperti biasa.


“Suamimu ini salah, bodoh dan tidak tahu diri. Kenapa begitu mudahnya mengangkat tangan di depanmu,” ucap Pram pelan. Dia menyesal, bukan hanya saat ini. Di detik pertama dia melayangkan tamparannya ke udara, dia sudah menyesal. Sorot mata ketakutan Kailla saat itu, masih jelas di matanya.


“Sayang...,” panggil Pram lagi sambil mengecup lembut pelipis Kailla yang masih terlelap. Dia tahu, dia harus membayar mahal untuk apa yang sudah dia lakukan tadi.


Pram baru melepaskan pelukannya dan keluar dari mobil saat kendaraan mereka sudah terparkir di depan lobby apartemen.


Mendengar perintah Pram, Bayu langsung keluar dan segera membangunkan istri Bosnya itu.


“Non, bangun!” Bayu terlihat menggoyang pelan tubuh Kailla yang masih terlelap. Tidak ada reaksi sama sekali. Berusaha membangunkan sekali lagi, hasilnya tetap sama. Berkali-kali mencoba, Kailla masih enggan membuka matanya. Bayu akhirnya menatap Pram yang berdiri di belakangnya. Meminta pendapat Pram setelah gagal membangunkan Kailla.


Pram mengangguk dan memilih menggendong istrinya. Tapi baru saja merengkuh tubuh Kailla ke dalam pelukannya, kelopak mata Kailla sudah membuka.


“Sayang...,” ucap Kailla sambil tersenyum. Menelusupkan wajahnya ke leher Pram. Pram yang mendapat perlakuan sebegitu manisnya dari sang istri langsung tersenyum bahagia. Tapi kebahagiaanya tidak berlangsung lama. Di detik berikutnya, saat ingatan dan kesadaran Kailla pulih sepenuhnya, dia langsung melotot dan memukul kasar wajah Pram.


Plakk!! Tamparan panas itu cukup membuktikan kalau saat ini istrinya masih belum mau menerimanya. “Turunkan aku!” perintah Kailla sudah siap melayangkan pukulannya kembali.


“Iya, aku akan menurunkanmu setelah aku selesai bicara. Kamu boleh memukulku selama aku bicara,” jelas Pram.


“Maafkan aku Kai. Aku salah,” ucap Pram.

__ADS_1


“Aku bilang turunkan aku!” ucap Kailla. Dia tidak berniat mendengarkan ucapan yang keluar dari bibir suaminya.


Plakk! Tamparan kedua mendarat mulus di pipi Pram. Tidak terlalu sakit dibanding yang pertama. Posisi Kailla yang berada di dalam gendongannya membuat Kailla tidak bisa menggunakan seluruh tenaganya.


“Kai.. dengarkan aku Sayang. Maafkan aku ya.” Pram memohon kembali.


“Tidak. Turunkan aku, kalau tidak aku....” Kailla memilih tidak melanjutkan kata-katanya. Dengan cepat dia sudah menggigit pundak Pram yang masih terbalut kemeja putih. Raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat


“Aww...! Ini sakit Kai!” ucap Pram, dia memilih menurunkan Kailla daripada malah menjatuhkan istrinya itu. Kailla sedang tidak bisa diajak kompromi saat ini.


Kailla langsung melangkah masuk ke lobby dan berjalan menuju lift meninggalkan Pram yang masih mengusap pundaknya.


“Selamat menikmati kebodohanmu sendiri Pram,” ucap Pram sambil berjalan masuk mengikuti Kailla.


Sampai di depan lift lagi-lagi dia harus menunggu, Kailla tidak mau berada dalam lift yang sama dengan dirinya. Pram hanya bisa memijat pelipisnya sambil menghela nafas.


***


Begitu sampai di unitnya, Kailla memilih langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar. Dia bahkan tidak menjawab sapaan Bu Ida, yang sedari tadi masih menunggu mereka pulang. Bu Ida yang sedang duduk di sofa hanya bisa menatap keheranan saat melihat wajah cemberut dan kesal Kailla.


Tidak sampai disitu, dia kembali dikejutkan dengan kemunculan Pram di pintu yang saat ini masuk ke dalam dengan wajah kusam dan tidak bersemangat.


“Ada apa lagi ini?” bisik Bu Ida.


“Bukannya seharusnya mereka bahagia, sebentar lagi akan memiliki anak,” lanjut Bu Ida.


Pram melangkah dengan lesu menuju kamarnya. Tapi baru saja akan meraih gagang pintu, Kailla sudah membukanya terlebih dulu. Dengan kasar dia melempar koper milik Pram keluar dari kamar tidur mereka.


“Mulai sekarang, kita pisah ranjang!” ucap Kailla setengah berteriak. Dia sudah tidak peduli kalau Bayu dan Bu Ida mendengarnya. Sebaliknya itu lebih baik, jadi dia tidak perlu menjelaskan.


Pram hanya bisa menatap koper yang tergeletak di dekat kakinya.


***

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2